
Wajah ceria Ratna kini sudah kembali. Dia sudah menerima hasil tes yang dia ikuti kemarin. Hasilnya menyatakan jika Ratna baik-baik saja. Jadi dia tidak perlu khawatir jika Mama akan mengusik rumah tangganya lagi. Karena sejujurnya Ratna juga merasa tidak nyaman ketika Mama atau Ibu tanya-tanya soal rumah tangganya.
Seperti Tama yang tidak mengizinkan Mama tahu tentang apa yang dia alami dalam pernikahannya, Ratna juga demikian. Mereka sependapat jika apapun yang terjadi semua tentang Tama dan Ratna. Jika memang situasinya tidak mendesak sebisa mungkin keduanya akan menyelesaikan semuanya sendiri. Hal ini sudah mereka terapkan bahkan sebelum pernikahan, salah satunya ya ketika mempersiapkan semua administrasi pernikahan hingga selesai sidang nikah dan mereka berdua berangkat ke KUA mendaftarkan pernikahan. Bahkan seluruh persiapan resepsi dan ijab disiapkan sendiri oleh keduanya.
Rasanya lebih ringan saja ketika tidak ada tangan-tangan lain ikut campur dalam semua urusan mereka. Ratna bisa enjoy menjalani kehidupannya sebagai istri, Tama juga tidak harus stres pulang kerja harus menghadapi masalah di rumah. Beruntungnya lagi, mereka jauh dari orang tua.
"Mas..., hasil tesnya udah keluar nih," kata Ratna ketika melihat Tama sudah selesai mandi.
"Oh yaudah."
"Kok gitu?" tanya Ratna.
"Ya buat apa Mas lihat Ratna, Mas sudah tahu kok hasilnya gimana."
"Kok pede banget sih?"
"Gini ya mikrowife-ku sayang..., lihat wajahmu sumringah cengar-cengir kek gitu Mas tahu kalau hasilnya bagus. Nggak usah pakai kamu ngomong. Lagian kan Mas udah bilang, apapun hasilnya nggak akan mempengaruhi sayangnya Mas ke kamu," kata Tama.
"Sayang deh sama Mas...," Ratna membuat gesture "love" dengan kedua tangannya membuat Tama tertawa.
"Mama udah dikasih kabar?"
"Sudah."
"Terus responnya gimana?"
"Ya gitu, Mama ngomel masa. Dikiranya aku sama Mas ada apa-apa. Katanya kalau nggak ada masalah nggak wajar bisa sampe 3 tahun kok nggak punya anak," kata Ratna.
"Yaiyalah. Gimana mau punya setiap main aja pake pengaman," gumam Tama.
"Tuh Mama juga tadi sempet bilang nggak usah pake. Terus Mama nyuruh aku buang," kata Ratna.
"Jangan sayang udah terlanjur dibeli," kata Tama.
"Pratama Aji doang emang yang mau buang pengaman sayang kek harganya mahal aja," kata Ratna.
"Ya bodo. Mahal nggak mahal kan udah dibeli, mubazir kalo dibuang tanpa dipake," jawab Tama cuek.
"Yaudah kalo gitu dipake aja," kata Ratna.
"Ngode apa ngode nih?"
"Nggak ada. Cuma pengen pamer BH baru aja," kata Ratna.
"Dih ngapain pamer BH baru? Lagian Mas lebih suka isinya dek," kata Tama.
"Ih Mas Tama nggak asik ah...," protes Ratna.
__ADS_1
"Yaudah iya kamu mau pamer. Warnanya apa? Ada rendanya nggak?" tanya Tama.
"Lihat aja sendiri," jawab Ratna sambil menjulurkan lidahnya menggoda Tama.
"Tuh kan kamu yang mancing kok lagian juga," kata Tama tidak terima.
"Sekali-kali lah. Inget ya Mas, si mungil Adiratna istrimu tecinta ini kamu samain sama apa? Microwave. Mas tahu kan microwave itu bisa dingin bisa anget, jangan lupa microwave tuh juga bisa panas," kata Ratna sambil mengelus-elus microwave putih miliknya yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hooo..., sepanas apa sih jadi kepo deh," kata Tama termakan pancingan Ratna.
Tama tanpa ampun langsung menggendong Ratna keluar dari area dapur dan menjatuhkannya di sofa ruang tengah. Tadinya Ratna kaget dengan perlakuan tiba-tiba itu, tapi setelahnya dia malah menikmatinya. Baru Ratna akan menaikkan kaos yang Tama pakai, handphone Ratna berdering. Reflek Ratna mendorong Tama menjauh dan langsung mengangkat teleponnya.
"Halah gagal lagi...," gumam Tama melihat Ratna berjalan ke meja makan mengambil handphonenya yang terus berdering dengan tidak santai.
"Ya dengan dr. Ratna di sini," kata Ratna begitu mengusap ikon hijau di layar datarnya.
Raut wajah Ratna langsung berubah begitu mendengar suara dari orang dari seberang. Ratna bahkan langsung berjalan masuk ke dalam kamar, terus menempelkan handphonenya di telinga sambil memakai celananya.
"Ok, aku segera ke sana."
"Berapa lama?"
"15 menit."
Tama mendengarnya, dia langsung curiga Ratna akan mengebut jadi dia segera berinisiatif untuk mengantar Ratna. Dia meraih jaketnya dan membetulkan pakaiannya dan lebih dulu keluar dari rumah. Ketika Ratna melangkah keluar memakai helmnya, Tama sudah siap di atas motor.
"Ketimbang kamu yang ngebut, akan lebih cepet kalau Mas yang ngebut. Cepetan naik, kamu bilang 15 menit kan?"
Tanpa basa-basi Ratna langsung naik setelah memastikan pintu rumah terkunci dengan benar tentu saja. Tama awalnya masih berjalan pelan, namun begitu keluar dari gerbang kesatrian dia langsung tancap gas sesegera mungkin sampai di rumah sakit. Sampai di sana, Tama melihat kondisi UGD sudah keos dengan 2 ambulance terparkir di halamannya. Ratna langsung berlari pergi meninggalkan Tama yang sebenarnya tidak tahu situasinya sedarurat apa.
Hampir semalaman Tama tetap berada di sana. Dia memarkirkan motornya di tempat yang sama lalu berjalan ke angkringan yang letaknya tidak jauh dari sana. Dia memesan satu gelas kopi lalu menarik handphonenya keluar dari saku jaket.
Sekitar pukul 2 dini hari, Ratna dengan kondisi lelah dan pakaian kotor melangkah keluar dari dalam rumah sakit. Dia sudah tidak memakai pakaian yang dia pakai ketika berangkat tadi melainkan menggunakan pakaian OK berwarna hijau yang ditutupi jaketnya. Ratna menemukan motor Tama masih terparkir di tempat yang sama membuat Ratna langsung menelepon suaminya itu.
"Mas belum pulang?" tanya Ratna begitu teleponnya diangkat.
"Belum..., ni Mas di angkringan."
"Astaga Pratama suruh siapa kamu nungguin sih. Kan waktunya bisa Mas pake tidur, Mas nih jaga kondisi dong," kata Ratna.
"Sekali-kali Ratna, sini deh dari pada kamu cuma ngomel lewat telepon Mas lebih seneng diomelin langsung. Nyusul sini Mas pesenin susu jahe mau ya?" tanya Tama mencoba meredakan emosi Ratna.
Ratna lalu mematikan telepon dan menyusul Tama di angkringan. Dia menemukan Tama di sana mengobrol dengan Bapak pemilik angkringannya ditemani segelas kopi yang sudah hampir habis. Begitu melihat Ratna datang, Tama langsung memesan satu gelas susu jahe hangat baru dia fokus pada Ratna yang terlihat sangat lelah.
"Ealah ternyata kamu di sini Mas...," kata Ratna sambil mendudukkan diri di sebelah Tama.
"Ini siapanya dr. Ratna? Suaminya ya?" tanya si pemilik angkringan.
__ADS_1
"Iya Pak, ini suami saya."
"Yang kata dr. Rati polisi itu?"
"Iya Pak," kata Ratna sambil tangan kanannya meraih satu potong tempe goreng dari nampan di depannya.
"Istri saya langganan Bapak ya sampai Bapak bisa kenal namanya juga?" tanya Tama.
"Iya, hampir semua dokter di sini langganan saya. Apa lagi dokter-dokter yang sering jaga malam kaya dr. Ratna ini."
"Bapak ini memang penyelamat perut laper tapi ogah makan para dokter residen yang jaga malem Mas, termasuk aku. Sejak aku masih dokter umum malah, Bapak ini katanya sudah jualan di sini 10 tahun lho Mas," curhat Ratna.
"Ini susunya, silahkan," kata Bapak itu sambil meletakkan segelas susu pesanan Tama tadi di hadapan Ratna.
"Makasih ya Pak sudah menyelamatkan istri saya," kata Tama.
"Menyelamatkan gimana? Saya nggak ngerti."
"Menyelamatkan perut istri saya. Kecil-kecil gini kalo laper gigit Pak, dia belum jinak," kata Tama.
"Nah kan kumat. Ih Mas Tama diem ajalah apa pulang aja sana, mengganggu kedamaian dunia tahu nggak?"
"Ganggu gimana wong suamimu paling ganteng ini penjaga perdamaian dunia kok."
"Mbuh. Pulang sana Mas, aku nggak mau pulang aku shift pagi. Aku mau tidur di sini aja."
"Lah kalau kamu tidur di sini Mas tidur sama siapa?"
"Tidur sama BonBon aja sana, empuk, sama-sama bulet juga," kata Ratna.
BonBon adalah boneka berbentuk babi berwarna pink berukuran sedang yang Tama belikan untuk Ratna di ulang tahunnya yang ke 25. Katanya lucu kaya Ratna, pendek, gemuk, suka makan lagi. Bukan dengan konotasi negatif, tapi Tama senang saja menggoda Ratna dengan cara itu. Toh Ratna tidak pernah marah. Dia justru semakin merasa bangga dengan kondisi fisiknya yang mungil ini. Kalau kata Ratna dia pas masuk ke pelukan Tama, enak gitu. Suka-suka pasutri ini sajalah maunya bagaimana.
"Masa Mas tidur sama BonBon lagi sih dek," keluh Tama.
"Mas manjanya jangan di sini dong. Area umum nih, malu ah...," kata Ratna.
Bapak pemilik angkringan ini hanya bisa tertawa melihat semenggemaskan apa langganannya itu ketika sedang bersama suaminya. Jelas jauh berbeda dengan ketika Ratna sedang bersama Bima atau Rati. Dia di rumah sakit juga cukup lumayan kalem, tidak secerewet ini. Bapak ini juga kaget, yang beliau pikir seorang polisi itu akan tegas, berwibawa, dan tenang ini malah kebalikannya. Tama bahkan terkesan manja dan banyak bicara.
Pertengkaran itu akhirnya selesai juga. Tama juga sudah pamit sambil membayar semua pesanan mereka tadi. Ratna juga sudah bersiap kembali ke dalam rumah sakit.
"Terima kasih, semoga Pak Tama dan Bu Ratna awet bahagia terus ya. Terima kasih juga sudah bikin saya tertawa dengan obrolan Bapak dan Ibu. Saya terhibur," kata pemilik angkringan itu tadi.
"Maaf ya Pak, bikin rusuh jam segini."
"Nggak Papa Bu, buat hiburan saya juga. Dari pada saya hanya diam nggak ada kerjaan juga. Kapan-kapan ajak Bapak mampir lagi Bu."
"Insyaallah Pak saya akan mampir kalau ada waktu. Mari Pak," kata Tama diikuti Ratna.
__ADS_1