
Hari ini Ratna berulang tahun, sekalian merayakan Aksa yang sudah tumbuh gigi. Mungkin karena gusinya gatal atau apa, Aksa jadi suka menggigit. Bahkan ketika menyusu pada Bunda dia suka gigit-gigit membuat Ratna kesakitan. Terkadang kalau sudah begitu, Ratna lebih memilih memeganginya sepotong apel, pir atau biskuit. Intinya makanan yang bisa dia genggam, tidak lembek, tapi tidak terlalu keras juga.
Aksa memang sudah bisa duduk dengan tegak dan sedang belajar cara merangkak. Beberapa kali Ratna coba mengajarinya dan Aksa benar-benar menyerap pelajaran dari ibunya dengan baik. Aksa juga mulai aktif meraih semua benda yang ada di depan matanya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Semalam saja Aksa hampir saja kejatuhan remot tv yang diletakkan ayahnya diatas meja. Ratna selalu menceritakan semuanya pada Tama entah secara langsung atau tidak. Bahkan sekarang room chat Tama dan Ratna isinya hampir seluruhnya tentang Aksa. Entah dalam bentuk video, gambar, voice note, atau semua pesan tentang Ratna yang exited dengan tumbuh kembang putranya.
Mungkin tidak benar-benar bertepatan di hari ulang tahun Ratna, malah lebih mendekati hari ulang tahun Tama. Tapi berhubung Tama dan Ratna baru dapat waktu bersama hari ini jadilah mereka pergi hari ini. Hari Selasa, bukan weekend atau hari libur. Jadi mereka bisa lebih leluasa berjalan-jalan. Tama dan Ratna ingin mengajarkan pada Aksa tentang berbagai macam hewan jadi mereka memutuskan untuk pergi ke kebun binatang.
Puas mereka bermain seharian di sana, belum sampai tengah hari Aksa malah sudah tidur. Dia merasa nyaman merasakan semilir angin sambil tiduran di atas stroler yang didorong oleh Ayah Bundanya. Berhubung Aksara yang menjadi tokoh utamanya sedang tidur, Tama mengajak Ratna untuk makan di foodcourt. Memang belum jam makan siang sih, tapi Busui satu ini sehari bisa 5 kali makan. Kalau Ratna sampai dibiarkan lapar, dia bisa cemberut dan si kecil bisa ikut-ikutan cemberut juga. Kompak benar dua orang kesayangan Tama ini memang.
"Mas, habis ini ke baby shop ya," kata Ratna.
"Oiya kamu bilang mau beli matras ya," tanya Tama diangguki oleh Ratna.
"Aksa kan sudah mulai merangkak kemana-mana, kalau nggak dipakein matras kasihan lututnya. Sedang dia dipakein pelindung lutut nggak mau nggak betah. Dipakein pelindung kepala yang bentuknya helm gitu aja nggak mau," curhat Ratna.
"Tapi pakai yang bentuk ransel mau?"
"Mau karena warnanya kuning. Kebetulan aku beli warna kesukaan dia makanya dia mau pake," kata Ratna lagi.
"Pantesan tiba-tiba sprei jadi warna kuning, perabot makan juga warnanya kuning," kata Tama.
"Habisnya si abang suka warna kuning. Sendok dia aja kalau nggak pake yang warna kuning nggak mau. Mainan dia juga warna-warni kan, tapi yang dimainin cuma yang kuning aja," tambah Ratna.
Tama dan Ratna baru akan melanjutkan obrolan, tiba-tiba dari sebelah kanan Ratna terdengar bunyi rengekan. Mata Aksa terpaku melihat penjual balon helium yang datang menghampiri. Akibat Tama suka mengikatkan balon ke kaki atau tangan Aksara ketika di rumah, anak itu jadi suka sekali pada balon padahal Ratna paling ngeri sama balon apalagi kalau balonnya meledak. Bisa lemas dia.
__ADS_1
Tama membelikan satu balon helium kemudian dia ikat di stroller agar Aksara bisa terus melihatnya. Selesai makan, kedua orang tuanya melanjutkan jalan-jalannya. Aksa digendong oleh Ayahnya mendekati kandang harimau, namun bukannya fokus pada harimaunya dia malah terus menoleh melihat balon yang terus menempel di stroller.
Ratna menyadarinya kemudian melepaskan balon itu lalu dia bawa mendekat. Begitu balonnya digenggam oleh Ayah, Aksa kembali fokus pada Ayahnya dan terus memandang ke atas melihat balon itu. Sepertinya Aksa memang sudah tertarik pada yang lain, dia sudah tidak mau melihat hewan, dia hanya mau melihat balon berbentuk ikan itu.
Dirasa Aksa sudah bosan, Ayah dan Bundanya memutuskan untuk keluar dari kebun binatang. Tama lebih dulu membawa mereka ke baby shop membeli playmat untuk Aksara. Tapi yang namanya Adiratna kalau masuk baby shop paling tidak terimaan kalau tidak beli ini itu. Niat awal hanya beli playmat tapi sekarang dia malah mlipir beli yang lain. Ratna beli botol susu, teether, sepatu, dan masih banyak lagi. Tama hanya menunggu sambil melihat-lihat mobil-mobilan yang letaknya di dekat pintu masuk sambil menggendong Aksa yang tetap tertidur pulas tidak peduli lingkungan sekitarnya sedang ramai.
"Mas, di sini toh kupikir dimana," kata Ratna.
"Kalau di dalam kasihan Aksa pengap, lagi rame gitu," kata Tama.
"Udah belum bunda belanjanya? Kalau udah sekalian aku bayar," kata Tama.
"Telat. Udah aku bayar. Abis Ayah dicariin dimana nggak ketemu, udah sampe antriannya bayar yaudah aku bayar sekalian," kata Ratna sukses membuat Tama melongo.
"Astaga Bunda...."
"Ada-ada aja kamu tuh," kata Tama sambil mengusak rambut Ratna.
Ratna menggantikan Tama menggendong Aksara, sedangkan Tama meraih belanjaan Ratna dan membawanya ke dalam mobil. Di tempat parkir, mereka sempat bertemu dengan Mbak Rere, pemilik butik dan designer langganan Ratna dan beberapa ibu-ibu bhayangkari lainnya. Mbak Rere datang bersama suaminya yang sebenarnya tidak begitu Ratna kenal, tapi sempat menyapa karena Ratna dan Rere sedang saling menyapa.
"Ih Mas, lihat deh lucu banget. Mbak Ratna saya boleh gendong?" tanya Rere.
"Boleh," jawab Ratna.
__ADS_1
Dengan perlahan Ratna menyerahkan Aksara dan seketika itu juga Rere berjingkat senang. Dia sedang hamil juga dan usia kandungannya sudah masuk minggu ke-35. Mbak Rere bilang dia berharap bisa mengenalkan putrinya dengan Aksara, siapa tahu mereka bisa berteman dan jadi akrab. Ratna sih iya iya saja. Biarlah takdir yang menjawab akan bagaimana suatu saat nanti. Toh selama dia masih di jogja, kemungkinan untuk bertemu akan sangat besar.
"Usianya sudah berapa bulan Mbak Ratna?" tanya suami Mbak Rere yang bernama Jevan.
"Sudah jalan bulan ke-7," jawab Ratna.
"Lucu ya Mas, gendut bulet, gemes banget," kata Mbak Rere pada suaminya.
Tama hanya bisa tertawa melihat dua ibu-ibu ini asik membicarakan seputar bayi mereka. Tapi sayangnya obrolan itu tidak bisa berjalan terlalu lama. Tama dan Ratna harus segera pergi, toh Mas Jevan dan Mbak Rere datang untuk berbelanja bukan untuk mengobrol.
"Bunda, yang tadi itu siapa?" tanya Tama pada Ratna yang sedang memasang sabuk pengamannya.
"Mbak Rere, penjahit langganan aku. Baju seragam kamu juga kan yang jahit Mbak Rere," kata Ratna.
"Oh ya? Tapi yang ngukur waktu itu cowok Bun."
"Oh itu Doni pegawai Mbak Rere. Mbak Rere sudah punya asisten, ngapain dikerjain sendiri. Lagian Mbak Rere sejak hamil jadi gampang sakit katanya makanya kan suaminya juga kelihatan protektif banget tadi," kata Ratna.
"Iya sih," jawab Tama setuju.
"Mas tahu nggak, Mbak Rere itu pernah kerja di salah satu rumah mode di Madrid. Mbak Rere itu terbilang designer sukses. Tapi semua pencapaiannya dia tinggal untuk memulai yang baru sama suaminya. Aku salute banget sama Mbak Rere," kata Ratna.
"Kamu juga hebat Bunda, melepaskan semua keinginanmu untuk tetap hidup sederhana sama aku. Aku bangga banget sama kamu," kata Tama meraih tangan Ratna.
__ADS_1
"Karena selain kamu udah nggak ada lagi Ayah. Cuma kamu satu-satunya yang aku mau. Permintaan aku ke kamu cuma satu Mas, tetaplah jadi Pratama Aji Saputra yang datang ke wisudaku 8 tahun lalu. Pratama Aji yang berjanji akan selalu mencintai aku," kata Ratna.
"Janjiku masih aku pegang Ratna. Janji seumur hidup itu masih kupegang erat dan nggak akan pernah aku lepaskan. Karena Adiratna Widiyatna adalah satu-satunya milikku. Satu-satunya bhayangkariku," kata Tama.