Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
89. Lubang di Hati


__ADS_3

Tama dengan amat sangat terpaksa harus tetap menjemput Sindy bersama Mama. Ratna yang menyarankannya. Bukan dia menyarankan untuk Tama menjemput Sindy, tapi menyarankan untuk bicara empat mata dengan Mama. Di rumah juga sedang ada Bapak dan Ibu. Jadi ketika Tama dan Mama pergi, Ratna akan menjelaskan kebenarannya pelan-pelan kepada kedua orang tuanya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih panjang lagi.


"Lha kamu pernah punya salah apa sama mertuamu kok sampe kaya gitu?" tanya Ibu.


"Insyaallah nggak ada Bu, asli Ratna nggak pernah buat salah. Yang selama ini jadi tuntutan Mama cuma cucu. Awal pernikahan aku sama Mas udah sepakat untuk nggak mengusahakan. Pernikahan kita ya hanya untuk kita berdua. Mas sampai berkorban banyak Bu demi memenuhi permintaan Mama. Sekarang sudah ada Aksara, aku pikir Mama nggak akan begitu lagi tapi nyatanya...," kata Ratna sudah tidak mampu melanjutkan karena di gendongannya Aksara mulai menangis.


"Sing kuat. Sing sabar. Ujian pernikahan itu macem-macem Mbak. Nek kamu bisa melewati ujian ini insyaallah, Gusti boten sare. Doamu pasti akan terjawab," kata Bapak.


"Kesetiaan Mas Tama, dan segala yang Mas berikan ke aku sudah membuat aku besyukur. Aku sudah nggak minta apa-apa lagi. Selama Mas masih mau berjuang bareng aku akan kuat apapun bentuk ujiannya. Apalagi sekarang ada Aksara. Aku nggak mau dia punya Bunda yang lemah," kata Ratna sambil menatap putranya yang tampak tenang dalam gendongannya.


"Lapang banget atimu Mbak, Bapak bangga sama kamu," kata Bapak diangguki oleh Ibu.


...***...


Tama dan Mama sedang duduk mengantri di Dindukcapil untuk mengurus akta Aksa sekaligus menuliskan namanya di dalam KK. Ratna sudah menyiapkan semua dokumen yang mungkin dibutuhkan ke dalam satu map berwarna kuning sehingga Tama sudah tidak lagi merasa kesulitan jika ada yang perlu dia tunjukkan. Selain mencatatkan nama Aksara di KK dan membuatkan Akta, Tama juga mampir ke kantor untuk melaporkan keberadaannya. Selain agar tunjangan untuknya cair, seluruh kantor juga behak tau jika malaikat kecil ini akan menjadi sumber semangat baru untuk kedua orang tuanya.


"Mama tunggu sini ya, aku mau minta tanda tangan komandan," kata Tama mempersilahkan Mama untuk duduk menunggu di ruang tunggu pengunjung.


"Jangan lama-lama, ngobrolnya besok lagi. Habis ini kita masih harus ke stasiun," kata Mama.


"Iya Ma," jawab Tama dengan wajah datar.


Tama berjalan masuk menemui komandan Hendra yang sedang berada di ruangan bersama dengan komandan Novan. Keduanya baru selesai makan siang sepertinya, Tama bisa tahu karena melihat ada dua kotak nasi yang belum dibuang di atas meja.

__ADS_1


"Misi Ndan," kata Tama setelah mengetuk.


"Iya gimana?"


"Ndan, saya mau minta tanda tangan."


"Buat apa?"


"Daftarkan anak saya Ndan, biar tunjangannya cair," kata Tama dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.


"Woiya, kan istrimu baru melahirkan ya. Selamat ya Ji, gimana? Sehat to dua-duanya?" kali ini Novan yang bertanya.


"Alhamdulillah sehat Ndan, makasih," jawab Tama.


"Nih, sudah saya tanda tangani. Selamat ya, terus jangan kelamaan cuti. Anak-anak sedih kamu tinggal kelamaan," kata komandan Hendra.


"Paham. Makanya saya acc pengajuan cutimu kemarin."


"Yasudah Ndan kalau begitu saya pamit, mau ada perlu lagi setelah ini," pamit Tama pada kedua komandannya.


Ketika Tama sedang berjalan keluar, dia tidak sengaja bertemu dengan Cece yang baru saja keluar dari ruang bagian logistik. Cece langsung menyusul langkah Tama dan merangkul sahabatnya itu. Keduanya mengobrol sambil berjalan. Cece bahkan sempat bertemu dengan Mama dan menyapa orang tua sahabatnya itu.


"Ini Cece yang dulu suka main sama kamu itu? Astaga sudah beda jauh sekarang ya. Dulu masih kurus kering kamu sekarang badannya lumayan berisi," kata Mama yang mengingat kembali sahabat lama putranya ini.

__ADS_1


"Iya tante, Puji Tuhan sudah bahagia," jawab Cece.


"Ah kamu bisa saja," kata Mama.


Tidak lama mengobrol, Mama langsung ingat jika jam sudah mendekati pukul 2. Sudah waktunya mereka menjemput Sindy yang entah kenapa Mama perkenalkan sebagai adik sepupu Tama. Tama sengaja memutar jalan agar memiliki sedikit waktu mengobrol dengan Mama. Dia merasa butuh membuat kesepakatan dengan Mama.


"Sebenarnya maunya Mama itu apa? Bilang sekarang Ma, mumpung nggak ada Ratna," kata Tama to the point.


"Mama nggak mau apa-apa. Mama hanya kasihan sama anak itu. Dia sudah tidak punya orang tua, walaupun sekarang sudah bukan siapa-siapamu tapi kamu sudah pernah mengenalkan dia ke Mama, dia pernah menjadi kesayanganmu. Dia cuma butuh Mama ada sebagai pengganti Mamanya walaupun dia tahu kamu sudah bukan punya dia. Dia juga janji nggak akan mengganggu lagi hubunganmu dengan Ratna, dia ikhlas melepas kamu," kata Mama.


"Apa Mama nggak kasihan sama Ratna Ma? Jatuh bangun dia berjuang hanya untuk memenuhi satu permintaan Mama. Sekarang setelah dia bisa memberikan apa yang Mama minta Mama malah bawa Sindy kembali bahkan dihadapan kedua orang tuanya juga. Terus bagaimana soal perasaan Bapak sama Ibu? Aku menantu mereka, aku dipercaya untuk menjaga putri mereka. Ratna diikhlaskan untuk ikut sama aku. Bagaimana perasaan orang tua Ratna kalau tahu ternyata begini dia diperlakukan di keluargaku?" kata Tama.


"Mama kasihan sama Ratna, tapi coba kamu lihat. Ratna ikhlas kok, dia baik-baik saja. Dia juga bilang ke Mama kalau dia nggak masalah ada Sindy yang ikut sama Mama. Dia bahkan seneng ada yang bisa nemani Mama."


"Ma, please.... Ok, gini. Karena ini semua sudah terlanjur. Aku terima Sindy datang, tapi kalau sampai aku tahu Ratna nangis karena keberadaan gadis itu dia akan langsung aku kirim pulang termasuk juga Mama," kata Tama yang sudah kehabisan cara.


"Kamu ngusir Mama? Tega ya kamu?"


"Aku bukan ngusir Mama. Yasudah kalau Mama nggak terima Tama pulangkan, biar Tama yang bawa Ratna pergi," kata Tama final.


"Kok kamu begitu sih?!"


"Iya atau nggak sama sekali Ma."

__ADS_1


"Dan satu syarat yang nggak kalah penting, Aku akan melakukan apapun yang perlu aku lakukan untuk menjaga perasaan istriku. Dan Mama tidak aku beri hak untuk protes apapun yang aku lakukan nanti," lanjut Tama membuat Mama tidak bisa berkutik.


Mama sekilas melihat ada sosok suaminya dalam diri putranya. Bagaimana cara Tama bicara, dan bagaimana Tama bisa menghentikan semua argumen Mama persis dengan Papanya. Mama hampir saja menangis, namun urung dia lakukan karena dia tidak ingin berlarut dalam kesedihan tiada akhir itu. Tidak bisa dipungkiri Papa meninggal dalam kondisi yang tidak wajar dan hal itu meninggalkan luka yang begitu besar di dalam hatinya. Walaupun putra tunggalnya ini selalu berusaha mengisi kekosongan itu, tapi nyatanya lubang dalam hati seorang Diana tidak pernah hilang.


__ADS_2