Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
87. Hilang Raguku, Sayang


__ADS_3

"Mama, di sini dulu ya sama anak-anak sama Ratna," kata Chandra yang kemudian keluar dari ruang inap Ratna bersama Aji.


"Bang yakin mau nemui Vino?" tanya Aji setelah menutup pintu.


"Gue cuma pengen denger dari versinya Vino," kata Chandra.


"Abang nggak percaya sama Lilis?"


"Bukan masalah percaya atau nggak. Aku cuma mau tahu apa yang dia lakukan sama Lilis dan Ratna sampai dua orang itu bisa begitu membenci dulu. Kalau gue nggak tahu pastinya kaya apa gimana gue bisa bersikap ke Lilis? Ada satu hal yang harus kuluruskan dengannya," kata Chandra.


Chandra dan Tama menemui Vino yang masih menemani istrinya. Dia memaksa Vino menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Chandra dan Tama sudah mengetahui semuanya dari Ratna dan Lilis sebenarnya, tapi Chandra juga merasa butuh mengetahui apa yang sudah Vino lakukan hingga kedua wanita tangguh itu bisa begitu melemah.


"Sebenarnya yang mengenalkan aku pada Lilis adalah Ratna," kata Vino dengan jujur.


Vino mulai bercerita, "Aku dan Ratna bertemu di UKM tenis. Kami berkenalan dan obrolan kami nyambung. Setahun PDKT aku mengajak dia pacaran walau tidak secara langsung. Ratna itu suka membaca, dia punya seorang sahabat bernama Radea dan meminta Radea mengenalkannya pada teman-teman penulis termasuk Lilis. Karena Ratna dan Lilis memiliki pandangan yang serupa mereka akhirnya akrab juga. Awalnya aku hanya tahu dari cerita Ratna, tapi lambat laun dia mengenalkanku pada Lilis."


"Jadi, kau mengencani Lilis tanpa memutuskan Ratna?" tanya Chandra.


"Bukan begitu. Aku tidak benar-benar mengencani Lilis pada awalnya. Naik ke semester 5, Ratna diangkat menjadi jajaran pengurus inti BEM FK bersama teman-temannya yang mungkin Bang Tama sudah lebih paham. Aku tidak begitu mengenal bagaimana mereka, tapi jujur ketika itu aku tidak terima mereka tetap dekat dengan Ratna padahal tahu jika dia sudah menjadi kekasihku. Aku juga sering memergoki Ratna jalan berdua dengan Jay. Aku cemburu, jadi aku membuat suatu rencana untuk mengetes apakah Ratna masih menyayangiku atau tidak."


"Jangan-jangan...,"


"Ya, hal konyol itu akhirnya aku lakukan. Aku datang pada Lilis dan meminta bantuan padanya untuk menjadi kekasih bohonganku," kata Vino.


"Aku tidak percaya istriku akan mengiyakan," jawab Chandra dengan yakin. Jelas dia mengenal baik bagaimana pribadi istrinya.


"Karena takut dia tidak akan mengiyakan, aku tidak mengatakannya secara terus terang. Aku hanya beberapa kali mengajaknya malam mingguan dan sengaja agar Ratna tahu. Awalnya Ratna marah dan memintaku untuk menghentikannya. Aku senang akhirnya hubunganku dengan Ratna membaik, tapi Lilis mulai menuntut lebih. Dia sering menanyakanku pada Ratna. Dari sanalah Ratna dan Lilis akhirnya berdebat."


"Karena Lilis tidak tahu jika kau adalah kekasih Ratna. Dia yang sudah kau tinggikan pasti akan menuntut kepastian. Itu sudah sifat dasar manusia. Maaf aku tidak bisa membenarkanmu," kata Chandra.


"Ketika aku dan Ratna ada diujung tanduk, aku lihat Ratna dan Bang Tama pergi berdua. Seketika itu juga aku mengakhiri hubunganku dengan Ratna dan memilih Lilis," kata Vino.

__ADS_1


"Kau menjadikan Lilis sebagai pelampiasan begitu?!" tanya Chandra sudah tidak santai.


"Maaf Bang, saya salah. Pikiranku buntu ketika itu sampai tanpa sadar aku sudah memaksa Lilis untuk lebih dekat denganku. Ketika itulah dia menolakku dan akhirnya pergi. Karena dia tahu jika dia hanya menjadi pelampiasanku," kata Vino.


"Seingatku kondisinya memang pernah sampai tidak terkendali ketika itu. Adiratna dan Lilis sempat beradu mulut hingga menggegerkan fakultas kedokteran. Aku sudah ada dengan Ratna ketika hal itu terjadi. Lilis dan Ratna benar-benar bertengkar. Mereka tidak berbohong Bang," tambah Tama menghapus keraguan Chandra, tapi tidak dengan emosinya.


"Kau sudah gila ya? Tidak cukup kau hanya memberikan harapan palsu kau juga berusaha menyentuhnya dengan menyebut nama wanita lain? Beruntung Lilis dan Ratna tidak mendendam. Jika sampai kedua wanita itu mendendam hingga sekarang, dua perwira ini yang akan maju terdepan untuk melindungi. Karena hal konyol yang kau lakukan di masa lalu kau hampir merusak hubungan banyak orang," kata Chandra.


"Aku tahu soal Jay yang menyukai Ratna. Tapi dia masih sanggup berpikir jernih. Dia tidak akan melakukan seperti yang sudah kau ceritakan. Dia bahkan sampai datang padaku dan memintaku memperjuangkan Ratna agar lepas dari belenggu laki-laki sepertimu saking tidak berdayanya. Karena dia sadar jika hubungannya dan Ratna tidak akan jadi lebih dari sahabat. Dia bahkan mengorbankan perasaannya ketika itu agar setidaknya Ratna tidak perlu bersedih. Tapi kau yang sudah dia beri kesempatan malah menyia-nyiakannya. Kau bahkan sudah mengenalkan Ratna pada kedua orang tuamu. Sering menyebut Ratna dengan sebutan yang istimewa di depan teman-temanmu. Wajar jika dia berharap lebih. Jika bukan karena tingkahmu yang konyol itu, aku ikhlas menerima takdir tapi karena aku menyayangi Ratna aku tidak terima kau memperlakukan dia dengan begitu kurang ajar," kata Tama.


"Sekarang kau mau bagaimana? Aku sudah terlanjur sakit hati karena tahu jika aku bukan yang pertama kali menyentuh istriku. Apa kau bisa mengembalikan semuanya? Hampir aku gagal menikahinya karena tingkah gilamu. Lihat Aji. Dia tulus mencintai Ratna dan berniat untuk menikahinya, tapi karena kau terlalu banyak menggores luka di hati Ratna dia jadi harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dia lakukan untuk bisa menggenggam takdirnya. Andai ketika itu Ratna menolak, artinya kau sudah menghalangi seseorang bertemu dengan jodohnya. Kau harus tahu, mengobati luka trauma itu tidak mudah, bahkan sampai detik ini aku dan Aji saja masih berjuang, berjuang menuntaskan kebodohanmu. Seharusnya kau berpikir, kau yang menanam kenapa kami yang tidak tahu apa-apa harus menuainya? Kemana saja kau selama ini?" kata Chandra.


"Memang tidak ada yang bisa dibenarkan dari pacaran. Semuanya salah. Dosa, kau tahu?!" lanjut Chandra.


"Bang, udah cukup," kata Tama berusaha menenangkan Chandra yang hampir termakan emosinya.


"Aku cuma mau beri tahu sama laki-laki ini biar dia belajar dari masa lalunya," kata Chandra.


"Masuk sana kau temani saja istrimu dan jaga dia baik-baik. Beri dia pemahaman dan ceritakan semua yang sebenar-benarnya. Jangan sampai dia salah paham lagi hingga membuatĀ  Ratna dan Lilis terluka. Kedua wanita itu sudah bukan milikmu. Lilis sudah menjadi milik Bang Chandra dan Ratna adalah milikku. Ini terakhir kalinya aku memberikan pengampunan. Kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi lagi kau adalah orang yang pertama kali kucabut nyawanya," kata Tama dengan begitu tegas.


Tama dan Chandra memang tidak meninggikan suara sejak tadi. Tapi mereka juga tidak berbohong soal emosi yang mereka rasakan. Chandra dan Lilis bertemu setelah taaruf, setelah Lilis menjalani pertobatan dia bertemu dengan Chandra. Keduanya juga tidak semulus itu hingga akhirnya menikah. Chandra tahu masa lalu Lilis karena wanita itu menceritakan semuanya sejak awal. Jujur Chandra sempat ragu dan akan menolak Lilis ketika itu, jika bukan karena gadis itu menangis begitu keras menyesali dirinya, Chandra tidak akan menerima seorang gadis yang sudah tidak bersih.


Ketika Chandra dan Tama kembali ke ruang inap Ratna, Chandra langsung memeluk istrinya dan hampir menangis jika saja tidak ingat ada anak-anak di sana. Tama memberikan privasi untuk keduanya. Ratna mendengar Lilis mulai menangis hingga dia akhirnya ikut menangis juga.


"Mas ada apa?"


"Bang Chandra sedang melepaskan keraguan terhadap istrinya. Tadi Vino sudah menceritakan segalanya termasuk apa yang sudah dia lakukan pada Lilis," kata Tama.


"Abang, Faisal, sini nak," kata Chandra pada kedua anaknya yang sedari tadi hanya menatap bingung kedua orang tuanya.


"Kalian berdua harus janji sama Papa, kalian berdua jangan pernah main-main sama perempuan ya. Siapapun itu. Sama Mama terutama. Mamamu sudah terlalu hebat menyembunyikan luka, jadi kalian berdua harus bisa jadi obat buat Mama ya," kata Chandra sambil menciumi kedua putranya yang antara mengerti dan tidak dengan apa yang disampaikan oleh Papanya.

__ADS_1


Lilis berjalan mendekati Ratna yang hanya mampu memandangi sambil duduk. Lilis kemudian memeluk Ratna, dan mencurahkan isi hatinya pada sahabat yang pernah dia sakiti hatinya itu. Lilis meminta maaf, begitupun dengan Ratna membuat keduanya menangis sambil perpelukan.


"Sudah jadi masa lalu. Dijadikan pembelajaran saja. Toh sekarang kalian berdua sudah sama-sama bahagia kan?" kata Tama menyemangati.


"Bener Aji bilang. Sekarang Mama cuma perlu fokus sama masa depan kita, masa depan anak-anak juga," kata Chandra.


"Sekarang Abang percaya kan sama aku?" tanya Lilis pada suaminya.


"Bohong kalau Abang bilang tidak pernah meragukanmu. Tapi Abang berani sumpah, kalau Abang percaya sama kamu. Abang percaya istri Abang bukanlah orang yang seperti itu. Abang akan menyayangimu jauh dan jauh lebih besar lagi mulai sekarang. Maaf ya, Abang salah," kata Chandra pada istrinya.


"Aku juga Mas, maaf ya pernah membuatmu berjuang sendirian. Kalau tahu semuanya akan jadi serunyam itu harusnya aku mundur sejak awal, kutolak saja ajakannya untuk pacaran dan diam aja menunggu kehadiranmu Mas," kata Ratna.


"Long gone sayang. Mas nggak peduli. Toh kamu sekarang sudah jadi miliknya Mas. Kita akan sama-sama terus sampai akhir nanti," kata Tama pada Ratna.


Tidak lama kemudian Chandra pamit. Selain dia harus kembali ke kantor, Ratna juga harus istirahat. Lilis juga bilang sore ini dia ada janji dengan editor untuk membahas naskah baru yang katanya dia saja belum mendapatkan idenya akan seperti apa.


"Papa, aku mau minta izin."


"Kenapa?" tanya Chandra tanpa melepaskan pandangan dari jalanan yang begitu ramai.


"Aku mau angkat kisah kita dalam novel. Aku ingin mengabadikan semua yang kualami selama ini," katanya.


"Boleh saja. Tapi suamimu yang kasep ini harus kau puji-puji lebih tinggi dari berandal itu. Masukkan juga perjuangan Abang untuk mendapatkanmu. Nanti Abang ceritakan," kata Chandra.


"Love you Papa," kata Lilis.


"Love you too Mama," jawab Chandra.


"Ke abang nggak love you?" protes si sulung dari kursi belakang diikuti adiknya.


"Iya, love you juga Bang Miftah sama Bang Faisal," kata Chandra pada kedua anaknya.

__ADS_1


"Love you juga Papa," jawab keduanya girang.


__ADS_2