Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
90. Kedatangan Sindy


__ADS_3

"Hi Mama," sapa Sindy yang berlari mendekat ke arah Mama.


"Hallo sayang, apa kabar? Kangen sama Mama ya," kata Mama begitu manis.


Jujur Tama muak mendengarnya. Dia cemburu karena panggilan sayang itu bukan hanya ditujukan untuk Ratna. Dia tidak terima ada gadis lain yang mendapatkan atensi dari Mamanya. Dia juga sakit hati ketika tahu jika Mama menyayangi gadis lain sama besarnya dengan menyayangi menantunya sendiri.


"Tam, mampir makan dulu yuk. Sindy pasti laper habis perjalanan jauh," kata Mama.


"Nggak bisa Ma. Aku sudah pergi seharian, kasihan Ratna nggak ada yang bantu di rumah," kata Tama.


"Cuma sebentar kok. Ratna juga kan nggak di rumah sendirian. Ada orang tuanya yang bantuin," kata Mama masih mencoba membujuk.


"Sindy, kamu laper nggak?" tanya Mama pada Sindy karena Tama tidak segera merespon.


"Lumayan laper sih Ma, dari pagi duduk terus juga. Pegel," katanya.


"Makan aja di rumah. Ibu masak banyak. Sayang kalau nggak kemakan. Aku nggak mau buang-buang duit," kata Tama dengan ketus.


Mama menyerah. Ketimbang putranya itu meninggalkannya di sini atau lebih parahnya lagi dia langsung membelikan tiket pulang, Mama memilih untuk menyerah. Mama dan Sindy berjalan lebih dulu menuju ke parkiran sedangkan Tama berjalan di belakangnya. Ketika sampai di tempat parkir, Mama mengarahkan untuk Sindy duduk di depan, di sebelah Tama tapi dengan cepat Tama mencegah gadis itu masuk.


"Kursi ini punya Ratna. Lo nggak boleh duduk di sini," kata Tama.


"Tama...," tegur Mama.


"Duduk belakang atau gue tinggal."


Lagi-lagi Mama menyerah. Mama kemudian membukakan pintu belakang dan duduk di belakang bersama dengan Sindy. Selama perjalanan Tama tidak hanya diam. Untuk mencegah adanya obrolan, dia sengaja menelpon istrinya dan menanyakan apakah Ratna butuh sesuatu atau apa biar dia bisa sekalian membelikannya.


"Mas...," panggil Ratna melalui telpon yang bisa didengar juga oleh Mama dan Sindy.


"Ya sayang?"

__ADS_1


"Minta tolong ke baby shop bisa? Belikan d******k dong sama alat pumping," kata Ratna.


"Sudah itu aja? Nggak sama beliin susu sekalian?"


"Mas mau beliin?"


"Mau lah, apa sih yang nggak buat kamu," kata Tama.


"Dih, gombal. Beliin yang coklat ya, kardus kecil aja soalnya belum tentu aku cocok," kata Ratna.


"Beli dari merk yang sama kaya kemarin aja gimana?"


"Terserah deh. Yang penting alat pumpingnya itu aku butuh cepet," kata Ratna.


"Siap Bunda. Ayah otw kok, 10 menit lagi sampai. Sampai toko maksudnya," jawab Tama.


"Apaan sih kumat deh, hati-hati Mas. Sudah dulu ya, adek nangis. Assalamualaikum," jawab Ratna yang langsung mematikan panggilan.


"Cari alat pumping? Iya Mama bantuin cari," kata Mama sudah mengerti.


"Emangnya alat itu tuh fungsinya buat apa sih Ma?" tanya Tama kepo.


"Buat nyedot susu. Biasanya karena susunya sedikit keluarnya atau justru karena berlebih, jadi biar nggak sakit ditampung di wadah," kata Mama menjelaskan sedangkan Tama hanya manggut-manggut tanda mengerti.


Mama dengan senang hati membantu putranya memilih mana alat yang paling tepat. Mama juga memastikan semua perlengkapan pendukungnya terbeli jadi Tama hanya perlu membayar. Ketika Mama sedang sibuk memilih-milih, dia melipir melihat ada sarung bayi yang lucu-lucu. Dia jadi teringat bagaimana Aksa selalu memakai sarung tangan itu agar tangannya tidak melukai wajah atau bagian tubuhnya yang lain. Tama juga melihat ada sepatu bayi yang sangat lucu, berbahan denim berwarna biru donker membuatnya kalap dan akhirnya membelinya.


Ketika sampai di rumah, Tama meletakkan semua belanjaannya di dalam kamar lalu berjalan mendekati Ratna yang sedang mengganti popok Aksa. Belum juga sampai mendekat, Ratna sudah mendorong suaminya kembali menjauh.


"Cuci tangan dulu," kata Ratna.


"Bentar cuma mau nyapa adek doang," kata Tama.

__ADS_1


"Nggak mau Mas, kamu habis dari mana-mana cuci tangan dulu itu tangan banyak kumannya. Kalau perlu mandi sekalian, udah sore kok. Nih handukmu. Jangan lupa bawa baju ganti, lagi banyak orang di rumah," kata Ratna sambil menyerahkan handuk mandi Tama dan mendorongnya keluar dari kamar.


"Pelit Bunda," kata Tama tapi tetap saja dia masuk ke dalam kamar mandi.


Ratna tidak peduli, dia kembali fokus pada Aksa yang sekarang sudah wangi. Dia baru mandi, jadi wangi minyak telon dan bedak bayinya masih kuat tercium. Ratna belum sempat mengecek isi belanjaan suaminya sudah duduk di atas tempat tidur. Dia letakkan satu bantal di belakang punggungnya sebagai sandaran kemudian satu lagi untuk membantunya menopang tubuh kecil Aksara agar Ratna mudah menyusuinya.


"Dari tadi rewel, begitu ayah di rumah langsung anteng. Dek Aksa kangen sama Ayah ya?" kata Ratna sambil mengelus-elus kepala Aksa dengan ujung jari telunjuknya.


Beberapa waktu kemudian Tama yang sudah selesai mandi dan ganti baju mendekati Ratna yang masih bertahan di posisi yang sama. Aksa sudah mulai tertidur, tapi dia masih terus ngempeng dan belum mau di lepas. Setelah Ayahnya mendekat, baru Ratna mencoba melepaskannya dan menyerahkan Aksa pada Ayahnya.


"Bunda, di cek dulu itu yang Ayah beli bener nggak?" kata Tama sambil menepuk-nepuk Aksara.


"Bener kok. Tapi kok kantongnya banyak amat," kata Ratna.


"Buat cadangan kata Mama. ASI-mu kan berlebih," jawabnya.


"Tahu aja Mama. Aku merasa beruntung punya Mama dan punya Ibu," kata Ratna yang saat ini sudah duduk di hadapan Tama.


"Tapi Mama juga sudah berulang kali menyakiti kamu. Apa kamu nggak marah? Sindy ada di luar Dek, Mas khawatir sama kamu. Mas nggak mau kamu sakit hati. Apapun usaha Mas untuk menjaga perasaanmu pasti akan ada satu kesedihan karena lihat mantan Mas ada di satu tempat yang sama kan," kata Tama.


"Nggak Mas, aku percaya kok sama Mas. Aku percaya kamu nggak akan aneh-aneh," kata Ratna.


"Dek, tadi urusan Aktanya Aksara sudah kuurus, tinggal nunggu jadi. Semoga lancar ya, biar Aksa bisa cepet punya Akta," kata Tama.


"Aamiin, terus urusan kantor?"


"Sudah semua, kurang nunggu akta lahir sama KK baru," jawab Tama.


"Bentar lagi kamu resmi sayang, seneng ya. Akhirnya Bunda sama Ayah terdaftar jadi orang tuamu. Bunda seneng banget deh," kata Ratna pada Aksara yang tidur dengan tenang di gendongan ayahnya.


Di balik pintu kamar yang tidak tertutup, samar-samar Sindy dengar bagaimana Tama dan Ratna begitu manis ketika mengobrol berdua. Terkadang mereka saling meledek, kadang juga bisa sama-sama gemes dengan putranya. Andai waktu bisa diputar kembali mungkin Sindy akan meminta sang waktu membawanya ke tempat di mana Tama melamarnya dulu. Dia akan langsung menerimanya tanpa ragu dan mengiyakan ajakannya ketika itu. Andai saja Tama masih mau memberikan kesempatan kedua untuknya, tidak akan ada Adiratna dalam kehidupan Tama. Hanya akan ada dirinya dan anak-anak mereka yang bercanda tawa seperti yang dia dengar sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2