Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
108. Mulai Berjalan


__ADS_3

Bayu dan Uli sudah lebih dulu pergi. Mama benar-benar meminjami mereka motor untuk jalan-jalan. Mama sudah dengar ceritanya dari menantunya dan Mama ikut mendukungnya. Mama bilang akan lebih baik jika Uli segera menikah. Usia Uli sudah cukup untuknya menikah, toh Mama tahu jika putranya tidak akan main mengenalkan orang seenaknya. Dia pasti sudah memikirkannya. Bagaimanapun juga Mama kenal seperti apa Tama. Dia yang membesarkan anak itu, sejak kecil Tama tidak pernah ceroboh bertindak. Dia selalu memikirkan dampaknya sebelum mengambil keputusan. Walaupun anak itu memang sedikit ceroboh kalau memegang barang. Kalau tidak rusak, pecah, ya hilang.


Seusai sarapan Teh Rizka dan Ratna langsung membenahi perbekalan Reza dan Aksa. Ibu-ibu itu mulai sibuk bolak balik kamar garasi, kadang ke dapur, ke tempat jemuran. Tama saja sampai pusing melihat mereka bolak-balik. Apalagi Mama juga ikut sibuk. Bang Zaki baru beres mandi dan makan lalu menyusul Tama untuk duduk di sofa. Di karpet dekat tempat ayahnya duduk Aksa dan Reza bermain dengan menggunakan balok lego. Ketika Reza berusaha membuatkannya sesuatu, Aksa pasti akan memporakporandakannya dan ketika tumpukan itu jatuh berantakan dia akan tertawa riang.


"Ba, ayo gih siap-siap keburu siang keburu macet," kata Teh Rizka pada suaminya.


"Mas juga siap-siap sana, masih pake celana pendek gitu. Jadi mau pergi nggak?" kali ini Ratna yang bicara pada Tama.


"Baba di rumah aja bisa nggak sih Bu?" tanya Bang Zaki.


"Aku nggak usah ikut gimana Bun?" Tama ikut bertanya.


"Kalau kalian nggak mau ikut yaudah nggak papa, kebetulan. Bi Murti nggak bisa datang hari ini jadi Baba sama Tama habis ini nyuci ya, terus nyapu, ngepel, bersihin dapur, nyiram taneman, ikan sama kucing jangan lupa dikasih makan. Terus nanti sekalian cabutin rumput di belakang," kata Teh Rizka membuat Bang Zaki dan Tama kompak meninggalkan ruang tengah untuk bersiap-siap bahkan tanpa protes sedikitpun.


"Ternyata cara kaya begitu sampai sekarang masih ampuh juga," kata Mama.


"Emang Mama juga gitu?"


"Jangan salah, Papanya Tama itu kalau di rumah kerjaannya cuma tiduran aja. Udah nggak pernah ngapa-ngapain. Jagain Tama main juga sambil rebahan," kata Mama.


"Capek kali Ma. Papa dokter spesialis kan, Ratna sedikit banyak paham sih kerjaan Papa. Apalagi Papa kan kepala dokter," jawab Ratna.


"Memangnya kamu kalau capek kerja terus di rumah cuma rebahan? Kan nggak Na, sudahlah jadi ngomongin almarhum sih," kata Mama.


"Ma, pulang dari taman bermain ngemall mau nggak? Ngajak Ratna jalan-jalan mumpung punya porter," kata Teh Rizka.


"Ya? Teh Rizka juga nyebut gitu?" tanya Ratna yang merasakan sedikit deja vu.

__ADS_1


"Budaya nyebut begitu sudah dimulai sejak Mama sama Mamaku dulu masih muda Na," kata Teh Rizka sambil tertawa.


"Ohh pantesan," jawab Ratna ikut tertawa.


...***...


Hari itu yang dewasa hanya menemani si kecil bermain. Sementara Reza sedang asik bermain di jembatan goyang, Aksa main saja trampolin bersama Ayah. Dia hanya berdiri di pinggiran sambil memegangi Aksa sementara anak itu begitu senang bisa lompat-lompat walaupun sebenarnya kakinya tidak lepas dari tanah.


Aksa seperti tidak ada lelahnya bermain padahal ayahnya sudah lelah sejak tadi memeganginya. Tama kemudian menurunkan Aksa di tanah, dia memapah putranya untuk jalan sedangkan Ratna menjaga beberapa jarak di depan. Perlahan Tama melepaskan pegangannya membuat Aksa hanya berdiri bingung karena tiba-tiba ayahnya berjalan mundur. Aksa mendongak untuk mencari Ayahnya. Tangannya direntangkan minta digendong. Aksa juga mendengar suara Bundanya tapi kenapa Ayah Bundanya tidak ada yang mau berjalan mendekatinya.


"Sini Sa, ke Bunda sini," kata Ratna yang hanya berjongkok sambil merentangkan tangannya.


Aksa bersiap mengambil langkah pertamanya. Beberapa langkah dia masih bisa berdiri tegak namun lama kelamaan dia mulai condong ke depan dan jatuh.


"Nggak papa yuk jagoan Bunda bangun sini jalan lagi," kata Ratna menyemangati Aksa.


Tama di belakang sibuk dengan handphonenya mengabadikan Ratna yang sedang melatih Aksa berjalan. Sebenarnya Aksa sudah mulai bisa berjalan, tapi dia belum bisa jauh. Biasanya hanya beberapa langkah sebelum dia akhirnya jatuh kemudian bangun lagi dan mulai merangkak karena greget tidak sampai-sampai.


Ratna menciumi pipi Aksa yang masih tertawa. Kali ini Tama bergantian. Dia berjongkok di hadapan Aksa sambil merentangkan tangannya. Aksa berjalan mendekati Ayah dengan cara yang sama seperti tadi. Kali ini dia tidak jatuh. Dia berhasil berjalan tanpa tersandung kakinya sendiri. Sama seperti Bundanya, Aksa juga diciumi oleh Ayah.


...***...


"Ndahh Mammm...," kata Aksa yang sudah lelah bermain.


Ratna memberikan sebotol air putih dulu dari botol milik Aksa kemudian memberinya sepotong biskuit. Mereka saat ini sedang mengantri beli makan di foodcourt. Tama dan Bang Zaki sedang mengambil pesanan mereka sementara Mama, Teh Rizka, Ratna, dan anak-anak duduk di satu meja yang cukup besar.


"Pinternya cucu nenek," puji Mama pada Aksara yang mampu menghabiskan biskuitnya sendiri.

__ADS_1


Tama lebih dulu kembali sambil membawa semangkuk soto di tangannya. Ratna langsung mengambil alih biskuit Aksa kemudian melahapnya begitu saja. Ratna lebih dulu mengelap kedua tangan Aksa dengan tisu basah, menyelipkan selembar tisu kering ke kerah baju putranya kemudian mulai menyuapinya. Pada percobaan pertama Aksa masih belum mau memasukkan makanannya karena panas walaupun Ratna sudah meniupnya.


Ratna memutuskan untuk menunggu sebentar sambil dia lebih dulu memulai makan siangnya. Dia memesan bento dengan ayam blackpaper sedangkan Tama yang duduk di hadapannya memesan nasi ayam. Ratna sedang mencoba memakan saladnya ketika tangan Aksa yang duduk di tempat duduk khusus bayi mulai berusaha meraih makanannya.


"Bunda, anaknya itu udah nggak sabar," kata Tama pada Ratna.


"Masih panas Yah, tadi juga belum mau," jawab Ratna.


Ratna mencobanya sekali lagi. Kali ini dia meniupinya sampai benar-benar dingin baru menyuapkannya. Aksa mulai memakannya, dia mulai lahap menghabiskan makannya bahkan sebelum Bunda selesai dengan makan siangnya. Tama yang sudah lebih dulu selesai meminta Ratna bertukar kursi dengannya agar dia saja yang menyuapi Aksa dan Ratna bisa makan dengan tenang.


"Om, emangnya Dek Aksa belum bisa makan sendiri?" tanya Reza.


"Kalau di rumah sih sudah belajar makan sendiri Ja, tapi kalau di sini kan nanti kalau berantakan susah bersihinnya," kata Tama.


"Tapi kalau Eja yang makannya berantakan Bubu selalu minta Eja bersihin sendiri," katanya lagi.


"Eja kan sudah besar, ya Eja harus belajar bersihin sendiri. Katanya mau punya adek," jawab ayahnya.


"Bang Zaki jadi mau kasih adek ke Eja? Otw apa malah udah?" tanya Tama.


"Otw."


"Otw itu apa Baba?"


"On the way, bahasa inggrisnya sedang dijalan," kata Bang Zaki menjelaskan pada putranya.


"Emangnya adeknya Eja lagi di jalan? Kasihan Baba kok dibiarin sendirian? Ayo dijemput," kata Reza membuat yang mendengarnya tertawa.

__ADS_1


Bang Zaki terlihat kerepotan menjelaskannya pada Reza, untung Teh Rizka membantunya. Ratna dan Tama hanya mengamati, cepat atau lambat putranya ini juga akan ada di fase yang sama seperti Reza. Menanyakan apapun yang membuatnya penasaran dan ingin tahu. Sekarang saja Aksa yang mulai mengerti bisa geram sendiri kalau rasa penasarannya tidak terjawab.


Pernah Ratna melihat putranya ini bermain balok dengan beberapa macam bentuk. Ratna memang mengajari Aksa menempatkannya di tempat yang sesuai, bulat ya bulat, segitiga ya segitiga. Di satu waktu, Aksa mencobanya sendiri. Dia mencoba memasukkan balok berbentuk persegi dalam pola berbentuk bulat yang jelas tidak akan bisa masuk. Tidak peduli sebanyak apa dia memutarnya balok itu tidak mau masuk. Ratna diam-diam mengabadikannya, bahkan ketika Aksa yang mulai geram berteriak protes pada balok itu dengan bibir manyun khas orang marah.


__ADS_2