Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
92. Selapanan


__ADS_3

Happy 1K like aku double up deh hehe, makasih dukungannya pembaca semua... 🤗


Terus drop comment and likenya ya biar author semangat nulis... 🎉🎉🎉


#Ji


Dalam adat Jawa, ketika bayi menginjak usia ke 35 hari atau selapan maka akan diadakan syukuran. Tama mungkin tidak tinggal di Jawa ketika kecil, tapi dia ini diam-diam punya darah Jawa juga. Ratna apalagi, dia Jawa tulen. Makanya Tama dan Ratna mengambil momen itu untuk mengundang teman-teman kantor Tama dan Ratna ke rumah dan ikut meramaikan acara selapanan Aksara. Bapak dan Ibu lagi-lagi datang ke Jogja berdua, Mama juga menunda kepulangannya.


Sejak pagi Ela, dan Lilis sudah membantu di rumah Ratna. Karena Ratna benar-benar tidak bisa meninggalkan Aksara yang mulai aktif. Ratna sedang menemani Aksara bermain setelah dimandikan oleh ayahnya. Ratna juga tidak lupa menyusuinya agar Aksara anteng dan tidak rewel seharian ini. Dia akan jadi bintang utamanya, makanya Ratna mempersiapkan Aksara dengan sebaik mungkin.


Ratna memakaikan baju model lebah pada Aksara, tidak ketinggalan juga dengan sarung tangan dan sarung kaki juga topi. Selesai menyusui, Ratna mendekap Aksa dan menepuk pelan punggungnya baru dia ajak keluar untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ayahnya di luar.


"Bang, udah lurus belum?" tanya Dipta yang sedang memasang banner selamat datang bergambar Aksara dan kedua orang tuanya.


"Naik dikit yang dipegang Bayu naik dikit," kata Tama yang mandori dari bawah.


"Segini Bang?" tanya Bayu.


"Sip."


"Dek, lihat tuh siapa itu, foto siapa itu," kata Ratna mengajak Aksara bicara sambil menunjuk banner yang tengah dipasang.


"Tante, mau cium dek Aksa," minta Miftah sulungnya Lilis yang sejak tadi hobi sekali mencium dan colek-colek pipi Aksa.


"Abang cium cium terus nanti pipi adek habis," kata Faisal, adiknya.


"Abis pipi adek gemes. Nggak kaya pipimu," kata Miftah.


"Miftah nggak boleh gitu sama adekmu," kata Ulfah, anak pertama Dipta.


"Nda boyeh nakal," tambah Indi.


Ratna melihat keempat anak itu berebut menciumi Aksara hanya bisa tersenyum. Dia sejak tadi duduk di lantai sambil menggendong Aksara agar anak-anak itu bisa lebih mudah bermain dengan si kecil. Kadang namanya anak kecil kalau gemas suka tiba-tiba mencubit atau apa. Seperti Indi yang gemas pada Aksara yang mulai menggeliat tidak nyaman langsung memukul Aksara dengan tangannya. Maksud dia mengelus Aksa, tapi terlalu keras makanya Aksa langsung menangis.


"Hayo siapa yang tadi bikin dek Aksa nangis," kata Ela yang sejak tadi sebenarnya mengamati.


"Indi," kata ketiganya kompak membuat Indi ikut menangis karena takut dimarahi.

__ADS_1


Beberapa waktu Indi menangis di gendongan Papanya dan akhirnya tertidur. Rumah semakin ramai sekarang karena beberapa sudah ada yang datang. Jay dan Nita juga datang bersama dengan jagoan kecil mereka bernama Rangga. Aksa dan Rangga ditidurkan di tempat tidur Ratna dan Tama sementara Ratna yang jadi lebih leluasa mulai membantu Lilis dan menata makanan di meja prasmanan panjang yang diletakkan di halaman rumah Tama yang cukup luas.


"Memangnya kamu kuat Na?" tanya Lilis melihat Ratna akan mengangkat panci berisi sop.


"Nggak, he... he...," kata Ratna.


"Sini aku aja," Lilis mengambil alih.


"Ratna, kondisimu gimana? Tenagamu belum pulih?" tanya Ela.


"Belum sepenuhnya, Mas juga nggak kasih izin buat angkat-angkat. Aku cuma latihan tangan aja, dari pada aku nggak bisa kerja," kata Ratna.


"Eh kamu bilang lagi cari pengasuh kan?" tanya Lilis.


"Iya, tapi nggak keburu lah. Cutiku masih sisa 2-3 mingguan," kata Ratna.


"Mau aku kenalin ke baby sitternya Faisal kalau kamu mau. Kontraknya sama aku sudah nggak mau aku perbarui tapi kasihan kalau dia jadi nggak punya kerjaan. Orangnya telaten kok, nggak aneh-aneh. Biasanya di aku kalau Papanya anak-anak pulang atau aku sudah pulang dianya juga pulang jadi bener-bener cuma jagain anak-anak kalau pas orang tuanya nggak ada," kata Lilis.


"Berhenti ditempatmu kenapa? Ada masalah atau kenapa?" tanya Ratna memastikan.


"Hmm minta nomornya dulu deh, nanti aku harus obrolin dulu sama Mas. Agak sensitif kalau ada yang mau dekat-dekat sama anak istrinya. Tadinya nggak mau pake pengasuh, untung bisa dinego. Soalnya nggak mungkin Aksara aku bawa ke rumah sakit terlalu sering walau di sana ada penitipan," kata Ratna.


"Kok bisa? Suamimu nggak keliatan kaya cemburuan," tanya Ela.


"Memang nggak cemburuan," kata Tama yang ternyata dengar pembicaraan mereka.


"Dih nguping," cibir Ratna.


"Bang. Kenapa memangnya kalau ada yang bantu Ratna menyelesaikan pekerjaannya kok nggak boleh?" tanya Lilis.


"Bukan nggak boleh, cuma pikir-pikir aja orangnya siapa. Udah berapa kali aku kehilangan anak, hampir kehilangan istri juga. Coba tanya sama yang disebelahmu itu, berapa kali dia nginep di ICU. Aku cuma nggak mau aja ada apa-apa sama mereka berdua. Bisa runtuh duniaku," kata Tama menjelaskan sambil tangannya nyomot pisang goreng dihadapannya.


"Sweet banget suamimu Na," kata Lilis.


"Aku juga sweet kok Ma," kata Chandra.


"Nggak peduli," kata Lilis pada suaminya.

__ADS_1


"Kemusuhan amat sama suami sendiri Lis, Lilis," kata Ela geleng-geleng.


"Udah biasa. Belum aja dia nyakar. Kesambet apa dulu aku bisa nikahin dia," kata Chandra seperti mengiyakan kata-kata Ela.


"Sok sokan. Cuma latgab 3 hari aja bilang kangen sampe ribuan kali. Tiap menit tiap detik, 'aku kangen istriku'. Heleh bucin," kata Tama pada seniornya.


"Nggak ngaca," kata Chandra tidak terima.


"Emangnya ada gitu perwira kita yang nggak bucin sama istri? Noh lihat komandannya aja modelnya begitu," kata Cece kali ini mulai bicara membuat mereka menoleh pada Ndan Hendra yang lengket dengan istrinya kemana-mana.


Upacara adat sudah selesai dilaksanakan, dan sekarang tinggal acara makan-makan. Karena awal kelahiran dulu Tama dan Ratna memutuskan untuk tidak menerima kunjungan, jadi kado dan ucapan selamat tumpah hari ini. Di pojok tenda dekat dengan pintu masuk ke dalam rumah tumpukan kado dari yang kecil hingga yang besar menumpuk tinggi. Bahkan sudah hampir roboh karena tertabrak oleh anak-anak yang sempat berlarian kesana kemari.


"Bunda makannya mau disuapin aja apa ambil sendiri?" tanya Tama mendekati Ratna yang sedang berdiri di depan kulkas untuk menyiapkan susu.


"Sendiri aja," kata Ratna.


"Sini Aksa biar sama Ayah."


Tama mengambil alih Aksa dan berjalan kembali ke luar dari rumah yang masih ramai. Nata juga datang walau agak terlambat. Dia dengan seragam tarunanya terlihat mencolok ketika tengah mengobrol dengan teman-teman Ratna. Begitu Nata melihat Aksara digendong ayahnya, Nata meninggalkan Dipta begitu saja dan memilih mendekati kakak iparnya.


"Bang mau gendong," kata Nata.


"Cuci tangan dulu. Baru datang kan kamu? Bundanya bisa ngamuk kalau kamu pegang Aksa belum cuci tangan," kata Tama.


"Udah Bang, nih tanganku aja masih bau sabun," kata Nata.


Tama dengan perlahan membantu Nata menggendong keponakannya. Nata yang agak kaku kemudian hanya bisa berdiri kikuk walaupun wajahnya terus menggoda Aksa yang hanya diam berkedip mengamati siapa wajah asing yang sedang menggendongnya ini. Ratna keluar dari rumah beberapa waktu kemudian dengan membawa sebotol susu hangat. Nata memang terlihat kerepotan karena harus menopang leher Aksa sedangkan tangan satunya menggenggam botol susu tapi karena Ratna ada di sebelahnya membantu jadi Nata tidak khawatir.


"Mbak Ratna udah jadi ibu bar-barnya hilang," kata Nata.


"Sejak kapan Mbak bar-bar?"


"Sejak dulu. Mbak Ratna sama Mbak Sasa sama aja, bar-bar," kata Nata menggoda.


"Ya kalau sekarang mau lanjut bar-barnya kasihan dek Aksa," kata Ratna.


"Seneng rasanya bisa lihat Mbak bahagia," kata Nata membuat Ratna tersenyum mendengar adik bungsunya yang selama ini tidak pernah sama sekali memperlihatkan perhatiannya secara terang-terangan.

__ADS_1


__ADS_2