Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
19. BonBon


__ADS_3

Dengan kondisinya yang sekarang mungkin berat, tapi Ratna tidak pernah patah semangat menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia bahkan merasa lebih bersemangat dibanding sebelumnya. Selain itu banyak juga kebiasaan-kebiasaan baru yang dia terapkan untuk tetap hidup sehat bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk bayinya.


"Ratna, kau ada jadwal jari ini?" tanya Bima.


"Hmm..., operasi usus buntu di siang dan malam hari," jawab Ratna.


"Kau jaga malam lagi?"


"Yap, 3 hari berturut-turut."


"Bumil jangan keseringan jaga malam deh, kasihan yang di perut," kata Bima lagi.


"Nggak kasihan sama yang ini?" tanya Ratna menunjuk dirinya sendiri.


"Nggak ah, takut kena tembak. Pawangmu ngeri kerjaannya," kata Bima.


"Yaudah biar sama-sama enak mending kamu gantiin aku shift malam, gimana?" tanya Ratna mencoba membuat kesepakatan.


"NO. Big No Ratna, kamu kan tugas jaga malam sama aku. Kalau kamu digantiin Bima aku nggak ngerti lagi akan sebanyak apa pasien yang masuk. Nggak..., nggak..., nggak bisa..., aku nggak terima," kata Rati.


"Dipikir kamu nggak bau Rati?" kini Bima pindah mendebat Rati.


"Ehh..., enak saja. Aku ini wangi tahu," kata Rati tidak terima.


"Hey kamu lupa jaman koas dulu rekor pasien terbanyak dalam semalam dipegang siapa? Kamu Ti," kata Bima mendebat lagi.


Ratna hanya bisa geleng-geleng dan kembali fokus pada pekerjaannya. Lagi pula percuma dia ikut dalam perdebatan dua orang ini. Mereka punya dunianya sendiri. Bahkan Ratna saja heran, kenapa dua orang ini bisa bertahan pacaran selama bertahun-tahun jika sehari-harinya hanya berdebat begini.


Tepat pukul 8 Ratna menuju ke poli untuk mendampingi seorang dokter spesialis. Jadwal rawat jalan terakhirnya dalam seminggu ini. Setelah makan siang, Ratna berjalan menuju ruang operasi membantu persiapan di sana. Sampai malam Ratna berada di ruang operasi karena ada 2 kasus yang harus dia tangani secara berturut-turut. Selesai dengan 2 prosedur tadi, Ratna lebih dulu mengistirahatkan dirinya yang sudah lelah di ruang istirahat. Ratna mengangkat kedua kakinya hanya untuk melihat seberapa bengkak kakinya saat ini.


"Ahh..., aku terlalu lama berdiri," katanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tidak lama dia berada di sana, dia memutuskan untuk menuju ke ruang kerjanya. Dia berencana mandi dan membersihkan diri sebelum jam shift malamnya di UGD dimulai. Sayangnya baru dia melangkah keluar dari ruang operasi, seseorang mendekatinya dengan tidak santai sambil membawa bucket bunga mawar yang cukup besar untuknya. Namanya Petra, KaBid Kepegawaian yang baru di rumah sakit tempat Ratna bekerja ini.


Petra bilang dia suka sama Ratna sejak kejadian agak konyol beberapa bulan silam di mana Petra yang tersedak diselamatkan oleh Ratna yang kebetulan sedang makan tidak jauh darinya. Petra memang sedikit unik. Petra tahu jika Ratna sudah memiliki suami, tapi Petra selalu bilang, "Kutunggu jandamu, Ratna."


Ratna tadinya menolak keras apapun usaha yang dilakukan oleh laki-laki itu, tapi terkadang bisa jadi hiburan untuknya juga. Pernah satu kejadian ketika itu Ratna sedang menunggu Tama menjemputnya di pintu depan. Petra tiba-tiba datang sambil memamerkan mobil barunya.


"Ayolah Ratna, aku beli mobil ini khusus untukmu. Kursinya empuk dan sandarannya nyaman, kalau kurang nyaman aku juga bisa kau jadikan sandaran," kata Petra. Padahal dia bicara begitu posisinya sudah ada Tama di sebelah Ratna.


Itu juga pertemuan pertama Tama dengan Petra, juga pertama kalinya Ratna menceritakan semua yang dia alami hingga laki-laki itu bisa begitu tergila-gila padanya. Tama bilang tidak apa-apa kalau hanya bermaksud menghibur, tapi kalau bermaksud lain entah apa yang akan Tama lakukan padanya, katanya. Tama menakutkan kalau sedang cemburu.


"dr. Ratnaaa~~," teriak Petra.


"Astaga Pak, ini rumah sakit bukan hutan. Lagi pula sudah malam. Kalau sampai para pasien terbangun karena suara cemprengmu aku tidak akan segan menjahit bibirmu itu," kata Ratna sambil melanjutkan jalannya.


"Aduh kasihan banget sih cantikku, sini-sini bang Petra gendong. Kamu pasti capek kan, tidak pengertian sekali suamimu itu. Lebih baik kau denganku saja. Aku akan ada di sisimu 24 jam per 7 hari," katanya kini berdiri di depan Ratna merentangkan tangannya.


"Pak Petra, aku sudah terlalu lelah untuk meladeni omong kosongmu. Lebih baik kau pergi saja," kata Ratna.


"Petra aku tidak sedang main-main. Besok saja kau gombalnya, ya? Aku ingin segera istirahat," kata Ratna.


Petra mundur pelan-pelan ketika menyadari jika nafas Ratna agak tersengal. Sepertinya Ratna memang betulan kelelahan, "Aku belikan susu hangat mau tidak? Aku kasihan padamu," kata Petra dengan nada yang berbeda. Kali ini nadanya begitu lembut dan terdengar penuh perhatian. Tidak menggebu-gebu seperti biasanya.


"Tidak usah, terima kasih. Maaf aku harus segera pergi. Shiftku sebentar lagi dimulai," tolak Ratna sebelum dia benar-benar meninggalkan Petra mematung di posisinya.


Ratna berbelok ke kiri di ujung lorong menuju ruang kerja para residen. Di sana ada 2 buah tempat tidur susun yang biasa dipakai oleh mereka yang berjaga malam. Ratna mengurungkan niatnya untuk mandi, dia lebih memilih meletakkan tubuhnya di atas kasur. Meletakkan satu buah bantal sebagai sandaran punggung lalu duduk meluruskan kakinya.


Ratna meraih handphonenya dari saku bajunya lalu membuka pesan dari Tama yang masuk. Satu per satu dia baca pesannya, mulai dari Tama yang pamer Pak Slamet tidur mengorok sampai acara ulang tahunnya Pak Somat yang mereka rayakan di markas. Tama bahkan mengirimi foto wajahnya yang penuh dengan krim kue hasil acara colek-colekan kue ulang tahun Pak Somat. Terakhir adalah pesan Tama yang bilang kalau isi kulkas kosong, dan dia terpaksa makan malam dengan indomie rebus rasa soto yang hanya tersisa 2 bungkus.


"Sisa 2 bungkus aku makan semua ya, kulkas kosong dan aku malas pergi keluar," kata Tama sebagai caption gambar yang dia kirim dalam pesan terakhirnya.


Sedang asik membaca pesan-pesan itu, tiba-tiba di pojok profil Tama muncul bulatan hijau kecil menandakan dia sedang online. Tanpa pikir panjang Ratna langsung mengirimi pesan pada Tama menanyakan apakah suaminya itu sedang senggang atau tidak. Belum ada balasan, tapi sebagai gantinya Tama langsung melakukan panggilan video menampakkan wajah lelahnya yang sudah bergulung dalam selimut ditemani BonBon di sebelah kepalanya.

__ADS_1


"Hi BonBon...," sapa Ratna malah pada bonekanya.


"Nih telponan sama BonBon aja, aku tinggal ya...," kata Tama sambil mengarahkan layar pada BonBon yang hanya diam di tempat dengan wajah tersenyumnya yang biasa. Kalau kata Tama senyum BonBon itu senyum mengejek, mengejek Tama yang sering ditinggal istrinya shift malam.


"Mas~," panggil Ratna sambil merengek.


"Iya, iya bercanda. Lagi apa Bunda sama adek?" tanya Tama.


"Lagi istirahat. Tadinya mau mandi tapi kok males banget rasanya. Nggak mau kena air, takut dingin," curhat Ratna.


"Katanya ada water heaternya? Dipake dong."


"Nggak mau, males kena air. Males lepas baju juga. Bisa nggak sih kita tuh kalau mau mandi nggak usah lepas baju aja. Langsung guyur gitu," kata Ratna membuat Tama tersenyum.


"Boleh aja sih kalau kamu mau nggak papa mandi tetep dipake bajunya," kata Tama sambil tertawa.


"Habis itu bukan badannya yang disabun tapi bajunya," Ratna ikut tertawa.


"Sekalian dijemur biar nggak bau," kata Tama.


"Ayah..., besok pagi jemput dong," kata Ratna.


"Boleh, jam berapa?"


"Jam 6 pagi. Tapi kalau aku agak terlambat maaf ya," kata Ratna lagi.


"Kalau jam 7 belum datang Mas tinggal, maaf ya. Mas jam 7.30 ada apel," kata Tama.


"Iya, kalau aku telat banget Mas tinggal aja aku minta anter sama Rati atau naik kendaraan umum aja."


Ratna dan Tama terus mengobrol hingga ketika Rati masuk ke ruangan Ratna memilih mematikan sambungannya. Biarkan Tama juga istirahat. Lagi pula besok mereka juga akan bertemu. Yang penting Ratna sudah bilang minta dijemput jadi dia hanya perlu berdoa besok tidak ada kasus darurat yang membuatnya harus naik kendaraan umum.

__ADS_1


__ADS_2