Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
41. Impas


__ADS_3

Ratna terlihat sibuk dengan handphonenya ketika Tama yang baru selesai mandi berjalan menuju ke dapur. Tama meneguk air putih sambil terus mengamati Ratna yang terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap handphonenya di tangan. Tama melangkah ke dalam kamar, tanpa bertanya. Tapi bahkan setelah dia selesai sholat Ratna masih sibuk dengan benda pipih kecil itu. Ratna juga tidak menyadari kalau Tama sekarang sudah duduk di sebelahnya sambil berusaha meraih atensinya.


"Dek, ngapain sih heboh banget kayanya. Sampe suaminya dicuekin gini," kata Tama.


"Ini lho aku habis vidcall sama istrinya Dipta. Kan anak kedua mereka belum lama ini lahir. Cewek, dan lucu banget. Nih aku dikirimi videonya juga," kata Ratna memperlihatkan video yang tadi dia maksud.


"Pipinya lihat deh, lucu banget," puji Tama.


"Siapa namanya?" tanyanya lagi.


"Indira Dela Putri, panggilannya Indi. Lucu banget kan jadi pengen deh," kata Ratna sengaja memberi kode pada suaminya.


"Sama. Bikin yuk," kata Tama.


"Nggak sekarang."


"Astaga lupa masih lama ya?" tanya Tama.


"Nggak tahu," ledek Ratna.


"Nggak asik ah istriku jual mahal," kata Tama kemudian menjatuhkan kepalanya pada pundak Ratna.


"Udah nggak umurnya bertingkah lucu gitu. Geli aku lihatnya Mas, muka garang kok uwu uwuan," kata Ratna.


"Kenapa sih istriku beda dari yang lain, padahal kalo Nesya bilang cewek suka didusel-dusel. Kok kamu nggak sih Dek," tanya Tama tapi masih berusaha terus bertingkah manja di sebelah Ratna.


"Yang suka didusel Nesya kali, aku mah nggak. Berat, kamu kan badannya udah kaya titan gini. Mas beneran berat lho, mikrowifemu tersayang ini gepeng nanti. Mas astagfirullah."


Jadilah dua orang itu kini malah saling dorong-dorongan sampai Ratna saja hampir terjatuh dari sofa kalau saja Tama tidak sigap memeganginya. Ratna yang merasa mendapatkan kesempatan langsung berdiri meninggalkan Tama, tapi malah dengan bodohnya dia menuju ke kamar membuat Tama semakin menakutkan. begitu saja dia menggendong Ratna dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur kemudian saling menggelitik. Untung rumah sebelah kosong dan suasananya masih ramai orang lalu lalang karena belum terlalu malam jadi suara tawa Tama dan Ratna tidak akan terdengar oleh siapapun kecuali kalau ada yang kurang kerjaan dan menguping dari jendela kamar.


BRAKKK!!!


"Wow apa itu," kata Ratna yang reflek kaget karena suara benda jatuh barusan.


"Ada pohon yang ambruk ya? Tapi kan nggak ada angin?" kata Tama mulai menjauhkan diri dari Ratna dan berjalan mendekati jendela untuk melihat kondisi di luar.

__ADS_1


"Coba dari pohon di depan Mas. Kali aja ada batangnya yang patah," kata Ratna.


Tama kemudian keluar dari rumahnya diikuti oleh Ratna yang mengekor dibelakangnya. Karena tubuh besar Tama menutupi jalan keluar dan menghalangi pandangan Ratna, dia kemudian memunculkan kepalanya dari samping untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuh kan bener. Asik nih bisa ngerujak," kata Ratna.


"Astaghfirullah pager rumahku remuk kui ya Allah tambah kerjaan lagi," kata Tama dengan wajah datarnya.


"Nggak papa, kutemenin kok. Aku makan rujak kamu bersih-bersih ya ganteng," kata Ratna sambil menepuk bahu Tama.


Tama menghela nafas kasar kemudian melangkah keluar dan meraih batang pohon yang jatuh itu untuk dia bersihkan, "Hah.... Ada ada aja heran baru mau berduaan sama istri juga. Punya dosa apa aku, wis kerjaku aja demi keselamatan banyak orang malah diganjar kaya ngene nasibmu Tama ngenes pol," kata Tama terus ngedumel tapi kedua tangannya terus bergerak dengan cekatan. Tidak terima betulan dia, waktu sayang-sayangannya dengan istri diganggu.


Ratna tidak sampai hati membiarkan suaminya membersihkan kekacauan itu seorang diri. Dia kemudian melangkah masuk dan kembali keluar membawa sebuah wadah besar untuk mengumpulkan buah-buah mangga yang jatuh ke tanah. Jika yang masih bagus dan sudah layak dimakan akan Ratna masukkan ke dalam baskom yang tadi dia bawa sedangkan yang tidak akan dia buang bersama daun-daun yang berserakan.


"Nggak ada yang mateng itu satupun?" tanya Tama pada Ratna yang sudah selesai mengumpulkan semuanya.


"Nggak ada. Orang masih kecil-kecil gini kok," kata Ratna.


"Gagal panen ini mah, say goodbye pada puding manggamu dek. Padahal aku ngidam udah dari pohon ini belum berbunga," kata Tama yang meraih golok untuk memotong batang besar itu menjadi dua baru dia singkirkan. Tidak dia buang begitu saja, tapi dia kumpulkan di pojok rumahnya. Biar besok petugas kebersihan yang mengambilnya. Karena kalau semuanya dimasukkan ke dalam tong sampah di pojok gang tidak akan muat dan Tama juga malas mengangkutnya ke sana.


"Keringetan lagi deh jadinya," kali ini Ratna membawakan air minum dan handuk kecil untuk menyeka keringat Tama.


"Ini mah mandi lagi harus. Gatel dek kayanya ada semutnya ya," keluh Tama mulai merasakan ada yang merambat dipunggungnya.


"Ya Allah punggungmu Mas semut tok," kata Ratna langsung membua Tama melepaskan pakaiannya. Dengan handuk kecil tadi Ratna membantu Tama membuang semua semut yang sudah merayap kemana-mana.


"Yaudah gih mandi lagi."


"Mager buka baju. Bisa nggak sih kita mandi langsung guyur aja?" tanya Tama membuat Ratna deja vu.


"Bajumu wis kebuka. Nek mager sini tak bukain celananya sekalian," kata Ratna dengan wajah datar.


Entah kenapa, dari sekian juta kemungkinan kesamaan sifat kedua orang ini malah memiliki kesamaan mager buka baju kalau mau mandi. Aneh memang, entah mereka berdua sadar atau tidak. Setiap kali mereka mau mandi sering mereka mengeluh begitu.


Tama sudah selesai mandi untuk yang kedua kalinya malam ini. Ketika dia melangkah keluar dan melewati dapur, dia menemukan Ratna sedang asik makan mangga muda dengan bumbu rujak yang entah sejak kapan dia buat.

__ADS_1


"Widih enak nih," kata Tama.


"Pedes Mas," jawab Ratna sambil menahan tangan Tama.


"Biasa aja dek, level pedesnya Mas sekarang jadi ngikut kamu deh gara-gara sering makan sambel buatanmu. Udah nggak bisa ngerasain pedes lagi Mas sekarang," kata Tama.


"Iya juga sih," kata Ratna.


Tama dan Ratna akhirnya melanjutkan obrolan mereka seputar rumah impian yang ingin mereka bangun. Ratna bahkan sampai membawa keluar beberapa lembar kertas HVS dan pulpen untuk membuat denah rumah yang mereka impikan dan kertas itu difoto kemudian di simpan ke dalam galeri handphone Tama dan Ratna.


"Dek...," kata Tama.


"Hmm?"


"Aku mau jual si Megi," celetuk Tama.


"Si Megi? Mas yakin mau jual dia? Kesayangan Mas lho dia," kata Ratna.


"Iya dek, nggak papa. Mas pake Vega, kamu pake Brian ya," kata Tama.


"Mas turun pangkat dong."


"Ya nggak papa sih kantor cuma 500 meter ini, kalau kamu kan jauh dek."


"Tapi kalau aku pake Brian aku nggak bisa ngebut Mas," keluh Ratna.


"Nah kan ketauan sekarang. Jangan ngebut sayang. Kan kamu sudah nggak ngurus kasus yang darurat lagi toh?"


"Siapa bilang wong aku penanggung jawab IGD sekarang. Kalau ada pasien darurat yang butuh pembedahan aku yang akan dipanggil pertama kali. Karena kata Petra berdasarkan survey kepuasan pasien dan kinerja pegawai akulah yang paling berdedikasi dan paling siap mengurus panggilan IGD. Hebat nggak tuh," kata Ratna.


"Nggak hebat sih. Soalnya aku bakal tidur sama BonBon setiap kali kamu nggak ada kan? Ya elah Ratna, gini banget nasibku jadi suamimu. Sering ditinggal dinas malam."


"Ya sama. Gini amat nasibku jadi istrimu. Kalau lagi tugas bisa berminggu-minggu nggak pulang," balas Ratna.


"Jadi kita impas kan?" kata Tama sambil mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Ratna.

__ADS_1


"Sudah pasti," jawab Ratna menautkan kelingkingnya pada  kelingking Tama.


__ADS_2