
2 hari menjelang hari terakhir, Ratna menemani Tama untuk upacara pelepasan. Dia mendapatkan waktu sekitar 10 hari untuk mengurus pindahan dan melapor ke markas yang baru. Tama dan Ratna sedang berkunjung di rumah Pak Leo dan bu Rosa yang tengah berbahagia karena beberapa hari lalu baru saja mendapatkan anggota keluarga yang baru. Tamara namanya. Waktu ditanya, Pak Leo mengaku mendapatkan nama itu terinspirasi dari penggabungan nama Tama dan Ratna karena Pak Leo ingin putrinya bisa sehebat Tama dan pengabdiannya bisa sekeren Ratna. Dia juga ingin putrinya bisa secantik Tamara Blezynski katanya.
"Bang, ibu sudah pantes gendong bayi," bisik Arya.
"Ya tapi belum dikasih mau gimana," jawab Tama.
"Bikin lagi Ji, jangan nyerah dong," kali ini Pak Leo yang ngompori.
"Ya nanti nggak sekarang. Kalau sudah mapan di sana, terus rumah juga sudah jadi baru gas lagi."
"Kamu nggak dapat rumah dinas?"
"Sengaja nggak ngajukan Pak. Saya punya rumah di Jogja walaupun reyot, tapi setidaknya bisa melindungi dari panas dan hujan. Sedikit-sedikit lah saya perbaiki. Biar nggak khawatir lagi, dia bisa tenang kerjanya saya juga nggak harus mikir macem-macem. Lebih ayem lah Pak intinya," kata Tama.
"Ya bener memang yang Aji bilang, rumah dinas kan bukan haknya kita untuk memiliki. Hanya hak menempati itupun kalau sudah selesai masa bakti kita ya harus dikembalikan," kata Pak Leo disetujui oleh Tama.
"Aji mana? Lihat tuh istrimu, pinter banget nenangin bayi yang nangis," kali ini Bu Rosa malah yang menggoda Tama.
"Bunda mau juga?" tanya Tama langsung pada Ratna yang terlihat berbinar ketika menatap Tamara yang mulai tertidur dengan tenang dalam gendongannya.
"Mau satu," kata Ratna.
"Jangankan satu. Selusin pun aku buatin spesial buat kamu," kata Tama.
"Hus. Ya Ayah enak bikin doang, aku yang harus hamil sembilan bulan, belum nanti kalau sudah lahir harus dijagain 24 jam nggak bisa meleng. Nyiksa itu namanya," protes Ratna membuat Arya terkekeh melihat komandannya keok dihadapan istri.
"Bu Rosa, saya boleh coba gendong nggak?" tanya Tama pada Bu Rosa.
__ADS_1
"Boleh dong, kenapa nggak," kata Bu Rosa.
Tama kemudian mendekati Ratna yang masih menggendong Tamara. Dia membantu Tama untuk menggendong bayi mungil berusia kurang lebih 2 minggu itu. Karena Tama masih kaku, Ratna akhirnya membantu menopang tubuh si kecil agar Tama tidak panik karena Ratna lihat saat ini Tama benar-benar tidak bisa bergerak. Di arah belakang, Pak Leo dan Arya sudah cekikikan melihat tingkah Tama. Katanya aneh, si hawkeye asia ini tiba-tiba bisa begitu jinak dan ketakutan dihadapan seorang wanita dan bayi semungil itu.
Tamara hanya sebentar digendong Tama sudah merengek lagi. Mungkin dia merasakan tidak nyaman, makanya dia protes. Kali ini bukan Ratna yang menggendongnya tapi Bu Rosa yang kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian Tama dan Ratna pamit sekalian sama Pak Leo, Bu Rosa, juga Arya yang masih mau menemani Pak Leo mengobrol.
"Kapan kalian mau berangkat?" tanya Pak Leo.
"Besok Pak, ini mau lanjut beres-beres lagi sama ngantar istri belum sempat pamitan sama teman-temannya. Mari Pak saya duluan," pamit Tama.
Dari kediaman Pak Leo menuju kediaman Tama sih hanya cukup jalan kaki. Tama dan Ratna memang masih memiliki beberapa tanggungan. Tama juga berjanji mengantar Ratna berpamitan ke tempat Bima dan Rati juga menemui Pak Petra yang mungkin untuk terakhir kalinya. Tama ingin menyapa atasan Ratna itu dengan sedikit lebih baik karena dia juga tidak ingin meninggalkan kesan buruk. Bagaimanapun juga laki-laki ini sudah begitu menghormati Ratna sebagai seorang wanita bersuami dan Tama mengapresiasi itu walaupun dia tidak berbohong dia cemburu.
Ratna dan Tama mengajak Bima, Rati, dan Pak Petra untuk makan malam bersama di salah satu restoran. Pada kesempatan malam hari itu, Ratna memberikan kado untuk putranya Bima dan Rati. Ratna membelikannya sebuah baby walker berwarna biru untuk si kecil. Sedangkan untuk Petra, Tama membelikan sebuah dasi sebagai rasa terima kasihnya sudah bersikap baik pada istrinya selama ini.
"Rat, kamu sudah dapat tempat kerja di sana? Kalau belum mau aku bantu carikan? Kebetulan aku punya kenalan di sumah sakit umum daerah di jogja," tawar Petra.
"Nggak perlu Pak, terima kasih. Saya sudah dapat tempat kerja. Gabung lagi dengan teman-teman saya semasa kuliah dulu," kata Ratna.
Tama diberi tahu, jika hak rumah ini diminta oleh Nesya dan Yudha. Kemarin Yudha dan Nesya sempat mampir karena mereka juga nyicil pindahan. Ratna banyak meninggalkan barang untuk Nesya dan suaminya. Terutama alat-alat masak karena Ratna tahu Nesya sedang giat-giatnya belajar memasak.
"Dek, ini meja riasmu nggak mau dibenahi?" tanya Tama yang berniat ingin membantu Ratna.
"Itu besok aja Mas, masih mau aku pakai besok. Sekalian jadi satu tas aja sama alat mandi terus nanti nggak usah dimasukin koper. Masukin aja ke back pack yang biasa Mas pakai terus taruh di bawah kaki aku buat perlengkapan selama perjalanan. Kita kan jalan bisa berhari-hari, ya kali nggak mandi," kata Ratna.
"Berarti ini kopernya udah ya. Mau Mas masukin," kata Tama.
"Iya udah."
__ADS_1
"Dek itu bantuin Mas nata laptop sama perangkatnya, jadiin satu ke tas laptopmu deh kalau muat. Tas laptop Mas mau tak buang udah rusak juga," kata Tama.
"Ya bentar, aku selesain ini dulu," jawab Ratna tanpa menoleh karena dia masih sibuk memilah barang-barang di dalam laci."
Rumah sudah setengah kosong. Hanya tersisa barang-barang milik Nesya dan Yudha yang masih tersegel dalam kardus dan ditumpuk di sudut ruang tengah. Seperti amanah Bu Odah, semua barang peninggalan beliau tidak kemaruk Ratna bawa semua. Toh semua barang bawaan Tama dan Ratna sudah mereka paketkan lebih dulu termasuk juga si Vega yang tempo hari baru mendarat di rumah Bapak. Lagi pula sebenarnya semua ini bukan milik mereka. Ini semua adalah satu kesatuan dengan rumah dinasnya, seperti sofa, tv, meja dan furniture lainnya jadi Tama dan Ratna tidak perlu seheboh orang yang benar-benar pindah rumah.
"Udah beres semua Dek?" tanya Tama.
"Udah alhamdulillah."
"Besok Bon Bon dipangku Bunda ya," kata Ratna pada boneka babi yang saat ini dia pangku.
Tama dan Ratna sedang cuddling di kamar. Menghabiskan waktunya menikmati sisa-sisa kenangan mereka di sini. Awalnya mereka sedang membicarakan soal rumah sewa yang akan mereka tempati. Ratna memberi tahu Tama kalau uang sewanya sudah diterima oleh sang pemilik juga Ratna sudah memberi kabar pada Pak Broto soal renovasi rumah Tama yang akan dimulai minggu depan. Pak Broto itu adalah orang kepercayaan Papa yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola rumah itu makanya penting untuk Tama dan Ratna mengabari beliau jika rumah itu akan segera ditempati lagi oleh si pemilik.
"Mana Dek Mas mau lihat bentuk kontrakan kita kaya gimana," kata Tama yang memang belum pernah melihat langsung rumah kontrakan yang akan mereka tempati. Hanya Ratna yang sudah ke sana bersama Pak Broto karena beliaulah yang bantu mencarikan sebagai perantara.
"Ini tuh, ada di daerah Sinduadi. Belakang JCM. Over all sih bagus, letaknya strategis, nggak terlalu besar, ya cukup lah kalau untuk kita berdua yang masih berdua doang. Cuma agak horror Mas, dekat sawah sama kali," kata Ratna.
"Nggak papa, kalau kamu takut pergi sendiri ya Mas anter kemana-mana."
"Nah kalau Mas pas nggak bisa nganter gimana?"
"Yaudah nggak usah pergi."
"Lho kok gitu," protes Ratna.
"Mas usahakan akan selalu ready buat nganter kamu ke mana-mana. Santai aja toh, Mas sudah tidak jadi komandan kompi lagi. Mas akan ditempatkan di bagian binlatops, jadi kerjaan Mas agak santai," kata Tama.
__ADS_1
"Berarti Mas kerjanya di Markas pusat dong," tanya Ratna.
"Iya, Mas pikir bakal ditempatkan di Batalyon, tahunya malah di Baciro. Alhamdulillah lah malah Mas bisa lebih banyak waktu sama kamu, tempatnya juga dekat dari tempat kerjamu," jawab Tama.