
"Waaaikumsalam..., widiww bu dokter pa kabar dok?" kata Gandhi.
"Siapa Ndhi?"
"Mbak Ratna...," kata Gandhi.
Semuanya langsung heboh menyapa Tama dan Ratna yang baru datang. Ibu bahkan sampai keluar dari dalam dapur begitu saja dengan daster yang kotor karena sedang mencuci panci dan penggorengan setelah memasak makan siang barusan. Aksa yang sudah berkenalan dengan Bang Ian langsung bermain berdua sambil melihat ikan koi di kolam depan rumah. Ratna juga diperkenalkan pada tamu yang ada di rumah dan dengan bangga Bapak menyebutkan Ratna sebagai putri sulungnya.
"Ini putranya? Duh lucu sekali, siapa namanya mbak Ratna?"
"Iya Bu, ini Nusa terus adik kembarnya Tara itu yang di luar Abangnya namanya Aksara," kata Ratna.
"Nusantara..., pinter Mbak Ratna ngasih namanya bagus," kata sahabat Bapak.
"Terima kasih...."
Seketika Nusantara menjadi bintang utamanya. Keduanya yang belum lama terbangun langsung menjadi rebutan Sania, Ibu, Bapak, bahkan Nata dan Gandhi juga ikut berebut mendekati Nusantara. Hanya Sasa yang tidak berebut karena dia sibuk berdebat dengan kakak iparnya.
Sore harinya, mumpung tamu sedang sepi Ratna mengeluarkan koper dan seragam suaminya yang masih kotor. Dia langsung meraih ember, merendamnya selama 15 menit lalu mengucek bersih seragam suaminya. Selesai mencuci, Tama mengambil alih. Dia tidak akan tega membiarkan Ratna memeras seragamnya yang jelas tebal dan berat.
"Mbak, seragamnya dicuci sekarang emang bakal kering besok siang?" tanya Sasa.
"Emang kamu booking studio jam berapa Sa?" tanya Tama.
"Jam 3 sih," jawab Sasa sambil nyengir.
"Huu~," kata Tama sambil menjitak dahi Sasa dan dibalas dengan tamparan di lengan Tama.
Biasanya Bapak dan Ibu akan menyempatkan berkunjung ke rumah besan setiap hari raya. Entah ada atau tidak anak-anak Bapak dan Ibu selalu melakukan tradisi ini setiap tahun. Sayangnya hanya 2 besannya yang terjangkau sedangkan kedua orang tua Tama sudah tiada. Pertama mereka datang ke rumah orang tua Gandhi dan dilanjutkan dengan kediaman orang tua Sania.
Nata dan Sania tinggal di sana malam itu jadi keduanya tidak ikut kembali ke rumah. Hanya tinggal keluarga kecil Tama dan Gandhi saja yang masih bertahan di rumah. Malam selepas Isya Tama, Gandhi, dan Bapak asik mengobrol sambil ditemani kopi hitam, pisang goreng dan rokok. Hanya Gandhi dan Bapak sih kalau Tama tidak ikut-ikutan.
"Mobilmu ganti kapan Bang?" tanya Gandhi.
"3 bulan lalu kalo nggak salah. Pas ulang tahun Aksara," kata Tama.
"Seleranya Ratna yo Mas?" tanya Bapak.
"Ya seleraku juga sih Pak. Habis mobil yang lama udah nggak muat kalo bawa anak-anak," kata Tama.
"Anakmu banyak sih bang," kata Gandhi.
"Iya 5 tapi yang disanding cuma 3," jawab Tama.
"Lha kamu nggak ada rencana ngasih Ian adek po Ndhi?" kali ini Bapak yang bertanya.
"Pengennya sih, tapi nanti dulu lah Pak. Baru dipindah tugas aku, kasihan Sasa kan baru adaptasi juga. Masih alhamdulillah Pak listrik sampai ke rumah dinas walau sering pemadaman. Maaf ya Pak, anaknya Bapak malah tak ajak susah," kata Gandhi.
Mendengar itu membuat Tam tersenyum. Dia seperti flashback ketika dia selalu meminta maaf pada Bapak setiap kali ada kesempatan. Tama mengerti betul bagaimana rasanya ketika sudah berkomitmen menikahi seorang gadis tapi tidak mampu memberikan yang terbaik. Alih-alih diberi kenyamanan ini malah diajak susah. Hidup sederhana, apa adanya dan penuh pengabdian. Terkadang salah bertindak sedikit juga teguran sosialnya tidak main-main diterima.
Tama mungkin bisa dibilang sukses sekarang, tapi dia juga tidak mendapatkannya dengan instan. Butuh waktu hampir 15 tahun lamanya dia dan Ratna berjuang hingga sampai di titik ini. Bukan soal gaji atau soal kekayaan, tapi kesuksesan dalam menjalani hidup kata Tama.
"Asal sandang, pangan, papan terpenuhi Ndhi. Sambil pelan-pelan menata nasib," kata Tama.
__ADS_1
"Dulu aku sering nanya kenapa Abang selalu minta maaf sama Bapak eh sekarang aku ngerasain sendiri," kata Gandhi.
"Bapak itu nggak papa. Nggak akan protes, lagian Ratna sama Sasa juga sudah ikhlas menjalani. Mereka juga nggak mengeluh atau merasa terpaksa. Bapak tahu kalian berdua selalu berusaha, namanya hidup itu nggak ada yang mulus-mulus saja. Pasti ada kendalanya. Tama dari segi ekonomi nggak kekurangan tapi diuji sama keturunan, Gandhi dikasih rezekinya nggak berupa kekayaan melimpah tapi anak yang sholeh dan pinter kaya Ian. Nanti Nata juga akan dapat rezekinya sendiri entah dalam bentuk apa. Sing penting bersyukur, ibadah, sedekah, itu kuncinya," nasehat Bapak.
"Pasti Pak, insyaallah kalau untuk 2 itu nggak akan ada capeknya," kata Gandhi.
"Eh katanya Nata mau naik pangkat lho Pak," kata Tama.
"Hooh tadi cerita katanya dapat percepatan 1 tahun," jawab Bapak.
"Udah bukan letda lagi dia sekarang," kata Gandhi.
"Rezekinya yang di dalam perut," tambah Bapak.
"Ratna juga sudah mau jadi profesor lho Pak. Doakan lancar ya Pak," kata Ratna yang menyembul keluar dari rumah bersama Sasa.
"Sasa juga baru buka warung. Doakan laris ya Pak," kata Sasa tidak mau kalah.
"Iya wis kabeh didongakke, semoga sukses dengan caranya sendiri. Sing penting kalian itu kan bertiga, berenam ding sekarang, jangan pada mecah-mecah. Sing kompak. Tama sama Ratna kan paling gede, adik-adiknya dirangkul. Kalau kamu ada apa-apa wong Sania deket ya dikasih tau apa diajak," kata Bapak.
"Paling rajin kalau suruh ngajak Sania jalan ini Pak," kata Tama sambil mengacak rambut Ratna yang duduk di pangkuannya.
"Timbange sama kamu Mas, dimintain bantuan cuma ham hem ham hem tok ora menyat," kata Ratna.
"Yaudah besok nggak 'hmm' aku jawabnya tapi tak jawab 'emoh'."
Andai Ratna tidak ingat sedang berhadapan dengan keluarganya, dia pasti sudah mencubiti Tama sekarang.
"Yo pengen jane Mbak, ning pas lebaran gini masih banyak tamu kalau Bapak nggak di rumah kan kasihan," kata Bapak.
"Sehari aja Pak," bujuk Ratna.
"Nggak wis kapan-kapan lagi Mbak, kalau Sasa ada libur lagi mau lebaran nggak lebaran kita main bareng-bareng," kata Bapak.
"Atau kamu mau tinggal di sini lebih lama? Nanti tak bilang sama Aji buat jemput kamu ke bandara," kata Gandhi.
"Aji?" tanya Ratna dan Tama berbarengan.
"Ajudanku Bang, bukan Bang Aji. Kebetulan orangnya sama," kata Gandhi.
"Yaudah deh kapan-kapan kalau Sasa pas di rumah kita main lho Pak, Bu, wajib," kata Sasa.
"Iya...."
***
Pagi berikutnya ibu-ibu langsung sibuk sejak lepas sholat subuh berjamaah pagi tadi. Tama dan Gandhi bertugas menjaga anak-anak termasuk memandikan, menyuapi sarapan juga bermain bersama anak-anak sedangkan Ratna dan Sasa sibuk mengurus dapur bersama Ibu. Ketiganya baru kembali dari pasar beberapa waktu lalu dan di dapur sempit Ibu Sasa dan Ratna sibuk memasak beberapa macam makanan.
Keluarga Pak Yatna adalah salah satu keluarga yang sulit sekali berkumpul di hari libur begini. Ini saja sudah lewat 2 tahun sejak mereka bisa berkumpul semuanya. Namanya orang tua yang ketiga anaknya merantau semua, kerinduan Bapak dan Ibu tidak akan pernah habis. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya anak suatu saat pasti akan lepas dari orang tuanya. Apalagi Bapak punya anak cewek 2. Kalau sudah menikah ya sudah bukan jadi haknya Bapak lagi untuk merawat. Bisa melihat mereka akur dengan keluarga masing-masing saja sudah senang. Bapak dan Ibu sudah tidak meminta lebih lagi.
"Assalamualaikum...,"
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
"Mohon maaf apakah benar ini kediaman Bapak Yatna?"
"Ya benar saya sendiri," jawab Bapak.
"Oh iya Pak, ini saya dari toko elektronik Sentura mengantarkan pesanan Bapak ini kira-kira mau diturunkan di mana ya Pak?"
"Ha? Pesanan apa? Saya nggak pesan apa-apa," kata Bapak bingung.
"Anu, benar kok pesanan untuk Bapak Yatna. Alamatnya juga benar," katanya.
"Turunkan saja di depan sini Pak nggak papa, nanti biar saya sendiri yang masukkan ke dalam rumah sama adik-adik," kata Tama sebelum Bapak yang bingung kembali berucap.
"Tam, ini nggak salah?"
"Nggak Pak. Hasil patungannya anak-anak Bapak. Habis ini kulkas sama mesin cuci yang lama dibuang ya Pak," kata Tama sambil tersenyum.
Tidak hanya kulkas dan mesin cuci ternyata tapi juga satu set peralatan memasak dan satu rak piring untuk mengganti yang lama yang sudah mulai mengelupas, berkarat, dan bahkan kakinya diganjal balok kayu agar seimbang. Untung kan Nata dan Sania sempat mampir ke rumah ketika minggu pertama puasa jadi Ratna dan Sasa bisa ikut tahu kondisi rumah kedua orang tuanya. Selain itu mereka juga berencana untuk mengganti tv dengan yang baru.
"Wah kalian bertiga ini ngawur beliinnya," kata Ibu sambil menangis.
"Mumpung lagi ada rejeki lebih Bu, Ratna sudah lama nggak beliin Ibu apa-apa. Di kasih kartu kredit juga nggak pernah dipake," kata Ratna.
"Sekali-kali sih Bu. Dulu Bapak Ibu yang beliin Sasa ini itu sekarang Sasa yang beliin," kata Sasa.
"Katanya anakmu Bu, dia nggak akan mau makan enak kalau keluarganya juga nggak makan enak," kata Tama.
"Eladalah, iki ora ngentekke gaji bojo kan kalian berdua?" tanya Bapak yang ikut-ikutan syok.
"Nggak lah Pak. Ratna jadi dokter itu tahunan, sehari-hari hidup udah pake gajinya Mas lha uangku numpuk buat apa mending tak belanjain buat Bapak Ibu, Sasa kemarin mintanya kasur sama meja makan udah kubeliin, Nata mintanya laptop karena punya Sania rusak nggak bisa kerja. Udah semua kecuali Ibu soalnya Ibu nggak pernah bilang maunya apa. Yaudah kita beliin semuanya ya Sa," kata Ratna.
"Aku nggak sebanyak Mbak Ratna sih, cuma ngasih kain songket ke Mbak Ratna sama satu set make up buat Sania," kata Sasa.
"Podo okehe kui," jawab Ibu.
"Nggak papa Pak, Bu. Sekarang gantian Aku mbak Ratna sama Nata yang ngurusin Bapak sama Ibu to," kata Sasa.
"Wis diterima saja Pak Bu, lagian udah nggak mungkin dibalikin ini. Aku sama Bang Tama kasih izin kok mereka royal gini, toh nggak setiap hari. Anakmu itu nabung udah lumayan lama lho Bu," kata Gandhi yang diangguki oleh Tama.
"Makasih yaa...," jawab Ibu.
Tama dan Gandhi menikahi Ratna dan Sasa dalam usia yang cukup muda. Mereka berdua paham betul kalau Ratna dan Sasa belum sempat membahagiakan kedua orang tuanya malah sudah dipaksa jadi istrinya orang. Apalagi untuk Tama yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk berbakti pada orang tuanya lagi. Anak-anak Pak Yatna menyadari betul, jika doa paling ijabah adalah doa orang tua. Itulah kenapa orang tua harus diletakkan di tempat paling tinggi. Karena beliau berdua sudah memiliki jasa yang begitu besar dan kasih sayang yang tanpa pamrih kepada anak-anaknya.
"Istriku anak perempuan pertama. Punya beban berat sejak kelahirannya. Punya mimpi besar dalam hidupnya. Juga rasa tanggung jawab yang tinggi dalam hatinya. Adiratna Widiyatna sudah membuktikan jika dia mampu memikul semuanya dan aku bangga padanya. Pada bidadari surgaku, ibu dari anak-anakku," batin Tama yang tidak pernah habis mensyukuri kehadiran Ratna dalam hidupnya.
...Minnal Adin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin utnuk semuanya saja segenap pembaca setia Tama dan Ratna......
...Apabila author ada salah kata maupun perbuatan, atau dalam menuliskan kisah ini tidak sesuai dengan ekspektasi pembaca author mohon maaf yang sebesar-besarnya....
...Akhir kata author dan segenap keluarga besar Tama dan Ratna pamit undur diri, sehat selalu bahagia selalu semuanya, see you on the other story...
^^^Tertanda^^^
^^^Jia. P^^^
__ADS_1