Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
Short Story 6. Mudik


__ADS_3

Sekitar pukul 9 pagi mereka yang tidak bertugas kembali ke rumah. Tama dan Ratna membawa anak-anak pulang dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Bapak di Purworejo. Handphone Ratna heboh karena banyaknya permintaan maaf dan ucapan selama hari raya dari seluruh kenalannya. Sayangnya Ratna tidak punya waktu untuk membalasnya satu per satu. Dia saat ini sedang membenahi kopernya dan sang suami juga memasukkan pakaian ketiga anak-anaknya ke dalam tas.


"Bunda, Abang mau bawa ini boleh?" tanya Aksa sambil memperlihatkan buku cerita bergambarnya.


"Boleh, tapi Aksa masukin dalam tasnya Aksa sendiri ya," jawab Ratna.


"Nda, seragam jangan lupa. Baret, seragammu juga, kan kata Sasa kita mau foto keluarga," kata Tama mengingatkan.


"Mas bajunya kan habis dipakai, duh bajumu yang lama tuh udah bolong nggak akan bisa dipakai lagi," kata Ratna.


"Bawa aja gimana dicuci di tempat Ibu. Toh kita ke studionya hari ketiga bukan hari ini," jawab Tama.


"Berarti ingetin mampir minimarket beli sabun cuci ya sekalian cari jajanan buat Bapak Ibu," kata Ratna.


"Nanti ke Mirota aja dulu sekalian ada semua," jawab Tama.


"Ok. Mas sarapan dulu aja gih sama anak-anak. Maaf ya Mas goreng telur sendiri atau bikin mie juga boleh sekalian anak-anak dibuatin tapi bumbunya jangan dipake semua," kata Ratna.


"Ok," jawab Tama yang langsung melangkah ke dapur.


Selesai dengan baju dan bawaannya, Ratna menata bawaan anak-anaknya. Mulai dari ransel besar tempat perlengkapan si kembar sampai ransel milik Abang, "Bang, bawaanmu apa yang belum masuk tas?" tanya Ratna pada anaknya.


"Nggak tahu," kata Aksa sambil mengangkat kedua bahunya.


"Bunda..., ini dotnya si kembar nggak mau dibawa? Atau sengaja mau kamu taruh di mobil?" tanya Tama.


"Nanti diisi air putih ditaruh di mobil," jawab Ratna.


Tama merasakan Ratna sedang bingung. Dia merasa tergesa-gesa karena pagi tadi sudah terlanjur ngabari kedua orang tuanya kalau mereka akan berangkat setelah sholat tapi ini sudah jam 9 lebih mereka belum berangkat. Karena tidak mungkin untuknya menenangkan Ratna, Tama berinisiatif untuk memasukkan sarapan paginya dalam tempat makan yang biasa dia pakai untuk membawa bekal. Dia padatkan isinya agar muat untuk berdua. Lumayan kan sambil dijalan sambil makan disuapi istri batinnya.


Sekitar 1 jam kemudian mereka akhirnya mulai perjalanan. Ratna meletakkan kardus belanjaannya dalam bagasi kemudian segera duduk kembali di kursi depan setelah memastikan Aksa dan kedua adiknya nyaman.

__ADS_1


"Bismillah ya semoga nggak macet," kata Tama sebelum menjalankan mobilnya.


"Abang..., Abang Aksa hafal doa sebelum perjalanan nggak?"


"Nggak Nda," katanya.


"Ayah bantuin, Abang yang mimpin doanya ya...," kata Tama.


Aksa akhirnya mengucapkan doanya dituntun oleh sang ayah. Setelah selesai Aksa berdoa barulah Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Baru mereka keluar dari area kota, Sasa adiknya Ratna telepon dan menanyakan apakah Ratna jadi berangkat atau tidak. Sepertinya memang keluarganya sudah tidak sabar akan berkumpul bersama.


"Lengang banget jalanan ya," kata Ratna.


"Ya soalnya jam-jam segini tuh enaknya buat makan kupat opor sambil bercanda sama sanak saudara di rumah, bukan untuk jalan-jalan. Sore nanti sampai 3 hari kedepan tuh dijamin macet pake banget," kata Tama.


"Iya sih bener. Lagian mudiknya telat sih. Coba berangkat kemarin bakal kerasa banget tuh rasanya mudik, macet-macetan di jalan dan sebagainya. Cuma berapa kali ya aku ngerasain mudik itupun kebalik. Yang lain keluar dari jakarta aku malah ke jakarta," kata Ratna.


"Ya maaf lho Mas kan asli Jakarta," kata Tama dengan gaya sok kerennya.


"Idih kumat deh sok kerennya, udah tua Mas inget umurmu sudah mau 40," julid Ratna.


"Iya Mas, pada tidur. Biarin lah biar nggak rewel nanti," kata Ratna sambil memandang ketiga anaknya yang tertidur pulas.


"Bentar nda, beli bensin dulu."


"Dipenuhin sekalian ya biar tenang kalau mau pake kemana-mana. Di sana kan pasti muter kita," kata Ratna.


"Diisi 200 aja cukup."


Selepas mengisi bensin di daerah Sentolo, Tama seperti mendapatkan kesempatan untuk ngebut. Dengan kondisi jalanan yang lengang, lebar, dan tanpa lubang membuat Tama tanpa sadar melajukan mobilnya hingga kecepatan lebih dari 100km/ jam. Beruntung Ratna teliti melirik speedometer jadi suaminya yang memang pembalap itu tidak akan kelepasan. Kalau hanya berdua sih Ratna biasanya mengizinkan toh dia juga suka kecepatan tinggi hanya saja ini kan bawa anak-anak. Maklum, Ratna sedang protektif pada anak-anaknya. Apalagi si kecil yang sedang dalam tahap rasa ingin tahu yang tinggi.


"Mas ngawur lho, bawa anak-anak ngebut," kata Ratna.

__ADS_1


"Nggak sengaja Bunda, kan tadi langsung dipelanin," kata Tama.


"Udahlah, yang penting sampai rumah dengan selamat. Aku udah nggak sabar," kata Ratna.


"Nah kalau di sini Mas nggak akan mau ngebut. Ya kali menantu Pak Yatna udah jarang pulang sekalinya pulang kampung bikin gara-gara. Emoh nanti kadar kegantenganku turun jadi 0% kan bahaya," jawab Tama yang membawa mobilnya pelan sejak memasuki gang rumah Ratna.


"Kayak kamu ganteng aja Mas," jawab Ratna.


"Cuma kamu cewek yang bilang Mas nggak ganteng dek. Mbok cewek sejagat kalo lihat Mas pasti jatuh hati. Walau udah tua gini tapi tetap mempesona ya. Apalagi kalau pas pake seragam lengkap beuh, game over udah," kata Tam membanggakan dirinya sendiri.


"Uekkk..."


"Nah, tuh anakmu nangis denger bapaknya kegatelan sama cewek," kata Ratna sukses membuat Tama terdiam dan tidak berani menjawab lagi.


***


"Yang, mbok uwis to kamu dari pagi kok gerak terus po nggak capek?" tanya Gandhi pada istrinya.


"Kosik to lagi beresi bajumu ki lho. Jorok banget jadi orang heran aku. Ini kamar punya Mbak Ratna mosok orangnya sampe kamarnya berantakan klambimu kaya ngene sih," kata Sasa tanpa menoleh pada Gandhi yang bersiap kabur.


"Eleh, mau ketemu Mbak Ratna doang kayak mau nyambut presiden aja," cibir Nata.


"Ya koe kan amben sasi ketemu. Aku jauh lho Ta, nek nggak gara-gara setia sama suami ogah aku tinggal di pedalaman Sumatera," kata Sasa.


"Mbak Sasa, shtt..., ada tamu," kata Sania memperingatkan kakak iparnya.


"Oh sorry."


Setelah bersalaman Sasa melanjutkan kegiatannya tanpa suara, Gandhi keluar dari rumah mengawasi putranya bermain sedangkan Sania dan Nata ikut duduk bersama Bapak menyalami tamu yang datang. Kata Bapak beliau adalah sahabat karib Bapak sesama kepala sekolah ketika menjabat dulu dan kebetulan putranya adalah teman Nata semasa SMA.


"Suara mobil...," kata Sania sedikit berbisik.

__ADS_1


"Ada tamu po?" tanya Bapak.


"Assalamualaikum...,"


__ADS_2