
Malam harinya Tama menjemput Ratna sebelum jam kerja istrinya habis. Dia sengaja menunggu agar Ratna bisa langsung pulang begitu menyelesaikan pekerjaannya. Begitu Tama melihat Ratna berjalan keluar, Tama mendahului. Dia membukakan pintu untuk Ratna baru ikut masuk ke dalam mobil. Tama tidak langsung menjalankan mobilnya, dia lebih dulu memastikan Ratna baik-baik saja karena dia lihat wajah Ratna sedikit pucat.
"Dek, kamu takut atau sakit?" tanya Tama sambil mengecek suhu tubuh Ratna dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Ratna.
"Cuma takut tapi karena takut jadi sakit," kata Ratna meraih tangan Tama kemudian menggenggamnya.
"Sudah makan belum? Makan dulu ya," ajak Tama.
"Males, pengen langsung pulang terus istirahat," tolak Ratna.
"Makan dulu, sedikit aja. Mulai besok Bapak sudah datang kan. Kamu nggak akan punya waktu istirahat lagi. Mas nggak mau kamu sakit. Sekarang makan yuk. Mau apa Mas beliin," kata Tama.
"Nggak bisa milih. Tapi kalau ada soto enak kayanya Mas," kata Ratna.
"Soto? Malem-malem gini Dek? Bentar cari di mana ya? Pengen banget atau pengen aja?" tanya Tama yang mulai bingung.
"Pengen banget."
"Bentar."
Tama kemudian mencari nomor Cece di handphonenya, dia kan lebih lama tinggal di Jogja dibandingkan Tama. Mungkin saja kan sahabatnya itu tahu. Dia juga pernah cerita kalau istrinya doyan cari-cari tempat makan baru.
"Ce, cari soto malem-malem gini di mana?" tanya Tama.
"Area belakang GOR Klebengan ada. Pas banget gue ada warung soto langganan Vero di sana buka sampe malem. Gue kasih mapsnya habis ini," kata Cece.
"Ok Thanks Ce," jawab Tama.
"Kenapa? Bini lo ngidam?"
"Semoga," gumam Tama.
Tama kemudian menjalankan mobilnya menuju ke warung soto yang dimaksud Cece tadi. Ratna di sampingnya sudah memejamkan mata, terlihat sedikit berbeda dengan biasanya. Sepertinya ketakutannya tidak main-main. Kalau melihat dari serusak apa motor Ratna tadi, pikiran Tama jadi berkelana tentang apa yang sebenarnya dialami oleh istrinya.
...***...
Begitu selesai makan, Tama membiarkan Ratna langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, "Bunda nggak mau mandi dulu?" tanya Tama.
"Nggak ah dingin," keluh Ratna.
__ADS_1
Tama meraih termometer Ratna dari dalam laci kemudian mengcek suhu tubuh Ratna, "37. Dek minum obat ya," kata Tama.
"Nggak usah deh Mas kayanya. Aku mau langsung tidur aja. Maaf ya nggak bisa nemani Mas," kata Ratna.
"Nggak papa. Mas yang temani kamu ya. Mau Mas peluk nggak?"
"Jangan tidur di sini Mas. Tidur di kamar sebelah aja," kata Ratna sambil memberikan bantal milik Tama.
"Lha terus kamu tidur sendirian? Kalau nanti malam ada apa-apa gimana?" tanya Tama.
"Yaudah siniin bantalnya, mau aku peluk."
Ratna mengambil kembali bantal yang biasa Tama pakai kemudian memeluknya dengan erat. Ratna langsung memejamkan mata tanpa banyak bicara lagi. Dia bahkan mulai menata posisinya agar nyaman dan langsung tenggelam dalam tidurnya.
"Dek, mukanya jangan ditutupin gitu. Nggak bisa napas kamu nanti," kata Tama berusaha menurunkan bantalnya tapi Ratna menolak. Dia bersikeras menutupi wajahnya dengan bantal Tama sebagai ganti suaminya yang selalu memeluknya setiap malam.
Tama sempat merasakan deja vu. Ketika Ratna hamil, Ratna sering kali sengaja tidak mencuci jaket atau sarung bantal Tama. Dia juga sempat melarang Tama menggunakan parfum dan lebih senang dengan aroma tubuh Tama yang bercampur sabun mandi. Pikiran Tama semakin melayang-layang. Apakah benar Ratna saat ini tengah berbadan dua atau hanya sedang sakit saja?
Separuh dari dirinya memang akan berjingkrak senang jika Ratna memang sedang isi sekarang tapi ada satu titik kekhawatiran yang tidak terkendali terus mendesak naik. Andai kali ini tidak berhasil, apakah Ratna akan baik-baik saja? Tapi andaipun mereka berhasil, apakah Ratna tidak akan terbeban? Dia masih harus mengurus dan merawat ayahnya yang sakit juga. Apakah fisik Ratna akan tetap baik-baik saja menerima semua beban berat itu seorang diri?
Di satu sisi Tama juga khawatir jika Ratna hamil sekarang ini apakah dia akan memiliki waktu untuk istrinya? Pekerjaan dia sedang banyak-banyaknya sekarang, ditambah dengan akan adanya pilpres membuatnya harus selalu siap san sigap jiak sesuatu terjadi. Waktunya jelas akan lebih banyak di kantor dibandingkan di rumah, tidak menutup kemungkinan pula dia akan sering mendapatkan PLB.
...***...
"Pasien darurat Mas, maaf ya nggak sempat buatin sarapan. Tapi semalem aku sudah buat baceman kalau Mas mau makan tinggal di goreng. Nasinya juga masih ada di rice cooker," kata Ratna yang tidak berhenti mengancingkan pakaiannya.
"Bapak gimana?"
"Bapak diantar Gandhi sama Sasa. Aku minta agak sorean aja datengnya karena Theo hari ini ada operasi. Kalau Mas lagi banyak kerjaan biar sama aku. Jadwal poli selesai sekitar jam 3 kok. Waktuku luang setelah itu," kata Ratna kini mulai memakai jaket dan sepatunya.
"Nanti Mas mampir ke rumah sakit pulang kerja," kata Tama kali ini mulai memakai celana dan jaketnya juga.
Dia baru ingat, jika Vega kesayangan Ratna tidak bisa diperbaiki lagi dan sekarang sudah tergeletak dipemakaman. Harapan satu-satunya hanya Brian sedang kalau Brian dibawa oleh Ratna maka Tama tidak akan bisa berangkat bekerja.
Tama mengantar Ratna dengan kecepatan penuh dan langsung menurunkan istrinya di depan IGD. Setelah itu dia langsung menuju ke kantor. Dia menuju ke mess di bagian belakang dan meminjam kamar mandinya untuk segera mandi. Selesai membersihkan tubuhnya, dia meraih seragam cadangan yang selalu dia simpan dalam laci kerjanya kemudian segera bersiap untuk melaksanakan apel pagi.
"Allahu akbar...!!" kaget Bayu yang baru masuk ke dalam ruang kerja bertemu dengan Tama yang sedang menggulung lengan bajunya.
"Ngopo?" tanya Tama.
__ADS_1
"Nggak papa Bang, kaget lihat Bang Aji sudah di sini jam segini," kata Bayu.
"Sekalian nganter Ibu tadi. Kalau pulang lagi telat. Yowis mandi aja sekalian di sini," kata Tama sambil merapihkan rambutnya yang sebenarnya tidak seberapa.
...***...
Ratna sudah selesai memeriksa semua pasiennya ketika jarum jam mendekati angka 4. Ratna langsung keluar dan meminta pada asistennya untuk membersihkan ruang pemeriksaan sedangkan dia berjalan menuju ke poli saraf yang letaknya hanya terpisah beberapa ruang poli lainnya. Ratna bisa langsung melihat Bapak yang duduk di kursi roda sedangkan Ibu disebelahnya sedang menyuapi Bapak sepotong pisang.
"Kok masih di luar? Belum ketemu dokter?" tanya Ratna sambil menyalami Bapak dan Ibu.
"Belum. Masih nunggu 2 antrian lagi," jawab Sasa.
"Sudah pada makan kan tapi?" tanya Ratna lagi.
"Sudah Mbak. Sing tenang to. Kok kayanya kemrungsung (terburu-buru) banget," kata Gandhi yang sedang mengendong Adrian yang rewel.
Ratna terus mendampingi Bapak bahkan ketika tengah diperiksa. Ratna juga yang menyelesaikan semua keperluan administrasi bahkan dia juga yang mencarikan kamar untuk Bapak. Saat ini semua anak Bapak sedang menemani di kamar inap bersama dengan Ibu juga tentu saja. Hanya kurang Tama yang katanya sedang sholat Isya di mushola.
Kondisi kamar semakin heboh karena saat ini Ela dan Jay sedang menjenguk ayah dari sahabat mereka itu. Sedangkan Theo juga masih berada di sana memastikan pasiennya merasa nyaman sekalian pemeriksaan rutin dibantu Nita. Beberapa waktu kemudian, Dipta mengetuk pintu dan masuk ke dalam bersama dengan Tama.
"Ya Allah keder aku," gumam Sasa.
"Ngapain keder?" ledek Jay yang mendengar suara Sasa tanpa sengaja.
"Yo lihat sendiri to kamar Bapakku sing jengukin siapa aja? Kon ra keder dari mana? Tentara, polisi, dokter, semua isinya aku mah apa," jawab Sasa pada Jay.
"Halah sok sokan keder. Ngapain Mbak wong mbak Sasa kenal semua ini juga," jawab Nata dengan nada cueknya seperti biasa.
"Nah kan aku kenalnya kalo lagi nggak berseragam. Nek kaya ngene bentukane aku iso edan. Jajal cewekmu sing kesini. Lebih minder lagi dianya," kata Sasa mulai bertengkar dengan adikknya.
"Ay, jangan minder kenapa sih. Istrinya Gandhiwa nggak boleh minder. Kamu itu di batalyon juga disegani sama ibu-ibu persit lainnya," kata Gandhi pada istrinya.
"Sejak aku menjabat jadi ketua cabang. Kalau nggak ya nggak," protes Sasa.
"Wis. Nek mau berantem jangan di sini, Bapak nggak bisa istirahat nanti," tegur Ibu sedikit berbisik.
"Tante, kondisi Om baik kok. Maksimal makan jam 10 ya, setelah itu puasa. Besok saya kembali lagi sebelum masuk kamar operasi," kata Theo.
"Makasih ya dokter Theo," kata Bapak.
__ADS_1
"Sama-sama om saya juga senang bisa membantu. Kalau begitu saya pamit, mau lanjut ke pasien yang lain dulu," pamit Theo yang diikuti oleh Dipta dan Ela yang akan pulang. Sedangkan Jay dan Nita menyusul pamit beberapa waktu kemudian.