Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
105. Perubahan Istriku


__ADS_3

Karena responnya beberapa hari belakangan bagus, hari ini aku double up deh, buat semangat yang pada kerja di hari senin 🤗🤗


***Terima kasih sudah mendukung Tama dan Rstna, dukung juga karya author yang lain yaa...


...Ji 🌱***...


Sudah hampir setengah hari ketika Ratna selesai dengan pekerjaan rumahnya. Dia meraih cucian bersih yang memang belum sempat dia lipat. Dia duduk di depan sofa, bersila dengan kedua kakinya dan punggung yang bersandar ke sofa. Dia lipat dan dia pisahkan pakaian bersih itu satu per satu dengan penuh perhatian.


Jarum jam sudah melewati angka 1 tapi Aksa dan Ayahnya belum juga terbangun. Ratna membuka pelan pintu kamarnya dan menemukan Aksa sedang berusaha memanjat tubuh Ayahnya. Tama masih terlelap, tapi begitu merasakan berat di perutnya juga tekanan di lukanya Tama langsung terbangun dari tidurnya.


"Hayo Aksa gangguin Ayah tidur yaa...," kata Ratna bukannya membuat Aksa menyadari kesalahannya, anak itu malah tertawa. Dia menelungkupkan tubuhnya di atas perut Tama dan membuat Tama sempurna terbangun sekarang.


"Aksa Ayah masih ngantuk kamu bangunin, kangen Ayah ya," kata Tama.


Tama menyelipkan tangannya di ketiak Aksa, dengan kedua tangannya dia menerbangkan Aksa di atas tubuhnya membuat anak itu senang dan kembali tertawa. Ratna bergabung. Dia juga ingin ikut bermain. Ratna merebahkan diri di sebelah suaminya lalu ikut bermain dengan Aksa yang kini sudah turun. Aksa duduk di antara kedua orang tuanya. Dia sedang mencoba meraih boneka-boneka, yang ada di atas kepala kedua orang tuanya. Tangannya berhasil meraih BinBin si lumba-lumba biru yang Ayahnya belikan untuk Bunda ketika hamil.


Aksa sepertinya mengenali boneka itu. Dia bermain dengannya dan mencoba memasukkan hidung si boneka ke dalam mulutnya.


"Eh kotor Aksa," kata Ratna mencegah Aksa memakannya.


Aksa kembali mencoba memasukkan boneka itu ke dalam mulutnya bahkan setelah Ratna memperingatkan selama beberapa kali. Sepertinya instruksi Ratna harus dirubah. Karena setiap Ratna melarangnya Aksa yang memiliki rasa penasaran tinggi malah akan langsung melakukannya. Seperti BinBin ini, dia terus berusaha memasukkannya ke dalam mulut. Dia juga penasaran dengan bulatan hitam yang menjadi mata si boneka. Dia memainkannya, mulai duduk dengan tenang dan fokus pada mata hitam itu.


Tama tertawa, dia seperti melihat pantulan istrinya dalam wajah putranya. Aksara memiliki bentuk bibir yang sama dengan Bundanya dan ketika sedang fokus pada sesuatu, Ratna biasanya tidak sadar kalau dia akan mulai manyun-manyun. Persis seperti yang sedang dilakukan oleh Aksara sekarang. Wajahnya jadi mirip bebek karet berwarna kuning yang jadi mainannya ketika mandi.


"Bunda, anakmu," kata Tama.


"Mirip ya?" Ratna ikut tertawa.


"Persis," jawab Tama.

__ADS_1


Dia menyempatkan diri mencium kening Ratna. Kepergiannya selama beberapa bulan membuat Tama merasa banyak tertinggal. Selain karena dia tidak melihat langsung perkembangan putranya, dia juga tidak ada di sebelah Ratna ketika istrinya itu memutuskan untuk tidak akan melepaskan hijabnya lagi. Dia hanya tahu dari Bang Chandra yang menceritakan jika novel baru istrinya sudah rilis. Bang Chandra mengirimkannya pada Ratna dan Ratna juga menceritakan hal itu pada Tama.


Beberapa hari setelah novel itu sampai di tangan Ratna, tiba-tiba Ratna telepon Tama di pagi buta. Dia mengatakan dia akan berhijab. Tidak akan lagi menampakkan auratnya dimuka umum seperti sebelumnya. Tama hampir dibuat menangis oleh istrinya pagi itu. Tama memang sudah lama memimpikan hal ini. Dia mungkin bukanlah sosok yang agamis, tapi dia tetap saja senang memandang istrinya itu bisa melakukan kewajibannya.


Sejak beberapa jam lalu Tama berada di kamar ini setelah sekian lama tidak melihat kondisi rumahnya. Dia bisa melihat begitu banyak kerudung milik Ratna ada di gantungan. Seragam bhayangkari yang dipakainya juga sudah bukan lagi rok pendek, melainkan lengan panjang dan rok panjang. Tama juga hampir tidak menemukan ada rok-rok selutut yang selalu Ratna pakai ketika bekerja. Semuanya tergantikan dengan celana panjang dan beberapa rok panjang.


"Bunda..., soal keputusanmu itu Ayah belum tahu banyak. Cerita dong kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk tidak lepas lagi," kata Tama.


"Mas tahu kan aku baca novel Lilis?"


"Apa karena itu?"


"Nggak sih Mas, aku sadar saja setelah baca novel itu pikiranku terbuka. Kayanya sudah nggak pas kalau aku masih pakai pakaian yang kaya gitu padahal aku sudah punya suami. Biarlah cuma kamu saja yang lihat badanku, jangan orang lain," kata Ratna.


"Tapi Bunda, keputusanmu itu apa nggak terlalu ekstrem buatmu sendiri? Ayah mungkin memang seneng lihat kamu mau berubah jadi lebih baik, tapi kalau kamu terbeban ya jangan dipaksakan. Ayah kenal kamu bukan orang yang bisa dipaksa. Dibanding kamu paksa, Ayah lebih senang kalau kamu pahami satu per satu dulu," kata Tama.


"Makasih ya," kata Tama diangguki oleh Ratna.


"Udah dulu yuk, kita makan siang. Bunda masak enak lho hari ini," kata Ratna mengajak Tama juga Aksara untuk turun dari tempat tidur dan menuju ke meja makan.


Selepas makan siang, seseorang terdengar mengetuk pintu depan. Ratna pikir siapa yang bertamu, tidak tahunya Bayu ajudan Tama. Bayu datang sambil membawa biskuit untuk Aksa. Dia langsung duduk di bawah begitu Tama mempersilahkannya untuk masuk.


"Lho Om Bayu ndak liburan toh?" tanya Ratna sambil membawakan segelas sirup untuk Bayu.


"Makasih Bu, saya tadinya mau ikut teman-teman ke Gunung Kidul, tapi karena ketiduran saya di tinggal," kata Bayu.


"Oiya bener anak-anak pada liburan ke GK ya, tadi aku lihat dari storynya," kata Tama.


"Iya mereka mau kemah di sana 2 hari 1 malam baru kembali ke rumah masing-masing," kata Bayu.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak nyusul Bay, padahal modelanmu jangankan cuma Gunung Kidul, ditinggal ke Bali juga pasti kamu jabanin nyusul," kata Tama.


"Nggak ah Ndan, males. Mending saya main sama dek Aksa saja. Lagian urusan di sini lebih penting," jawab Bayu yang sekarang sudah berhasil memangku Aksara.


Bayi berusia 1 tahun itu asik sekali memainkan bungkusan biskuit keju yang dibawakan oleh Om Bayu. Dia mulai merengek minta dibukakan karena dia hanya berhasil membuka kardusnya, tidak tahunya di dalam masih ada kemasan plastiknya lagi.


"Beneran kamu ke sini mau main sama Aksa? Apa mau ketemu sama pengasuhnya Aksa?" tanya Ratna.


Dia bisa bertanya begitu pasalnya dia melihat sejak tadi Bayu tolah toleh seperti sedang mencari seseorang. Tama sempat bingung dengan maksud istrinya tapi begitu dia melihat Bayu seperti mengalihkan perhatian dia sadar juga. Tapi masalahnya di mana dan kapan dia berkenalan dengan Uli? Memangnya mereka berdua pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya tidak. Ya baru tadi sih.


Setelah adzan ashar berkumandang, Bayu pamit. Begitu motor Bayu berbelok di ujung gang Tama langsung mencari istrinya yang sedang asik menyusui Aksa di depan tv. Tama duduk di sebelah Ratna, ikut memandangi Aksa yang sudah mulai memejamkan matanya.


"Bunda, maksud kamu tadi si Bayu suka sama Uli? Tapi apa mereka pernah ketemu?" tanya Tama.


"Tadi kan ketemu," jawab Ratna enteng.


"Ya tadi kan ketemu cuma sebentar, mereka juga cuma kenalan masa iya bisa langsung suka?"


"Hmm suka nggak ngaca memang, Mas dulu suka sama aku apa pake kenalan dulu?" kata Ratna sambil menepuk paha Tama, mengingatkan suaminya pada masa lalu mereka.


"Apa memang segampang itu ya?"


"Wallahualam, kalau sudah jodoh insyaallah nggak pakai susah. Asal niatnya baik juga akan jadi baik," kata Ratna.


"Bunda, Ayah punya ide nakal nih. Besok kamu bilang ngajak Uli kan? Apa kita ajak Bayu sekalian saja? Biar mereka berdua punya banyak waktu untuk kenalan," kata Tama.


"Ya boleh, tapi tanya dulu sama anaknya mau nggak?"


"Coba besok aku tanya ya," kata Tama diangguki oleh Ratna.

__ADS_1


__ADS_2