
Ratna tengah membantu Tama mengemasi barang bawaannya. Malam ini Ratna dan puluhan keluarga lainnya akan mengantar bhayangkara mereka yang akan diterbangkan ke Aceh.
Sekali lagi Ratna akan melepaskan Tama untuk bertugas jauh dari rumah dan jauh dari jangkauannya. Sekali lagi Ratna akan menghabiskan hari-harinya tanpa kabar dari Tama. Walau sudah cukup lama dia menikah dengan Tama, tapi entah kenapa Ratna belum sanggup terbiasa dengan semua ini. Ketika suaminya itu tiba-tiba pergi ke luar kota, atau bahkan keluar pulau demi menegakkan keamanan di sana.
Ratna sejak siang tadi hanya diam, tanpa mengucapkan satu patah kata pun pada Tama. Sejak Tama mengatakan kepergiannya, dia hanya diam dan terkesan menghindari obrolan panjang dengan Tama. Ratna selalu berusaha menyibukkan diri, entah itu mencuci piring, melipat pakaian, mengerjakan pekerjaannya atau apa pun hanya agar Tama tidak mengajaknya bicara. Entah kenapa misi kali ini rasanya berat. Berbeda dengan misi-misi sebelumnya. Padahal kalau di pikir-pikir semua misi dan tugas yang diemban oleh Tama tidak ada yang mudah. Semuanya sama sulitnya dan sama mempertaruhkan nyawa.
"Ratna sini dulu...," panggil Tama.
"Dek, ngomong sesuatu dong," kata Tama setelah Ratna memutar badannya untuk menghadap pada Tama.
Ratna tidak bicara, dia hanya tersenyum lalu membetulkan seragam Tama lalu berbalik badan lagi untuk kembali mengemasi seragam dan semua keperluan Tama.
"Adiratna...," Tama masih berusaha mendapatkan atensi Ratna yang kini berjalan keluar dari kamar.
"Mas, jangan ajak aku ngomong dulu," kata Ratna menangkis tangan Tama yang berusaha meraih tangannya.
"Dek, gimana Mas mau berangkat kalau kamunya kaya gini?"
Alasan Tama bisa begitu khawatir adalah tidak biasanya Ratna diam dan sedih karena kepergiannya. Ratna biasanya akan selalu mendukungnya dan bahkan mengantar Tama dengan senyum sumringah penuh harapan agar Tama selalu baik-baik saja di sana dan bisa pulang dengan selamat.
Ratna sempat terdiam, namun akhirnya dia membalikkan badannya juga langsung masuk ke dalam pelukan Tama dan memeluknya dengan begitu posesif, "Maaf aku malah kaya gini," kata Ratna.
"Nggak papa, Mas ngerti kok. Istri mana sih yang nggak takut ditingal suaminya tugas."
"Udah ah, malah jadi tambah nangis aku nanti," kata Ratna sambil melepaskan pelukannya.
"Mas janji Mas akan pulang dalam kondisi bernyawa," kata Ratna.
" ....Mas akan pulang dalam kondisi bernyawa," Tama membarengi kalimat Ratna.
"Aku janji Ratna," kata Tama lagi.
Ratna mengantar Tama sampai di pangkalan. Ketika Tama sedang menyiapkan pasukannya, Ratna lebih dulu bergabung dengan Bu Rosa dan yang lainnya yang juga ikut mengantar suami dan ayah mereka untuk tugas.
"Eh dek Ratna, sudah lama nggak kelihatan lagi sibuk banget kayaknya ya?" sapa Bu Rosa.
__ADS_1
"Iya Bu, maaf kerjaan di rumah sakit lagi banyak banget juga."
"Halo bu dokter Ratna...," sapa si kecil Deva yang sejak tadi terus berdiri di sebelah ibunya.
"Halo jagoan. Apa kabar, kok sekarang jadi jarang main ke tempat tante sih? Deva sibuk belajar ya? Atau sibuk main game hayo?" goda Ratna.
"Sibuk main pedang-pedangan. Biar bisa kaya Bapak jadi penjaga keamanan negara," kata Deva.
Ratna tertawa. Anak ini usianya baru 5/6 tahunan tapi sudah begitu hebat mendampingi Ibunya yang kerap kali ditinggalkan oleh sang suami. Deva si anak tunggal ini begitu dewasa lebih dari anak-anak seusianya. Bahkan di usianya yang masih kecil dia sanggup untuk menjadi bagian dari sekian banyak pengabdian yang dilakukan oleh sang ayah.
"Dek Ratna apa kabar? Saya pikir nggak bisa datang," sapa Bu Indah.
"Alhamdulillah baik Bu, maaf ya saya sibuk banget kayanya ya? Kemarin absen dari pertemuan rutin juga," jawab Ratna.
"Nggak Papa. Untung masih bisa ngantar ya dek," Bu Indah penuh pengertian.
"Oiya kok Bu Odah nggak kelihatan Bu? Apa Pak Somat ndak ikut?" tanya Ratna.
"Pak Somat kayanya sudah tidak sanggup ikut misi khusus. Pak Somat kan punya cedera, sudah mau purna tugas juga. Tapi itu beliau ada di sana lagi kasih instruksi ke suamimu," kata Bu Rosa melihat Tama sedang mendapatkan instruksi dari Pak Somat.
"Bapaknya Deva tadi sempat bilang kalau pasukan yang dikirim akan dibagi jadi 3 peleton. Peleton 1 di bawah kendali suami saya, Peleton 2 di bawah kendali suamimu, dan Peleton 3 sama Pak Slamet."
Ratna hanya mengangguk-angguk lalu kembali fokus pada barisan yang ada tak jauh dari gerombolannya itu. Tama memimpin barisan pasukan dan memberikan beberapa briefing singkat lalu membubarkan peletonnya agar mereka masing-masing bisa berpamitan dengan anggota keluarga yang mengantar. Ratna juga melihat Tama berlari kecil menuju ke arahnya. Dia sudah mengenakan pakaian serba hitamnya lengkap dengan persenjataan dan ransel di punggungnya.
"Ratna...."
"Berapa lama lagi sampai pasukanmu diberangkatkan, Mas?" tanya Ratna memotong kata-kata Tama.
"Sekitar 10 menit lagi," kata Tama sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Foto bareng yuk," ajak Ratna.
"Ok, sebanyak yang kamu mau," kata Tama.
Selesai berfoto, Ratna menyimpan foto itu dengan nama khusus. Hanya deretan angka yang Tama tidak begitu yakin itu apa.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Tama penasaran.
"Ini? Tanggal dan waktu diambilnya foto ini, terus di belakangnya artinya berapa lama estimasi kepergianmu, terus nanti di belakangnya akan kuisi tanggal kepulanganmu."
"Sejak kapan kamu gitu?"
"Sejak awal. Emangnya Mas nggak tahu?"
"Nggak. Kamu kan nggak pernah cerita sayang," kata Tama.
"Iya juga ya, ya pokoknya gitu deh. Jadi selama kamu pergi foto ini yang akan jadi wallpaperku. Biar aku selalu ingat untuk mendoakan keselamatanmu dan pasukanmu di sana."
"Kamu hebat Ratna," kata Tama sambil mengusak rambut Ratna.
Sirine sudah dinyalakan, tandanya sebentar lagi mereka akan berangkat. Ratna sekali lagi memeluk Tama lalu Tama balas memeluknya sambil mencium kening dan pipi Ratna. Setelah itu dia mundur 3 langkah ke belakang dan hormat dengan sikap sempurna layaknya dia selalu menghormati atasannya selama ini. Ratna membalas penghormatan Tama.
"Pratama Aji siap bertugas dan berjanji akan pulang dengan selamat. Laporan selesai," kata Tama dengan lantang.
"Laporan saya terima. Pulanglah dengan selamat karena ada Adiratna yang menunggu kepulanganmu," kata Ratna membuat Tama tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Ratna juga dibalas olehnya. Ratna terus melambaikan tangannya bahkan ketika pesawat yang membawa mereka sudah lepas landas dan mulai mengudara.
Ratna tidak sadar saja jika sedari tadi ketika Tama dan Ratna melaksanakan tradisi kecil mereka, keduanya menjadi sorotan. Bukan hanya Bu Rosa, Bu Indah, dan ibu-ibu lain yang kagum tapi juga banyak yang lainnya. Apalagi untuk yang pertama kalinya melihat apa yang dilakukan oleh Tama kepada istrinya. Mereka terharu.
"Senang bisa lihat Pak Aji melapor lagi," kata Bu Rosa sambil mendekati Ratna.
"Selalu jadi pemandangan indah tersendiri lihat Ratna mengantar suaminya," Bu Indah ikut menggoda.
"Apa sih Bu, malu ah saya jadi pusat perhatian."
"Tapi nggak papa, jangan ditolak. Mungkin itu adalah bahasa cintanya Pak Aji buat kamu," kata Bu Indah.
"Iya Bu, benar. Bahasa kasihnya seorang Pratama Aji untuk saya yang katanya adalah putri terkasih dari ibu pertiwinya. Mas Aji memang agak unik ya Bu, tapi entah kenapa saya merasa begitu dihargai oleh beliau," kata Ratna tidak sengaja memuji Tama di hadapan Ibu-Ibu di sekelilingnya.
"Nggak nyesel kan menikah sama seorang abdi negara?" tanya Bu Rosa.
"Tidak. Saya tidak menyesal. Saya justru bangga dengan suami saya Bu," jawab Ratna dibalas senyuman dari banyak orang.
__ADS_1