Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
54. Berontak


__ADS_3

Tama bersyukur Ratna tidak mengalami komplikasi. Hanya perlu menghentikan pendarahannya dan dia diperbolehkan untuk pulang. Jika tidak ada keluhan lain, besok mungkin Ratna sudah boleh pulang. Yang lebih membuat Tama bersyukur adalah Ratna kuat. Dia tidak kemudian tenggelam dalam pikirannya sendiri seperti sebelumnya. Walaupun begitu, Tama tetap saja khawatir jika mungkin saja Ratna menyembunyikan tangisannya.


Tama baru menyelesaikan pekerjaannya, kemudian mulai mengemasinya ke dalam tas. Dia letakkan di dekat kakinya kemudian dia kembali fokus pada Ratna yang sudah tertidur sejak beberapa waktu lalu. Beberapa kali dia lihat Ratna menggeliat tidak nyaman entah karena perutnya yang sakit atau kepalanya yang pusing. Tama menyusul untuk tidur, digenggamnya tangan Ratna kemudian dia letakkan kepalanya persis disamping kepala Ratna. Setelah diciumnya kening Ratna penuh kasih, Tama ikut memejamkan matanya.


Sekitar tengah malam, tiba-tiba Tama merasakan sesuatu. Ada yang mengguncang tubuhnya dan itu adalah Ratna. Sudah dengan kondisi yang lemas, pucat, dan seperti tercekik. Tama yang kaget langsung terbangun begitu saja. Tanpa basa-basi Tama pencet tombol darurat dan kembali menenangkan Ratna. Apapun yang bisa dia lakukan untuk Ratna.


"Mas aku..., nggak..., bisa..., napas."


Kalimat Ratna bahkan sudah tersengal. Dia terlihat seperti tercekik, bahkan mulai kehilangan kesadarannya.


"Ratna tahan, kuat Ratna...," kata Tama yang sudah sangat panik apalagi setelah Ratna menutup matanya.


Perawat jaga yang dia panggil tadi langsung memeriksa Ratna kemudian memanggil dokter juga. Tama dipaksa keluar dari bangsal entah apa yang terjadi. Tama semakin ketakutan ketika beberapa alat yang tidak dia ketahui fungsinya dibawa masuk. Dari kaca kecil yang terdapat di pintu, Tama bisa melihat jika Ratna dipasangi alat bantu yang masuk melalui mulutnya. Ratna bahkan dipindahkan ke ICU malam itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Pasien mengalami gagal napas jadi kami memasanginya ventilator dan memindahkannya ke ICU agar dapat diperhatikan secara khusus," jelas dokter.


"Tapi dok, sore tadi istri saya sudah baik-baik saja."


"Pak, kami akan cari tahu penyebabnya segera. Sementara biar istri anda beristirahat dulu, sebaiknya anda temani. Istri anda pasti ketakutan. Saya sudah mengambil sampel darah pasien dan ketika hasil labnya keluar akan segera saya kabari," kata dokter lagi.


Tama mencoba untuk percaya. Memang benar lebih baik dia menemani Ratna yang pasti ketakutan. Setelah memakai pakaian khusus dan masker, dia melangkah masuk dan langsung mendudukkan dirinya tepat disebelah Ratna. Melihat Ratna dengan kondisi begini membuat air matanya lolos begitu saja. Tidak lagi ada kekuatan untuk menahan agar butiran bening itu tidak mengalir keluar. Dengan kedua tangan dia genggam tangan Ratna yang bahkan tidak mampu membalasnya. Ratna bahkan hanya mampu menggerakkan matanya. Tama menundukkan kepalanya agar Ratna tidak melihatnya menangis.


"Enggg...," Ratna bergumam. Tama mendengar Ratna bergumam kemudian berusaha menggelengkan kepalanya walau begitu kecil.


"Iya iya Mas nggak akan nangis. Mas kuat demi Ratna Mas kuat," kata Tama sambil menyeka air matanya. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Ratna. Dia tidak mau Tama menangisi kondisi Ratna saat ini karena Ratna benci terlihat lemah.

__ADS_1


"Istirahat ya, Mas temani," kata Tama, kali ini dia mengelus pipi dan pelipis Ratna agar setidaknya dia bisa merasa rileks dan melupakan kondisi tidak nyaman pada mulutnya.


...***...


Pagi harinya kondisi Ratna masih tetap seperti sebelumnya. Tama terpaksa meninggalkannya. Kabar tentang sakitnya Ratna belum tersebar dan hanya Pak Leo yang tahu. Tama sengaja, dia tidak mau membuat kehebohan lagi di markas. Makanya dia memilih untuk tetap berangkat dan berusaha terlihat seperti tidak terjadi apapun. Tama meminta rekannya menggantikan dirinya menjadi pemimpin apel pagi ini. Karena jujur dia sudah tidak sanggup bahkan untuk berdiri sekalipun.


Selesai apel, Tama melangkah ke meja kerjanya dan hanya duduk di sana tanpa melakukan banyak hal. Nesya sempat mendekatinya karena khawatir dengan kondisi rekan kerjanya yang selain tidak bertenaga, wajahnya juga pucat.


"Bang Aji nggak papa?" tanya Nesya yang tidak mendapatkan respon dari Tama.


"Bang? Kalau sakit lebih baik pulang saja. Kerjaan Abang biar Nesya yang selesaikan," katanya.


Tama tidak menggubris Nesya. Dia bahkan menepis tangan Nesya yang berusaha memegang pundaknya untuk meminta perhatian. Tama yang tidak ingin emosinya meledak memilih untuk bangkit berdiri, namun belum sampai dia melangkah lebih jauh tubuhnya sudah ambruk begitu saja. Nesya, Bagas, dan juga beberapa rekan kerja yang lain melihat Tama terkapar langsung panik dan membawanya ke klinik.


"Kenapa dengan Aji?" tanya Pak Leo yang menengok Tama di klinik.


"Pasti karena istrinya."


"Mbak Ratna memangnya kenapa?"


"Keguguran, dan katanya tengah malam tadi sempat gagal napas dan masih di ICU sekarang. Aji bilang sama saya tapi dia nggak mau anak-anak tahu. Tapi kalau kondisi dia seperti ini ya gimana anak-anak nggak tahu," kata Pak Leo.


Diam-diam Bagas mendengar percakapan itu. Jujur dia tahu siapa yang sudah membuat Ratna sampai harus bermalam di ICU. Dia juga tahu apa penyebabnya. Bagas tidak bodoh. Dia tahu jika dia sudah dibohongi dan dimanfaatkan oleh gadis yang dicintainya, tapi nyatanya dia terlalu lemah. Dia tidak mampu menolak dan akhirnya mengorbankan dirinya. Karena Bagas tahu, Zahra tidak akan berhenti kecuali Aji menjadi miliknya.


Bagas kembali ke rumahnya untuk menemui Zahra yang sedang merangkai bunga di ruang tamu. Dia bisa tersenyum dan dengan santainya mendengarkan musik menggunakan pengeras suara. Bagas langsung membanting pengeras suara portable itu ke lantai hingga remuk membuat Zahra langsung kaget dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih?" bentak Zahra.


"Kamu yang apa-apaan. Jujur sama aku. Kamu apain Adiratna?" tanya Bagas lebih keras dari suara Zahra.


"Jawab Zahra kamu apakan istrinya Aji?!" kata Bagas yang sudah kehilangan kesabaran.


Di luar dugaan. Zahra malah tertawa. Dia kemudian mulai menggerakkan kakinya dan bangkit berdiri. Tidak bergetar sama sekali, dia mampu menopang tubuhnya dengan tegap. Zahra terus tertawa dan mendekati Bagas masih dengan gunting di tangan kanannya.


"Aku membunuh Adiratna. Kenapa? Kau tidak terima?" kata Zahra enteng.


"Kau gila."


"Aku memang gila. Kau tahu itu dari awal. Tapi dengan bodohnya kau malah menutupi semua kegilaanku dan menghancurkan dirimu sendiri," kata Zahra masih sambil tertawa dan sikap tanpa dosa.


Bagas langsung emosi dibuatnya. Selama ini tujuannya untuk bisa mengubah Zahra menjadi lebih baik ternyata gagal total. Bagas pikir, dengan pengaruh baik yang selalu dia berikan akan membuat Zahra sadar dan tidak lagi melanjutkan jalannya hingga tersesat begini jauh.


"Kau itu seorang polisi Zahra sadarlah."


"Polisi? Aku bahkan tidak lulus dari akademi. Kau bilang apa? Aku polisi?"


"Tapi aku adalah seorang polisi. Aku punya kewajiban untuk memenjarakanmu," jawab Bagas.


"Silahkan. Penjarakan aku. Tapi untuk kejahatan apa? Apakah hanya dengan kesaksianmu mereka semua akan mendengarkanmu? Apakah menurutmu Aji akan mendengarkanmu setelah semua yang kau lakukan pada istrinya? Aji itu tidak bodoh sepertimu. Dia cerdas. Itulah kenapa kau bisa sangat berbeda dengannya," kata Zahra memprovokasi.


Benar yang dikatakan Zahra. Bagas terobsesi mengalahkan Aji ketika di akademi dulu. Tapi dia tidak memiliki niat buruk dan bahkan tidak pernah menggunakan cara yang tidak terpuji seperti yang sudah dilakukan oleh Zahra.

__ADS_1


"Terserah. Aku menyerah. Aku tidak akan pernah kembali lagi padamu. Setelah memastikan kau mendapatkan hukumanmu, aku akan keluar dari kesatuan," kata Bagas sebelum berlalu pergi meninggalkan Zahra dengan kondisi emosi. Dia bahkan melemparkan gunting di tangan kanannya ke arah Bagas. Untung saja Bagas sigap lebih dulu menutup pintu jadi gunting itu tidak akan menancap pada tubuh atau kepalanya.


__ADS_2