Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
50. Kenyataannya


__ADS_3

Selesai membuat kehebohan di warung bubur ayam, tim kerja Pak Leo undur diri. Dimulai dari Tama yang pertama kali selesai dan segera pergi karena harus mengantar Ratna ke rumah sakit lebih dahulu. Pada awalnya Ratna memang tidak pernah meminta Tama mengantarnya ke tempatnya bekerja, tapi entah sejak kapan tiba-tiba saja Ratna jadi begitu bergantung padanya. Jangankan untuk pergi ke rumah sakit, kemanapun keperluan Ratna jika itu sampai keluar dari area kesatrian dia harus diantar oleh suaminya.


"Kegiatanmu hari ini apa saja Dek?" tanya Tama.


"Cuma jaga poli, pulang setelah selesai visit. Kalau Mas?" kata Ratna.


"Mas mau ke Balipapan hari ini, doakan urusan Mas di sana cepat selesai biar ada waktu untuk jemput kamu," kata Tama.


"Atau kalau memang nggak bisa jemput nggak papa Mas, nggak usah maksa. Kabarin aja nanti aku biar naik taksi pulangnya," kata Ratna.


"Ok, have a nice day mikrowife kesayangan Mas," kata Tama sebelum Ratna turun.


"Have a nice day juga titan kesayanganku," jawab Ratna sambil cium tangan.


Satu kecupan mendarat di dahinya membuat hari Ratna yang cerah menjadi semakin cerah. Memang sih mereka memulai kebiasaan itu karena perbedaan tinggi badan Ratna dan Tama yang kelewat jauh jadi kalau untuk mencium bibir agak sulit. Ratna harus berjinjit sedangkan Tama menunduk maksimal. Makanya untuk mempermudah Tama mencium kening Ratna, tapi pada akhirnya malah menjadi favorit untuk Ratna. Setiap kali suaminya melakukan itu rasanya ada berjuta kelopak mawar dihatuhkan diatas kepalanya juga ada jutaan kupu-kupu terbang disekitarnya. Kebahagiaan dan kehangatan perlakuan tanpa napsu yang semacam itu malah menjadi satu dari sekian hal yang membuat Ratna selalu merindukan sosok suaminya.


Sepanjang jalan melalui lobby menuju ke ruangannya, Ratna selalu menampilkan senyum terbaiknya. Ratna selalu menyapa siapapun yang dia temui tidak peduli itu pasien, perawat, atau dokter lainnya. Ketika di lift, Ratna bertemu dengan pasangan love-hate paling fenomenal yang pernah dikenalnya Bima dan Rati. Setahu Ratna, Rati sedang cuti makanya bisa bertemu lagi dengan rekan kerjanya itu membuat Ratna tersenyum bahagia.


"Cie yang sebentar lagi jadi orang tua beneran," kata Ratna setelah masuk ke dalam lift.


"Nyusul Rat, nyusul. Nggak capek apa pacaran terus?" tanya Bima.


"On the way. Doakan saja ya," kata Ratna.


"Waw, akhirnya luluh juga suamimu Rat?" kali ini Rati yang bertanya.


"Yap."


"Saking luluhnya langsung ngegas. Hey dr. Adiratna, Sp. B. yang terhormat, tutupi noda kemerahan di lehermu itu. Sengaja pamer kamu ya?" goda Bima.


"Apaan sih kamu," kata Ratna yang malu karena ketahuan oleh sahabatnya sambil berusaha menaikkan kerah kemejanya.


"Kelihatan tuh Rat, ya tapi kalau lihatnya dari jauh nggak terlalu. Yang penting kamu nggak akan pakai baju OK kan?" tanya Rati lagi.

__ADS_1


"Untungnya sih tidak. Jadwal jaga poli, dan nggak ada operasi sampai 2 hari besok," kata Ratna.


"Yasudah ya, aku duluan," pamit Ratna yang sudah sampai lebih dulu dilantai tujuannya. Dia meninggalkan kedua sahabatnya yang masih harus naik beberapa lantai lagi.


Ratna langsung melepaskan jaketnya ketika sampai di ruang kerjanya. Dia menggantinya menggunakan sneli kemudian berjalan menuju ke kaca untuk mengecek penampilannya. Untuk bertemu dengan pasien dia harus pada performa terbaiknya itulah kenapa dia akan memoles wajahnya dengan make up tipis setiap kali jadwal praktek dan jaga polinya datang.


Sekitar beberapa pasien sudah selesai dia periksa. Ratna mendapatkan beberapa menit untuk bernafas sebelum masuknya pasien yang berikutnya. Ratna meraih sesuatu dari saku snelinya, membuka penutupnya kemudian menghirupnya dalam-dalam. Entah kenapa rasa sesak di dadanya tidak kunjung membaik, padahal flunya sudah sembuh dan dia juga tidak banyak melakukan aktivitas berat sejak kemarin.


"Dok, anda masih sakit?" tanya si perawat yang membantunya ketika melihat Ratna menghirup obat itu.


"Tidak kok, aku baik-baik saja. Bisa kau panggil pasien berikutnya?" minta Ratna.


Sebelum perawat itu kembali dengan pasien kloter selanjutnya, Ratna menyempatkan membuka handphone untuk membalas pesan Tama yang akan berangkat ke Balikpapan. Selesai membalas pesan suaminya dengan pesan suara, Ratna meletakkan kembali handphonenya kemudian fokus pada pasien yang datang. Sekitar pukul 3 sore, Ratna selesai dengan semua pasiennya. Ratna langsung undur diri dan berjalan menemui temannya yang seorang dokter spesialis paru-paru. Ratna meminta bantuannya untuk memeriksa dirinya karena Ratna sendiri khawatir dengan kondisinya padahal dia seharusnya tidak sakit sekarang.


"Sepertinya stresmu cukup tinggi. Kau sudah berkonsultasi dengan psikolog belum?" tanya dokter itu pada Ratna.


"Belum."


"Lebih baik kau membuat janji dengan psikolog. Kalau stresmu tidak segera mereda kondisi paru-parumu juga bisa semakin buruk. Apalagi sebenarnya kau sudah membawa penyakit ini sejak lama. Kalau pemicunya tidak kau hindari penyakitnya bisa semakin mengganggu keseharianmu," katanya lagi.


"Tidak ada. Saranku, kau hindari pemicu stresmu, jangan ke tempat yang berasap tebal, banyak polusi, atau dekat-dekat dengan orang yang sedang merokok."


Ratna mengangguk. Setelah menerima resep, dia keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang sedikit lesu. Ratna sebenarnya tahu penyebab stresnya apa. Tapi bagaimana cara menghindarinya kalau penyebabnya selalu menempel pada ibu mertuanya ditambah lagi ada satu gadis yang melakukan usaha yang sama. Ratna heran, kenapa banyak sekali sih orang yang berusaha merebut suaminya. Apa kerennya Pratama Aji. Selain pekerjaannya yang memang dipandang keren oleh kebanyakan orang tidak ada lagi.


"Kenapa harus sekarang sih...," gumam Ratna ketika memandang amplop coklat berukuran sedang ditangan kanannya. Amplop yang berisi hasil rontgen. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan memang, Ratna hanya perlu menghindari hal-hal pemicunya dan penyakit ini tidak akan mengganggu hidupnya. Hanya satu hal yang membuat dia menjadi semakin sedih sekarang. Dengan penyakit ini, maka kesempatannya untuk bisa hamil menurun. Padahal dia dan Tama baru saja akan memulainya lagi.


Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya, Ratna memutuskan untuk pergi ke minimarket yang terletak di depan rumah sakit tempatnya bekerja. Ratna berjalan mendekati chiller, meraih satu botol susu coklat kemudian membawanya ke kasir.


"Hanya ini saja Bu? Tidak sekalian isi pulsanya? kami juga sedang ada promo beli 2 gratis satu untuk biskuitnya," petugas kasir itu terus menawari Ratna semua yang bisa dia tawarkan namun Ratna hanya menggeleng lemas untuk menjawab. Ratna menerima belanjaannya dan berjalan kembali ke rumah sakit. Menunggu waktu untuk visit bersama dengan beberapa residen yang menjadi juniornya.


Sepertinya Ratna memang sedang apes, niat hati mencari udara segar malah dia menemukan Bagas, suaminya Zahra sedang duduk diam di taman rumah sakit Tadinya Ratna tidak ingin mendekat, tapi Bagas sudah lebih dulu melihatnya dan kini mulai berjalan menghampirinya.


"Mau apa?" tanya Ratna dengan nada yang sedikit ketus.

__ADS_1


"Kalau kau mau menjelek-jelekkan suamiku dihadapanku, sudah tidak mempan lagi. Aku percaya padanya dan aku mencintainya jadi apapun yang terjadi aku tidak akan pernah memberinya izin untuk dekat-dekat dengan istrimu itu," lanjut Ratna.


"Kau tahu kan dia penyebab Zahra menjadi lumpuh? Dia harus bertanggung jawab."


"Dengan apa? Apakah dia harus memotong kedua kakinya untuk menggantikan kaki Zahra? Lagipula kau ini suaminya, kenapa kau selalu diam saja ketika istrimu malah menginginkan laki-laki lain yang itu adalah sahabatmu sendiri."


"Demi Zahra apapun akan ku lakukan," katanya.


"Kau ini bodoh atau bagaimana. Kau mencintainya kan? Mas Aji bilang kau sangat mencintai Zahra sejak kalian masih ada di Akpol. Mas Bagas harusnya memperjuangkan itu. Bukannya malah mengorbankan diri sendiri untuk menghancurkan hidup orang lain begini," jawab Ratna yang makin tidak sanggup menahan emosinya.


"Saya bukan suaminya...," kata Bagas dengan nada suara yang lebih pelan.


"Apa?"


"Saya memang menikahi Zahra tapi saya bukan suaminya. Pernikahan kami hanya diatas kertas, walaupun kenyataannya dia hidup bersama saya. Tapi saya bukan suaminya. Saya hanya memberikan perlindungan padanya, tidak lebih. Karena dari awal Zahra sudah memiliki Aji dalam hatinya," kata Bagas yang raut kesedihannya makin terlihat.


Ratna kembali mengalami sesak nafas, namun berusaha dia tahan sekuat tenaga, "Tapi laki-laki yang dia inginkan itu sudah memiliki seorang istri. Hentikanlah..., saya yakin Mas Bagas ini orangnya baik."


"Saya tidak punya keberanian untuk itu. Melihatnya begitu menderita di kursi roda saja sudah membuat saya serasa mati. Yang bisa saya lakukan hanya membantunya meraih impian untuk bisa bersanding dengan Pratama Aji. Jadi saya minta tolong pada anda untuk mundur," kata Bagas.


"Tidak akan. Sampai matipun saya akan mempertahankan pernikahan kami. Hanya Adiratna yang boleh bersanding dengan Pratama Aji. Bukan yang lain," kata Ratna kemudian meninggalkan taman.


Ratna menghabiskan sisa harinya dengan berat. Bahkan sampai ketika suaminya menjemput Ratna masih terdiam. Dadanya jadi terasa semakin sesak. Dan saking sesaknya dia sengaja melepaskan kancing kemejanya berharap dia akan melepaskan pengap di dadanya.


"Dek kamu kenapa?" tanya Tama khawatir pada keadaan Ratna.


"Mas..., pulang sekarang ya," kata Ratna.


"Iya kita pulang tapi kamu belum makan," jawab Tama.


"Aku udah nggak sanggup makan. Mas dadaku sesak banget rasanya," keluh Ratna.


"Ok, kita pulang kamu istirahat di rumah. Kamu juga hutang cerita apa yang kamu alami hari ini," kata Tama.

__ADS_1


"Nanti di rumah," balas Ratna yang mulai memejamkan mata berusaha menenangkan dirinya.


__ADS_2