Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
53. Kegagalan


__ADS_3

Tama malam itu pulang dengan wajah yang terlampau lelah. Beruntung sampai di rumah Tama menemukan Ratna sedang memasak makan malam. Wajahnya sudah tidak sepucat sore tadi, dia juga sudah mampu tersenyum menyapa suaminya yang baru kembali. Ratna meletakkan pekerjaannya kemudian menghampiri Tama yang mulai berjalan mendekatinya.


"Sudah baikan?"


"Lumayan. Kalau aku nggak segera baikan, kamu yang masakin siapa?" kata Ratna.


"Kenapa kamu hebat banget sih Bunda," kata Tama.


"Ayah ada masalah ya di kantor?"


"Kok tahu?"


"Bahumu, nggak setegap biasanya," kata Ratna mulai menijat pelan kwdua bahu suaminya.


"Dek, besok kamu ada jadwal operasi?" tanya Tama.


"Nggak Mas."


"Bisa kamu izin sebentar? Besok pagi kamu ikut Mas ke kantor. Ada satu masalah yang Mas nggak mungkin bisa selesaikan sendiri," kata Tama.


"Ada masalah apa?"


"Ada dua orang anggota yang pacarnya bikin keributan. Nggak terima katanya, dia bilang diperlakukan dengan tidak adil sama petugas piket."


"Kok bisa?" tanya Ratna lagi.


"Mau masuk ke kesatrian, tapi kan statusnya hanya sebagai pavar makanya ditahan dan dilarang masuk. Yang istri saja keluar masuk diperiksa kan mereka pun sama, tapi mereka bilang mereka diperlakukan tidak adil sudah diperiksa ini itu tapi akhirnya ditolak masuk. Mas minta tolong sama kamu, karena kalian sama-sama wanita jadi bisa saling mengerti. Kalau Mas yang bicara nanti mereka semakin berontak," kata Tama.


"Yasudah besok aku ikut ke kantor. Sekarang Mas mandi dulu gih. Habis ini makan bareng," kata Ratna.


"Mual-mualmu gimana? Mas kepikiran."


"Nggak usah dipikirin. Sudah mendingan kok. Walaupun habis itu aku muntahin lagi aku harus tetep makan. Aku harus bisa sehat," kata Ratna.


Tama bersyukur istrinya baik-baik saja. Setidaknya Tama tidak perlu lagi khawatir berlebihan pada kondisi istrinya. Ratna itu hebat dan Tama harus belajar untuk percaya lebih lagi. Tama harus percaya jika apapun yang terjadi Ratna akan mampu menjaga dirinya juga menjaga buah hati mereka dengan baik.

__ADS_1


Ratna sengaja makan terpisah dengan suaminya karena dia tidak ingin mengganggu Tama. Kasihan kalau suaminya harusnya bisa makan dengan lahap malah terganggu karena Ratna yang terus-terusan merasa mual. Padahal Ratna sudah sengaja masak masakan kesukaannya yaitu sayur bayam yang dicampur dengan jagung. Tapi ternyata masakan kesukaannya saja tidak bisa membuat napsu makannya meningkat. Tama sudah lebih dulu selesai makan lalu berjalan mendekati Ratna yang masih berjuang. Diraihnya sendok Ratna kemudian mulai menyuapi Ratna.


"Nggak mau ah," kata Ratna.


"Kali aja kalau sama Ayah mau makan, ayo coba A...," kata Tama.


Ternyata benar, makannya harus disuapi sama Ayah. Dasar, masih juga sebesar kacang polong tapi sudah tahu siapa yang menyuapinya makan. Sepertinya anak ini tidak terima kalau Bundanya sering ditinggal-tinggal sama Ayah. Terlihat juga dari bagaimana Ratna bisa berubah begitu manja dan mau nempel terus pada suami padahal tadinya tidak begitu.


...***...


Pagi harinya Ratna menguatkan dirinya mendampingi Tama untuk memberi teguran kepada anggotanya yang bermasalah. Ratna sebenarnya sedang tidak enak badan, tapi mau bagaimana lagi dia harus kuat karena ini adalah salah satu tugasnya sebagai istri dan pendamping seorang pimpinan. Ratna sengaja meneguk dosis siangnya di pagi hari agar dia tidak perlu tersiksa harus bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya kosong.


Ratna hanya duduk ketika Tama tengah memarahi bawahannya. Lagi pula Ratna belum diberi kesempatan untuk bicara. Dia hanya memantau bagaimana Tama sedang memberi teguran pada anak buahnya. Ratna sebenarnya suka melihat Tama yang penuh ketegasan begini, karena pemandangan semacam ini jarang dia lihat dari sosok suaminya ketika berada di rumah.


Ratna terus mencoba untuk tetap berkonsentrasi walaupun kondisi perutnya belum membaik sempurna. Seperti Baby Ji terus memprotes pada Bundanya untuk berhenti saja bekerja tapi Ratna masih memaksanya untuk ikut berjuang bersama. Tama sempat melirik ke arah Ratna yang terus memegangi perutnya. Tama ingin mengatakan pada Ratna untuk keluar saja tapi dia lihat Ratna mencoba menyembunyikan sakitnya makanya Tama memilih untuk diam dan menghargai usaha Ratna untuk terlihat tetap baik-baik saja. Karena bukan hanya Ratna yang bertugas menjaga wibawa Tama, tapi dia juga bertugas untuk melindungi harga diri Ratna.


"Tapi Pak, saya masih diberi izin untuk menikahinya kan?" tanya salah satu dari yang sedang Tama marahi.


"Kalau kamu tidak bisa mendidik calon istrimu itu menjadi lebih baik, saya ragu permohonanmu akan diterima," kata Tama.


"Sanggup. Saya menyesal sudah melakukan hal itu," kata salah satunya.


"Yasudah, kalian buat surat pernyataan dan serahkan pada saya maksimal siang ini. Saya pegang surat itu sebagai pertimbangan ketika kamu besok mengajukan sidang nikah," kata Tama.


Setelah selesai Tama mengajak Ratna untuk duduk di ruang kerjanya sementara agar dia bisa istirahat sebentar sebelum kembali pulang. Jujur Tama sudah begitu khawatir dengan kondisi Ratna yang tidak kunjung membaik dari hari ke hari.


"Bunda kamu nggak papa?"


"Nggak papa, tapi pusing banget," kata Ratna.


"Kalau gitu pulang ya, nggak usah masuk kerja aja hari ini gimana?"


"Mas, anterin ke dokter dong kalau lagi nggak ada kerjaan. Bisa nggak?" tanya Ratna.


"Bisa, tapi cuma nganter aja nggak sampai nemenin. Gimana? Mas ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

__ADS_1


"Bang, maaf menyela. Apa Mbak Ratna biar saya saja yang ngantar, Sekalian aku juga mau ke rumah sakit jenguk saudara Bang Yudha," tawar Nesya.


"Yakin nggak papa?" tanya Tama.


"Iya nggak papa. Ketimbang Mbak makin sakit, kalau nunggu Bang Aji selesai dengan pekerjaan mah keburu gawat nanti," kata Nesya.


"Mas aku sama Nesya saja ya. Nggak papa kan?"


"Yasudahlah nggak papa. Tapi janji ya hati-hati," kata Tama.


"Iya janji."


Ratna pergi bersama dengan Nesya ke rumah sakit. Cukup sampai di tempat parkir Ratna dan Nesya berpisah. Nesya ke arah paviliun sedangkan Ratna ke arah poli. Ratna mengantri beberapa saat kemudian nama dia dipanggil. Di dalam sana Ratna sudah ketakutan parah ketika alat USG menyentuh permukaan perutnya. Ada rasa yang tidak menyenangkan sebenarnya sejak kemarin, rasanya seperti ada yang salah dengan kandungannya dan benar saja dokter menyatakan kandungan Ratna sudah gugur.


Janin di dalam perut Ratna terlalu lemah hingga tidak sanggup bertahan, itulah kenapa perut Ratna sakit sejak kemarin. Sebelum Ratna melangkah ke kamar operasi, dia lebih dulu memberi kabar pada Tama kemudian menitipkan handphonenya pada salah seorang perawat yang kebetulan dia kenal.


Tama melihat pesan itu langsung bergegas mencari komandan untuk izin dan langsung pergi secepat yang dia bisa untuk segera sampai di rumah sakit. Ketika dia sampai, Ratna bahkan masih berada di ruang operasi sehingga Tama masih harus duduk menunggu kabarnya dari dalam. Pikirannya semakin kacau. Semuanya berpusat pada Ratna. Dadanya sesak membayangkan sehancur apa Ratna saat ini. Setelah berjuang seorang diri dan gagal dia masih harus kesakitan dan Tama dengan begitu menyedihkannya hanya mampu memandangi Ratna yang terbaring lemah diatas brankar. Ratna sudah sepenuhnya sadar namun dia tidak sanggup melakukan banyak hal. Wajahnya pucat dan tidak bertenaga.


"Mas maaf," kata Ratna.


"Nggak usah minta maaf, kamu nggak salah," kata Tama.


"Mas kalau lagi banyak kerjaan balik ke kantor aja nggak papa, Ratna sendirian nggak papa kok," kata Ratna.


"Nggak sayang, mana mungkin Mas biarin kamu sendirian dalam kondisi begini. Kerjaan Mas masih bisa menunggu. Kamu lebih penting saat ini," kata Tama.


"Tapi nanti Mas dimarahi sama Pak Leo lagi."


"Pak Leo yang kasih izin buat Mas kesini. Kerjaan Mas juga mau diantar ke sini biar Mas bisa kerja sambil temani kamu," kata Tama.


"Yakin kan Mas nggak bohong?"


"Apa pernah kamu lihat Mas bohong sama kamu?"


"Nggak."

__ADS_1


"Mas nggak akan bohong sama kamu. Karena Mas nggak mau menggores kepercayaan kamu sama Mas," kata Tama dengan begitu lembut.


__ADS_2