Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
36. LDR


__ADS_3

Pada akhirnya Tama lebih dulu diwisuda dari pada Ratna. Akibat cuti panjang dia akhirnya harus mengejar ketertinggalannya. Jadi ketika sekarang Bima dan Rati sudah diberi gelar dokter spesialis, Ratna masih harus menunggu. Saat ini dia tengah diberi tugas pengabdian. Dia dikirim ke pelosok kalimantan dan membantu di sebuah puskesmas pembantu di sana.


Selama 3 bulan Ratna dan Tama harus rela berjauhan. Walaupun masih dalam satu pulau tapi kita tahu sendiri Kalimantan seluas apa. Tidak terjangkau oleh waktu mengingat Tama sekarang memiliki tanggung jawab yang tidak main-main juga.


Sudah berjalan selama 2 bulan dan masih tersisa 1 bulan lagi sampai Ratna akan pulang. Kondisi rumah sudah cukup berantakan karena Tama yang sibuk jarang memiliki waktu untuk beres-beres. Tama sudah sengaja tidak menyentuh dapur dan tetap membiarkan kulkas kosong, dia juga tidak seboros biasanya mengganti baju di rumah agar dia tidak perlu mencuci setiap hari.


“Hallo Bunda…,” kata Tama yang tidak menunggu lama mengangkat telepon istrinya.


“Ayah lagi apa?” tanya Ratna tanpa menatap pada Tama di layar handphonenya.


“Lagi mumet, kerjaanku banyak banget nih,” kata Tama.


“Sudah makan siang?” tanya Ratna yang akhirnya menoleh kepada Tama.


“Belum. Bunda juga nggak makan?”


“Pasienku numpuk hari ini. Aku belum sempat makan padahal sudah laper banget,” kata Ratna.


“Disempatin makan dong Dek, nanti kamu sakit.”


“Nanti ah, di warung nggak akan ada sinyal Mas,” kata Ratna sambil tersenyum.


Tama kadang suka lupa jika Ratna sedang di wilayah minim sinyal. Bisa video call begini saja sudah untung walaupun agak macet-macet dan gambarnya low quality.


“Dek Ratna…, kapan kamu pulang?” tanya Tama.


“Nanya gini bau-baunya rumah sudah kaya kapal pecah ya kayanya,” kata Ratna menggoda Tama.


“Apa sih nggak kok. Rumah bersih, aman terkendali pokoknya, kamu nggak perlu khawatir,” kata Tama.


“Justru aku khawatirnya sama kamu Mas,” jawab Ratna.


“Nah itu. Nggak ada kamu aku kacau Dek. Udah ah jangan jauh-jauhan lagi ya habis ini. Nggak kuat Mas nggak ada kamu,” kata Tama pada Ratna.


“Mau bagaimana lagi, sabar ya Mas. Sebulan lagi kok, itupun sudah nggak genap.”


“Nggak ada kamu tuh 24 jam kerasa lama banget. Mana bonbon dibawa lagi Mas kan jadi tidur sendirian,” kata Tama.


“Beli aja adiknya bonbon, nanti kasih nama bunbun.”


“Ide bagus tuh, nanti temani Mas beli adeknya bonbon ya.”


“Umurmu ki berapa tahun to Mas masih doyan main boneka? Mbok ya sadar usia, Bapak Aji yang terhormat.”


“Umur boleh 30 tapi kan jiwanya masih 17. Nggak papa lah lagian Mas beli boneka kan bukan buat Mas sendiri. Kamu yang suka boneka babi. Katanya kalo nggak meluk Bonbon nggak bisa tidur kan karena ketendang-tendang sama Mas,” kata Tama.

__ADS_1


“Ya iya Mas kalau tidur tuh 11 12 kaya orang lagi perang. Gerak terus, mana ngorok lagi,” kata Ratna.


“Dek…,” panggil Tama.


“Apa?”


“Aku sayang sama kamu.”


“Random amat Mas, kenapa?”


“Ya nggak, pengen aja gitu bilang. Rasanya udah lama aku nggak bilang sayang sama kamu,” kata Tama.


“Mas nggak usah bilang juga aku tahu kok. Aku percaya sama Mas, aku percaya Pratama Aji akan memegang janjinya sampai kapanpun itu,” kata Ratna membuat Tama tersenyum. Dia yang gombal tapi dia juga yang baper. Pokoknya kalau soal menyatakan perasaan dan memuji, Ratna adalah jagonya. Tama saja selalu kalah dengan dia.


Sekitar 3 minggu kemudian, Ratna bersiap untuk melepaskan masa pengabdiannya. Ratna sudah mulai mengemasi barang-barangnya. Tinggal menunggu Tama memiliki waktu untuk menjemputnya pulang saja. Ratna pagi ini mulai berpamitan dengan rekan kerjanya di puskesmas pembantu itu. Dia juga berpamitan dengan kepala puskesmas juga beberapa warga lansia yang selama beberapa bulan ini menjadi pasiennya.


“Bapak dan Ibu jangan lupa untuk jaga kesehatan ya, jangan lupa untuk banyak minum air putih, istirahat yang cukup. Maaf saya tidak bisa membersamai Bapak dan Ibu lagi setelah ini, saya minta restu untuk melanjutkan perjuangan saya ya,” kata Ratna pada beberapa lansia yang datang untuk mendapatkan edukasi kesehatan.


Sore harinya baru Tama datang menjemput. Ratna dibantu Tama mulai memasukkan bawaannya ke jok belakang lalu sekali lagi berpamitan dengan rekan-rekan Ratna sebelum meninggalkan tempat. Mereka sampai di rumah setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam. Ketika sampai di rumah, Ratna sudah tertidur pulas di kursi samping.


“Dek…, sudah sampai ini. Bangun yuk,” kata Tama pada Ratna.


“Gendong….”


Seorang Adiratna minta gendong? Jelas dia ngelindur. Mana mau Ratna digendong oleh Tama. Ratna selalu bilang kalau dia digendong Tama itu rasanya sama seperti naik ke atas awan. Tinggi sekali. Ratna menolak ketika Tama akan menggendongnya dengan bridal style. Ratna dengan kondisi setengah tidurnya memutar tubuh Tama dan langsung melingkarkan kedua tangannya dileher Tama membuat Ratna kini bergelantung di punggung lebar Tama.


“Nggak mau, mau gendong…,” gumam Ratna.


“Dek…,”


“Mas jahat.”


Tama terdiam, dia akhirnya sadar juga jika Ratna benar-benar “mabuk”. Bukan mabuk yang sebenarnya, ini sih biasanya akan terjadi jika Ratna sudah kelewat pusing, sakit, atau setelah dia meminum soda. Tapi Tama tidak ingat jika istrinya ini minum air berkarbonasi itu. Jadi dia mengambil kesimpulan jika Ratna sedang banyak pikiran saat ini.


“Kenapa? Tesis kamu berat ya?” tanya Tama langsung diangguki oleh Ratna yang masih tetap memeluk erat leher Tama.


“Yang semangat ya, sebentar lagi kok. Setelah itu kita pulang. Mas juga capek di sini terus. Mas capek lihat kamu pura-pura kuat, Ratna,” kata Tama kali ini dengan suara yang lebih lirih.


“Mas capek?” kali ini Ratna bertanya pada Tama sambil bertingkah lucu dan meletakkan kepalanya di leher Tama.


“Iya, Mas capek.”


“Hihihi sama…, aku ngantuk,” kata Ratna masih dengan dunianya.


“Ya sudah turun terus tidur biar capeknya hilang,” kata Tama dengan berjuta pengertiannya.

__ADS_1


“Nggak mau.”


“Ratna…, ayo dong jangan rewel ah,” kata Tama kali ini berusaha melepaskan jeratan Ratna di lehernya.


“Nggak mau…, ah~ nggak mau. Jangan dilepas dong. Mas jahat,” rengek Ratna kali ini sambil menangis.


Tama tidak toleran lagi. Dia melepaskan paksa tautan tangan Ratna agar dia bisa memeluk istrinya itu dengan lebih baik. Ratna langsung menangis di dalam pelukan Tama, menangis persis seperti seorang anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Ratna merengek dan terus merengek.


“Yang kamu alami di sana apa aja Dek sampai kamu bisa sebegini kacaunya?” tanya Tama yang tidak berhenti menepuk-nepuk punggung Ratna agar tangisannya tidak semakin keras.


“Aku takut…, disana cowoknya jahat-jahat. Ratna nggak mau ke sana lagi,” kata Ratna.


“Sudah ya, nggak papa. Sekarang kamu sudah aman, sudah ada Mas di sini. Adiratna sudah nangisnya ya.”


Tama tahu jika daerah pedalaman itu memang ekstrem. Bukan hanya soal aksesnya tapi juga persoalan-persoalan lain. Adat yang dijunjung tinggi, kebiasaan-kebiasaan juga terus dilestarikan yang terkadang tidak ramah pada pendatang atau orang luar. Agaknya memang begitu kontras dengan kehidupan Ratna selama ini.


Pagi berikutnya, Ratna adalah yang pertama kali bangun dari alam mimpi. Ratna bangun dengan wajah yang sedikit pucat dan kepala yang pusing. Karena hari ini Ratna harus tetap bekerja, terpaksa dia menelan satu tablet paracetamol untuk menghilangkan nyeri kepalanya baru dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, menyegarkan tubuhnya yang rasanya sangat-sangat lelah.


Selesai mandi, Ratna menuju ke dapur hanya untuk membuat dia gelas teh hangat setelah itu dia duduk di sofa berusaha menenangkan pikirannya.


“Mas maaf ya aku nggak sanggup bikin sarapan. Tapi Mas sudah kubuatkan roti lapis sama teh hangat itu di meja,” kata Ratna ketika melihat Tama melangkah keluar dari dalam kamar.


“Dek kamu nggak mau istirahat aja?”


“Niatnya sih begitu. Tapi aku harus absen, cuma setengah hari kok setelah itu aku pulang.”


“Yasudah istirahat di rumah ya, semalam kamu sudah ngelindur macam-macam lho. Kalau kamu maksa bisa tambah stress kamu nanti,” kata Tama.


“Jadi semalem aku beneran nangis?” tanya Ratna.


“Iya….”


“Pantesan kepalaku kok pusing banget. Mataku juga perih,” keluh Ratna.


“Mas maafin Ratna ya…,” kata Ratna lagi.


“Buat apa?”


“Ratna semalem pasti ngerepotin Mas kan? Ratna semalem kumat kan? Ratna semalem mabuk ya? Duh maaf Mas kan harusnya Mas bisa istirahat malah Ratna repotin,” kata Ratna menyusul Tama yang sedang berdiri di depan kulkas.


“Adiratna Mas pernah bilang apa sama kamu, hmm? Berhenti merasa bersalah. Kenapa kamu selalu minta maaf setiap kali kamu nangis? Kenapa kamu selalu merasa bersalah setiap kali kamu kumat manjanya? Kamu nggak salah sayang, harus berapa kali lagi Mas bilang sama kamu. Jangan jadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri,” kata Tama dengan sorot mata yang mengintimidasi walau dia tidak meninggikan suaranya tapi sudah cukup membuat Ratna takut.


“Kalau kamu lagi stress, banyak pikiran ya cerita. Awal-awal kita nikah kamu selalu ceritain semuanya sama Mas, tapi semakin ke sini kamu semakin seneng mendam semuanya sendiri. Kenapa? Kamu sudah nggak percaya lagi sama Mas?”


Ratna tidak menjawab. Dia tidak kuasa menahan air matanya karena takut pada Tama. Dia memang tidak menggunakan nada tinggi atau bahkan membentak. Tama mengatakannya dengan halus sama seperti biasanya, tapi rasanya kalimat-kalimat itu terlalu menyakitkan untuk Ratna dengar.

__ADS_1


“Ya sudah, besok-besok Ratna nggak akan minta maaf lagi sama Mas. Ratna berangkat lebih dulu, Mas. Nanti piring kotornya Mas tinggal aja di wastafel, biar Ratna yang bereskan sepulang kerja. Assalamualaikum,” kata Ratna sebelum meninggalkan Tama yang mulai menyesal telah mengatakan itu pada Ratna.


Jujur bukan hanya Ratna yang sedang sensitif, Tama juga sama sensitifnya. Pekerjaannya sedang menumpuk, masalah silih berganti ditambah ada beberapa bawahannya yang mulai nyeleneh dan menambahkan beban di pundaknya. Tama mendengar Ratna pergi menggunakan motor. Dia bahkan tidak menggunakan mobil seperti biasanya, membuat Tama yakin jika Ratna benar-benar marah kepadanya.


__ADS_2