Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
20. Berkah


__ADS_3

Mengikuti jejak Ratna yang tengah menyelesaikan PPDS-nya, Tama menyusul untuk bersekolah juga. Demi bisa mendapatkan percepatan kenaikan pangkat dia menempuh pendidikan lanjutan di sebuah universitas di Samarinda. Pada dasarnya memang bukan hanya Ratna yang suka belajar, Tama juga demikian. Dia bahkan banyak mengikuti pelatihan ini dan itu ketika sudah bergabung dalam kepolisian hingga akhirnya ditempatkan di bagian pendidikan dan pelatihan.


Tama sementara waktu dikurangi kegiatan penugasannya keluar kota karena dia memiliki beban menyelesaikan pendidikan jadi dia memiliki banyak waktu untuk membantu Ratna karena dalam waktu 1-2 tahun ke depan jelas mereka berdua akan sangat sibuk karena kehadiran Baby Ji. Untungnya portofolio Tama cukup untuknya lulus dalam seleksi masuk bahkan dalam sekali percobaan.


"Jadi mahasiswa lagi dong sekarang," kata Ratna pada Tama.


"Kamu juga mahasiswa," jawab Tama.


"Pas banget timingnya. Memang bener ya orang bilang seorang anak itu bawa berkah buat orang tuanya," kata Ratna.


"Benar, setiap anak kan terlahir karena cinta kedua orang tuanya. Setiap anak dalam kondisi apapun dia lahir dia adalah berkah dari Allah. Kalau kita sebagai orang tua bisa mendidik anak itu dengan baik dia akan menjadi kebanggaan pula untuk orang tuanya."


Mendengar kata-kata Tama membuat Ratna melangkah mendekatinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Entah apa yang ditontonnya, Tama lebih banyak fokus pada Ratna sejak tadi. Setelah Ratna duduk di sebelahnya, Tama secara otomatis melingkarkan tangannya agar Ratna bisa nyaman bersandar di bahunya. Sambil terus bicara, Tama terus mengelus kepala Ratna membuat Ratna tenang. Terasa bahu Ratna sekarang mulai rileks. Seperti biasa juga, Ratna akan mencari jari-jari tangan Tama untuk dia mainkan.


"Itulah kenapa pernikahan disebut sebagai penyempurna separuh agama, kan? Karena dalam pernikahan bukan hanya tentang diri sendiri tapi juga tentang bagaimana kita membawa keluarga kita menuju jalan yang Diridhoi Allah. Direalisasikan dari bagaimana seorang suami menuntun istrinya, dan yang jadi istri juga harus mau dituntun oleh suami. Apalagi kalau sudah punya anak ya, bukan hanya ayah atau ibu saja. Keduanya bertanggung jawab untuk mendidik dan membentuk anak-anaknya menjadi Sholeh/Sholehah. Kalau sholat saja hanya 5 waktu dalam 1 hari, menjadi orang tua itu ibadahnya 24 jam setiap hari tanpa jeda," kata Tama.


"Tapi Mas, terkadang seorang anak dari rumah diajarkan semua nilai-nilai baik nih tapi ketika anak itu bergaul dengan teman-teman yang kurang baik dia cenderung terbawa. Kita sebagai orang tua kan nggak bisa tahu kegiatan anak selama 24 jam penuh. Gimana Mas menurutmu?" tanya Ratna.


"Ingat ya, orang tua itu juga manusia biasa. Mengusahakan yang terbaik dan membekali ilmu yang cukup untuk anak itu hukumnya wajib, hanya saja kita tidak boleh terlalu menggurui. Kita harus bisa menjadi teman diskusi untuk dia. Kasih dia kepercayaan, biarkan dia berkembang dan berproses sesuai dengan usianya. Kita awasi saja dari jarak yang tidak membebaninya. Pokoknya maaf, tolong, dan terima kasih juga harus dilakukan bahkan dari orang tua kepada anaknya."


"Jadi Mas maunya kita pakai pola itu? Boleh deh, aku setuju banget Mas. Aku juga sebenernya takut. Aku belum pernah jadi orang tua. Aku takut aku salah langkah," kata Ratna.


"Ya kaya tadi Mas bilang kan, maaf, tolong, dan terima kasih. Sama-sama belajar. Dia belajar menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya dan kita belajar menjadi orang tua yang baik untuk dia. Jadi polisi, jadi dokter itu ada sekolahnya. Banyak tempat dan kita bisa milih mau di mana, tapi jadi orang tua itu tidak ada sekolahnya."


"Oiya berhubung kita lagi ngomongin soal pola asuh. Maaf nih Mas kan pernah bilang nggak papa nitipin anak ke Mama atau ke Ibu, tapi kok aku nggak setuju ya Mas? Aku maunya ya kita aja gitu. Persis kaya Mas selalu bilang. Pernikahan ini ya tentang aku sama Mas, tentang Tama sama Ratna. Gimana Mas?" tanya Ratna lagi.


"Itu sih kembali lagi ke kamu ya, kalau kamu merasa terbeban ya jangan dipaksa."

__ADS_1


"Ya kalau hidup dianggap beban sih pasti kebeban Mas, aku tuh udah terlanjur jatuh cinta sama kalimatmu. Makanya biar kita aja yang ngasuh anak-anak nanti ya, nggak usah melibatkan orang lain. Takutnya apa yang kita tanamkan ke anak nggak akan jadi kalau ada campur tangan orang lain. Nggak papa kan aku usahakan semampuku, andai ditengah jalan nanti aku kok nggak bisa mengemban amanah ini aku siap terima hukuman dari kamu apapun itu," kata Ratna lagi.


"Ok Mas bantu, setiap kamu kerja biar Mas yang nemenin anak-anak di rumah. Nanti gantian, kalau Mas yang kerja kamu yang nemani anak-anak."


"Terus kalau kita berdua kerja gimana?"


"Hmm..., Mas pernah dengar di kesatrian sini ada penitipan anak. Kalau nggak salah yang ngurus Bu Nadia, tahu kan? Yang rumahnya ada di ujung gang paling depan yang banyak punya tanaman sayur di depan rumahnya. Beliau senior juga sama kaya Bu Odah. Setahu Mas Bu Nadia juga gabung jadi pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari Satbrimobda sini juga."


"Bu Nadia? Yang orangnya agak gemuk itu nggak sih? Istrinya Pak Dewa?"


"Itu tahu..., coba kamu tanya-tanya sama beliau aja. Mas kurang paham soalnya kan nggak pernah gabung di acara bhayangkari kalau nggak ada kamu. Itu aja cuma sebatas dampingi kalau diperlukan, Mas awam dek," kata Tama.


"Besok deh aku tanya ke Bu Nadianya langsung. Semoga cocok, kalau nggak ya sementara Ratna cuti dulu setahun nggak papa. Nanti kalau Baby Ji sudah agak besar baru Ratna mulai lagi," kata Ratna.


"Kamu yakin?"


Mendengar kalimat Ratna membuat Tama sekali lagi sadar bahwa wanita yang dinikahinya 4 tahun lalu ini adalah wanita yang benar-benar hebat. Dia begitu dewasa, tidak pernah menuntut ini itu dan selalu melibatkan Tama dalam setiap keputusannya. Tama merasa beruntung telah diberikan wanita sehebat Ratna.


"Dek kamu tahu nggak yang Mas rasain sekarang apa?" tanya Tama.


"Apa?"


"Mas bersyukur atas keputusan Mas untuk datang ke warung nasi langgi malam itu. Mas juga besyukur atas kenekatan Mas minta nomormu."


"Dek boleh minta nomor teleponnya nggak?" kata Ratna mengulang kalimat Tama dulu.


"Kali aja kita jodoh," kata Ratna lagi.

__ADS_1


Tama tersenyum sambil menatap lekat kedua bola mata hitam legam Ratna. Dia tersenyum, menampakkan senyum terbaiknya mengingat bagaimana kisah mereka dimulai. Untuk kali ini Tama tidak memberikan ciuman. Dia hanya memberikan pelukan pada Ratna. Ratna membalasnya, mereka sempat terdiam beberapa saat hingga Ratna merasakan Tama seperti orang yang menahan tangisan. Ratna melepaskan pelukannya lalu mendongak menemukan mata Tama memerah dan mulai berkaca-kaca.


"Dek, ayah nangis...," kata Ratna pada perutnya.


"Ayah nangis karena ayah bahagia, punya Bunda Ratna punya baby Ji. Kalian berdua adalah duniaku. Kalian berdua adalah bhayangkari-bhayangkari hebatku."


"Ayah juga adalah prajurit terhebatku. Bhayangkara kebanggaanku," kata Ratna lagi.


Tama kembali memeluk Ratna, kali ini tangan kanannya bukan hanya melingkari tubuh Ratna tapi juga mengelus perut besar Ratna. Tiba-tiba, ketika Tama dan Ratna tengah tenggelam dalam lamunan mereka ada satu lonjakan kecil di perut Ratna membuat Tama dan Ratna ikut kaget.


"Tadi itu apa?" tanya Tama masih belum mengerti.


"Baby Ji yang nendang ayah. Adek kan sudah besar, sudah bisa dengar suara Ayah Bundanya," kata Ratna.


Runtuh sudah pertahanan Tama. Setetes air matanya langsung terjun bebas menyusuri pipinya. Tama melepaskan diri dari Ratna, dia kini duduk di bawah dihadapan Ratna yang masih bertahan di atas sofa. Tama letakkan kepalanya di perut Ratna, menempelkan telinganya di tempat tangannya merasakan tendangan tadi.


"Dek..., ini Ayah...," kata Tama sambil mengetuk-ngetuk pelan perut Ratna dengan jari telunjuknya berharap Babi Ji tahu ayahnya sedang ingin menyapa.


"Iya Ayah...," jawab Ratna mewakili.


"Sejak kapan kamu ngerasain dia gerak?" tanya Tama.


"Belum lama, intensitasnya belum sering juga. Ini pertama kalinya aku ngerasain Baby Ji bisa nendang sekeras ini," kata Ratna.


Jika ada skala yang mampu mengukur kebahagiaan, dia yakin alat itu tidak akan mampu mengukur kebahagiaannya saat ini. Memiliki kesempatan untuk menyaksikan senyuman istrinya ketika tengah bercanda dengan si kecil membuat Tama melupakan semua beban di bahunya. Rasa lelahnya seketika lebur menjadi debu merasakan pergerakan-pergerakan kecil itu di perut Ratna.


Jika Tama diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu dia akan melakukannya hanya untuk mengatakan pada Pratama Aji 10 tahun yang lalu. Dia ingin bilang pada pemuda itu jika pilihannya untuk mempertahankan Sindy adalah salah. Ratnalah orangnya. Adiratna Widiyatna namanya, seorang gadis yang akan menjadi sumber kebahagiaannya. Wanita hebat yang akan menjadi pendamping dan teman sehidupnya. Tama juga akan berterima kasih pada Pratama Aji 6 tahun lalu atas keputusan-keputusan kecilnya yang pada akhirnya membawa dia pada kebahagiaan sejatinya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2