Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
83. Jago Tembak


__ADS_3

Tama pagi ini mengikuti upacara gabungan. Dia datang bukan ke Markas Brimob melainkan ke Markas Polda. Agendanya adalah evaluasi operasi pengamanan pilpres. Banyak yang terjadi di Jogja selama beberapa bulan belakangan. Mulai dari gesekan kepentingan yang terkadang menciptakan percikan api pertikaian, sampai pada protes besar-besaran karena merasa tidak cocok dengan hasilnya bahkan bentrokan bentrokan lain di berbagai daerah juga terjadi.


Atas prestasi ini ada beberapa perwira dan ratusan bintara maupun tamtama yang mendapatkan percepatan kenaikan pangkat selevel lebih tinggi sebagai reward dari kerja keras seluruh personil. Upacara diadakan di lapangan upacara Markas Polda DIY. Dalam upacara korps raport seperti ini, biasanya bukan komandan yang menyematkan pangkat baru melainkan suami/ istri masing-masing personil yang naik pangkat. Termasuk Ratna yang tidak mungkin mengikuti upacara akhirnya menunggu dengan duduk dekat lapangan.


Ketika dia dipanggil untuk menyematkan pangkat, baru dia maju ke depan. Di genggamannya sudah ada pangkat baru yang akan selalu tersemat di pundak suaminya. Bukan lagi berbentuk balok berwarna emas, tapi sudah berbentuk bunga melati berwarna emas.


"Ayah hebat banget ya Dek. Semoga Adek bisa jadi anak yang sama hebatnya seperti Ayah. Bunda janji Bunda akan selalu ada buat kamu dan mendukung apapun yang jadi impian dan cita-cita kamu," batin Ratna.


Ketika Ratna menyematkan pangkat itu, Tama sengaja berlutut agar Ratna bisa dengan mudah menjangkau bahunya. Tama memang terkenal memiliki caranya sendiri ketika berhadapan dengan sang istri. Terkadang cara-cara semacam ini tidak terpikirkan oleh orang lain tapi Tama sudah mempraktekannya. Seperti kebiasaan Tama yang selalu hormat dan melapor pada Ratna setiap kali akan berangkat atau pulang dari penugasan, Tama tahu ada beberapa junior mengikuti caranya.


"Selamat ya Ayah," kata Ratna yang selesai menyematkan pangkatnya.


"Ayah bisa jadi seperti ini juga karena Bunda," kata Tama.


Tama berencana memulangkan Ratna ke rumah begitu selesai upacara, tapi dia menolak. Ratna bersikeras ikut acara syukuran di Markas bersama dengan ibu-ibu yang lain. Tama, Cece, Chandra, Rendi, dan seluruhnya yang baru saja mengikuti upacara di polda datang ke markas dan merayakan kenaikan pangkat bersama dengan keluarga besar Brimobda. Seluruh personil termasuk anggota bhayangkari berkumpul dan mengucapkan selamat pada kenaikan pangkat untuk teman, dan keluarga mereka.


Lapangan yang biasa dipakai untuk apel sekarang berubah fungsi sebagai tempat acara. Ada panggung kecil di depan sana, juga tenda-tenda yang didirikan serta kursi-kursi yang ditata rapi. Acara formal dan ucapan selamat dari komandan lebih dulu dilaksanakan kemudian dilanjutkan dengan acara nonformal. Para Bintara menantang komandan mereka untuk adu kebolehan di lapangan tembak. Tapi karena yang akan beradu level perwira, targetnya bukan lagi seperti yang biasa mereka pakai ketika latihan melainkan sebuah botol air mineral, apel, dan tutup botol yang akan dilemparkan ke udara.


"Pertandingan pertama. Di sebelah kanan saya ada bapak komandan kita tercinta Bapak Mahendra dan di sebelah kiri saya ada wakil komandan Bapak Novan. Silahkan kepada wasit untuk segera di mulai," kata Bayu yang menjadi MC.


"Ayah semangat," teriak ketiga bidadari kesayangan Bang Novan.


"Papa pasti bisa," kali ini keluarga Bang Hendra yang menyemangati.


Pertandingan berjalan dengan begitu seru. Banyak yang menonton dan heboh karena hal seperti ini termasuk jarang terjadi. Kapan lagi kan para perwira ini memperlihatkan kemampuan mereka dihadapan seluruh personil yang datang sekaligus pada keluarga besar pula.


"Pertandingan selanjutnya adalah pertandingan sengit antara wakil komandan detasemen gegana Kompol Cakka Candra melawan mantan sniper den gegana brimobda Kalimantan Timur yang sekarang menjadi instruktur kesayangan kita semua Kompol Pratama Aji," kata si MC lagi.


"Lets go hawkeye," kata Ratna menyemangati Tama.


"Kak bilang Papa semangat. Semangat Papa," kata Vero sambil mengajak putrinya agar menyemangati Papa.


Jelas bukan hal yang sulit untuk Tama mengenai sasarannya. Dia cukup sombong memang dengan kemampuannya yang satu ini. Sedangkan Cece yang merupakan anggota satuan jibom tidak mau kalah. Ayolah, dia anggota gegana. Wakil komandan pula. Masa iya kalah dengan Tama. Mau ditaruh mana mukanya.


"Hawkeye asia gue kira cuma omong kosong," kata Cece pada Tama yang dengan mudah menyapu bersih seluruh target.


"Enak saja. Soal tembak menembak jago gue," kata Tama membanggakan diri.


"Termasuk nembak istri," goda Chandra yang mendengar kalimat sombong Tama.

__ADS_1


"Oh kalau itu jelas. Jangan ditanya lagi. Tanpa bidik bisa tepat sasaran. Terbukti kan sekarang, sekali tembak kembung dia 9 bulan," jawab Tama yang bukannya malu malah semakin bangga.


"Astaga suamiku," gumam Ratna sambil geleng-geleng dan mulai menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Nggak terima gue kalah dari lo Ji. Testimoni Ma, gimana tembakan Papa tepat sasaran kan?" kata Cece pada Vero.


"Mbak Vero hamil apa?" tanya Ratna dengan mata berbinar.


"Beneran Mbak?" kali ini Lilis yang heboh.


"Puji Tuhan sudah jalan 13 minggu," kata Vero dengan malu-malu.


"Wah, aku nggak sendirian. Sama aku juga lagi hamil Mbak tapi baru jalan 7 minggu," tambah Mbak Intan, istri Bang Nanda.


"Lha kok borongan gini," gumam Novan sambil melirik istrinya yang sedang repot menggendong si kecil yang rewel padahal perutnya sudah mulai besar.


"Buset ini markas brimob lama-lama bisa buka prenatal class begini caranya," Bang Hendra ikut berkomentar.


Seluruhnya memberikan selamat sekaligus doa untuk perwira mereka yang sedang "kompak". Padahal tidak ada yang janjian. Tapi memang sih kekeluargaan di kesatuan ini sangat kental. Terjaga dengan begitu baik. Para perwiranya juga begitu mengayomi bawahan dan selain dalam tugas, tidak ada kesenjangan di sini. Bahkan personil yang bertugas dibawah kapolres juga tidak terasingkan ketika berkunjung ke markas pusat. Intinya sejak Komandan Mahendra dan wakilnya menjabat, kesatuan mereka menjadi jauh lebih baik lagi.


Acara kembali dipusatkan di sekitaran panggung. Sembari menunggu makan siang, Bayu selaku MC yang ditemani oleh teman satu lettingnya Tri sedang berusaha menghibur seluruh tamu undangan dengan stand up atau apapun mereka lakukan agar acara tidak garing.


"Kok saya sih? Yang lain saja ah malu," kata Ratna malu-malu.


"Halah kamu kok malu. Jawab aja," kata Lilis mengompori.


"Yowis pertanyaannya saya ralat. Bapak kalau di rumah suka marah nggak Bu?"


"Nggak pernah," jawab Ratna.


"Sama sekali?!" Bayu dan Tri balik bertanya dengan nada kaget.


"Iya, sama sekali."


"Wah nggak bisa dibiarkan ini. Nggak adil ini namanya," kata Bayu dan Tri yang sekarang sudah kembali asik berdialog berdua.


"Bu, kulo badhe wadul niki. Bapak itu kalau lagi kerja gualake pol. Nek sudah pasang muka datar, wuahh medeni ngalahi provost sing keliling markas tiap pagi," kata Tri yang seakan tidak takut pada Tama padahal dia sedari tadi duduk di sebelah Ratna.


"Bu Aji, ini mumpung ada momennya, saya yakin banget soalnya di sini banyak yang pengen tahu nih kalau Ibu lagi marah Bapak biasanya ngapain? Takut kah? Melawan kah? Atau bagaimana Bu?"

__ADS_1


"Marahin saja Bu, biar sama bawahan nggak galak-galak," tambah Tri dengan nada bercanda sambil memberikan mic pada Ratna.


"Haduh, saya nggak pernah marahin Bapak. Nggak berani saya," kata Ratna malu-malu.


"Hmm pret," jawab Tama dengan wajah tidak terima.


"Wahh malah prahara rumah tangga iki pripun Pak? Bapak di kantor vs Ibu di rumah, galak mana Pak?" tanya Bayu.


"Galak Ibu kalau di rumah," jawab Tama begitu mantap.


"Ya Allah aku kalau bukan karena ayah yang bikin salah ya nggak bakal galak kok," protes Ratna tanpa menggunakan mic. Dia mencubit pinggang Tama.


"Nggak galak nggak. Sayang ya, bukan galak Bay tapi sayang. Ibu itu sayang banget. Saking sayangnya ngomoooong terus," jawab Tama meralat sebelum Ratna memasang wajah datar yang diakui atau tidak Tama sangat takut.


"Ini yang sudah punya pendamping saya mau tanya, pemegang tahta tertinggi di rumah itu istri, betul apa betul?" tanya Tama mencari pengikut.


"Betuuulllll," jawab riuh dari arah belakang diikuti tawa dari semua yang hadir tidak terkecuali dari para istri yang jadi terget.


"Ini yang ketawa yang bapak-bapak aja yang ibu-ibu mukanya udah asem. Jadi biar impas mohon izin ya komandan, sekarang berdiri dulu semuanya bapak dan ibu berdiri berdampingan dengan pasangan masing-masing ya jangan sama tetangga sebelah," kata Bayu membuat semua hadirin mengikuti instruksinya.


"Nah kalau sudah sekarang berhadap-hadapan. Setelah itu bilang pakai panggilan sayangnya masing-masing ya 'sayang, aku sayang sama kamu' terus dicium keningnya sambil dipeluk," kata Bayu yang praktek bersama Tri tapi tidak sampai cium kening betulan.


"Buat yang jomblo kalau mau pelukan sama pohon silahkan banyak yang nganggur," goda Tri.


"Mama, forever love you," kata Pak Hendra pada istri.


"Bunda, anak-anak, Ayah sayang kalian semua," kata Bang Novan memeluk istri dan anak-anaknya.


"Sayang Mama dan Dinda," kata Bang Rendi mencium kedua bidadarinya.


"Love you babe," kata Bang Chandra pada Lilis.


"Mama, aku cinta kamu," kata Bang Nanda pada istrinya.


"Love you, Mom," Cece mencium istrinya, "Kamu juga Kak, Papa sayang kamu," kemudian pada putrinya.


"Ana uhibbuka fillah, Bunda," kata Tama sambil mencium kening Ratna.


"Sehat juga abang. Ayah sudah nggak sabar ketemu langsung sama kamu," kali ini pada perut besar Ratna.

__ADS_1


Acara manis itu menutup acara. Walaupun Bayu dan Tri di atas panggung hanya bisa melihat sambil menatap miris karena masih bujang, tapi toh pemandangan manis semacam ini tidak sering dilihat. Rasanya begitu menyenangkan diberi kehormatan bisa melihat langsung seorang suami dan seorang ayah begitu mencintai istri dan anak-anak mereka. Lumayan untuk motivasi para bujang yang hanya saling menggoda dibelakang sana.


__ADS_2