Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
112. Orang Aneh


__ADS_3

Mumpung hari minggu aku double up deh, terima kasih atas dukungannya untuk Tama dan Ratna yaa


Udah menuju ending nih semoga pembaca semua terus mengikuti sampai akhir yaa 🤗


...🌱Ji🌱...


"Mas, aku otw ke markas," kata Ratna melalui telepon.


"Duh Mas lagi di luar. Bunda lama nggak kumpulannya?" tanya Tama.


"Kayanya nggak. Bunda ada jadwal visit jam 3 nanti," jawab Ratna.


"Yaudah deh titipan Mas kasih ke pos jaga saja nanti Mas ambil," kata Tama.


Ratna kemudian mematikan telepon. Dia hanya cukup tahu di mana Tama, tapi untuk apa kegiatannya Ratna pikir dia tidak perlu tahu. Terlalu banyak rahasia pekerjaan suaminya yang memang tidak seharusnya dia tahu jadi Ratna tidak pernah bertanya.


Ratna menyempatkan diri untuk pulang dan mengambil perlengkapan untuk suaminya. Tama bilang dia akan berada di mess sementara waktu karena sebuah penyelidikan yang memaksanya harus stand by 24 jam. Jadi Ratna membawakan alat mandi dan baju ganti untuk suaminya. Ratna mengemasnya dalam satu tas berukuran sedang kemudian dia tidak lupa juga mengecek keperluan Aksa. Berhubung Uli sekarang anggota bhayangkari juga jadi kalau ada pertemuan ya Aksa selalu dibawa.


Jalanan kota tidak begitu macet hari ini jadi Ratna tidak sampai harus bermacet-macetan untuk bisa sampai di markas. Dia hanya sedikit menunggu karena ketika lewat rel kereta palangnya sedang tertutup. Di samping kiri Aksa duduk di pangkuan Uli. Dia begitu senang dadah pada kereta yang lewat. Ratna tertawa lalu mencubit gemas pipi putranya sebelum dia melajukan kembali mobilnya.


Ketika sampai di gerbang markas, dia melihat Bayu dan Tri sedang berjaga di depan bersama dengan beberapa orang yang membuat ramai pos jaga. Ratna memarkir mobilnya kemudian bersiap turun ketika Bayu berlari kecil menghampirinya. Ratna pikir dia akan mendekati Uli, tapi nyatanya dia malah mendekati Ratna.


"Selamat pagi Bu Aji, maaf boleh minta bantuannya Bu?" tanya Bayu sambil memberi hormat pada Ratna.


"Bantuan apa?"


"Itu Bu, di pos jaga ada yang ngaku-ngaku sebagai saudara Pak Aji. Saya butuh konfirmasi dari Ibu sebelum dia saya izinkan masuk karena dia agak mencurigakan Bu," kata Bayu.


"Siapa namanya? Saudara dari mana?"


"Katanya sih saudara dari Jakarta, dia punya KTA tapi palsu. Dia juga punya kalung identitas brimob Bu. KTPnya asli Jakarta sih tapi tetap saja aneh," kata Bayu.


Ratna berjalan mendekati pos jaga sekalian membawa tas titipan suaminya. Ratna meminta Uli lebih dulu masuk bersama Aksa sedangkan dia harus cari tahu dulu siapa orang yang mengaku saudara Pak Aji ini.


"Selamat pagi Pak, Bapak siapa namanya?" tanya Ratna tanpa memperkenalkan diri.


"Ibu nggak usah ikut-ikutan deh, saya nggak ada urusan sama bhayangkari. Saya cuma mau ketemu Pak Pratama kok. Kenapa pakai ditahan-tahan segala?" tanyanya sudah tidak santai.

__ADS_1


"Bapak siapanya Pak Pratama?" tanya Ratna lagi.


"Saya saudaranya. Saya sepupunya dari Jakarta."


"Om Bay, kalau tidak salah yang namanya Pak Pratama di sini hanya satu ya?" tanya Ratna diangguki oleh Bayu.


"Beliau memang benar orang Jakarta, dari Ciganjur tepatnya. Apa benar Pak Pratama yang itu yang Bapak cari?" tanya Ratna sengaja menyesatkan.


"Iya. Pak Pratama dari Ciganjur. Saya ini adik sepupunya. Tinggal di Pondok Cabe, mau ada perlu dengan Pak Pratama tapi ditahan sama orang-orang ini," kata Bapak itu kembali tersulut emosi.


"Setahu saya Pak Pratama sedang tidak di tempat, atau mau saya panggilkan istri beliau saja? Biar kalau Bapak ada pesan bisa lewat istrinya. Saya kebetulan kenal dengan istri Pak Pratama," kata Ratna.


"Yasudah sini mana orangnya. Saya cuma mau ada perlu kok," katanya.


Bayu langsung paham. "Maaf Bapak. Bapak harus saya tahan dan saya mintai keterangan di dalam silahkan Bapak," kata Bayu sudah memegangi kedua tangan Bapak-bapak mencurigakan itu.


"Apa-apaan sih. Tadi katanya mau panggilkan istrinya Pak Pratama Aji. Mana?! Malah saya ditangkap. Anda harusnya sopan dong dengan tamu. Pangkat hanya bintara tapi sudah berani. Jangan main-main kamu, kalau saya sudah ketemu dengan Pak Aji biar nanti kamu dihukum," katanya berontak.


"Bapak punya modus apa? Bapak jujur saja ada perlu apa dengan Pak Pratama? Asal Bapak tahu ya, Pak Pratama itu tidak punya sepupu laki-laki," kata Ratna.


"Halah tahu apa kamu. Heh siapa nama kamu? Kamu paling juga cuma istri bintara. Mana suamimu biar dia dihukum sekalian sama orang ini. Kurang ajar kalian. Saya ini perwira jangan kurang ajar kalian sama komandan."


"Oiya ini nanti kasihkan ke Bapak ya, titipan dari saya, terima kasih." kata Ratna pada satu orang lainnya yang tetap standby di pos.


"Siap Bu Aji, sama-sama. Maaf sudah merepotkan," katanya.


"Nggak papa. Orang ini jangan dibiarkan lolos, dimarahi Bapak kalian nanti," kata Ratna.


"Siap. Bu Aji," jawab semuanya serempak kemudian membawa orang mencurigakan itu masuk ke dalam kantor resmob untuk dimintai keterangan lebih lanjut.


Ratna hari itu harus mengisi materi, tapi belum-belum moodnya sudah hancur berantakan. Gara-gara orang yang ngaku-ngaku jadi sepupu suaminya padahal sudah jelas sepupu Tama hanya satu, perempuan lagi. Ketika sampai di lantai 3, dia langsung disambut oleh Mbak Vero dan Lilis sebagai panitia pelaksana. Keduanya langsung bertanya pada Ratna tentang keributan apa yang terjadi di bawah.


"Setiap kali aku ke sini selalu ada aja kejadiannya. Lama lama nggak mau lagi aku ke sini. Trauma batin nih lama-lama," kata Ratna geleng-geleng.


"Jangan gitu dong mungil, kalau kamu nggak mau ke sini terus yang ngisi materi pembinaan siapa diong," kata Lilis sambil memeluk lengan Ratna posesif.


"Iya Lis iya, bercanda doang. Trauma nggak trauma kalau yang namanya tugas harus tetap dijalankan," kata Ratna.

__ADS_1


"Yaudah yuk duduk di depan langsung aja biar acaranya bisa segera dimulai," ajak mbak Vero.


...***...


Malam harinya ketika Ratna sedang membacakan dongeng untuk Aksa di kamarnya, handphone Ratna berdering menampakkan wajah suaminya. Sekalian saja dia mengajak Aksa untuk bergabung videocall dengan Ayahnya.


"Ayah ndak pulang?" tanya Aksa yang wajahnya memenuhi layar handphone bundanya.


"Iya, Ayah belum bisa pulang. Aksa baik-baik sama Bunda di rumah ya," kata Tama.


"Ayah, tadi Bunda digangguin orang jelek di kantor ayah," kata Aksa curhat.


"Oh ya?"


"Tqpi Aksa mau lindungi Bunda malah Aksa dibawa tante Uli masuk. Tante Uli nakal padahal Aksa kan jagoan Bunda," kata anak itu lagi.


"Abang..., Abang kan masih kecil. Ayah cuma minta Abang bisa tumbuh jadi anak yang baik, pinter, dan nggak bikin Bunda sedih. Ayah sudah seneng banget. Buat bisa melindungi Bunda dan Abang adalah tugas Ayah. Abang cukup bantu Ayah, kalau ada yang jahatin Bunda Abang lapor sama Ayah ya," kata Tama diangguki Aksa dengan semangat, "Iya Ayah," katanya.


"Sipp. Pinter jagoan Ayah. Sekarang tidur yuk, sudah malam. Ayah mau ngobrol sama Bunda," kata Tama.


"Iya Ayah, selamat malam Ayah," kata Aksa sambil dadah pada Ayahnya.


Ratna lebih dulu membetulkan posisi tidur putranya. Tidak lupa menyelimutinya kemudian mencium keningnya. Ratna matikan lampu kamar Aksa kemudian menutupnya agar anak itu bisa tidur dengan nyenyak. Ratna memilih duduk di ruang tengah sambil terus menggenggam handphonenya sambil rebahan di sofa.


"Penipu yang ngaku-ngaku kenalanmu tadi sudah ditindak?" tanya Ratna.


"Sudah. Dia cuma penguntit kok. Dari keterangan wali orang itu pernah direhabilitasi gangguan jiwa karena beberapa kali mendaftar tamtama tapi tidak diterima. Mungkin nggak sengaja saja ketemu Mas makanya dia bisa ngaku-ngaku. Sudah ya, nggak usah ikut mikir, itu urusannya Mas," kata Tama hanya diangguki oleh Ratna.


Keputusan suaminya untuk kembali ke gegana yang membuatnya kini menjadi komandan satuan wanteror memanglah berat. Kalau membicarakan soal resiko, Ratna pasti akan menangis. Tapi Ratna lebih dari paham jika tangisannya tidak akan memperbaiki keadaan. Jadi dibandingkan meratapi ketakutan itu dia hanya bisa tersenyum dan mengikhlaskan kepergian suaminya kapanpun dia akan berangkat dalam tugasnya. Entah kecil atau besar entah darurat atau tidak pekerjaan suaminya selalu dekat dengan kematian dan Ratna sudah memutuskan untuk menerima itu.


"Bunda janji akan jadi ibu yang baik buat Aksa," gumam Ratna dapat didengar oleh suaminya di seberang sana.


"Ayah juga janji akan jadi Ayah yang baik buat Aksa dan suami yang baik buat kamu. Ayah tidak akan mengingkari semua janji ayah. Kalau Ayah berani ingar, biar Allah yang hukum Ayah," kata Tama diangguki oleh Ratna.


"Tugasmu di gegana berat Mas, aku tahu. Semoga aku kuat ya. Semoga Allah selalu kasih aku ketabahan dan kesabaran buat menghadapinya," kata Ratna.


"Aamiin, di setiap doaku akan selalu ada namamu dan Aksa Bunda. Ayah tidak pernah lupa mendoakanmu, jadi kamu juga jangan lupa untuk doakan Ayah agar senantiasa diberi keselamatan dalam setiap tugas Ayah," kata Tama.

__ADS_1


"Ana uhibbuka fillah, Ayah," kata Ratna.


"Uhibbuka fillah Bunda," jawab Tama.


__ADS_2