
Tama langsung bersiap begitu mendapatkan panggilan itu. Tidak peduli pada gelap atau pada jarum jam di dinding hampir menyentuh angka 12. Ratna masih terlelap ketika Tama selesai mengganti pakaiannya dengan seragam dan bersiap untuk pergi. Tama tidak kuasa membangunkannya, dia tahu perjuangan Ratna hanya untuk bisa tidur malam ini. Ratna sempat mengeluh pagi tadi. Dia mengeluhkan kepala yang berputar-putar bahkan perutnya beberapa kali kram. Ratna juga sempat jatuh pingsan. Beruntung tidak ada yang perlu dicemaskan. Dokter juga sudah memberikan penurun panas untuknya juga penghilang rasa sakit jika memang kramnya tidak tertahan.
"Maaf ya Mas pergi dulu," kata Tama pamit. Dengan sangat pelan dia mencium kening Ratna lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Mas...?" baru Tama akan membuka pintu depan, dia melihat Ratna berdiri di depan pintu kamar.
"Kamu kebangun ya? Maaf...," kata Tama.
"Mas mau kemana?"
"Mas ada panggilan. Kamu di rumah hati-hati ya, besok kalau bisa jangan kerja dulu. Istirahat aja di rumah. Kalau mau pergi kemana minta ditemani ya, jangan sendiri bahaya. Perasaan Mas nggak enak dari kemarin," kata Tama.
"Mas juga hati-hati. Nggak cuma perasaan Mas yang nggak enak, perasaanku juga."
"Ayah pergi dulu ya, Baby Ji baik-baik sama Bunda di rumah," pamit Tama kini pada putrinya.
Ratna masih sempat mengantar Tama hingga ke pintu depan lalu dia kembali masuk, kembali mengunci pintu dan berdiam diri di dalam kamar dengan kondisi begitu tertutup dan gelap. Ratna tahu jika sakit yang dideritanya kali ini bukan karena dia kelelahan. Dia tahu batas dirinya sendiri dan dia tidak akan pernah membahayakan dirinya apa lagi calon anaknya ini. Jelas dia sakit karena firasat buruk dan hal itu diperjelas dari kalimat Tama tadi.
Sudah beberapa hari Tama bermimpi buruk. Mimpinya macam-macam tapi yang paling jelas adalah dia melihat Ratna, berdiri persis di hadapannya namun sekuat apapun dia berusaha meraih tangan Ratna yang terulur padanya, Tama tidak pernah sampai. Rasanya seperti ada dinding yang membatasi dirinya dengan wanitanya itu.
Tidak butuh waktu lama untuk Tama sampai di markas dan langsung melangkah menuju ruang rapat terbatas. Di sana sudah ada beberapa anggota tim yang menunggu. Begitu semuanya berkumpul, Pak Leo sebagai ketua operasi menjelaskan keadaannya. Target operasi mereka terlihat. Seorang pembunuh berantai yang diduga keras tergabung dalam sindikat perdagangan organ. Sudah banyak korbannya berjatuhan dan kebanyakan adalah wanita muda serta anak-anak.
__ADS_1
Misi kali ini akan menjadi misi gabungan. Tama bergabung dalam tim khusus ini sejak beberapa bulan lalu dan ini misi ini bisa dibilang adalah misi pertamanya sebagai salah satu anggota wanteror. Tama membawa persenjataan lengkap. Kali ini bukan hanya senapan yang biasa dia gunakan untuk mengurai kerusuhan masa atau mengancam pembuat onar. Senapan yang dia bawa adalah senapan laras panjang berisi peluru asli. Tidak mematikan tapi cukup untuk melumpuhkan. Tama juga mengantongi sebuah pisau belati untuk berjaga-jaga.
"Kita akan menyerang markas mereka sebelum pukul 2 pagi. Dari informasi yang kudengar mereka akan melakukan sebuah pembedahan di basement sebuah gudang kosong dekat dengan pasar Segiri. Target diperkirakan berjumlah sekitar 20 orang dan kita akan membagi tim menjadi 3. Tama dan Leo sebagai penembak jitu, Slamet memimpin tim A masuk melalui pintu depan sedangkan tim B bersamaku mengepung lewat belakang," jelas Pak Sabar.
Begitu briefing selesai, mereka semua segera berangkat ke lokasi. Tama dan Pak Leo adalah yang pertama kali sampai di lokasi dan segera mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka berdua terus melaporkan keadaan juga jumlah orang yang berjaga. 5 menit kemudian, Tama melihat tim Pak Slamet sampai dan segera mengepung lewat pintu depan.
Pertarungan segera pecah begitu seseorang dari mereka menyadari kedatangan para polisi ke lokasi. Ada sekitar 2 jam mereka baku hantam. Korban bisa di selamatkan, namun salah seorang target mereka melarikan diri lepas dari kejaran polisi. Tama sempat melepaskan tembakan dan Tama yakin dia mengenai bagian perut pelaku. Sayangnya luka tembak itu tidaklah cukup untuk menahan pelariannya.
Korban segera dibawa ke rumah sakit bhayangkara untuk diperiksa, beberapa ada yang tetap di sana menjaga korban sedang yang lainnya terus mencoba mencari ke mana perginya satu target mereka yang kabur itu. Seorang buronan lepas bahkan di dalam kota jelas membuat kepolisian kalang kabut dibuatnya. Pagi itu mobil patroli disiapkan untuk berjaga, juga polantas membantu dengan siap siaga di setiap pos polisi di seluruh sudut kota.
"Dia jelas tidak bisa pergi jauh dalam kondisi terluka," kata Pak Leo yang frustasi.
Tama membeku, begitu mendengar jika pelaku datang ke rumah sakit itu membuat hati Tama mencelos. Dalam benaknya hanya ada satu kalimat doa yang terus dia panjatkan, "Semoga Ratna tidak berangkat hari ini." Hanya satu itu permintaannya, sayangnya Tuhan berkehendak lain. Begitu Tama sampai di sana, UGD sudah keos.
Di dalam ada seorang laki-laki menyandera seorang dokter. Kondisi laki-laki itu sebenarnya sudah lemah, namun tidak ada satupun yang berani mendekatinya karena buronan itu menggenggam pisau bedah yang terarah langsung ke leher dokter yang disanderanya sedangkan tangan satunya menggenggam sebuah pistol yang siap untuk ditembakkan.
Tama sebenarnya tidak ingin mengarahkan moncong pistolnya ke arah pelaku, tapi begitu menyadari siapa dokter yang disanderanya membuat Tama marah semarah-marahnya. Dia kalut dan emosinya tidak terkendali, apalagi melihat Ratna menangis terus meminta tolong lewat tatapan matanya. Kedua tangannya menangkup perutnya. Tangan Tama langsung bergetar melihat air mata itu mengalir deras membasahi kedua pipi Ratna.
"Ke mana perginya keberanianmu semalam, huh? Hanya melihat aku menyandera seorang dokter membuatmu melemah? Kau tidak berguna," kata pelaku itu berusaha memprovokasi.
"Lepaskan dia atau kau akan mati di tanganku," ancam Tama dengan nada yang begitu menakutkan.
__ADS_1
"Tidak semudah itu. Aku memiliki hutang budi pada wanita ini. Dia yang sudah menyelamatkanku, tentu saja aku harus berterima kasih bukan? Aku akan membawanya pergi. Kau sudah menangkap rekanku semalam jadi sebagai gantinya dokter ini akan aku bawa," katanya lagi.
Tama melihat Ratna menahan sakit membuat Tama semakin hilang kendali. Pak Leo kini menggantikan posisi Tama. Berdiri di hadapan Tama dengan terus menghadapkan pistolnya ke arah pelaku. Sebuah mobil datang, dan ketika itu pelaku berjalan pelan keluar dari UGD. Masih terus mengarahkan pistol ke arah depan juga pisau bedah yang tidak menjauh dari leher Ratna. Bahkan akibat beberapa kali perlawanan yang berusaha Ratna lakukan malah membuat goresan di lehernya. Darahnya memang tidak banyak mengalir, tapi tetap tidak mau berhenti. Bahkan sekarang kerah pakaian Ratna sudah merah semua, wajahnya juga mulai memucat.
Begitu mobil yang membawa Ratna berjalan, Tama dan yang lainnya langsung berusaha mengejar. Pak Leo yang menyetir sudah tidak peduli pada apa pun. Beliau sendiri bahkan masih syok ketika mengetahui siapa yang disandera oleh pelaku.
Kejar-kejaran itu terus terjadi, hingga ketika mobil pelaku berbelok ke arah jalan yang lebih kecil membuat tama mendapatkan kesempatan. Tama meraih senjatanya dan langsung membuka kaca mobil di sampingnya.
"Apapun yang terjadi tetap jalankan mobilnya," kata Tama pada Pak Leo.
Tama mengeluarkan separuh badannya keluar jendela mobil yang melaju cepat mengejar mobil pelaku lalu segera mengarahkan pistol ke arah mobil yang tengah dikejar itu. Tanpa pikir panjang Tama melepaskan satu tembakan dan langsung mengenai ban belakang mobil itu. Sekali lagi Tama melepaskan tembakan, kali ini kaca belakang yang menjadi sasaran.
"Aku tahu jalanan ini. Mobil Patroli belakang akan tetap mengejar mereka dan kita kepung dari depan, setuju?" tanya Pak Leo yang langsung mendapatkan persetujuan. Mobil berbelok ke kanan, lalu sesegera mungkin mendahului mobil yang membawa Ratna.
Di dalam mobil pelaku, Ratna hanya mampu diam. Kedua tangan sudah diikat dan persis di kepalanya terdapat satu mulut pistol yang siap memuntahkan pelurunya kapan saja ketika sang empu menarik pelatuk. Ratna semakin tidak berkutik ketika merasakan sesuatu yang kental mengalir di antara kakinya. Perutnya beberapa kali terbentur apalagi setelah tadi dia merasakan ada beberapa kali suara tembakan mengenai mobil ini membuat jalannya oleng. Ratna semakin panik tidak karuan. Dia sudah tidak lagi mampu menahan kesakitannya seperti tadi.
"Kenapa manis? Kau takut, hmm? Tenang saja, aku pasti akan menyelamatkanmu. Kau adalah orang yang berharga untuk kami. Well, aku tidak suka bertele-tele. Bekerjalah denganku, aku akan menggajimu sebanyak yang kau mau," kata pelaku itu tidak menghiraukan rasa sakit yang sedang Ratna rasakan.
"Dan untuk anak ini..., kau harus pertahankan apapun yang terjadi. Anak ini harus lahir dengan sehat agar aku bisa menjualnya. Kau tahu kan harga organ seorang bayi, harganya bisa 3 kali lipat lebih mahal," katanya sambil mengelus perut Ratna.
Ratna tidak berani membuka mulut. Bahkan untuk berteriak meminta tolong saja sudah tidak sanggup. Dalam hatinya bahkan mulai muncul banyak penyesalan. Dia terus menyesal karena tidak mematuhi perintah suaminya untuk tetap berada di rumah. Dia tidak mematuhi perintah suaminya yang memintanya untuk istirahat. Ratna menyesal, dia menyesal sudah membangkang. Andai dia tidak mengangkat panggilan darurat dini hari tadi dia tidak akan mengalami begini, kan? Dia akan baik-baik saja di rumah. Duduk di teras depan menunggu kepulangan Tama selepas bekerja.
__ADS_1