
Tama sudah tidak pulang sejak kemarin karena memimpin latihan jungle warfare. Kemarin setelah pembukaan dan memulai latihan dengan teknik-teknik dasar, kali ini mereka akan menerapkannya dalam sebuah game. Tim dibagi menjadi dua kubu kemudian Tama berdiri di tengah sebagai wasit.
"Waktunya 6 jam dari sekarang. Targetnya adalah bendera milik lawan. Untuk tim yang benderanya di rebut, diperbolehkan merebutnya kembali. Intinya, ketika matahari terbit siapa yang mampu memiliki bendera lawan adalah pemenangnya."
Latihan sudah di mulai. Tama, Bayu, dan tim mengawasi dari berbagai titik. Dari tenda pengawas Tama memonitor semua yang terjadi di medan sembari mencatat evaluasi personil yang sekiranya melakukan kesalahan atau ada yang perlu di koreksi. Tama juga memberikan skor pada masing-masing yang berhasil melumpuhkan musuh atau mampu membuat siasat yang baik.
Setelah 6 jam berlalu matahari dari ufuk timur mulai muncul malu-malu. Tama mengumumkan tim pemenangnya, melaksanakan evaluasi berdasarkan catatan yang sudah dibuatnya lalu membubarkan anak buahnya agar semua bisa beristirahat. Setelah memastikan seluruh personilnya beristirahat dengan baik, Tama melangkah masuk ke dalam tenda untuk sejenak memberi kabar pada istrinya. Ratna sedang dalam masa-masa "rewel" dan sering minta ini itu. Ditambah lagi Bapak dan Ibu sudah pulang jadi dia sendirian di rumah.
"Bang, kita jadi mau repling?" tanya Bayu.
"Jadi. Makanya biar nggak kesorean sekarang segera kemasi semua perlengkapan dan kita kembali ke markas."
"Siap. Laksanakan komandan."
Sebagai penutup latihan kali ini, Tama mengajak seluruh personilnya untuk repling. Satu per satu anggota mulai turun dengan teknik yang sudah pasti mereka kuasai. Terakhir Tama dan Bayu yang turun menyusul mereka yang sudah berada di bawah. Tama sedang bersiap dengan talinya dan siap untuk turun. Dengan menghentakkan kaki ke ujung tebing, dia membawa tubuhnya turun. Sayangnya belum sampai sempurna berada di bawah, tali yang Tama pakai terlepas dari kaitannya membuat tubuhnya jatuh tanpa pengamanan.
"Komandan...!!!" Teriak para anggota yang mendapati komandan mereka terhempas dari ketinggian.
...***...
Ratna sejak semalam sudah gelisah tidak tentu. Ratna sudah mulai merasakan bayinya terus bergerak. Sejak pagi Ratna merasakan kembung dan tidak berselera makan. Dia hanya memaksakan dua lembar roti masuk ke dalam lambungnya dengan bantuan segelas susu ibu hamil rasa coklat yang selalu dia minum setiap pagi. Hari ini dia akan pergi ke markas untuk rapat final checking acara haornas besok. Ratna lebih dulu pergi ke rumah sakit menyelesaikan urusannya di sana baru pergi ke markas menggunakan mobil.
Hujan gerimis mengguyur kota jogja secara merata hari ini. Sudah hampir siang, matahari sudah tinggi tapi sinarnya terasa tidak seterang biasanya. Ratna menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak perlu terburu-buru, toh jarak antara rumah sakit hingga ke markas sebenarnya cukup dekat. Dia hanya perlu sedikit memutar karena peraturan satu arah yang diterapkan di depan rumah sakit tempatnya bekerja.
"Selamat pagi Bu Aji, mau ikut pertemuan ya Bu?" sapa yang sedang berada di gerbang.
"Selamat pagi menjelang siang. Ya, saya ada pertemuan dengan ibu-ibu," kata Ratna balik.
"Silahkan bu dilanjut. Saya sudah selesai memeriksa mobilnya," kata si penjaga lagi.
"Terima kasih."
Ratna memarkirkan Brian di tempat yang sudah disediakan kemudian dengan perlahan dia turun dari dalam mobil. Karena si kecil sekarang sudah besar Ratna jadi tidak selincah biasanya. Untuk keluar dari mobil saja dia harus berpegangan dan dengan tenaga agak ekstra dia melangkah turun. Baru dia mengunci Brian dan akan pergi, ada seorang anggota tegopoh-gopoh berlari ke arahnya.
"Maaf Bu mengganggu Ibu. Saya butuh bantuan Ibu," katanya.
__ADS_1
"Ya? Butuh bantuan bagaimana?" tanya Ratna padanya.
"Saya Gilang Bu, dokter magang di klinik sini. Tadinya saya mau panggil Pak Yohanes tapi ternyata orangnya sedang di luar kota. Ada pasien di klinik dan butuh penanganan khusus. Saya tidak mampu Bu, saya juga belum lama menjadi dokter. Saya tidak sengaja melihat Ibu, saya ingat Ibu seorang dokter karena ketika masa akhir koas saya sering lihat Ibu berjalan dengan dokter Dipta. Kalau Ibu berkenan bisa bantu saya nangani pasien di dalam Bu?" tanyanya.
"Boleh saja, saya lihat dulu pasiennya ya. Memangnya ada apa? Luka atau sakit atau bagaimana?" tanya Ratna yang sudah mulai melangkah ke arah klinik.
"Luka luar Bu. Jatuh dari ketinggian ketika rapeling. Kakinya terkilir dan ada luka robekan di tangan kiri. Kalau soal kaki terkilirnya sudah saya tangani Bu tapi luka robekannya lumayan besar tapi saya belum pintar. Tidak berani Bu, dari pada lukanya lebih parah," jelas Gilang sambil mengikuti langkah Ratna.
"Heh...! Loro woy. Malah tok ngonokke. Nek sikilku kenapa-napa iso dibabat bojo aku nang omah!" teriak seorang laki-laki dari dalam klinik diikuti suara tawa dari seseorang yang lainnya. Menyebalkannya, Ratna kenal suara-suara itu. Suara itu adalah suara Cece dan suara Tama.
"Bentar dulu. Anda yakin setelah ini anda tidak akan kena hukum?" tanya Ratna pada Gilang yang bingung dengan maksud si dokter.
"Maksud anda?"
"Lupakan."
Ratna melanjutkan langkahnya dan menemukan Tama sedang merengek karena digoda oleh Cece yang terus berusaha menyentuh kaki Tama yang hanya dibalut kasa elastis.
"Tok... tok...," kata Ratna sembari mengetuk pintu untuk mendapatkan atensi dari "pasien" yang ada di dalam.
"Lang, kata kamu mau panggil dr. Yohanes kok malah dr. Ratna yang kamu panggil? Nemu di mana?" protes Tama.
"Siap Ndan. dr. Yohanes sedang di luar kota dan tadi saya tidak sengaja bertemu dengan dokter Ratna di parkiran makanya saya mintai tolong. Habis saya tidak sanggup mengobati luka komandan," kata Gilang begitu polos. Jelas Cece di sana tertawa melihat betapa polosnya anak baru ini. Ketika Tama mati-matian ingin menyembunyikan lukanya dari sang istri ini malah Ratna yang dipanggil untuk mengobati.
"Apa?!" tanya Ratna sambil berkacak pinggang menemui Tama yang terus menatapnya dengan waut wajah memelas.
"Nggak Bunda, nggak ada apa-apa," kata Tama sambil tersenyum.
Ratna lebih dulu melepaskan jaketnya, meletakkan tas di kursi kemudian berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Ratna kemudian mendekati Tama yang mulai takut jika lukanya akan membuat Ratna marah.
"Mas Gilang, bisa minta tolong bantu saya? Tolong siapkan alat untuk penjahitan ya," kata Ratna sambil memakai lateks di kedua tangannya.
"Harus di jahit banget Bun?"
"Lihat lukamu begini kalau nggak dijahit mau bagaimana?" kata Ratna sambil membuka lagi perban di lengan Tama.
__ADS_1
"Tadi waktu Bapak jatuh yang ada di lokasi dan nolong pertama kali siapa? Boleh tolong panggilkan?" perintah Ratna.
"Siap. Saya Bu, saya yang bantuin Bang Aji tadi. Jadi tadi kita repling baru dapat setengah jalan tali pengamannya Bang Aji putus terus jatuh. Posisinya kaki dulu, Bu tidak jatuh posisi duduk atau kepala dulu," lapor Bayu.
"Ok, terima kasih," jawab Ratna tetap berkonsentrasi memeriksa luka Tama.
"Bu dokter, ini peralatannya."
Ratna langsung mengambil tindakan. Dia membetulkan posisi Tama lalu mulai menjahit lukanya, "Ayah, kalau sakit tahan sebentar ya," kata Ratna.
Gilang tampak bingung mengapa sejak tadi komandannya ini selalu menyebut dr. Ratna dengan sebutan Bunda sedangkan dr. Ratna membalasnya dengan sebutan Ayah. Dia baru tahu dari Bayu yang dengan pelan menjelaskan pada Gilang yang memang belum hafal dengan ibu-ibu bhayangkari karena belum lama bertugas di sini.
"Bu, maaf saya tidak tahu kalau dr. Ratna ini istrinya Ndan Aji," kata Gilang.
"Cut," kata Ratna yang baru menyelesaikan jahitannya meminta Gilang memotong benang jahitnya.
"Nggak papa, saya maklum. Mas Gilang di sini juga belum lama, kan. Perkenalkan saya dr. Adiratna, kalau biasanya di sini pada manggil saya Bu Aji," kata Ratna dengan tersenyum.
Selesai memeriksa tangan, Ratna juga melihat kondisi kaki Tama. Ratna juga mengecek apakah ada luka lain di tubuh suaminya dan mengobati semuanya.
"Bayu, bisa minta tolong mintakan izin ke komandan? Saya mau izin dulu sama Bu Hendra biar bisa nemani Bapak ke rumah sakit," kata Ratna.
"Siap. Laksanakan."
Bayu sudah pergi, Cece sudah kembali, Ratna juga sedang keluar dari ruangan untuk meminta izin pada ibu-ibu bhayangkari yang sedang rapat. Hanya tersisa Gilang yang sedang membereskan peralatan yang tadi dipakai oleh Ratna. Dia kagum melihat bagaimana Ratna begitu cepat dan rapi menjahit luka di lengan komandannya juga bagaimana dokter muda itu bisa begitu cermat pada kondisi pasiennya.
"Komandan, maaf boleh saya izin?" tanya Gilang.
"Izin bagaimana?"
"Saya ingin belajar lebih banyak lagi dari dr. Ratna."
"Untuk apa minta izin saya? Minta izin saja dari orangnya langsung. Memangnya mau belajar apa?"
"Itu saya kagum banget sama dr. Ratna. Kerjanya rapi banget. Cepat juga. Saya pengen belajar ilmu bedah tapi masih ragu apa iya saya mampu. Tapi setelah melihat dr. Ratna barusan keraguan saya hilang. Saya ingin belajar lebih banyak dari beliau jika diperbolehkan."
__ADS_1
"Silahkan. Selama dia mau. Lagi pula niatnya baik. Untuk menambah ilmu. Tidak perlu izin ke saya," kata Tama.