
Sepulangnya dari klinik, Ratna benar-benar tidak melepaskan Tama. Kemanapun suaminya pergi, ke dapur, ke ruang tamu, bahkan ketika Tama berada di kamar mandi untuk mandi, Ratna menunggunya di depan. Tama mengerti sih, sebesar apa ketakutan Ratna saat ini.
"Mas, biasanya aku baik-baik saja ketika kamu harus pergi jauh untuk tugas. Tapi saat ini keberanianku hilang. Aku nggak mau jauh dari kamu Mas," kata Ratna ketika dalam perjalanan pulang tadi.
Tama masih sanggup mendengar kalimat itu terus terputar dalam kepalanya dan bahkan semakin terdengar menyakitkan setelah Tama melihat sendiri bagaimana Ratna terus mengekor padanya.
"Dek, istirahat yuk. Biar cepet sehat," kata Tama pada Ratna yang berniat mengikutinya ke dapur.
"Nggak mau," kata Ratna.
"Kamu kenapa sayang? Takut banget ya?" tanya Tama sambil mengelus pipi Ratna yang entah karena perasaannya atau memang benar tampak lebih kurus. Ratna mengangguki pertanyaan Tama masih dengan raut wajah yang sama.
"Sini peluk Mas," kata Tama sambil merentangkan tangan agar Ratna bisa masuk ke dalam pelukannya.
Persis seperti bayi koala yang terus meminta gendong pada induknya, Ratna terus memeluk Tama ketika tubuh jangkung suaminya berjalan mendekati dispenser untuk menuang segelas air. Ketika Tama minum pun Ratna masih tetap pada posisinya. Sesekali tangan Tama terangkat untuk mengelus kepala Ratna kemudian turun untuk memeluk tubuhnya. Tama meneguk air di gelasnya sampai habis separuh, kemudian separuh lagi dia tawarkan pda Ratna yang langsung meminumnya hingga habis. Selesai minum, Tama menggendong Ratna sampai ke kamar lalu menidurkannya. Ratna langsung menarik tangan Tama agar dia tidak menjauh.
"Sebentar Dek, bentar aja. Mas matikan lampu sama ngecek pintu dulu, kamu di sini saja Mas nyusul nanti."
"Nggak mau."
"Cuma sebentar kok, nggak sampai 5 menit."
"Ikut."
"Dek Ratna, istriku sayang kamu kalau kaya gini terus nanti jatuh sakit lagi. Ayo dong, dilawan sedikit-sedikit ketakutannya," kata Tama berusaha sabar memberi pengertian pada istrinya.
Sepertinya mimpi buruk karena kehilangan Radea membuat Ratna melemah. Ratna sempat cerita melalui telpon, katanya Radea yang merupakan seorang dokter fisioterapi itu mengalami kecelakaan sepulang dia kerja. Bukan karena wanita itu ngebut, tapi karena ada seseorang yang sembarangan memotong jalan membuat motor yang dikendarai Radea oleng hingga menabrak pembatas jalan dan masuk ke lajur kanan dan langsung dihantam oleh sebuah truk. Jika pekerjaan yang tidak bertaruh nyawa saja bisa membinasakan seseorang, apa kabar dengan Tama yang setiap bertugas dia hanya bisa pasrah akan kematiannya.
Tama memutuskan untuk menunggu dulu Ratna sampai tertidur, baru dia mengecek pintu depan, semua jendela lalu mematikan lampu. Selesai memastikan semuanya, dia meraih charger kemudian memasangkan handphonenya agar daya baterainya bisa terisi penuh ketika dia bangun esok hari. Tama perlahan naik ke tempat tidur, mendekatkan dirinya pada Ratna yang sudah lebih dulu terlelap. Tama mengangkat sedikit kepala istrinya kemudian menyelipkan lengannya ditengkuk sang istri. Ratna merespon. Ratna menggeser tubuhnya dan lebih dulu mengikis jarak dengan suaminya, dia juga langsung melingkarkan tangannya pada Tama lalu kembali tenang dalam tidurnya.
"Selamat tidur bayangkariku," bisik Tama sebelum mengecup kening istrinya kemudian menyusulnya untuk tidur.
...***...
__ADS_1
Pagi harinya, Tama pikir Ratna masih akan bersikap sama rewelnya dengan semalam, tapi dugaannya salah. Ratna bahkan tidak terlihat seperti orang yang baru saja sakit. Dia malah seperti terlahir kembali dengan tenaga yang berkobar-kobar. Selepas subuh Ratna langsung melangkah ke dalam kamar mandi, dia bersihkan seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Ratna duduk didepan meja riasnya, ia menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut bob sebahunya. Selesai dengan hair dryer Ratna beralih dengan catokan. Ditatanya rambut itu sedikit demi sedikit hingga rapi.
Ratna kemudian memoleskan make up dengan begitu niatnya. Mulai dari skincare pagi, disusul BB cream, bedak, eyeshadow, blush on, lipstick, bahkan Tama bisa melihat Ratna memoles alisnya padahal selama ini yang Tama tahu Ratna benci mengutak atik alis tebalnya. Tama bahkan sudah siap dengan seragam hitamnya ketika Ratna masih sibuk memilih pakaian mana yang akan dia pakai. Asli, Tama agak horor kalau Ratna sudah bingung memilih baju. Karena Ratna akan selalu meminta pendapatnya padahal seorang Pratama Aji yang sehari-hari hanya pakai seragam mana mengerti tentang fashion.
"Yang biru langit aja dek bagus, terus bawahannya kamu pakai celana kain hitam itu," kata Tama.
Untung sarannya diterima dan Ratna langsung membuka bathrobenya begitu saja untuk berganti pakaian. Tama memutar badannya memunggungi Ratna. Bukan dia tidak mau lihat tapi masalahnya kalau dia sampai lihat lekuk badan istrinya sepagi ini, Tama bisa gila seharian. Dia akan terus melihat jam dan tidak sabar menunggu jam pulang karena harus memuaskan sesuatu di rumah.
"Mas, aku cantik nggak?" tanya Ratna pada Tama.
"Cantik, as always," kata Tama sambil mengecup bibir Ratna sekilas.
"Tahan. Masih 12 jam lagi," kata Ratna yang sudah hafal dengan kemauan suaminya.
"Kamu mau apa sih dandan secantik ini? Tumben banget," kata Tama.
"Ya soalnya hari ini adalah hari pembalasan dendam. Aku nggak suka ya sama wajah sok memelasnya. Enak aja mentang-mentang suamiku lebih ganteng dari suaminya terus mau dia minta. Hmm, dia harus melihat murkanya Adiratna sebelum bisa mendekati AKP Aji," kata Ratna terus ngedumel.
"Apa? Mas bilang apa tadi?" tanya Ratna.
"Nggak. Mas nggak bilang apa-apa kok."
"Masa? Aku yakin Mas tadi bilang sesuatu," telisik Ratna.
"Oh nggak, cuma ini lho baretnya Mas kotor, besok cuciin ya Dek," kata Tama berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nanti lah kalau sudah di rumah. Sekarang berangkat dulu yuk. Mas mau anter atau aku pergi sendiri?"
"Aku anter ya, tapi nggak gratis. Berhubung kamu lagi cantik, nanti malam kita main ya," kata Tama.
"Iya-iya. Yuk ah berangkat, aku nggak boleh telat," kata Ratna.
Tama mengangguk kemudian menyelipkan baret birunya dipundak dan berjalan menyusul Ratna yang sudah lebih dulu menenteng tasnya keluar dari rumah. Setelah Tama keluar, Ratna mengunci pintu sedangkan Tama menyalakan mobil dan mengeluarkannya dari halaman. Tidak lupa Ratna kunci pagarnya baru dia masuk ke dalam mobil dan berangkat.
__ADS_1
Hari ini adalah harinya dia menemui Zahra. Sekitar pukul 11 Ratna sengaja duduk di depan ruang fisioterapi hanya untuk menunggu wanita itu keluar dari dalam ruangan. Ratna menyapanya, sama ramahnya seperti ketika dia belum tahu siapa Zahra sebenarnya. Ratna juga membelikannya minum lalu mengajak Zahra pergi ke taman tempat biasa mereka mengobrol.
"Tidak kusangka aku malah bisa bertemu dengan gadis hebat yang berhasil memenangkan hatinya Aji. Kupikir dulu dia akan menikahi kekasihnya yang model itu, tahunya dia menikah dengan seorang dokter cantik sepertimu," kata Zahra. Sesuai dugaan Ratna, dia akan menyinggung tentang Tama.
"Terima kasih," jawab Ratna.
"Kamu beruntung Ratna. Aji itu susah sekali didekati. Dia kalau bukan dengan wanita yang dia sayang mana mau mendekat, jangankan senyum, melirik saja tidak mau," katanya lagi.
"Yah begitulah. Dia dingin sekali dengan wanita selain istrinya," kata Ratna.
"Tapi jadi keuntungan sih buatku. Setidaknya aku tidak harus khawatir dia akan mendua. Karena hanya akan ada aku dimatanya," kata Ratna.
"Kau sepertinya bangga sekali dengannya."
"Tentu saja. Aku bangga, karena dari sekian banyak wanita yang mengejarnya akulah yang memenangkan dia," kata Ratna.
"Jadi Zahra, aku minta padamu satu hal. Apapun yang kau dan suamiku alami di masa lalu, jangan pernah kau ungkit-ungkit lagi," kata Ratna.
"Tidak bisakah kau membiarkan kami tetap bersahabat? Kau pasti sudah mendengarnya dari Aji kan? Aku Rangga dan Aji dulu bersahabat," katanya.
"Kau sudah memiliki Bagas sebagai suamimu, apakah belum cukup? Seperti yang tadi kamu bilang. Pratama Aji tidak akan pernah melirik wanita selain istrinya. Aku hanya tidak mau kau sakit hati," jawab Ratna.
"Aku sudah kehilangan mimpiku. Aku bahkan kehilangan kemampuan untuk menopang tubuh dengan kedua kakiku. Aku hanya minta satu padamu, izinkan Aji tetap dekat denganku. Aku merindukan sahabat-sahabatku, aku merindukan dia. Karena aku dia memiliki mimpi buruk yang panjang. Aku tidak ingin dia menanggung perasaan bersalah itu terus. Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku sudah baik-baik saja sekarang," kata Zahra mulai ngotot.
"Tapi kau lumpuh bukan karena suamiku. Kau sengaja menyabotase tali itu untuk mendapatkan perhatian Tama, kan? Dengan membuatnya merasa bersalah kau akan terus mengikatnya dengan beban bahwa dialah yang membuatmu jadi begini, benar kan?" kali ini Ratna merubah nada bicaranya, dia juga sudah tidak lagi tersenyum seperti sebelumnya.
"Ratna."
"Aku juga tahu kau hanya memanfaatkan Bagas suamimu untuk mendapatkan cintamu kembali. Alasan mengapa dia bisa sampai memutarbalikkan fakta dan berusaha memisahkan aku dan suamiku adalah kau bukan? Jujurlah pada dirimu sendiri. Ahh, kau juga sudah tidak perlu lagi berpura-pura lumpuh dihadapanku. Jangan lupa aku adalah seorang dokter Zahra. Aku bisa bedakan mana yang lumpuh dan mana yang tidak. Kakimu itu bahkan baik-baik saja. Kau tahu kenapa? Karena kau masih sanggup menggerakkannya, kau juga masih bisa mengangkat kedua kakimu dengan baik. Lihat, bagaimana kakimu menegang ketika kebohonganmu terungkap," kata Ratna sambil menatap kedua kaki Zahra yang tadinya sedikit terbuka kini sudah tertutup rapat. Lututnya juga tegap dan cukup kuat untuk menahan kedua kaki Zahra agar tidak terjatuh dari pijakan.
"Kau berbohong dan memanfaatkan persahabatan mereka untuk mendapatkan apa yang kau mau. Lalu kau memintaku diam saja begitu? Jangan mimpi Zahra." kata Ratna kemudian meninggalkan dia begitu saja.
Lega rasanya Ratna akhirnya bisa membalaskan sedikit dendamnya pada Zahra. Mungkin efek keberadaan mantan kekasih Tama yang masih memaksa untuk balikan membuat Ratna jadi tahu bagaimana gelagat seorang pelakor ketika beraksi. Yap, Ratna sudah kebal. Lagi pula rekam medis Zahra sudah ada di tangannya. Berkat bantuan relasinya Jay dia berhasil mendapatkan rekam medis Zahra dari dokter yang sebelumnya bertanggung jawab terhadap Zahra.
__ADS_1