
Sesuai janji Tama tadi, selepas dari kediaman Pak Broto Tama mengajak Ratna jajan di alun-alun kidul sekalian bertemu dengan Cece. Tama ingin mengenalkan Ratna pada istrinya Cece agar setidaknya dia tidak akan sendirian sekali ketika harus berkumpul dengan ibu-ibu bhayangkari nanti. Tama dan Ratna sudah lebih dulu sampai di alun-alun kidul. Tama lebih mengikuti langkah Ratna untuk membeli gurita bakar karena takut kehabisan. Istrinya bisa berubah garang kalau sajennya telat.
Ketika Tama dan Ratna sedang mengantri sempol dan tempura, Cece telpon dan mengatakan dia sudah sampai di lokasi. Mereka sengaja ingin menikmati pemandangan luas jadi mereka memilih untuk duduk di rerumputan setelah memborong banyak jajanan. Sebenarnya Ratna sudah kenal dengan sosok Veronika Agatha ini, Cece dan Tama mengenalkan mereka berdua lewat video call, tapi kan baru ini bertemu jadi agak canggung juga. Untungnya kecanggungan mereka bisa segera cair karena ternyata Vero dan Ratna memiliki kesamaan. Napsu makan yang suka meledak.
"Dek Davina, sini sama tante," ajak Ratna.
Davina adalah putrinya Cece, usianya baru sekitar dua tahun dan sedang lucu-lucunya berlarian kesana kemari dengan tawa mengembang di bibir. Ratna membujuknya dengan membelikan dia satu buah balon berbentuk ikan Nemo. Barulah Davina mau duduk anteng dalam pangkuan Ratna.
"Pinteran kamu Dek bujuk anak kecil," puji Tama.
"Program lagi aja Ji," sahut Cece.
"Ntar dulu, yang kemaren belom kelar asal program aja. Rusak ntar istri gue yang repot gue juga," jawab Tama pada sahabatnya.
"Emang masih sakit Dek Ratna?" tanya Vero yang duduk dihadapannya sambil menyuapi Davina.
"Sakitnya nggak sih, tapi belum full recovery aja badannya. Dari pada nanti ada apa-apa. Lagi ribet juga rumah belum jadi, baru pindahan. Tapi as soon as possible diusahakan," jawab Ratna.
"Pokoknya kalau ada apa-apa cerita aja. Karena Papanya Dav sama Aji sahabatan kita juga ya," kata Vero.
"Iya teh," jawab Ratna yang sudah bisa akrab dengan Teh Vero.
Sedang asik mengobrol, tiba-tiba Ratna memasang masker yang sengaja dia bawa di dalam tas. Cece dan Vero sempat bingung kenapa, tapi setelah melihat Tama bertukar tempat duduk dia jadi mengerti. Di dekat mereka ada dua orang laki-laki yang sedang merokok. Nyatanya bukan hanya Ratna, tapi Davina kecil langsung batuk-batuk.
"Pindah aja yuk," ajak Cece.
"Sekalian mau cari makan nggak?" ajak Tama.
Tama, Cece, Vero dan Ratna kemudian melipir menuju ke deretan angkringan yang ada di sisi lain alun-alun. Mereka secara bergantian memesan makan malam. Setelah Ratna dan Tama kembali ke tempat duduk, sekarang giliran Cece dan Vero yang pergi memesan. Tama sedang memeriksa handphonenya ketika lengannya tersenggol oleh Ratna membuatnya langsung menoleh. Tama melihat Ratna mengeluarkan obatnya, menghirupnya sekali kemudian menyimpannya lagi. Setelah itu dia mencoba minum banyak air putih.
"Kenapa Dek? Sesak nafas?" tanya Tama.
"Nggak Mas, tapi perutku sakit."
"Kok bisa?"
"Nggak tahu, aneh deh. Kalau habis kena asap rokok perutku suka sakit," keluh Ratna.
"Mau Mas temenin check up lagi nggak?"
"Nggak usah Mas, aku pasti akan check up full buat persyaratan kerja. Jadwalnya minggu depan, tapi belum tahu hari apa soalnya dokternya masih di luar kota," kata Ratna.
__ADS_1
"Semoga nggak ada apa-apa," kata Tama diangguki oleh Ratna.
Akibat sakit diperutnya, Ratna bukan hanya merasakan sakit diperutnya tapi tubuhnya juga jadi terasa berat. Dia bahkan tidak mampu menghabiskan makan malamnya padahal biasanya Ratna banyak makan. Karena Tama khawatir pada kondisi istrinya, Tama lebih dulu berpamitan untuk pulang. Cece juga lihat Davina, putrinya sudah merengek karena mengantuk jadi dia dan Vero ikut pulang juga.
"Penyambutan lo minggu depan kan?"
"Iya. Hari Rabu."
"Ok. See you there. Gue yakin yang lain juga udah nggak sabar ketemu lo," kata Cece.
"Sabar. 4 hari lagi," kata Tama dengan pedenya.
...***...
Sesuai kesepakatan mereka berdua ketika masih di Kalimantan beberapa hari lalu, Tama dan Ratna akan menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan keliling Jogja. Mulai dari pagi hari, mereka menuju ke pantai Ngrumput. Tempat mereka pertama kali kencan setelah pertemuan ketiga yang terus tanpa sengaja. Begitu sampai di sana, Ratna langsung melepaskan sandalnya dan berjalan dengan telanjang kaki menyusuri pantai yang sekarang sudah sangat ramai pengunjung.
Ratna duduk di sebuah karang yang mencuat di dekat bibir pantai. Tama melepaskan jaketnya untuk alas duduk Ratna sedangkan dia lebih memilih berdiri dan membiarkan tinggi Ratna lebih dari dirinya. Selain kebiasaan Ratna yang suka memainkan kuku dan ujung celana Tama, Tama juga memiliki kebiasaan untuk menenggelamkan kepalanya pada pelukan Ratna dan membiarkan istrinya itu mengelus-elus kepalanya. Tapi berhubung ini di muka umum, Tama tidak sampai minta dipeluk. Dia hanya mendekatkan kepalanya pada tangan Ratna.
"Dek...," panggil Tama.
"Hmm?" tanya Ratna sambil menunduk.
"Masih ingat nggak dulu kita ngapain di sini?" tanya Tama.
"Iya waktu itu kamu manggil Mas pake sebutan "Bapak". Lagaknya, takut nggak sopan. Padahal sekarang sukanya ngacak-ngacak rambutku," goda Tama.
"Yaudah berhenti."
Ratna langsung menjauhkan tangannya membuat Tama cemberut. Baru digoda sekali masa dia sudah menyerah. Tidak asik kan jadinya, padahal Tama biasanya harus berusaha keras membuat istrinya menyerah walaupun lebih sering berakhir dengan Ratna marah dan mogok bicara padanya. Tama tidak terima, dia meraih tangan Ratna dan meletakkannya lagi di atas kepalanya sebagai kode kalau dia masih ingin menerima perlakuan itu. Suka terbalik memang mereka berdua. Kalau biasanya yang suka diacak rambutnya seorang perempuan, ini malah laki-lakinya yang suka.
"Dek...," panggil Tama lagi.
"Apa?"
"Mas kepo," kata Tama menggantung.
"Kepo kenapa sih?"
"Kamu pernah bilang, kamu suka sama Mas karena Mas berbakti sama orang tua. Karena Mas sayang sama Mama. Tapi kamu sudah lihat sendiri Mas sering marahin Mama, Mas bahkan pernah bentak Mama. Apa kamu jadi nggak sayang sama Mas?" tanya Tama sedikit hati-hati.
"Nggak juga. sebelum aku berani mendeklarasikan aku cinta sama kamu aku sudah lebih dulu menerima semua kekurangan kamu."
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu Dek? Kita belum saling kenal ketika itu."
"Feeling Mas. Nggak tahu dari mana, tapi sejak Mas bilang mau ngajak aku PDKT di tempat ini 7 tahun lalu aku sudah langsung yakin jika Mas adalah orangnya. Dan ketika Mas datang di hari wisudaku, menghadap langsung pada Bapak dan Ibu aku semakin yakin kalau Mas orang yang tepat. Kita sempat LDR waktu itu, tapi Mas sanggup mempertahankan komitmen Mas untuk memilih aku. Selama kurang lebih 7 tahun aku kenal sama Mas, belum pernah Mas menggores kepercayaanku sama Mas," jelas Ratna.
"Dari mana kamu tahu kalau Mas nggak pernah menggores kepercayaan kamu? Dek, di kesatuan Mas yang lama sering ada yang bercerita sama Mas kalau istrinya selalu mengecek isi handphonenya. Selalu mengecek transaksi keuangan suaminya. Bahkan selalu nuntut kabar. Tapi kamu nggak pernah Dek," kata Tama.
"Karena aku percaya sama Mas. Mas sendiri yang bilang kan. Ada 3 perkara di dunia ini yang paling Mas takuti, marahnya orang sabar, diamnya orang cerewet, dan kecewanya orang setia. Toh aku tahu prinsip itu masih Mas pegang teguh. Lagian buat apa aku cemburu-cemburuan. Lha wong Mas dimanapun tempat dengan siapapun itu yang disebut selalu aku kok. Nesya malah yang cemburu sama aku. Karena di hadapan dia Mas ceritanya soal aku terus," kata Ratna sambil tertawa kecil.
"Bukan 3 Dek, tapi 4," jawab Tama.
"Lha?"
"Satu, marahnya orang sabar. Dua, diamnya orang cerewet. Tiga, kecewanya orang setia. Empat, Adiratna Widiyatna," kata Tama sambil menekuk jarinya satu per satu.
Ratna tidak menjawab dengan kata-kata tapi dia langsung menjewer telinga Tama sampai Tama mengaduh kesakitan, "Dek..., telinga Mas putus nanti. Ya Allah istigfar Dek sama suami nggak boleh kurang ajar," kata Tama membuat Ratna melepaskan jewerannya tapi sebagai gantinya wajah Ratna langsung ditekuk cemberut.
"Ya gimana nggak nakutin. Kamu itu orangnya sabar ngadepin tingkah Mas yang random, cerewet banget kalau di rumah, dan kamu juga setia sama Mas. Kalau sampai Mas menggores kepercayaan kamu bisa mati ditempat Masnya," kata Tama mencoba membujuk Ratna. Dia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ratna yang masih bertahan duduk di tempatnya tapi tidak mau menoleh ke hadapannya.
"Oh aku cerewet ya? Yaudah lah aku mau diem aja."
Alih-alih dibujuk, Tama malah mengiyakan, "Ya situ. Kalau kamu betah nggak ngomong 10 menit aja Brian Mas lunasin hari ini juga," kata Tama.
"Ih kok gitu. Nggak. Nggak mau. Enak aja. Kalau Brian Mas lunasin sekarang terus uang belanjaku gimana? Mau Mas potong. Ya silahkan kalau berani. Mas mandi nggak usah pake sabun, baju nggak usah dicuci, makan juga rebus batu aja ambil di halaman depan. Nggak akan Ratna masakin," kata Ratna.
"Tuh kan cerewetnya keluar. Yaudah berhubung kamu ngomong bahkan belum ada 1 menit diem, Mas nggak jadi lunasin Brian sekarang juga."
Ratna tanpa pikir panjang langsung menjewer kedua telinga Tama. Tadinya sih mau jambak saja, tapi kan potongan rambut Tama cepak, jadi nggak bisa dijambak. Ya sudah, telingalah yang jadi korban.
"Ampun sayang ampun. Maafin Mas ya, dilepas dong ini sakit beneran Dek Mas nggak bohong. Kamu percaya kan Mas nggak akan pernah bohongin kamu?"
"Mas sih nyebelin."
"Kamu tuh kenapa to Dek? Lagi emosi? Atau memang lagi sensi?"
"Nggak tahu, rasanya pengen jambak orang. Rasanya pengen ngeremet-remet orang. Pengen teriak keras banget. Pengen mecahin barang," curhat Ratna.
"Kamu boleh merasa nggak adil. Luapkan amarahmu. Biar Mas tahu, seberapa besar luka yang sudah Mas goreskan di hatimu," kata Tama yang sudah tenang.
"Mas sayang sama Ratna kan?"
"Jangan ditanya Ratna, Mas sayang banget sama kamu."
__ADS_1
"Kalau gitu aku pengen Mas janji, apapun yang terjadi sama Ratna nanti jangan pernah halangi Ratna untuk mengambil langkah. Jangan tamengi Ratna lagi. Karena Ratna pengen bisa jadi kuat untuk mendampingi sosok hebat sepertimu Mas. AKP. Pratama Aji Saputra suamiku, biarkan aku mengejar ketertinggalanku. Biar kita bisa berjalan berdampingan. Karena aku nggak mau lagi berdiri dibelakang punggungmu. Aku ingin melihat kedepan. Melihat masa depan kita bareng-bareng," kata Ratna.
"Pasti. Apapun maumu pasti akan Mas kabulkan. Tapi jangan melangkah terlalu jauh ya. Mas nggak main-main soal ketakutan Mas kehilangan kamu," jawab Tama.