
"Mas, makan dulu yuk," ajak Ratna membawakan makan malam untuk Tama ke dalam kamar.
Tama sempat dibawa ke rumah sakit dan dicek semua lukanya dengan lebih baik. Theo mengatakan tidak ada yang serius. Dia hanya perlu mengistirahatkan kakinya sementara waktu. Kaki kirinya di gips agar tidak bergerak sama sekali membuat Tama harus memakai tongkat kemanapun dia pergi.
"Padahal harusnya aku yang merawat kamu. Adek juga, tadi adek pasti kaget ya? Maaf ayah bikin adek takut," kata Tama.
"Bunda juga, maaf ayah bikin Bunda khawatir," kata Tama sambil mengelus perut Ratna.
"Namanya musibah, datangnya tidak direncana. Selama masih bisa melihat Ayah tersenyum dan pulang dengan selamat Bunda baik-baik saja," kata Ratna.
"Bunda, makannya di bawa keluar aja yuk. Besok katanya kamu libur kan? Ayah juga nggak kerja. Ayah mau ngajak Bunda seneng-seneng. Katanya ada film baru yang pengen kamu tonton. Kita tonton sekarang yuk," ajak Tama.
"Boleh. Bentar Bunda ambilin tongkatnya Ayah dulu."
Ratna membantu Tama berjalan ke arah ruang tengah. Setelah suaminya duduk, Ratna mengambil satu kursi dari meja makan kemudian meletakkan bantal di atasnya. Tama meletakkan kakinya di atas kursi itu kemudian meminta Ratna duduk di sebelahnya. Setelah meletakkan makan malam mereka di meja kaca, Ratna meraih remot dan mulai menyalakan televisi. Tama berlagak manja dan minta disuapi oleh istrinya padahal tangan kanannya baik-baik saja. Nggak papa lah sekali-kali dia yang dimanjakan katanya.
"Alhamdulillah kamu luka Mas. Kamu jadi bisa istirahat," kata Ratna sebenarnya agak menyindir.
"Ya tapi nggak sampai di infus gini juga sayang. Ini yang luka cuma engkel sama tangan kok sampai kamu infus segala sih? Udah kaya orang sakit parah aja," tanya Tama sambil memperlihatkan infus yang Ratna pasang ke tangannya sejak sore tadi.
"Mas dengar kata Theo tadi nggak? Mas itu tekanan darah dan HB nya bisa serendah itu, sampai nggak konsen dan jatuh. Mas itu sebnarnya lagi sakit tapi nggak ngerasain karena keasikan kerja. Nggak papa ya, malam ini aja. Nanti kalau cairan infusnya sudah habis aku copot," kata Ratna sambil mengelus tangan kanan Tama.
"Kalau biasanya Mas yang atur pola dietmu sekarang gantian kamu yang atur pola makan Mas," kata Tama membalas genggaman tangan Ratna.
"Mas, mulai sekarang kalau aku bawain bekal manut ya."
"Mas tuh nggak nolak sayang. Mas seneng kamu mau bawain bekal. Mas cuma nggak mau aja kamu repot. Ketika itu kan kamu masih PPDS, penanggung jawab IGD pula. Kalau sekarang kamu waktunya luang silahkan, Mas nggak akan nolak," kata Tama.
"Yaudah ini habisin dulu.... Besok besok Mas bebas request menu setiap harinya," kata Ratna sekali lagi menyuapkan sesendok nasi pada Tama.
__ADS_1
"Lah setiap hari sudah request menu Dek," kata Tama.
"Oiya ya, lha terus maunya apa?"
"Mau manja sama Bunda," kata Tama sambil melingkarkan tangan kanannya pada leher Ratna dan menciumi kening dan pelipis Ratna.
"Habisin dulu makannya," jawab Ratna menyuapkan satu sendok lagi ke dalam mulut Tama.
Mereka berdua makan sambil menonton tv. Baru separuh film berjalan Ratna sudah bosan dan memilih bermain dengan handphonenya. Tama dan Ratna sama-sama menonton video apa saja yang lewat di akun instagram Ratna. Hingga tiba-tiba ada satu video baby dolphin yang sedang diberi susu lewat dan membuat mata Ratna terpaku.
Tama sudah menduga apa yang akan terjadi setelah ini. Dia ingat beberapa kejadian yang mengharuskan dia memesan khusus boneka dengan bentuk yang terkadang tidak lazim. Atau ketika Ratna tiba-tiba meminta hal-hal aneh yang tidak mungkin dia penuhi. Sayangnya Tama sedang sakit, andai saja kakinya normal saat ini dia sudah kabur entah kemana dan menghindari kontak mata dengan istrinya paling tidak hinga beberapa jam kemudian.
"Mas?" panggil Ratna dengan manis namun horor ketika terdengar di telinga Tama.
"Ya?" jawabnya ragu.
"Mau lumba-lumba," kata Ratna langsung memasang wajah memelas dengan kedua tangan yang melingkar ke pinggang Tama.
"Ayo beliin lumba-lumba."
"Besok ya, Mas beliin. Mau yang gede apa kecil? Yang warna apa, nih beli aja di olshop. Mas lagi nggak bisa nganter pergi-pergi," kata Tama.
"Ih bukan boneka lumba-lumba, tapi lumba-lumba beneran," rengek Ratna.
"Dek...."
"Pengen Mas, habisnya lucu banget tuh lihat tatapannya tulus banget gemes," kata Ratna.
"Kalau Mas beliin terus mau kamu taruh mana? Kasihan dong lumba-lumbanya," balas Tama berusaha meredakan keinginan Ratna.
__ADS_1
"Ya kan bisa dimasukin dalam bak mandi. Bayi lumba-lumba kan nggak gede. Nanti habis itu Mas bikin kolam di depan rumah. Tamanku dibongkar aja nggak papa dibuat rumah lumba-lumbanya," jawab Ratna masih keras.
"Duh Dek, Jagoan ayah, Bunda kesayangan Ayah, lumba-lumba itu nggak boleh dipelihara. Besok kita lihat aja ya, kalau Ayah sudah sehat Bunda sama Adek Ayah ajak lihat lumba-lumba habis itu Ayah beliin bonekanya aja yang gede biar mirip sama lumba-lumba aslinya. Maaf ya sayang, Ayah nggak mampu beliin lumba-lumba," kata Tama pelan-pelan berusaha membuat Ratna mengerti.
"Beneran? Mau pergi?"
"Iya beneran."
"Janji?"
"Iya janji."
"Nggak boong?"
"Nggak boong."
"Yaudah deh. Tapi ih pengen punya," kata Ratna masih terus memandangi video itu.
"Shtt..., udah ya sayang. Dimatiin hpnya biar nggak pengen lagi. Udah udah," kata Tama sambil memeluk Ratna agar dia bisa tenang dan keinginan itu bisa surut.
Malam harinya ketika keduanya sudah merebahkan diri siap untuk tidur Ratna menyingkirkan BonBon dan BunBun dari atas kasur. Dia melempar kedua boneka itu ke lantai begitu saja membuat Tama kaget. BonBon itu boneka babi kesayangan Ratna sejak mereka belum menikah dan sudah menemani Ratna dari langkah awalnya menjadi mahasiswa kedokteran. Sedangkan BunBun adalah adiknya BonBon yang Tama beli ketika dia terserang homesick dan merindukan Ratna yang sedang jauh tak terjangkau ketika itu. Keduanya adalah favorit Ratna dan tidak pernah ada semalampun dia habiskan tanpa kedua boneka itu malah sekarang keduanya dia lempar begitu saja.
"Bunda kok dilempar?" tanya Tama.
"Nggak mau bentuk babi maunya lumba-lumba."
Tama sudah kelewat greget pada tingkah Ratna, tapi mau bagaimana lagi yang namanya ngidam memang terkadang tidak dapat dikendalikan. Dulu ketika Ratna hamil untuk pertama kalinya Tama juga sempat merasakan ngidam dan ketika keinginan itu muncul rasanya begitu sesak dan harus segera ditunaikan agar tenang. Hanya saja ngidamnya Ratna kali ini agak tidak masuk di akal. Tidak peduli sekaya apapun Tama dia tidak mungkin membelikan Ratna lumba-lumba karena hewan itu memang tidak boleh dipelihara.
Sekitar tengah malam Tama merasakan grasak grusuk disebelahnya. Dia merasakan Ratna terus bergerak gusar. Belum sampai dia sempurna membuka matanya, dia melihat Ratna akhirnya meraih kedua boneka yang tergeletak di lantai begitu saja lalu memeluk keduanya dan kembali tidur. Tama yang tadinya masih dalam posisi terlentang sempat tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Ketika dia merasakan Ratna sudah naik kembali ke tempatnya, Tama perlahan menggulingkan badannya mendekati Ratna kemudian memeluk istrinya.
__ADS_1
"Sleep well Bunda, Adek, Ayah sayang kalian berdua," bisik Tama sebelum kembali tidur.