Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
22. Kehilangan


__ADS_3

Setelah beberapa saat, mobil Tama berhasil mendahului. Mobil pelaku memang sudah oleng dan tidak mampu berjalan dengan baik akibat tembakan Tama tadi. Mobil polisi berhasil mendesak mobil pelaku hingga akhirnya berhenti karena menabrak tiang lampu jalan. Yang membuat Tama panik adalah suara tembakan barusan. Bertepatan dengan tabrakan itu terjadi. Tembakan itu tidak berasal dari siapa pun polisi yang ada di sana. Tembakan itu berasal dari dalam mobil.


Tama tidak peduli pada para pelaku yang langsung ditangkap oleh timnya. Yang Tama pedulikan hanya Ratna yang hilang kesadaran dengan kondisi tidak baik sama sekali. Lehernya terus mengeluarkan darah, di antara kakinya bekas darah yang mengalir juga terlihat jelas. Dan lebih dari itu di perut bagian atas Tama melihat satu luka bekas peluru, menembus langsung ke perut Ratna.


Tama menarik Ratna keluar dari sana dan segera menekan perut Ratna berusaha menghentikan pendarahan yang terus mengalir.


"Apa yang kalian lakukan cepat panggil ambulance!" Tama berteriak pada bawahannya yang hanya berdiri di sana tanpa melakukan apapun.


Ratna sempat terbangun. Dia melihat Tama di hadapannya dengan wajah yang sangat berantakan. Tangan kanan Ratna terangkat untuk menggenggam tangan Tama yang terus menekan lubang di perutnya, "Mas Tama..., makasih udah datang...," kata Ratna tanpa suara. Tama tidak menggubris. Dia masih sibuk meneriaki bawahannya hingga Ratna sekali lagi kehilangan kesadarannya.


...***...


4 jam lamanya Tama duduk di depan ruang operasi menunggu kabar baik dari dalam. Di genggamannya dokter menitipkan cincin yang biasa Ratna pakai. Cincin pernikahan mereka. Cincin itu kotor dengan noda darah, cincin itu tidak lagi berwarna emas seperti sedia kala. Bahkan pakaian dan tangan Tama juga sama kotornya penuh dengan noda darah.


"Aji, setidaknya cuci dulu tanganmu itu," kata Pak Leo.


Tama hanya menggeleng lemas. Mau sebanyak apapun orang yang membujuknya Tama sama sekali tidak mau beranjak. Dia tetap berada di sana dan tidak mau pergi ke manapun sebelum mendengar kabar keadaan Ratna. Tak lama kemudian Pak Somat dan Bu Odah datang. Bu Odah dengan segala pengertiannya langsung duduk di samping Tama sambil mengelus punggung Tama.


"Yang sabar ya Nak, Ibu yakin istrimu itu kuat."


"Aji, kamu sudah kasih kabar sama keluarganya Ratna?" tanya Pak Somat digelengi Tama.


"Setidaknya kasih kabar sama Bapak Ibunya Ratna Ji. Mereka berhak tahu," kata Bu Odah kali ini.


Tama tidak merespon membuat Bu Odah mendongak menatap suaminya yang berdiri di hadapan mereka, "Pak, di Hpku ada nomor telepon ibunya Ratna. Coba Bapak wae sing kasih kabar. Aji kayane nggak akan sanggup."


"Nggak Bu, nanti saya pasti kasih kabar ke orang rumah. Tapi nanti, setelah saya dengar kondisi Ratna bagaimana. Kalau diberi tahu sekarang Ibu bisa panik," kata Tama akhirnya.


Malam itu Ratna dipaksa bermalam di brankar ICU dengan segala macam alat terhubung ke tubuhnya. Tama masih berada di sana menemani. Walau tidak secara langsung tapi setidaknya dia ingin Ratna tahu ada Tama disisinya. Pak Somat dan Bu Odah beberapa waktu lalu undur diri. Pasangan itu berbaik hati membantu Tama untuk menjemput mertua Tama di bandara. Begitu Tama melihat Bapak dan Ibu bersama Sasa dan Nata datang Tama kembali menangis disambut juga dengan tangisan dari Ibu.


"Maaf Bu..., Tama sudah gagal jaga putrinya Ibu..., maaf...," kata Tama terus tanpa henti.


"Wis..., uwis..., nek kamu kaya gini gimana Ratna akan kuat. Sudah cukup nangisnya. Ora papa, Bapak sama Ibu nggak akan nyalahin kamu," jawab Ibu.


"Mas..., gimana kondisi Mbak?" tanya Sasa.

__ADS_1


"Mbak masih di dalam ICU belum boleh dijenguk. Pendarahannya terlalu hebat. Dia selamat tapi bayinya nggak, kemungkinan dia masih belum sadar juga karena dia syok. Maaf Sa, Mas Tama gagal nepati janji ke kamu," kata Tama lagi.


"Mas..., jangan nangis to, Sasa jadi pengen ikutan nangis. Mas harus kuat, biar Mbak Ratna juga kuat," kata Sasa berusaha menguatkan kakak iparnya.


...***...


Butuh waktu seminggu untuk Ratna akhirnya terbangun dari tidurnya. Awal-awal Ratna terbangun dia tidak sama sekali membuka mulutnya. Bahkan untuk menemui Tama saja enggan. Dia baru mau menemui suaminya setelah dibujuk setengah mati oleh Sasa dan Ibu. Bapak dan Nata terpaksa pulang lebih dulu karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan jadi tinggal Ibu dan Sasa yang menemani Ratna selama Tama bekerja.


Atas keberhasilan penangkapan itu Tama memang mendapatkan tanda jasa, tapi dia sama sekali tidak senang kali ini. Bahkan ketika dia mewakili Ratna untuk menerima tanda terima kasih dari kesatuan dia tidak tersenyum. Untuk apa mereka mendapatkan tanda jasa jika untuk melindungi anak mereka saja mereka gagal. Ratna memang terlihat baik-baik saja, tapi Tama tahu jika diam-diam Ratna sering menangis seorang diri.


"Kondisi Ratna sudah membaik, kalau kondisinya tetap stabil sampai malam nanti Ratna sudah boleh pulang. Lalu ini, surat izin cuti untuk Ratna. Saya sudah mengurusnya dan sudah di ACC oleh kepala kepegawaian dan kepala bagian akademik di kampus. Beberapa bulan ini Ratna bisa istirahat dulu di rumah," jelas Rati pada Ibu dan Sasa.


"Makasih Bu dokter, saya berterima kasih sekali Bu dokter sudah baik sama anak saya," kata Ibu.


"Sama-sama Ibu, Ratna itu sudah berteman dengan saya sejak hari pertama dia kerja di sini Bu. Ratna banyak membantu saya dalam tesis dan penanganan pasien, saya malah ingin minta maaf tidak bisa banyak membantu," kata Rati lagi.


"Rati..., nggak usah berlebihan. Ngomong-ngomong aku minta maaf ya karena aku kerjaanmu sama Bima jadi numpuk," kata Ratna.


"Santai saja. Lagian nggak gratis kok. Kalau kamu sudah sehat nanti gantian ya," kata Rati.


"Bantuin kok nggak gratis gimana sih Ti?" tanya Tama yang ternyata sedari tadi berdiri di ambang pintu.


"Nggak boleh apa? Sana Ti turun ke kantin. Aku tadi ketemu Bima nungguin kamu di sana," kata Tama.


"Bilang aja mau berduaan, dasar nggak kenal tempat. Bu, dek Sasa, saya permisi dulu," kata Rati langsung pamit pada seisi ruangan.


Tama bukan hanya mengusir Rati, tapi juga Ibu dan Sasa. Dengan dalih meminta keduanya untuk makan siang. Tama akhirnya bisa berduaan dengan Ratna sekarang. Tama berdiri mendekati Ratna, dia genggam tangan kanan Ratna lalu tangan kiri Tama mengelus ujung kepala Ratna. Tama tidak mengatakan banyak hal, dia hanya tersenyum menatap lurus ke arah Ratna.


"Ada apa sih Mas? Kok semuanya diusir?" tanya Ratna.


"Ratna..., Mas mau minta maaf sama kamu. Setelah ini akan ada tim penyidik yang datang buat tanya-tanya ke kamu. Kalau kamu memang nggak sanggup bersaksi kamu boleh menolak, biar Mas yang bilang nanti," kata Tama.


"Nggak Mas, aku nggak papa. Tapi Mas temani aku di sini, aku nggak mau sendirian," kata Tama.


"Mas temenin kok...," kata Tama pada Ratna.

__ADS_1


Kasus itu akhirnya selesai. Pelaku ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Tama sudah diberitahu perihal hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku. Bahkan pengadilan berterima kasih pada Ratna atas kesaksiannya yang mampu menguatkan pengadilan untuk menggugat pelaku. Namun demikian, masalah tidak langsung berhenti begitu saja. Hari ini Tama kedatangan seorang tamu yang sebenarnya tidak pernah dia harapkan kedatangannya. Bahkan di saat Tama sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya.


"Selamat malam Pak," sapa seorang polisi pada Tama.


"Tadi ada yang cari saya katanya. Di mana dan siapa kalau tahu?" tanya Tama.


"Ada di ruang tamu Pak, kalau tidak salah keluarga pelaku yang baru saja Bapak tangkap kemarin," katanya.


Tama sempat bertanya-tanya apa maksudnya, tapi jika orang ini bisa sampai di kantor itu artinya sudah melalui penjagaan di gerbang jadi dia tidak perlu risau walau sebenarnya hatinya cukup bimbang untuk mengizinkan tamu itu menemuinya.


"Selamat malam Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tama ramah kepada tamu yang dimaksud.


"Anda benar Bapak Aji?"


"Iya benar saya Aji, ada yang bisa saya bantu?"


"Pak, anak saya dihukum mati. Saya menerima surat pemberitahuannya pagi tadi. Saya ingin tahu kenapa anak saya bisa dihukum begitu berat, apa salah anak saya Pak?" tanya Ibu itu langsung menangis.


"Bu, bukankah di surat pemberitahuan sudah dijelaskan dengan rinci perihal tindak pidana kriminal yang dilakukan oleh anak Ibu?" tanya Tama.


"Tidak mungkin Pak, anak saya itu baik. Dia anak yang berbakti, dia tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Bapak pasti salah tangkap."


Mendengar kalimat semacam itu jelas melukai harga diri Tama. Salah tangkap katanya, padahal sebelum melakukan penyergapan itu sudah puluhan kali Tama dan seluruh tim melakukan penyidikan. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan menginjak setahun untuk menangkap pelaku yang cukup meresahkan masyarakat itu.


"Bu, kami dari kepolisian tidak akan seceroboh itu melakukan penangkapan. Semua barang bukti sudah kami kumpulkan. Bahkan kami sudah memastikan identitas pelaku adalah benar anak ibu. Mungkin memang sulit diterima tapi kenyataannya memang seperti itu."


"Tolonglah Pak, kasih keringanan hukuman untuk anak saya itu."


"Maaf Bu, saya tidak berwenang. Kewenangan saya hanya sebatas penangkapan. Setelah itu tim lain yang bekerja. Jika Ibu keberatan dengan putusan hakim, Ibu bisa mengajukan pembelaan pada pengadilan," kata Tama.


Ibu itu terus mengeluh dan menangis-nangis di hadapan Tama tanpa tahu jika sebenarnya Tama juga salah satu korban di sini, "Bu, sudah cukup. Ini sudah malam dan jam kerja saya bahkan sudah selesai. Perlu Ibu ketahui, anak Ibu sudah membunuh anak saya yang bahkan belum sempat melihat wajah ayah ibunya."


Tama sudah jengah, Tama tidak melihat tanda-tanda Ibu ini akan pergi jadi dia memanggil salah satu bawahannya untuk membawa ibu ini pergi. Pada apel malam itu Tama bahkan menghukum penjaga yang membiarkan Ibu itu masuk begitu saja.


"Lain kali yang jelas tanyanya. Pastikan Ibu itu segera keluar dari area. Jangan sampai dia berkeliaran di dalam kesatrian. Kalau sampai ada laporan kau yang pertama kali akan aku salahkan, mengerti?!" Tegas Tama pada 3 orang petugas piket hari itu.

__ADS_1


"Siap. Laksanakan."


"Jangan meremehkan. Dia adalah seorang ibu yang baru kehilangan putranya. Dia bisa saja nekat melakukan apapun tanpa kalian sadari," kata Tama lagi.


__ADS_2