
Sejak kemarin tidak satupun pesan Tama dibalas, telponnya juga tidak diangkat hingga Tama terpaksa menghubungi Uli, pengasuhnya Aksa. Dia takut terjadi sesuatu pada istri atau pada anaknya.
"Maaf Pak, Ibu sakit. Tapi tidak berani kasih kabar ke Bapak karena kemarin lihat di tv katanya kerusuhan memanas lagi," kata Uli.
"Astagfirullah..., tapi Ibu nggak papa kan? Sakit apa?"
"Demam Pak, sepertinya flu. Tapi sudah tidak apa-apa kok Pak, sudah mendingan. Tadi Bu Ela ke sini kasih obat sama lepas infus," kata Uli dengan polosnya nyeplos begitu saja.
"Sampai di infus juga?"
"I... iya Pak," kata Uli mulai tergagap karena menyadari kesalahannya.
Ratna tahu jika Uli memberi kabar tentang dirinya pada Tama, jadi untuk melepaskan kekhawatiran Tama dia langsung menelepon suaminya. Tidak tanggung-tanggung, dia melakukan videocall.
"Astagfirullah Bunda kamu bener nggak papa itu?" tanya Tama begitu khawatir melihat wajah pucat istrinya.
"Nggak papa Ayah, sudah mendingan. Sudah bisa makan, nih aku beli capcay. Aksa juga nggak kurang susunya, persediaannya cukup buat back up selama aku sakit kemarin. Karena sekarang aku sudah lebih baik jadi aku sudah bisa nyusui Aksa lagi. Ayah jangan mikirin yang ada di rumah, Ayah kerja di sana," kata Ratna.
"Bunda, Ayah percaya Bunda bisa jaga diri. Tapi setidaknya cerita ya, Ayah lebih seneng tahu dari kamu sendiri dibanding orang lain," tegur Tama.
"Iya maaf, sehari kemarin aku memang nggak buka hp sama sekali. Aku cuma fokus gimana caranya aku sembuh biar Aksa nggak ketularan," kata Ratna.
"Yasudah, Ayah sudah dengar kabar dari kamu sudah lega. Nggak papa Bunda, Ayah paham kok," kata Tama lagi.
Sudah 4 bulan lamanya Tama tidak kembali ke rumahnya. Sudah selama itulah Ratna berjuang sendirian tanpa bantuan suaminya. Aksa sudah mulai besar dan sudah mulai tahu rasanya rindu. Setiap kali Ayahnya itu mengubunginya lewat Bunda, Aksa pasti tidak rela jika telponnya dimatikan. Mau bagaimana lagi, Aksa baru berusia 10 bulan. Dia sedang membutuhkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
"Ayah, belum ada tanda-tanda akan pulang ya?"
__ADS_1
"Bunda sudah kangen ya?" tanya Tama.
"Kangenku masih sanggup kutahan Mas, tapi Aksara kasihan juga nyariin Ayahnya. Mas, segera selesaikan masalah di sana dong. Biar Mas bisa segera pulang. Mbak Intan sebentar lagi juga akan melahirkan sedangkan suaminya ada di sana tugas sama Mas," kata Ratna.
"Yang sabar ya Bunda, Ayah selalu berusaha yang terbaik di sini. Bunda jangan lupa doakan Ayah juga ya."
"Always, bahkan dalam tidurku cuma namamu yang kusebut Mas," kata Ratna.
"Ayah..., sepulangnya dari tugas ini kita rayakan ulang tahun Aksa yuk. Kita jalan-jalan ke rumah Mama," kata Ratna.
"Boleh. Biasanya kan Mas dapat cuti selama beberapa hari kalau baru tugas lama begini. Kita bisa manfaatkan waktu itu untuk berkunjung ke rumah Mama. Aksa juga kan sudah besar," kata Tama menenangkan Ratna.
"Aku pengen ketoprak Mang Ujang yang dibeliin Mama kalo kita ke sana," kata Ratna.
"Waduh. Susah tuh," kata Tama.
"Kok susah gimana sih?"
"Kok Mas tahu?"
"Gini-gini Mas sudah jadi langganan Mang Ujang dari SMA, makanya sampe anaknya kenal juga sama Mas. Saling follow juga di sosmed," kata Tama menyombongkan diri.
"Dih."
"Julid banget sama suami sih heran."
"Sekali-kali gantian dong. Nggak Mas mulu yang ngejahilin aku, aku juga pengen kali ngejahilin suami sesekali, boleh kan?" kata Ratna.
__ADS_1
Ratna tadinya tiduran sambil terlentang, tapi dia tiba-tiba menggulingkan tubuhnya membuat belahan dadanya terekspos begitu saja karena Ratna memang hanya pakai baju tidur yang longgar. Tidak berhenti di sana, Tama juga melihat Ratna seperti sengaja tidak membetulkan posisi handphonenya yang seharusnya memperlihatkan wajahnya.
"Allahu akbar Dek, kalau mau nggoda suami nggak gitu caranya. Lagi jauh ni, kalau Mas rindunya nggak ketahan terus Mas harus main sama siapa? Di sini nggak ada yang berlubang," protes Tama menutupi layar handphonenya.
"Eh eh enak ya mau cari yang lain di sana?! Sampai sini tak potong habis barang kebanggaanmu itu," ancam Ratna.
"Allahuakbar nggak gitu sayangku, manisku, mungilku, bidadari surgaku, kamu itu satu satunya. Tapi ingatlah suamimu ini lemah sama beginian. Kalau kamu goda terus-terusan bisa nekat terbang pulang sekarang juga nih Mas," kata Tama berusaha menetralisir detak jantungnya sendiri.
Ratna tertawa di seberang sana. Dia merasa senang karena sudah menang melawan suaminya. "Dasar budak napsu," kata Ratna.
"Lah ben, napsu sama istri sendiri kok. Kalau napsunya Mas sama Bayu baru kamu boleh protes," kata Tama asal nyeletuk.
"Ehh apaan Bang? Ampun Bang, adek masih perawan bang," kata Bayu yang ikut saja pada banyolan komandannya.
"Perawan gundulmu," kata Tama sambil melemparinya kaos basah keringat milik Tama.
"Ahahahaha..., Bayu aja nggak doyan sama kamu Mas, terus apa gunanya muka cakep yang katanya hitz jaksel itu," kata Ratna tertawa terpingkal.
"Kamu bilang gitu juga kamu doyan. Nggak peduli Mas nggak laku di luaran yang penting di pasar dalam negeri masih laku keras, ya nggak Dek? Bikinin Adek buat Aksa yuk," ajak Tama.
"Oh berani kasih Aksa adek cepet-cepet tak pecahin bijimu Mas. Nggak ngerasain hamil tuh capek, ini orang kayanya harus dikasih rasanya gendong semangka selama 9 bulan 10 hari kayanya. Belum lahirannya bakal kaya apa heh," protes Ratna dengan keras.
"Bercanda Bunda, nggak tega juga kali aku," kata Tama.
Hanya dengan obrolan yang terkadang singkat itu Tama melepaskan rindu pada orang-orang tersayangnya. Walau hanya mampu menatap kedua kesayangannya lewat layar handphone, tapi Tama sudah cukup terpuaskan. Setiap dia melihat senyum di wajah Aksa yang mulai cerewet dan wajah Ratna yang tersenyum sumringah menggoda Aksara, rasanya ada berjuta bunga dijatuhkan diatas dirinya. "Surga Duniaku" katanya. Memang sebesar itu rasa syukur Tama atas kehadiran kedua orang ini untuk menghiasi hari-harinya.
Seperti Ratna yang pernah bilang, mereka harusnya berterima kasih pada Sindy dan Vino, karena mereka berdua memberikan kesempatan pada Pratama Aji untuk bertemu dengan Adiratna. Karena jika bukan karena tingkah Sindy yang sok-sokan menolak lamaran Tama, dia tidak akan kembali ke Jogja malam itu juga dan bertabrakan dengan Ratna tepat begitu dia melangkah keluar dari kereta.
__ADS_1
Begitu pula dengan Vino, jika bukan karena tingkah Vino yang aneh itu mungkin Ratna tidak akan melepaskannya dan menerima kehadiran Tama. Pertemuan Tama dan Ratna bukanlah pertemuan yang normal. Setelah bertabrakan dan membuat dahi Ratna benjol, mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di konser kampur Ratna. Ketika itu Tama masih ada di Samapta, untung saja dia berganti shift dengan seniornya yang sedang tidak enak badan jadi dia bisa bertemu kembali dengan gadis Hamtaro itu.
Di pertemuan ketiga, Tama langsung memberanikan diri. Dia kembali berterima kasih pada semesta yang membuat Ratna menyerobot antriannya. Juga pada kebodohan Tama yang setengah melamun mengajak Ratna pergi ke pantai. Setiap proses pendekatannya dengan Ratna terus dia iringi dengan doa yang terbaik yang dia mampu. Walau benar kata Bang Chandra, Tama harus berjuang keras hanya agar Ratna mau menaruh sedikit rasa percayanya pada Tama setelah melewati begitu banyak luka. Tapi setidaknya dengan luka itulah Tama dan istrinya bisa menjadi lebih dewasa. Dengan datangnya masalah demi masalah itu akhirnya mendewasakan hubungan mereka dan mengokohkan pondasi rumah tangga mereka.