Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
28. Pantai


__ADS_3

Sehari sebelum resepsi, Tama dan Ratna menyempatkan untuk pergi ke suatu tempat. Ratna itu anak pesisir, dulu hampir setiap saat dia main ke pantai dan tempat tinggalnya sekarang sangat jauh dari tempat dimana Ratna selalu merasa nyaman itu. Makanya mumpung di rumah, dia mengajak suaminya untuk bermain sebentar di pantai hanya sekedar menyaksikan sunrise lalu pulang. Ratna meminta pada Tama untuk mengizinkannya membawa mobil dan dengan berat hati Tama yang protektif membiarkan Ratna menyetir. Toh jarak dari rumah ke pantai hanya sekitar 10 menit. Tidak jauh, lagi pula Tama akan tetap ada di sisinya untuk membantunya.


"Dek jangan ngebut-ngebut dong...," kata Tama.


"Mas, aku jalan nggak sampe 60 ya. Ngebut dari mana coba," kata Ratna.


"Ratna pelan-pelan aja kan kita mau jalan-jalan bukan kebut-kebutan. Lagian bahaya ini jalur perkampungan, kalau tiba-tiba ada yang mau nyebrang atau apa kaget kamu nanti. Udah lama nggak bawa mobil lho. Gelap juga jalanannya," tegur Tama dengan bahasa yang begitu halus membuat Ratna langsung memelankan laju mobilnya.


"Mas buka kaca boleh nggak?" minta Ratna.


"Ok, buka aja. AC dimatiin," kata Tama.


Tangan Ratna mematikan AC, kemudian membuka jendela yang ada di sisi kanan tempat dia duduk. Angin jalanan langsung masuk begitu saja membuat rambut Ratna berantakan. Rambut panjang itu sempat mengganggu tapi dengan sigap Tama menahannya dan mengikatnya ke belakang. Walau agak asal-asalan tapi setidaknya tidak mengganggu pandangan Ratna.


"Mas, rambutku kupotong aja kali ya?" tanya Ratna.


"Potong aja, kenapa sayang ya?"


"Banget. Ini rambut udah 3 tahun nggak aku potong," kata Ratna.


"Iya sih, Mas inget waktu awal nikah dulu rambutmu cuma sebahu. Potong aja dek nggak papa, kamu cantik kalau rambutnya pendek."


"Bener nih?"


"Iya," kata Tama lagi.


"Ok fiks pulang dari sini kupangkas rambutku. Pengen potong cowok aku, menurut Mas gimana?"


"Nggak ah ekstrem. Potong sebahu aja kaya dulu."


"Kenapa Mas takut kalah ganteng po?"


"Takut kalah pendek dek," kata Tama.


"Ya Allah nggak bakalan Mas, rambutmu aja nggak sampe 3 cm panjangnya...," kata Ratna sambil tertawa.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ratna memarkir mobilnya tidak di tempat yang sudah disediakan. Mereka sengaja mencari tempat yang cukup sepi agar bisa menikmati waktu hanya berdua tanpa ada satu orangpun yang mengganggu. Toh Ratna anak sini, dia tahu dimana titik yang tidak banyak didatangi orang. Ratna membawa mobilnya agak masuk ke arah kiri dan memarkirnya di samping jalanan yang sudah separuh rusak.


"Hebat kamu bawa mobilnya Dek," kata Tama sambil mengacak rambut Ratna sebelum keduanya melangkah keluar.


"Hehe, suaminya aja biasa bawa mobil lapis baja kok masa istrinya bawa mobil kecil aja nggak bisa sih," kata Ratna memuji dirinya sendiri.


“Tapi nggak usah ngebut kalo bawa mobil. Ngeri dek, ya iya suamimu anggota Brimob tapi tetep aja nyawanya Mas cuma satu,” kata Tama sambil tertawa.

__ADS_1


“Ya maaf atuh udah lama nggak pegang mobil dibilang, makanya sekali-kali bolehin aku nyetir dong biar aku nggak kehilangan skill gitu,” kata Ratna.


“Nanti ya, Mas ada rencana mau beli mobil dek mau nggak?” tanya Tama.


“Eh cie sehati, jangan-jangan kita jodoh…. Aku juga udah mau ngomong sebenernya Mas, udah mulai nyisihin malah,” jawab Ratna.


“Wahh jodoh beneran deh kayanya kita, sama aku juga udah nyisihin.


“Hmm? Tapi uang bulanan yang dikasih ke aku nggak berkurang tuh, Mas motong uang jajan Mas sendiri?”


“Iyalah, kan kita udah sepakat. Uang bulanan itu untuk kebutuhan rumah tangga. Buat tabungan masa depan. Beli mobil menurut Mas bukan kebutuhan orang kita cuma berdua. Karena pengen aja kan, makanya Mas motong uang jajan sendiri. Lagian sayang kalau udah kerja banting tulang kok uangnya cuma disimpan di bank sampe jamuran. Sekali-kali boleh lah kita hedon,” kata Tama sambil merangkul Ratna.


“Duh jadi makin sayang deh, Bapak keren banget suami siapa sih?” goda Ratna.


“Suaminya dr. Adiratna yang tercantik dan ngeselin,” kata Tama tidak mau kalah menggoda.


Baru Ratna akan mengerucutkan bibirnya sambil berjalan meninggalkan Tama, Tama sudah lebih dulu menahan langkah Ratna sambil berkata, “Tapi ngangenin. Satu-satunya buat Pratama Aji Saputra pokoknya.”


Tama dan Ratna memilih untuk berdiri dekat dengan tepian pantai lalu membiarkan kaki mereka diterpa oleh ombak dan air. Mereka tidak peduli pada dinginnya air pantai yang menyapa kaki mereka karena keduanya begitu menikmati suasana pagi yang mulai terang. Tama melangkah ke belakang Ratna, meraih kedua tangan istrinya lalu dia bawa kedua tangan mungil itu untuk memeluk tubuhnya sendiri bersama Tama yang ikut memeluknya dari belakang.


“Samain irama nafasmu Bunda,” bisik Tama di telinga Ratna.


Ratna mengikuti, dia merasakan naik turunnya dada Tama di punggungnya membuat dia mudah menyamakan irama nafasnya dengan Tama. Beberapa waktu mereka masih saling diam, Ratna sudah memejamkan matanya dan berusaha menenangkan pikirannya yang sebenarnya cukup ruwet akhir-akhir ini.


“Hmm?”


“Coba lagi yuk,” kata Ratna membuat Tama melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh Ratna agar menghadap ke arahnya.


“Kamu yakin?”


“Yakin pake banget. Awalnya memang iya sih aku nggak ambisius buat jadi orang tua, tapi setelah mengalami semua itu aku jadi pengen banget jadi seorang ibu. Ngerasain mual-mual sampe nggak sanggup makan, ngerasain pusing, capek, kaki bengkak, aku juga pengen ngerasain sakit harus berjuang melahirkan, harus nyusuin anak, memperhatikan tumbuh kembang dia setiap hari, aku pengen ngalami itu semua,” kata Ratna.


“Bunda yakin?”


“Yakin. Apalagi ayah sekarang manggil aku ‘Bunda’ rasanya pasti seneng banget kalo aku bisa jadi bunda beneran,” kata Ratna mencoba menyakinkan.


“Nanti ya, maaf Mas masih belum sanggup. Mas masih takut,” kata Tama.


“Aku nggak maksa Mas, aku cuma pengen aja. Jangan dipaksain, kan Mas bilang sendiri toh jadi orang tua itu tanggung jawabnya seumur hidup. Kalau memang belum siap ya jangan di siap-siapin. Aku ikut semua keputusan Mas,” kata Ratna.


“Andai Mas menolak?”


“Kalau Mas nolak ya aku nggak akan maksa. Aku mau yang terbaik buat kita Mas, keputusan yang tidak akan menyakiti aku tapi juga nggak membebani kamu. Nggak perlu dijawab sekarang, toh nanti pertanyaan ini akan terjawab dengan sendirinya oleh waktu. Please jangan dijadikan beban,” minta Ratna.

__ADS_1


“Ratna, Mas mau tanya sesuatu sama kamu.”


“Apa Mas?”


“Andai suatu saat Mas minta kamu buat berhenti kerja, kamu gimana?”


“Keputusan untuk aku kerja atau nggak kerja itu sudah kuserahkan sama Mas. Aku yakin Mas pasti punya alasan yang tepat kalau sampai minta aku untuk berhenti kerja. Selama alasan itu bisa diterima dan kita sudah membicarakan ini dengan baik aku nggak akan memaksa untuk tetap kerja. Surgaku itu sekarang ada di kamu Mas, insyaallah aku nggak akan melawan kamu. Makanya aku bilang, kalau sampai aku aneh-aneh aku minta diingetin. Kaya yang selama ini kita lakukan,” kata Ratna.


“Maaf ya Mas, aku belum bisa dewasa jadi istrimu…,” gumam Ratna.


“Mas yang minta maaf sudah merenggut masa mudamu dan memaksa kamu untuk dewasa sebelum saatnya.”


“Yang Mas rasain apa sih ketika manja dan childish ku kumat? Apalagi kalau lagi bulanan tuh, aku sendiri sadar kalau aku bisa jadi annoying banget. Kadang marah-marah nggak jelas, kadang nangis, kadang bisa hebring banget juga,” kata Ratna sambil memainkan ujung jaketnya.


“Kaya sekarang ini nih, cara bicaramu juga kadang masih kaya anak kecil. Tapi Mas suka, kamu tahu kenapa? Karena dengan begini Mas tahu kamu nggak pura-pura. Inilah apa adanya kamu. Kita menikah kan untuk membangun sebuah rumah, tempat untuk kita pulang. Apa pernah kamu lihat seseorang pakai make up dan baju bagus ketika di rumah? Nggak kan? Itu karena mereka memperlihatkan dirinya yang asli di rumah. Dan Mas ingin rumah kita seperti itu. Nggak ada pura-pura. Apa adanya kamu, apa adanya Mas.”


“Lagian keluhanmu tentang Mas harusnya lebih banyak deh, Bun,” kata Tama sambil terkekeh sendiri jika ingat tentang semua omelan Ratna.


“Iya sih udah ngorok kalo tidur, keringetnya bau, suka kentut sembarangan, paling nyebelin tuh nyuci baju putih kok ya dibarengin sama baju item,” kata Ratna.


“Bunda, jangan di inget-inget lagi dong. Kan udah aku beliin yang baru,” kata Tama mengingat baju putih Ratna yang dia rusak karena Tama mencucinya berbarengan dengan seragam hitam yang baru dia beli. Niatnya menghemat waktu dan tenaga dia malah keluar biaya.


“Mas, nanti malam ngobrol panjang yuk. Udah lama aku nggak overthinking mikirin dunia sama Mas,” kata Ratna.


“Memangnya mau ngomongin tentang apa? Mau ngomongin Pilpres di depan mata? Ogah ah gara-gara pilpres Mas lembur mulu,” kata Tama.


“Ih bukan, aku mah juga ogah ngomongin pilpres. Peduli amat. Mau ya? Cuma mau ngobrol doang kok, sambil diskusi, kita nyamain pendapat lagi.”


“Ayo deh, mumpung moodnya lagi bagus. Habis itu lanjut main sampe pagi ya?”


“Dih mau jadi tontonan umum po? Nggak ah, kan lagi banyak orang di rumah. Palingan juga nanti malem Mas Tama milih nggak tidur.


“Ya maaf Mas lupa kalau di rumah lagi banyak saudara,” kata Tama.


“Besok aja kalau saudara udah pada bubar atau waktu udah di rumah biar puas sekalian,” kata Ratna.


“Bisaan ya godain suaminya,” kata Tama sambil mencubit hidung pesek Ratna.


“Soalnya aku penganut terampil di dapur gesit di kasur, biar suamiku nggak lari kesana kemari. Biar betah di rumah betah sama aku,” kata Ratna membuat Tama tertawa.


Ratna memang masih sangat manja, kadang kekanakan dan kalau sudah rewel bisa begitu merepotkan tapi dibalik itu semua Tama yakin jika semua kesuksesannya datang karena keberadaan Ratna juga. Sebawel apapun Ratna bahkan semenyeramkan apapun Ratna ketika marah semua muaranya adalah untuk Tama sendiri karena kemarahannya Ratna tidak akan datang jika bukan karena Tama yang bandel dan Tama bersyukur gadis sebaik dan sehebat inilah yang menjadi istrinya.


Makanya ketika Mama atau Ibunya sering memarahi sikap kekanakan Ratna, Tama justru membela istrinya itu. Dia tidak mau Ratna kehilangan dirinya sendiri. Toh Tama juga suka kalau istrinya manja padanya. Dia jadi merasa dibutuhkan dan merasa disayang.

__ADS_1


__ADS_2