
Pagi berikutnya seluruh markas melakukan patroli keamanan. Yang menyebabkan hal ini dilakukan adalah karena laporan jika sebuah senjata hilang dari tempat penyimpanannya di markas. Akibat laporan ini Tama bahkan tidak sempat menghabiskan sarapannya dan langsung pergi begitu saja.
"Lakukan pemeriksaan di area asrama. Jaga juga kediaman Pak Aji, ingat jika salah satu korban ada di sini. Jika sampai terjadi sesuatu ku hukum kalian semua," kata Pak Sabar memberi instruksi di lapangan.
Sedangkan di dalam kantor Pak Slamet, Tama dan Nesya juga ikut menyelidiki, "Kemungkinan besar orang itu yang mencurinya, dia kemarin menemuimu kan? Dia kemarin masuk ke dalam ruang kerjamu sedangkan ruang kerjamu dekat dengan gudang senjata," kata Pak Slamet pada Tama.
"Sudah kau periksa betul-betul? Bukan karena salah hitung?" tanya Tama pada seorang bawahannya.
"Sudah saya hitung ulang beberapa kali dan memang benar kita kehilangan satu buah senjata api laras pendek."
"Kapan kemungkinan hilangnya?"
"Kemungkinannya semalam. Ketika pemeriksaan terakhir kemarin sore semuanya masih lengkap termasuk juga jumlah peluru dan senjata lainnya. Tapi ketika petugas piket berkeliling pagi ini gembok gudang sudah rusak dan ketika diperiksa sebuah senjata api beserta 20 peluru hilang," lapornya.
"Jika pencuri itu tidak segera tertangkap atau bahkan sudah keluar dari area kesatrian kita akan mendapatkan masalah besar. Jika kau tidak ingin dipecat segera cari dan temukan pelakunya," kata Pak Slamet.
"Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana ibu itu bisa membobol gudang?" kini Nesya ikut bicara.
"Jika kita mengasumsikan dia sebagai ibu-ibu biasa, maka hal ini mustahil terjadi. Sya, kamu pergi ke ruang informasi dan cari tahu identitas ibu itu secepatnya. Jika perlu mintalah bagian intel untuk membantu," perintah Tama.
"Siap, Pak."
"Ji, kamu beri tahu dulu istrimu."
"Sudah Pak, ada dua orang tamtama datang tepat ketika saya pergi tadi. Saya meminta keduanya berjaga dari dalam. Jika memang motifnya adalah balas dendam, lebih baik jika tidak menarik perhatian pelaku."
"Bu Ratna pasti ketakutan. Tidakkah lebih baik kamu pulang dan menemaninya?" tanya Pak Slamet.
"Sudah jadi konsekuensi dia menjadi istri seorang prajurit. Lagi pula, jika saya ingin menghilangkan ketakutannya saya harus selesaikan masalah ini segera. Hanya dengan begitu kondisinya menjadi aman, kan?" kata Tama.
"Pengabdianmu Ji, Aji. Bapak bangga sama kamu. Nggak nyangka ternyata masih ada anak muda yang punya jiwa patriotisme sebesar kamu," kata Pak Slamet.
"Bapak berlebihan."
"Pak Aji...!" Nesya menerobos masuk ketika Tama dan Pak Slamet bersiap pergi menyusulnya ke kantor informasi.
"Kau terlalu cepat kembali. Ada apa?" tanya Pak Slamet.
"Pak, saya sudah mendapatkan identitas pelaku. Tapi masalahnya..., pelaku tercatat sebagai salah satu target operasi militer akibat keikutsertaannya dalam sebuah organisasi separatis. Saya juga sudah mengkonfirmasi bahwa informasi ini benar."
Tak lama kemudian terdengar bunyi tembakan dari pintu depan membuat Tama, Pak Slamet dan Nesya langsung berlari ke arah suara. Beberapa ada yang membantu mengamankan korban sedangkan sisanya bersiaga mengepung pelaku dari berbagai penjuru.
Tama berjalan mendekat dan melewati lingkaran kepungan itu begitu saja, "Anda pikir dengan menerobos masuk ke markas kepolisian, membobol gudang senjata dan mencuri beberapa peluru dan sebuah senjata api cukup untuk menjadi bekal balas dendam? Saya sudah tahu identitas anda. Anda bilang putra anda adalah anak baik-baik? Anda bermimpi," kata Tama dengan tatapan sedingin es.
"Kalian yang menangkapnya. Kalian yang membuat dia dijatuhi hukuman mati. Kalian yang cari masalah denganku. Salahkah aku membalaskan dendamku?"
"Kalau begitu saya kembalikan kalimat itu. Saya adalah suami dari korban tindak pidana putra anda. Saya kehilangan putri saya. Jika saya ingin membalas dendam anda tidak boleh menyalahkan saya. Di luar sana juga ada belasan keluarga lain yang kehilangan anak atau anggota keluarga mereka akibat bisnis gelap yang dilakukan oleh putra anda. Apa perlu saya kumpulkan mereka semua untuk membalaskan dendam pada anda?" kata Tama membuat tangan pelaku bergetar.
Ketika itulah Pak Slamet memberikan kode pada salah satu yang berdiri di belakang pelaku. Pelakunya segera ditangkap dan langsung dikurung. Atas respon cepat para anggota, pelaku itu tidak sampai membuat kerusuhan sehingga level keamanan markas bisa segera diturunkan. Kedua orang yang tadinya menjaga di rumah Tama juga sudah pamit.
__ADS_1
...***...
Walaupun masalah selesai, tapi tetap saja kekacauan tidak berhenti begitu saja. Kali ini giliran Tama yang harus lembur menggarap berlembar-lembar laporan tambahan atas kejadian yang terjadi. Sudah laporan penangkapan kemarin belum selesai dia garap, sekarang pekerjaannya sudah bertambah 2x lipatnya.
"Maaf ya Mas nggak pulang malam ini," kata Tama ketika menelepon Ratna.
"Sempat makan malam nggak itu?" tanya Ratna.
"Nggak..., hehe," Tama terkekeh. Dia tidak mau tambah kerjaan karena membohongi Ratna karena dia pasti akan langsung tahu kalau Tama berbohong jadi lebih baik dia mengaku. Ratna itu lebih menakutkan dari komandannya makanya dia selalu menyerah di hadapan Adiratna.
"Mau di anter makan malam? Aku buat kering kentang kesukaanmu lho Mas," kata Ratna.
"Ohh banget dek, yang banyak bungkusinnya. Asli Mas laper banget."
"Nelangsa temen uripmu Mas..., Mas...," kata Ratna menertawakan Tama.
"Uripmu luwih melas Dek, due bojo kaya Mas," kata Tama mencoba menggunakan Bahasa Jawa.
Tawa Ratna langsung hilang begitu mendengar logat aneh Tama ketika menggunakan Bahasa Jawa. Tidak peduli dia itu orang mana, tapi karena dia tumbuh besar di Jakarta jadi dia tidak mampu Bahasa Jawa sama sekali, tapi aneh dia juga tidak bisa bahasa Betawi atau Bahasa Sunda. Intinya tidak ada Bahasa Daerah yang Tama kuasai. Logat anak kotanya terlalu kental melekat dan baru akan hilang kalau dia menggunakan bahasa Indonesia baku.
"Mas..., nggak usah sok sokan deh. Kamu tuh nggak usah ngomong pake Jawa. Aneh."
"Ya kan pengen bisa Dek, biar nggak diledek mulu sama bumbu micin kesayanganmu itu," kata Tama.
Selesai dengan masakannya, Ratna beranjak ke dapur untuk membungkus makan malam untuk Tama. Kedua tangannya sibuk mengambil kotak bekal Tama dari rak atas. Kotak bekal berukuran sedang berwarna biru itu terdiri dari 3 susun. Ratna isi dengan nasi di susunan paling bawah, lalu lauk ayam goreng serundeng di tengah, juga tidak lupa kering kentang memenuhi susunan paling atas. Selesai menata makanannya, Ratna lebih dulu mengangin-anginkannya agar tidak berair ketika ditutup nanti.
"Permisi, apakah saya bisa menemui Pak Aji?" tanya Ratna pada seorang yang duduk di meja depan.
"Maaf anda siapa?" tanyanya.
"Boleh Bu, boleh. Bapak ada di kantornya. Ibu langsung masuk saja," jawab seorang yang duduk di sebelah orang tadi.
"Siapa toh?" tanya orang ini masih penasaran.
"Saya Bu Ratna, istrinya Pak Aji. Mau ngantar makan malam buat Bapak," kata Ratna menjelaskan.
"Uwaduh Bu, maaf saya tidak tahu. Maaf bener Bu saya orang baru soalnya jadi belum paham siapa-siapanya."
"Tidak apa-apa, saya maklum. Kalau begitu saya permisi."
Ratna lalu pamit untuk menuju ke kantor Tama. Selama berjalan menyusuri lorong, beberapa orang yang ia temui memberikan salam padanya dengan begitu sopan. Tidak peduli pada pangkat Tama, Ratna tetap menjawab semua sapaan itu dengan sopan. Sesampainya di depan ruangan Tama, dia langsung mengetuk pintunya.
"Silahkan masuk," jawab sebuah suara dari dalam.
"Permisi, mau bertemu dengan Bapak Aji. Apakah beliau ada?" tanya Ratna.
"Tidak ada Pak Aji di sini, adanya Pak Tama. Gimana, mau tetep nyari Pak Aji atau mau ketemu saya saja?" tanya Tama masih tetap duduk di mejanya.
Model ruang kerja Aji ini bukan satu ruangan hanya untuk dia sendiri. Modelnya tidak berbeda jauh dengan ruang kerja Ratna di rumah sakit. Terdiri dari beberapa meja yang disusun berjejer, dan satu set meja kursi juga pantry kecil-kecilan di sisi kanan. Mendapatkan kalimat lucu semacam itu sebenarnya sudah hal biasa untuk Ratna, tapi dia tetap saja malu karena mendapati jika Tama tidak sendirian. Di sana juga ada Pak Leo, Pak Slamet, Pak Sabar, dan Nesya.
__ADS_1
"Eh ada Mbak Ratna, masuk mbak silahkan," sapa Nesya.
"Terima kasih," jawab Ratna sopan.
"Sya, kamu tahu nggak yang lebih ekstrem dari dapat lemparan granat?" tanya Pak Slamet.
"Apa tuh?"
"Lihat Aji lagi sama istrinya. Ekstrem kan buat jomblo kaya kamu," kata Pak Slamet lagi diikuti gelak tawa dari Pak Leo dan Pak Sabar juga.
"Emang Pak, nancep banget sakitnya sampe ke jantung," jawab Nesya.
"Weh Pak, kemarin saya lihat Nesya berduaan lho sama anak baru. Kayanya bentar lagi kita dapet undangan nih," goda Tama.
"Ah Bang Aji kumat kan," kata Nesya.
"Mbak. Tak kasih rahasia mau nggak?" lanjutnya.
"Apa?" tanya Ratna.
"Suamimu selingkuh Mbak," kata Nesya membuat Tama yang sedang minum kopi tersedak kaget begitu pula dengan seisi ruangan.
"Heh. Mana pernah aku selingkuh, gila ya kamu!" kata Tama cepat-cepat mengoreksi.
"Selingkuh Sya? Sama siapa? Sini cerita," kata Ratna.
"Hmm, mati kau Aji," kata Pak Sabar.
"Aku pernah mergoki Bang Aji sayang-sayangan di telepon. Tapi aku nggak tahu sama siapa, soalnya nama kontaknya aneh," kata Nesya.
"Memangnya nama kontaknya siapa?" tanya Ratna memastikan.
"Microwave apa ya kalau nggak salah. Nggak jelas juga fotonya soalnya ke tutup kertas tapi kayanya cantik deh. Dari suaranya sih cantik banget, tapi agak manja gitu," kata Nesya begitu polos tanpa sadar dia sedang membicarakan siapa.
Ratna tidak merespon. Dia hanya memasang wajah datar ke arah Tama yang mulai salah tingkah. Jadi ketahuan kan dia menyimpan kontak Ratna dengan nama apa.
"Yang bener bukan microwave Sya, tapi mikrowife. Nih orangnya di sini," kata Tama sambil menunjuk pada Ratna yang masih mempertahankan wajah datarnya.
Tawa langsung pecah begitu saja. Nesya semakin malu mengetahui fakta jika yang ketika itu dia pergoki sebenarnya bukan Tama sedang teleponan bersama selingkuhannya, tapi Tama bersama istrinya. Tama juga akhirnya memperlihatkan kontak Ratna di handphonenya pada seluruh isi ruangan, tak lupa juga menjelaskan pada Ratna agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Mana berani aku selingkuh dek? Wong istri satu udah kaya singa betina gini," gumam Tamapada kalimat terakhirnya.
"Ha?"
"Ha? Apa? Nggak kok nggak. Kamu cantik," kata Tama sambil tersenyum kikuk.
"Memang. Udah sana masuk lagi, selesain kerjaannya Mas. Habis itu pulang ya, besok kan mau ngantar Ibu sama Sasa ke bandara sekalian nganter aku ke rumah sakit."
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya," kata Tama sebelum Ratna berlalu pergi dengan motornya.
__ADS_1