
Tama segera pergi ke rumah menjemput Ratna dan Aksa yang sudah siap untuk berangkat. Perjalanan dari rumah ke rumah sakit tidak pernah memakan banyak waktu, jadi Tama bisa bersantai. Toh dia sudah mendaftar sejak kemarin jadi antriannya tidak akan panjang. Walaupun sebenarnya Ratna bisa saja memakai fasilitas pegawainya agar tidak perlu antri tapi Ratna bilang dia kasihan pada ibu-ibu lain yang sudah pergi sejak pagi hari dan harus duduk mengantri di ruang tunggu yang lumayan pengap karena banyak orang.
Tama memarkir mobilnya di tempat yang tidak jauh dari pintu masuk. Cuaca sedang panas, dan alhasil Aksara jadi berkeringat banyak karena kepanasan padahal AC sudah cukup dingin. Dia sepertinya agak terganggu dengan keramaian yang ada karena terbiasa dengan rumah yang tenang. "Ayah tolong dong botol susunya Aksa," kata Ratna yang tidak sanggup duduk karena ketika dia duduk, Aksa akan kembali menangis.
Aksa baru bisa tenang setelah dia meminum susunya. Untung dia tidak rewel terlalu lama, jadi dia bisa segera diimunisasi tanpa harus ditunda. Tama ingin mencoba menggendong Aksa ketika dia akan diberi imunisasi jadi sekarang Ratna hanya duduk tenang melihat Tama sedikit tegang memegangi putranya. Ketika jarum itu menembus kulitnya, dia tidak menangis, tapi begitu kapas beralkohol menyentuh kulitnya dia langsung meraung. Tama langsung berdiri, masih sambil memegangi kapas itu di paha Aksa. Ratna sedang mendengarkan penjelasan dokter sedangkan Tama terus menimang Aksa yang masih menangis dalam gendongannya.
Karena tidak tega, Ratna akhirnya meminta Aksa dan setelah didekap olehnya dia langsung diam. Tama dan Ratna sedang berada di kantin rumah sakit untuk makan siang sembari menunggu jadwalnya bertemu dengan dokter yang menangani Ratna selama ini. Dia harus check up kondisi paru-parunya pasca melahirkan agar dia tahu apakah dia masih bisa beraktivitas secara normal atau tidak.
"Aksara ngambek ya sama Ayah? Maaf ya, kan kamu diimunisasi biar kamu sehat. Nggak papa sakit sedikit ya," kata Ratna sambil mencium Aksara yang sudah mulai tenang kembali.
Aksara sesekali berkedip sambil terus memandangi Ratna yang mulai fokus pada makanannya. Perkembangan tubuh Aksara baik, berat badannya juga naik. Intinya Aksara dinyatakan sehat dan hal itu membuat kedua orang tuanya lega. Apalagi Ratna yang masih bingung harus bagaimana memperlakukan Aksara dengan baik.
"Mas tahu nggak? Aku tuh dokter. Jelas tahu tentang kesehatan, tapi kenapa kalau urusannya sama Aksara aku selalu takut ya?" curhat Ratna.
"Bukan takut kali, kamu cuma berhati-hati. Naluri keibuanmu lagi meledak-ledak makanya apapun yang berhubungan sama Aksara kamu merasa ragu dan takut," jawab Tama.
"Emangnya Mas nggak ngerasa gitu?"
"Ngerasa juga sih, Mas kadang takut misalkan mau gendong takut dia nggak nyaman, takut dia kenapa-napa. Namanya juga baru pertama kali. Wajar nggak sih? Semua yang baru kita pelajari akan terasa asing dan sulit. Tapi kan kamu berjuang nggak sendirian, Mas akan ada sama kamu," kata Tama.
"Makasih ya Mas, sudah jadi Ayah yang baik buat Aksara," kata Ratna.
"Makasih juga sudah jadi Bunda yang baik buat Aksara," kata Tama.
Tama segera kembali ke kantor setelah memastikan Ratna berada aman di rumah dan sudah bertemu dengan Mama. Tadinya Mama akan pulang sore ini, tapi setelah Ratna meminta Mama di sini sampai Ratna mendapatkan pengasuh akhirnya Mama mengiyakan. Begitu Mama bilang iya, Tama langsung memesankan tiket untuk Mama dengan jadwal keberangkatan pada hari Sabtu. Dengan alasan Tama ingin mengajak Mama belanja oleh-oleh dulu sebelum pulang. Katanya Teh Rizka yang pesan, padahal itu ada-adanya Tama saja menawari tetehnya mau dibawakan apa.
"Halo cucu nenek yang habis imunisasi, uhh pinternya," kata Mama meminta Aksa dari gendongan Ibunya.
"Rewel nggak tadi?" tanya Mama pada Ratna yang sedang berdiri di depan dispenser.
__ADS_1
"Sempat rewel sih, kaget kayanya sama suasana ramai. Tapi alhamdulillah setelah itu nggak," jawab Ratna.
"Terus kalau soal kondisi kamu? Dokter bilang gimana?"
"Baik kok Ma, alhamdulillah. Aku bisa balik kerja normal lagi, tapi tetep harus bawa obat kemana-mana," kata Ratna.
"Kenapa kamu nggak berhenti kerja aja Rat? Kamu fokus aja ngurus anak kamu di rumah. Daripada kamu pusing cari pengasuh kan lebih baik kalau kamu sendiri yang merawat dan membesarkan dia," kata Mama.
Ratna sudah menduga jika cepat atau lambat akan ada yang memintanya untuk berhenti. Padahal Ratna sudah sepakat dengan Tama tentang hal ini. Tidak masalah Ratna menggunakan bantuan pengasuh untuk membantunya mengurus Aksa, selama Ratna bisa meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk Aksara di sela kesibukannya.
"Tama juga pasti seneng kalau kamu memilih untuk di rumah fokus sama keluarga. Kamu kan perempuan Ratna, buat apa juga kamu kerja banting tulang. Toh semua kebutuhanmu sudah dicukupi sama suamimu."
"Maaf Ma, kayanya kalau soal itu biar jadi keputusanku sama Mas Tama aja deh. Aku akan ikuti semua keputusannya. Andai Mas minta Ratna untuk berhenti Ratna akan berhenti, tapi selama Mas masih kasih izin ke Ratna, Ratna akan tetap kerja," kata Ratna yang kini mulai berani menjawab kata-kata Mama mertuanya.
...***...
Ratna sedang termenung memandangi Aksara yang masih terus menyusu padanya. Dia terlihat tenang jika sedang berada dalam dekapan Ratna. Jujur sebenarnya keputusan Ratna untuk meminta bantuan pengasuh juga berat dia ambil. Perkara anak dan sumpahnya sebagai dokter agaknya tidak bisa dibandingkan. Dua hal itu adalah dua hal yang berbeda. Dia memang sudah besumpah akan menjaga Aksara dengan segenap hatinya tapi di luar sana, banyak juga orang yang membutuhkan bantuannya. Di satu sisi dia tidak ingin mengorbankan Aksara tapi dia juga tidak sanggup melanggar sumpah profesinya.
Ketika itulah Tama pulang. Setelah mencuci tangan dan membasuh wajahnya, dia segera masuk ke dalam kamar untuk menyapa Ratna dan Aksara. Tama masih tersenyum ketika berjalan mendekat, tapi begitu dia melihat raut sedih di wajah istrinya dia langsung terdiam.
"Assalamualaikum," kata Tama pada istrinya.
"Waalaikumsalam, maaf aku nggak ngeh kamu pulang," kata Ratna yang sedang menerima kecupan Tama di dahinya.
Tama lebih dulu menutup pintu kamarnya baru duduk kembali di hadapan Ratna. Jari telunjuknya dia arahkan pada tangan mungil Aksa dan langsung menggenggamnya dengan erat. Tama tersenyum melihat jari-jari mungil itu melingkari telunjuknya.
"Bunda, kamu sedih kenapa? Cerita dong," kata Tama pada Ratna.
"Mas, apa keputusanku buat kerja lagi itu salah ya?" tanya Ratna.
__ADS_1
Tama lebih dulu menggeleng. Dia mencoba meminta Aksara dari dekapan Ibunya dan dengan pelan dia tidurkan putranya itu di dalam box bayi. Memastikannya hangat dibalik selimut baru dia kembali fokus pada Ratna.
"Mas jujur dong, kamu lebih suka istrimu di rumah aja jaga anak atau kerja?" tanya Ratna.
Tama menggenggam kedua tangan Ratna kemudian mulai bicara, "Yang manapun jadi keputusanmu Mas akan mendukung. Ratna, seorang istri yang fokus pada keluarganya dan berdiam diri di rumah itu baik. Kamu bisa memastikan semua yang diterima oleh suami dan anakmu adalah yang terbaik dari kamu sendiri. Tapi apa iya kamu betah? Apa iya kamu nggak akan stres? Duniamu bukan hanya di sini, Mas paham, menjadi seorang dokter itu bukan cuma sekedar ambisimu. Itulah duniamu. Kamu saja bisa menerima Mas yang terkadang harus pergi selama berbulan-bulan ninggalin kamu seorang diri di rumah. Masa iya kamu cuma minta satu hal ini Mas nggak kasih?" kata Tama dengan penuh pengertian.
"Mas, tapi kalau dipikir-pikir memang benar. Anak sekecil Aksara pasti akan butuh aku selalu ada di sampingnya," kata Ratna.
"Aksara pasti akan butuh Ayah Bundanya selalu ada disampingnya. Tapi apakah akan seperti itu terus selamanya? Nggak kan? Aksara juga harus belajar jika kedua orang tuanya akan selalu menyayangi dia bagaimanapun caranya. Lagi pula kebanggaan memiliki seorang ibu sehebat dirimu itu akan selalu dia bawa sampai kapanpun. Ketika namamu terpampang dalam jajaran dokter perintis rumah sakit kanker pertama di Jogja, bukan hanya kamu yang bangga. Tapi aku, Aksara, keluargamu, dan semua orang yang menyayangimu akan ikut bangga."
"Mas kok tahu soal itu?"
Tama tertawa, "Kamu lupa? Sahabat-sahabatmu itu sering laporan habis ngapain aja sama kamu. Bukan cuma kamu sama Theo, tapi Jay juga bilang dia akan ambil kesempatan itu. Dia ditantang sama ayahnya untuk merintis rumah sakit itu dan dia menyanggupinya karena tahu akan ada kamu sama Theo disebelahnya," kata Tama.
"Kok aku malah nggak tahu kalau ide itu karena tantangan dari Ayahnya Jay sih? Kok Mas lebih tahu sih? Ih jahat ah," kata Ratna melepaskan tautan tangannya.
"Ratnaku sayang, Bundanya Aksara, jangan ngambek dong. Cantiknya hilang tuh," kata Tama gemas sendiri pada istrinya.
"Mbuh. Mandi sana, keringetmu bau tahu," kata Ratna.
"Mandi bareng yuk. Kamu sudah bersih belum?" tanya Tama.
"Mas..., jangan aneh-aneh ya please."
"Nggak akan aneh-aneh kok," kata Tama. Dia mencondongkan tubuhnya agar mulutnya ada tepat disebelah telinga kanan Ratna, "Janji," lanjutnya sambil berbisik.
"Nanti aja ah, kamu mandi dulu deh. Aku mau minta Mama potongin rambutku, jadi kamunya nanti aja ya," kata Ratna.
"Dek, rambutmu udah pendek. Mau kamu pendekin seberapa lagi?"
__ADS_1
"Arep tak plontos," kata Ratna sambil melangkah keluar dari kamar minggalkan Tama yang masih kaget.
"Gemblung. Dek aja nekat," kata Tama.