
Masalah dengan Bagas dan Zahra telah usai, saat ini hanya tinggal masalahnya dengan Ratna yang selalu menolak makan. Tama hampir saja termakan emosi ketika Ratna lagi-lagi menolak ketika akan dia suapi makan.
"Dek, kalau kamu nggak makan gimana kamu mau sehat? Ayo dong makan dikit aja. Katanya mau pindah ke Jogja. Administrasinya Mas sudah diurus lho. Paling lama 3 minggu udah kelar. Kamu kalau nggak sehat tak tinggal," kata Tama persis seperti membujuk anak kecil untuk makan.
"Nggak mau ngunyah," kata Ratna kembali mencoba menjauhkan sendok berisi nasi yang sudah siap didepan mulutnya.
"Tak kunyahin ya. Kamu tinggal nelen mau?" tawar Tama yang sudah kehabisan akal.
"Ih jorok ah," kata Ratna.
"Yaudah makanya dimakan ini buka mulutnya," kali ini Tama mulai memaksa.
"Nggak mau."
"Adiratna."
"Nggak."
"Janji deh habis ini dibeliin donat. Tapi habisin dulu ini makannya," akhirnya Tama menggunakan kartu As-nya.
"Separuh aja," tawar Ratna dengan pelan.
"Yaudah separuh habis kubeliin donat coklat kacang. Nih A...."
Tama berhasil menyuapi Ratna walaupun dia lihat Ratna beberapa kali mengernyit karena menahan mual. Dokter bilang keguguran tidak membuat morning sicknessnya hilang begitu saja karena perubahan tubuh yang tiba-tiba itu malah akan membuat kondisi hormonalnya semakin naik dan turun.
Selesai menyuapi Ratna, Tama membantu Ratna mengembalikan posisinya kemudian berpamitan. Bagaimanapun juga Tama masih harus berangkat kerja. Dia juga harus mengurus kedatangan para bintara yang baru kembali dari pelatihan di Watukosek. Tama yang akan memimpin upacara penyambutan bersama dengan para Danki juga Danton. Ketika para Bintara sedang diminta merangkak dari pintu gerbang menuju ke lapangan upacara, Tama memantaunya dari belakang. Dia juga ikut menyemangati junior-juniornya itu mendampingi Pak Slamet selaku komandan satuan dan Pak Leo yang merupakan komandan batalyon.
"Yang bener itu merayapnya."
"Ayo cepet kejar itu kawanmu di depan."
Markas tiba-tiba saja ramai karena para senior sedang menggembleng mental junior mereka. Beberapa bintara senior juga tidak segan memberi hukuman pada mereka juniornya yang tidak menurut pada perintah. Sedangkan di lapangan, Komandan sudah menunggu semua bintara sampai di lapangan untuk memberikan arahan sebelum menjalani upacara penerimaan. Wejangan-wejangan disampaikan oleh Pak Slamet bukan hanya kepada para junior tapi juga pada para senior agar mau mengajari budaya-budaya brimob pada junior mereka.
...***...
Sekitar jam makan siang, Tama pamit pada komandannya untuk menjemput Ratna di rumah sakit. Tadi pagi dokter sudah memperbolehkan Ratna kembali ke rumah jadi Tama tidak mau buang-buang waktu karena dia sendiri juga sudah tidak betah harus bolak balik ke rumah sakit terus menerus. Karena Tama sudah janji pada Ratna akan membelikannya donat, dia mampir dulu ke toko roti langganan Ratna dan membeli 3 potong donat coklat kacang, coklat vanilla, dan chocobomb. Tama juga membeli satu box donat mini berbagai varian untuk cadangan kalau-kalau dia juga mau, karena sering kali Tama berakhir pengen juga ketika melihat Ratna begitu menikmati menggigit donat tapi yang namanya Adiratna kalau sudah bilang donat itu milik dia mana ada yang bisa mengusiknya.
"Mas jadi beliin donat?"
__ADS_1
Nah kan, Ratna langsung menagih janji suaminya begitu melihat Tama melangkah masuk ke dalam bangsal.
"Jadi. Mas tinggal di mobil tuh, ya kali Mas tenteng sampai sini. Nanti yang bawain tas kamu siapa dong," kata Tama.
"Ih kok ditinggal di mobil nanti leleh," protes Ratna.
"Nggak sayangku. Makanya ayo cepetan pulang. Udah nggak betah kan di rumah sakit," ajak Tama.
"Emang administrasinya udah beres?"
"Udah. Tinggal bawa kamu pulang. Yuk, mau dipapah aja atau pakai kursi roda?" tanya Tama.
"Jalan aja."
"Yaudah yuk. Mana sini tasnya Mas yang bawain."
Ketika masuk kesatrian, beberapa anak buah Tama yang sedang piket jaga menyapa Ratna yang sengaja membuka kaca jendela, "Selamat Ibu sudah sehat," sapa mereka.
"Terima kasih," balas Ratna.
Begitu sampai di rumah, Tama yang tidak sabaran akhirnya menggendong Ratna masuk ke dalam rumah. Tadinya dia akan menurunkan Ratna di kamar, tapi dia memprotes itu. Dia memilih untuk duduk di ruang tengah dengan alasan dia lelah rebahan terus, padahal Tama tahu kalau kepala Ratna masih terasa berat.
"Tolong masukin kulkas dulu ajalah Mas, makan sama Mas nanti malem. Aku belum laper," kata Ratna yang memilih merebahkan diri di sofa dan memakai bantal tipis tanpa sarung untuk sandaran kepala.
"Dek, kalau mau tidur di kamar sekalian yuk. Mumpung Mas masih di rumah, nanti kalau Mas sudah balik ke kantor kamu nggak ada yang bantuin lho."
"Pengap Mas di kamar mulu," kata Ratna.
"Yakin mau tidur sini?"
"Yakin."
"Yaudah istirahat ya, ini hp kamu kutaruh meja. Kalau ada apa-apa telpon Mas ya, Mas balik kantor dulu," kata Tama.
Seperti biasa, sebelum pergi Ratna akan mencium tangan suaminya, kemudian Tama membalasnya dengan mencium kening Ratna. Tama kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya dan setidaknya mengajarkan banyak hal pada Nesya yang katanya akan menggantikan posisi dia di kesatuan. Mulai bulan depan, Tama sudah harus melapor untuk bertugas di polda DIY jadi sebisa mungkin dia habiskan waktunya untuk mengajari junior-juniornya. Tama juga tidak segan memberikan saran dan tips pada para perwira muda yang ditugaskan kemari sejak beberapa minggu lalu.
"Eh bentar Bang. Ini surat undangan untukmu dan Mbak Ratna. Masih sempat datang kan?"
"Tanggal berapa memangnya?"
__ADS_1
"Tanggal 20."
"Insyaallah. Kalau Ratna masih di sini nanti kuajak," kata Tama.
"Memangnya Mbak Ratna mau balik duluan?"
"Ya nggak duluan sih bareng, tapi dia kan harus cari kerja juga di sana. Masih harus nyari rumah juga aku. Bolak-balik lah paling," kata Tama.
"Ciee yang mau pindah kerja. Selamat ya Bang yang mau pulang kampung," kata Nesya.
"Makasih. Semoga bahagia dan langgeng sampe kakek nenek sama Yudha. Jangan kau nakali dia. Kasihan ciut mental dia dengar bentakanmu," kata Tama menggoda.
"Apa sih. Nyebelin."
Satu hari terlewat begitu saja. Tama sengaja mencoret satu per satu tanggalan di dinding agar dia tidak lupa hari. Karena menurutnya hari pindahannya akan menjadi hari bersejarah dan patut dinantikan. Ratna juga sudah tidak sabar. Dia ingin sekali naik kapal feri. Karena belum pernah katanya. Tama memang tidak pernah mengajaknya menggunakan kapal laut ketika akan pulang-pergi karena selain harganya tidak jauh berbeda, menggunakan transpotasi udara jauh lebih cepat.
Ketika Tama pulang dari kantor malam ini, dia melihat Ratna sedang heboh mengemasi banyak barang. Dia mengemasi buku-buku pelajaran serta semua peralatan kedokterannya ke dalam satu kardus besar. Tama dan Ratna sudah sepakat akan memaketkan semuanya minggu depan jadi mereka tidak perlu bawa terlalu banyak. Kasihan si Brian keberatan. Tama dengan sigap membantunya. Ratna ini baru saja sehat tapi sudah beres-beres dan kerja berat begini, membuat khawatir Tama saja.
"Mas," panggil Ratna.
"Pengen makan pake apa?" tanya Ratna.
"Mau jajan di luar nggak? Beli kwetiau yuk, atau apapun deh yang kamu mau," kata Tama.
"Beli dibawa pulang aja gimana Mas? Males keluar," kata Ratna.
"Bisa. Mas beliin ya. Mau makan apa?"
"Kwetiau goreng aja sama isiin galon Mas, tuh kamu lupa isi galon," kata Ratna.
"Astagfirullah, maaf Dek Mas lupa. Lha terus seharian kamu minum apa?"
"Rebus air," jawab Ratna enteng.
"Yaudah Mas beliin sekalian sama kwetiau pesenanmu. Ada lagi nggak?"
"Udah ah, aku nggak mau jajan masih punya donat," kata Ratna.
Kalau sudah punya donat mana mau Ratna jajan yang lain lagi. Sudah untung dia masih mau makan malam. Tama jadi tidak perlu lagi membujuk untuk makan seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1