Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
11. Betah


__ADS_3

Pagi ini sholat subuh di-imam-i oleh Bapak. Selesai sholat subuh Bapak dan Tama duduk-duduk di teras sedangkan Ibu dan Ratna mencuci di belakang. Selesai mencuci Ratna lebih dulu menuju ke dapur sedangkan Ibu menjemur semua cucian mereka di belakang.


"Bu, ini seragam Mas dihanger di pinggir aja. Kalau kena sinar matahari langsung takut pudar warnanya," kata Ratna.


"Iyo wis kana ke dapur dulu nanti Ibu nyusul," jawab Ibu.


"Ibu mau makan pake apa?" Ratna bertanya lagi.


"Mending kamu tanya Bapakmu sama suamimu mau makan apa. Ibu manut," kata Ibu.


Ratna kemudian melangkah keluar menemui Tama dan Bapak yang asik mengobrol di depan berdua, "Mas, Bapak, mau makan apa?" tanya Ratna.


"Manut," kompak Tama dan Bapak.


Karena ditanya hanya manut-manut akhirnya Ratna memutuskan untuk buat oseng kacang saja dicampur tempe. Untuk lauknya Ratna membuat telur dadar. Waktu beberapa bulan sudah cukup untuk Ratna belajar skill memasak dengan dua kompor menyala sekaligus. Dia terlihat terampil membolak-balik sayur di wajan sambil menggoreng telur di frypan. Sudah begitu Ratna masih sempat untuk membuat air lemon.


"Ibu sama Bapak mau juga nggak air lemon?" tanya Ratna.


"Ibu aja sini, Bapak nggak usah. Nggak doyan kecut kok."


Ratna meraih 1 buah lemon dari dalam kulkas, lalu memotongnya menjadi dua. Separuh dia iris tipis-tipis, separuh lagi ia peras. Ratna kemudian membagi potongan dan air lemon itu ke dalam 3 gelas bening berukuran sedang.


Baru dia menata makanan di atas meja makan, Tama berlari masuk ke dalam kamar. Bapak dan Ibu sedikit kaget, tapi untuk Ratna hal semacam ini lumrah dia alami. Mendapatkan panggilan darurat adalah hal yang wajar dan sering dilalui oleh pasangan ini. Entah Tama entah Ratna yang mendapatkan panggilan, tapi sering kali moment mereka terganggu.

__ADS_1


"Mas, ada apa?" tanya Ratna melihat Tama segera meraih seragamnya dan mengganti pakaian begitu saja.


"Panggilan, Dek. Maaf Mas belum bisa cerita sekarang tapi kamu hati-hati ya," kata Tama.


"Darurat banget Mas?"


"Hmm..., Mas langsung berangkat ya," kata Tama sebelum mencium kening Ratna lalu meraih knop pintu kamar.


"Pak, Bu, maaf saya tinggal dulu, assalamualaikum," pamit Tama.


"Waalaikumsalam...," jawab seisi rumah kecuali Tama yang sudah berada di ambang pintu keluar.


Bapak melihat Ratna berjalan ke arah meja makan lalu menenggak segelas air lemon yang seharusnya milik Tama begitu saja. Ratna terlihat tidak terganggu padahal Bapak dan Ibu sudah cukup khawatir karena takut ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.


"Tapi bener to kamu betah? Jujur mumpung nggak ada Tama, Ibu pengen tahu kondisimu yang sebenernya," kata Ibu.


"Persis kaya yang aku bilang kemarin. Betah nggak betah. Kalau di lingkungan kesatrian sih biasa aja. Orang-orangnya baik, mungkin karena bawaan senasib sepenanggungan juga sih. Yang agak sulit ketika keluar dari area kepolisian. Yang tinggal di sini itu bukan cuma orang Jawa, orang Dayak, orang Banjar, orang dari mana aja banyak semua nyampur jadi satu dan rata-rata bawa budaya masing-masing. Mas Tama kemarin juga cerita kan, iya aku nangis waktu ditilang."


"Kok bisa toh Mbak? Bukane kamu itu bukan tipe yang gampang nangis kok cuma ditilang nangis tuh kamu diapain?" kali ini Bapak yang tanya.


"La siapa yang nggak sakit hati Pak dikatain kaya gitu. Polisinya tuh ngata-ngatain gara-gara lihat ID anggota bhayangkari punyaku. Beliaunya bilang macem-macem padahal SIM ku mati belum ada 1 bulan. Itu kejadian pas awal-awal aku pindah ke sini. Ngurus administrasi pernikahan sama pindahan aja ribetnya setengah mati sampai nggak sadar SIM ku mati."


"Yang sabar nduk, namanya hidup di masyarakat. Nggak semua orang baik, nggak semua orang sesuai sama ekspektasi kita. Tapi Tama baik bener toh sama kamu? Dia nggak kasar kan?"

__ADS_1


"Ndak Bu, Mas Tama baik banget. Insyaallah Mas Tama nggak pernah bikin aku sakit hati. Walaupun di luar sana kerjaan Mas Tama itu berat tapi nggak pernah di bawa pulang ke rumah. Nggak tahu kok bisa aku juga heran. Tapi asli deh Mas Tama baik banget, nggak nyesel aku."


"Alhamdulillah nek ngono. Njuk masalah punya anak gimana? Udah mau setahun kok nggak ada kabar, kalian nunda?"


"Nggak cuma nunda deh Bu kayanya. Kita lebih ke arah nggak akan mengusahakan. Pernikahan ini ya cuma antara aku sama Mas Tama. Lihat dari pekerjaanku sama Mas juga nggak mendukung untuk bisa punya anak. Maaf ya Bu, aku nggak bisa kasih Ibu cucu," kata Ratna.


"Hus ya aja ngomong ngono. Kehendak Allah siapa yang tahu. Wis pokoke rasah mikir sing aneh-aneh. Urip dilakoni kanthi donga lan laku, insyaallah nek wis rejekine yo teko dewe," kata Bapak menasihati anak sulungnya.


"Na, tapi Tama anak tunggal lho..., Ibuke Tama setuju sama keputusanmu berdua?"


"Kalau Mama tahu kemungkinan nggak akan setuju Bu, tapi kan ini pernikahan Mas Tama sama Ratna yang menjalani, kalau memang kita terbeban buat apa dilakukan. Nggak tahu lah, kebetulan prinsipku sama Mas itu sama, kalau dikasih alhamdulillah dijaga kalau nggak yasudah nggak akan kecewa."


"Nek suatu saat kamu hamil kok kerepotan ngurusnya, kamu titipin ke Bapak Ibu nggak papa. Atau ke Mamamu, aku yakin Ibunya Tama nggak keberatan digondeli cucu," kata Ibu diangguki oleh Ratna yang merasa dikuatkan.


"Bapak sama Ibu itu ngelepas kamu buat hidup sama suamimu, tapi kamu tetep anaknya Bapak sama Ibu. Kalau ada apa-apa cerita. Jangan memaksa buat dewasa kalau kamu memang belum sanggup. Umurmu baru 24. Suamimu boleh saja lebih tua, tapi kamu jangan mencoba buat menyamakan diri. Mentalmu sing kalah, Mbak."


"Iya Pak pasti. Oiya Bapak sama Ibu tahu nggak? Mas tuh kalau sama Ratna ngemong banget. Kadang kan sifat anak-anakku suka lepas nggak sengaja lah apalagi kalau lagi moody, Mas tuh sabaaaaaar banget ngadepinnya," kata Ratna.


Ratna terus bercerita panjang lebar tentang dia dan suaminya. Jika bukan karena Ibu mengingatkan Ratna harus segera berangkat mungkin Ratna masih akan bercerita panjang lebar tanpa lelah. Bapak dan Ibu senang mendengarnya, rasa ragu dan kekhawatiran akhirnya terhapus sudah melihat Ratna dan suaminya baik-baik saja di sini.


Orang bilang, tahun pertama pernikahan adalah tahun yang sulit dilalui oleh sepasang suami istri yang baru menjajaki kehidupan baru, tapi nyatanya Tama dan Ratna tidak kesulitan melaluinya. Dengan segala usaha Tama, juga segala pengabdian Ratna mereka bisa menjalankan bahtera rumah tangga mereka perlahan demi perlahan menuju ke tengah lautan luas hingga suatu saat nanti mereka akan sampai di tujuan.


Pernikahan mereka memang terkesan buru-buru bahkan sampai ada yang mengira Ratna hamil di luar nikah, tapi mereka bahagia. Ratna dan Tama sama-sama sepakat untuk saling belajar, saling mengoreksi satu sama lain dan saling mengingatkan. Sepelenya seperti Ratna yang belajar menerima jika Tama tidur mendengkur, atau Tama yang legawa jika Ratna bangun kesiangan dan tidak sempat membuatkannya sarapan. Tama memahami jika pekerjaan Ratna menguras banyak waktunya untuk mempelajari ini dan itu. Sedangkan Ratna paham seberapa lelahnya Tama dengan semua pekerjaannya yang sangat berat.

__ADS_1


Terpaut usia 5 tahun tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa mengerti satu sama lain dengan baik. Ratna memang menikah di usia yang terbilang cukup muda. Tapi Ratna terus berusaha untuk bisa mengimbangi Tama, sedangkan Tama dengan segala pengertiannya akan terus berusaha sabar menghadapi tingkah anak-anak Ratna yang terkadang masih muncul. Tama tidak pernah berusaha memprotes karena dia sendiri sadar jika Ratna kehilangan masa mudanya tidak lain dan tidak bukan karena dirinya.


__ADS_2