Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
40. Teman baru


__ADS_3

Hari pertama Ratna berjalan dengan lancar. Sekarang dia hanya perlu mengemasi barangnya dan berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke pintu depan karena suaminya sudah menunggu di sana. Ratna mematikan laptopnya, memasukkannya ke dalam tas bersama pulpen dan semua perlengkapan lainnya. Ratna melepaskan snelinya kemudian dia gantung di dalam loker dengan name tag dr. Adiratna Sp. B.


"Bertahan Ratna, tinggal beberapa tahun lagi dan gelar itu akan tersemat di depan namamu," gumam Ratna yang masih memandangi name tagnya.


Ratna kemudian melangkah keluar menemui suaminya yang sudah menunggu. Begitu Ratna sampai di pintu depan, sebuah mobil berwarna merah langsung mendekatinya. Kaca pintu kiri perlahan terbuka menampakkan wajah suaminya yang sedang tersenyum. Dia sudah tidak memakai seragam, seniat itu dia ingin mengajak Ratna jalan-jalan dengan santai malam ini. Tama bilang dia ingin merayakan keberhasilan Ratna.


"Mas, boleh minta anterin bentar nggak?" tanya Ratna setelah dia masuk ke dalam mobil dan menutup kembali kaca jendelanya.


"Ke mana?"


"Ke toko alat kesehatan. Stetoskopku rusak, aku juga mau beli peralatan buat latihan di rumah," kata Ratna.


"Dek kamu nggak langsung merencanakan S3 kan?" tanya Tama.


"Nggak lah Mas, nabung dulu. Yang biaya pendidikan kemarin aja belum sempat balik modal ya kali udah mau nambah-nambahin beban. Aku mau menikmati hidup dulu sebentar, sebelum kamu beneran masuk densus dan akhirnya hidup kita lebih terikat lagi," kata Ratna.


"Tapi bener kan kamu nggak keberatan kalau Mas masuk densus?"


"Beneran Mas Tama, kan kita sudah janji. Kita akan mendukung mimpi satu sama lain," kata Ratna membuat Tama tersenyum bahagia. Bersyukur dia bisa memiliki Ratna sebagai seorang istri, seorang teman yang akan mendukungnya seumur hidup.


Tama pernah dengar, dibalik laki-laki yang sukses pasti ada sosok wanita hebat dibelakangnya. Sosok itu adalah Ratna istrinya. Dia yang tidak pernah mengeluhkan pekerjaan Tama, dia yang tidak pernah bertanya kemana Tama pergi bertugas ketika dia tidak pulang selama berhari-hari, dia bahkan tidak pernah protes ketika Tama memintanya untuk tetap hidup sederhana. Padahal jika Ratna tidak bersmaa Tama dia sudah menjadi wanita yang jauh lebih hebat sekarang. Mungkin Ratna sudah mampu membeli rumah dengan kolam ikan di halamannya, membeli mobil mewah impiannya, dan jalan-jalan ke luar negeri seperti mimpinya.


Ratna meletakkan semua itu hanya demi membersamai Tama yang datang ke rumah orang tuanya berbekal janji untuk membahagiakan dan menjaga tanpa ada jaminan yang pasti. Dia rela melepaskan semua keinginan duniawinya hanya demi ikut hidup bersama Tama. Hanya satu yang tidak ingin dia lepaskan. Ratna ingin sekali bisa menjadi seorang profesor dan mengajari calon-calon dokter. Dia ingin ilmunya bisa bermanfaat untuk banyak orang.


"Aku baru akan merencanakan langkah selanjutnya setelah posisi Mas sudah tetap. Takutnya nanti aku sudah mulai di sini eh ternyata Mas dipindah jauh," kata Ratna.


"Ya kemungkinan dipindah ke Balikpapan itu paling dekat. Kalau paling jauhnya ya bisa kemana aja. Dikirim ke luar pulau juga mungkin. Atau kalau beruntung Mas bisa kerja di Mabes. Intinya nggak akan di sini lagi," kata Tama.


"Padahal kamu baru jadi spesialis, baru aja rumah sakit seneng bisa punya dokter spesialis baru udah mau pindah aja kamunya," lanjut Tama.


Ratna tidak menjawab, dia hanya tertawa kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Dia melangkah turun setelah Tama selesai memarkir mobil. Ratna lebih dulu masuk ke dalam toko alat kesehatan sedangkan Tama mengikuti dibelakangnya. Ratna pernah bilang, kalau untuk keperluannya yang satu ini dia tidak mau Tama membantu. Apapun peralatan yang dia butuhkan untuk studi dia mau beli sendiri. Katanya sayang gajinya numpuk tidak terpakai. Tidak butuh waktu lama dia berada di sana, setelah membayar semua belanjaannya, Ratna dan Tama melangkah keluar dari toko.

__ADS_1


Sekali-kali Tama mengajak Ratna untuk dinner di sebuah family restoran. Mereka duduk di satu gazebo kecil dengan view sebuah kolam ikan besar yang memiliki air terjun buatan juga. Persis seperti yang Ratna pernah bilang dia inginkan ada di halaman rumahnya.


"Tempatnya bagus Mas," kata Ratna sambil memandangi kincir air yang terus berputar dibawah air terjun buatan itu.


"Kamu suka?"


"Banget," kata Ratna lagi.


"Dek, Mas udah pernah cerita belum kalau Mas punya satu rumah warisan dari Papa di Jogja?" tanya Tama.


"Pernah, kenapa tiba-tiba bahas itu?"


"Rumahnya kosong dek sekarang. Tadinya kan dikontrakin sama Mama tapi sudah satu tahun ini nggak ada yang nempati dan akhirnya mulai rusak sana sini. Mas tiba-tiba kepikiran aja pengen mewujudkan rumah impianmu di sana. Kita bangun dan kita jadikan rumah pensiun kita. Mau nggak?" tanya Tama.


"Boleh Mas, step by step kita bangun. Tapi aku bantuin ya, jangan semuanya Mas," kata Ratna.


"Tentu. Kita bangun bareng-bareng. Kita rencanakan semuanya, impian Mas dan impianmu," kata Tama.


"Rumah minimalis tanpa sekat impian Mas dan halaman luas impianku. Bayanginnya aja udah seneng banget aku Mas, semoga kita dikasih umur panjang ya. Hidup sampai menyelesaikan semua impian kita," kata Ratna.


"Dek."


"Hmm?"


"Hadap sana coba," kata Tama meminta Ratna memunggunginya.


"Kenapa?"


"Udah hadap sana dulu," kata Tama akhirnya membuat Ratna menoleh ke belakang.


Karena Ratna melakukannya tidak sesuai kemauan Tama, dia akhirnya membalikkan badan istrinya hingga sempurna menghadap ke belakang. Dia kemudian meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya. Mengeluarkan benda itu dari dalam kotak kecil berwarna hitam kemudian memakaikannya ke leher Ratna. Ratna sempat terkaget karena dia mengira Tama akan memeluknya dari belakang ketika kedua tangan itu melewati lehernya tapi ternyata tidak, suaminya itu hanya ingin memasangkan sesuatu di sana. Sebuah kalung emas dengan liontin kecil berbentuk daun maple.

__ADS_1


"Kamu bilang pengen ke Kanada untuk lihat daun maple berguguran kan? Aku belum bisa bawa kamu ke sana jadi aku cicil dalam bentuk kalung dulu ya," kata Tama.


"Ngomong-ngomong, happy birthday sayang. Maaf telat, Mas ngaku salah Mas baru ingat padahal sudah lewat 2 hari," kata Tama.


"Ahh Mas pinter banget sih bikin aku nangis, heran. Padahal nggak ngucapin juga nggak papa, nothing special ini di hari ulang tahunku," kata Ratna.


"Tapi kan kita nikahnya deketan sama ulang tahunmu, Dek. Nggak papa ya sekali-kali kita rayakan," kata Tama.


Ratna mengangguk kemudian mendekatkan duduknya hingga dia bisa memeluk suaminya. Andai dia tidak ingat dia sedang berada di area umum, dia pasti sudah mencium Tama yang tiba-tiba menjadi begitu romantis dengan memberikan semua ini pada Ratna hari ini.


Setelah selesai makan, Tama dan Ratna memutuskan untuk pulang. Mereka ingin melanjutkan obrolan mereka di rumah sambil nonton tv atau sekedar mendengarkan musik di kamar. Ratna tidak diizinkan mengikuti Tama ke kasir jadi dia menunggu saja di parkiran. Belum lama Ratna di sana, dia melihat seseorang dengan kursi roda keluar dari mobil. Kondisi sekitar gelap jadi Ratna harus menyipitkan matanya sebelum menyadari jika ternyata dia benar adalah Zahra teman barunya.


"Zahra?" panggil Ratna.


"Oh Ratna, hai. Sedang makan malam?"


"Ya, tapi sudah selesai. Aku sedang menunggu suamiku," kata Ratna.


"Oh iya perkenalkan dia suamiku, namanya Rangga. Mas dia ini Ratna, dokter yang tadi aku ceritakan," kata Zahra.


"Kenalkan saya Rangga," katanya sambil menjabat tangan Ratna.


"Saya Ratna, senang berkenalan dengan anda," kata Ratna.


"Yasudah Ratna sampai bertemu lagi besok lusa. Bye bye," pamit Zahra yang kembali menjalankan kursi rodanya dibantu oleh suaminya.


Melihat Zahra dengan suaminya rasanya akan menjadi pemandangan indah lainnya yang tidak akan pernah bosan dia kagumi. Melihat bagaimana laki-laki bernama Rangga itu memperlakukan istrinya, dia begitu mencintai istrinya sepenuh hati. Zahra pasti beruntung, seberuntung dirinya bisa memiliki Tama.


"Dek, ngalamunin apa?"


"Ha? Mas kapan datangnya?"

__ADS_1


"Belum lama. Kamu asik banget ngalamunnya, jadi mau pulang nggak?"


"Iya jadi," kata Ratna yang menyusul Tama untuk masuk ke dalam mobil.


__ADS_2