
Di sela-sela kesibukannya yang sudah mulai menggunung, Tama masih sanggup menyempatkan diri untuk mengantar Ratna dan Aksa ke rumah sakit. Hari ini Aksa memiliki jadwal imunisasi dan untuk Ratna ingin berkonsultasi pada dokternya sebelum mulai kembali bekerja.
Pagi ini Tama tidak memiliki agenda khusus selain apel dan rapat koordinasi dengan komandan. Tama sempat ditawari oleh komandan untuk kembali bertugas di gegana bersama teman lamanya. Dia bisa bergabung di satuan wanteror. Dia pernah bergabung dalam pasukan walet hitam itu. Sebenarnya untuk dapat bergabung dalam pasukan elit itu merupakan mimpi awalnya. Mimpi yang muncul sejak dia melihat sendiri bagaimana polisi begitu hebat mengusut kasus kematian Papa dulu. Dia ingin bergabung ke dalamnya dan ingin menuntaskan kasus itu hingga ke akar-akarnya.
Ketika tahun-tahun awalnya di Samarinda, dia berhasil bergabung dan menjadi salah seorang snipper yang bisa diandalkan. Walau dia adalah seorang perwira muda, dia lebih senang ikut terjun dalam misi dan tugas khusus bersama dengan anggota timnya dibanding hanya duduk diam di balik meja. Pengabdian Tama begitu besar pada mimpinya. Hingga suatu kejadian akhirnya membuatnya ragu untuk bergabung kembali sekarang.
Dulu, ketika Tama sedang bertugas dia pernah kehilangan putrinya. Dia kehilangan Baby Ji mutiaranya yang saat itu masih berada dalam kandungan ibunya. Trauma itu tanpa sadar selalu membekas dalam diri Tama dan membuatnya takut untuk melangkah. Bahkan ketika dia berhadapan dengan Bagas dan Zahra beberapa tahun silam, dia kembali hampir kehilangan istrinya.
"Maaf komandan, boleh saya mempertimbangkannya dulu?" tanya Tama pada Komandan Novan.
Novanto bukan hanya seorang komandan bagi Tama. Dulu dia adalah instruktur Tama ketika dia pertama kali bergabung dalam Brimob. Dia bukan hanya sekedar mengenal, melainkan paham. Dia paham betul bagaimana Pratama Aji ketika bertugas. Dia juga paham apa ambisinya. Novan pikir dengan memberikan posisi yang menjadi mimpi Aji dia akan senang, tapi responnya pagi ini membuat Novan menjadi bingung.
Di kesatuan hanya Cece yang tahu apa saja yang sudah dilalui oleh sahabatnya itu di tempat lamanya. Kenangan itu terlalu pahit untuk Tama, sehingga tidak sekecap pun dia katakan bagaimana masa lalunya. Semua orang mengira Tama dipindahkan semata-mata hanya karena posisi yang kosong, tapi setelah Cece menjelaskannya perlahan pada komandan Novan, perwira itu jadi mengerti.
"Saya tidak akan memaksanya. Memang benar, panggilan tugas itu tidak boleh dibantah. Tapi untuk kali ini, saya tidak mau mempermainkan mental pasukan saya. Aji, jika kau memang keberatan katakan terus terang sama saya," kata komandan Novan diangguki oleh Tama.
Selesai rapat dengan komandan, Cece mengajak Tama pergi ke kantin. Yah, sambil bersantai sedikit Cece juga ingin membalas traktiran dari Tama tempo hari sekalian untuk menghibur sahabatnya yang sedang bingung.
"Aksa apa kabar Ji?" tanya Cece.
"Baik, nanti jam 11 aku janji mau nemani dia imunisasi," kata Tama sambil melihat arloji yang selalu terpasang di pergelangan tangan kirinya.
"Ji, lo sekarang udah punya Aksara dan Ratna baik-baik aja. Nggak usah lah lo mikirin lagi masa lalu lo. Sindy juga udah mundur kan," kata Cece.
__ADS_1
Tama hanya bisa mengangguk kemudian menyeruput kopi pesanannya yang baru saja datang. Cece dan Tama sempat terdiam cukup lama hingga seseorang membuyarkan lamunannya.
"Bu, ini donatnya saya titip tapi nggak sebanyak kemarin nggak papa kan?" kata seorang gadis yang Tama tahu selalu menitipkan donat buatannya ke kantin ini. Tama terbilang sering membelinya untuk Ratna yang memang menyukai donat.
"Ar," panggil Tama.
"Eh ada Pak Aji, lagi ngopi Pak?"
"Iya, mumpung lagi santai," jawab Aji.
"Ar, boleh saya pesan donatmu selusin buat besok?" tanya Tama.
"Oh iya Pak boleh sekali, seperti biasa ya Pak? topping coklatnya 6, greentea 2, strawberry 2 sama gula halus 2," kata Arti yang sudah hapal dengan pesanan salah satu perwira polisi itu.
"Iya. Nih uangnya sekalian. Besok ngantarnya langsung ke rumah saja. Ada Ibu kok di rumah," kata Aji menyerahkan satu lembar uang 100 ribu.
"Bini lo masih doyan donat?" tanya Cece.
"Banget Ce. Waktu hamil lagi, sehari aja dia nggak makan donat, hari berikutnya nggak akan doyan makan dia. Badmood parah. Tapi toh istri gue nggak pernah minta aneh-aneh kok. Jujur gue masih nggak ngerti sama istri gue sendiri. Kenapa dia mau-maunya sama gue dan memilih untuk hidup sederhana, penuh pengabdian dan pengorbanan kaya gini. Padahal Ce, dia itu bisa melakukan segalanya. Dia dokter spesialis, lagi pendidikan subspesialis pula. Dibandingkan gue mah nggak ada apa-apanya. Semua kenyamanan yang gue punya pun dari dia semua," kata Tama langsung curhat dengan begitu lepas.
"Lo pikir bini gue nggak kaya gitu? Veronika itu Papanya punya cafe yang cabangnya udah kemana-mana. Dia yang sekarang pegang manajemennya. Dia sendiri kalo udah bilang lagi ngaudit keuangan habis itu banjir duit. Tapi apa pernah dia hambur-hambur? Nggak Ji, dia milih buat nyimpen itu semua demi bisa hidup sama gue. Kalau lo galau perkara gaji sih kayanya hampir semua yang di sini sama. Nggak sedikit yang punya fenomena gaji istri lebih gede dibanding gaji suami. Tapi, lo inget kan sumpah yang udah diambil istri lo waktu nerima lo? Dia akan hidup mengikuti gaya hidup lo. Ikut mengabdikan diri pada bangsa dan negara. Buat gue, istri kita itu hebat-hebat. Apapun yang mereka lakukan. Perjuangan mereka juga nggak kalah besar dari kita-kita," kata Cece.
"Bener banget sih, apalagi buat kita yang selalu maju paling depan. Nggak cuma Ratna, Vero, Lilis, dan bahkan semua istri abdi negara itu memang hebat. Banget. Tapi nih, gue jadi bingung kalau di rumah gue harus gimana. Lo tahu, istri gue itu manja, Ce. Dia seneng banget kalo gue peluk, dan gue manjain. Tapi ibu mertua gue nggak suka anaknya manja ke suami. Apalagi sekarang udah punya Aksara, jangankan manja. Baru Ratna mau sok imut aja udah dipelototin sama ibunya," kata Tama.
__ADS_1
"Rumah tangga tuh ya urusannya kalo nggak sama masalah finansial, pelakor, ya mertua. Bentar sorry ini agak sensitif tapi setau gue dia agama lo, kalo anak cewek udah nikah dia bukan lagi anak kedua orang tuanya kan? Artinya Ratna seutuhnya punya elo. Kalau gitu sah sah aja dong lo negur mertua lo," kata Cece.
"Iya sih Ce, tapi ini masalahnya gue nggak berani. Mertua bro, udah kaya orang tua gue sendiri. Nggak sanggup gue," kata Tama.
"Halah lo mah aneh. Lo negur nyokap sendiri bisa kok negur mertua nggak bisa," kata Cece.
"Udah tau gue aneh. Nggak usah dipertegas kenapa sih?"
"Ya kalo lo nggak berani negur mertua, lo ngomongnya ke Ratna. Lo bilang ke istri lo kalau lo itu suka lihat dia manja, lo suka lihat dia ngerengek, simpel. Ji, selama ini lo terkenal selalu bisa ngetreat istri lo dengan baik. Cara lo memperlakukan Ratna bahkan ditiru sama beberapa orang di sini, termasuk ajudan lo sendiri noh si Bayu. Komunikasi lo sama Ratna itu terbilang bagus. Kenapa sekarang lo tiba-tiba jadi ragu mau ngomong?" tanya Cece menyadarkan Tama.
"Iya juga ya, kenapa gue mikir kaya gitu sih?"
"Nah, kan. Udah lo percaya aja sama istri lo. Dia pasti tahu apa yang terbaik buat kalian."
"Nggak tau ah, gue bingung Ce, sejak ada Aksara gue jadi suka merasa serba salah," kata Tama.
"Hmm, kayanya bukan Ratna yang kena baby blues tapi elo deh. Dasar aneh," kata Cece sambil mengeluarkan satu batang rokok dari sakunya.
"Lo lebih aneh. Lo polisi, perwira, malah ngerokok," kata Tama pada sahabatnya.
"Nggak ada Bang Rendi kok, santai lah."
"Kompol Cakka Chandra!" teriak Bang Rendi dari arah belakang.
__ADS_1
"Ya Tuhanku, ampun Bang nggak. Nggak jadi Bang. Iya disimpen, jangan dihukum Bang please," kata Cece pada Rendi.
Tama hanya tertawa, melihat Bang Rendi memelototi Cece yang mulai memohon adalah pemandangan yang menyenangkan. Kapan lagi kan si sombong Cakka Chandra akan takhluk kalau bukan sama Bang Rendi. Dia ke Bang Novan saja belum tentu setunduk ini. Tama menghabiskan kopinya kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Cece yang masih berusaha bernegosiasi dengan provost kesayangannya.