
Sekitar beberapa minggu semenjak kepergian Tama, Kalimantan di dera asap tebal kebakaran hutan. Seluruh masyarakat sudah dihimbau untuk selalu mengenakan masker ke mana pun dan di mana pun berada. Ratna juga demikian. Sebagai seorang tenaga medis dia akhirnya ikut turun tangan juga menanggulangi bencana yang entah kapan akan selesai ini. Hampir setiap saat sirine ambulance atau damkar berdering memekakan telinga. Bahkan kondisi di rumah sakit juga sudah mulai tidak terkontrol karena banyaknya pasien datang dengan keluhan yang hampir semuanya berasal dari saluran pernafasan.
Ratna tengah rehat sejenak setelah membantu membagikan obat-obatan dan mempersiapkan pemeriksaan gratis di salah satu barak pengungsian yang didirikan oleh Markas Komando Brimob tempat suaminya bertugas ini. Lelah sudah pasti, dia bahkan hampir 24 jam tanpa istirahat saking banyaknya pasien datang bukan hanya di tempat pengungsian melainkan juga di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Assalamualaikum Mas...," jawab Ratna begitu sambungan teleponnya dengan Tama terhubung.
"Waalaikumsalam, Ratna. Kamu lagi apa dek?" tanya Tama.
"Istirahat Mas, habis ini ngurus pasien lagi."
"Kamu di mana sekarang?"
"Di barak. Sama Ibu-ibu bhayangkari yang lain. Batalyon kekurangan tenaga medis jadi aku diminta untuk bantu di sini."
"Terus pekerjaan kamu gimana?"
"Alhamdulillah aku dapat keringanan. Nggak papa Mas, aku kuat kok," kata Ratna.
"Mas juga akan jadi kuat," kata Tama.
"Mas lagi apa?"
"Lagi istirahat, habis baku hantam 3 hari 2 malam nggak berhenti."
"Mas nggak papa kan? Ada yang luka nggak?"
"Ada nih, lengan kiri Mas kesayat. Tapi nggak papa, Mas sudah diobati sama tenaga medis di sini," kata Tama sambil tersenyum.
"Dek, kamu di sana hati-hati ya. Jangan lepas maskermu. Setelah tugas di sini selesai, Mas akan segera nyusul kamu ke sana. Mas akan bantu kamu. Tunggu Mas pulang ya, Ratna," kata Tama diangguki Ratna walaupun Tama tidak akan bisa melihatnya tapi Ratna yakin Tama tahu.
Tidak lama kemudian mereka terpaksa memutuskan sambungan karena Ratna dipanggil oleh seseorang dengan tidak santai. Ratna langsung mematikan telepon begitu saja tanpa kalimat pamit yang baik. Ternyata ada seorang pasien ambruk dengan kondisi sesak nafas dan memaksa Ratna memasang selang oksigen padanya.
__ADS_1
"Pak, persediaan oksigen kita menipis. Saya dengar akan ada bantuan dari markas besar. Itu kira-kira kabarnya bagaimana ya?" tanya Ratna pada koordinator lapangan.
"Duh maaf, saya juga belum tahu pasti kabarnya bagaimana. Saya belum dapat kabar apa-apa dari atasan. Setidaknya sekarang dihemat dulu pemakaiannya. Kalau untuk kondisi darurat, kalau tidak diusahakan tidak dulu," katanya.
Ratna sebenarnya sudah ingin berkata kasar, tapi mengingat kondisi lingkungannya niatnya itu segera dia urungkan. Tidak ada untungnya juga dia marah. Ini di barak pengungsian. Ratna sadar bukan hanya obat-obatan yang minim. Untuk makan besok saja mereka tidak tahu apakah akan ada makanan yang layak atau tidak. Ratna hanya bisa berharap semoga pemerintah segera turun tangan dan membantu rakyatnya yang tengah menderita. Atau jika ada orang yang dengan senang hati mengulurkan tangannya Ratna tidak akan pernah menolak, apapun bentuk bantuannya.
Ratna yang tidak ingin terlarut dalam emosinya sendiri memilih untuk menuju ke tenda medis dan membantu pengecekan kesehatan. Ratna mengurus pasien anak-anak yang lebih banyak rewelnya. Wajar kalau mereka begitu, biasanya mereka bisa hidup aman dan nyaman di rumah ini mereka terpaksa untuk mengungsi sejauh yang mereka bisa demi tetap bertahan hidup.
"Dokter cantik balik lagi...," sapa seorang anak laki-laki.
"Hi apa kabar anak-anak, kalian sehat?" tanya Ratna.
"Dokter, bantu aku...," kata seorang anak sambil menarik-narik pakaiannya.
"Kenapa?"
"Dokter, adikku menangis terus. Tidak mau makan juga," katanya.
"Di mana adikmu?"
Ratna kemudian melangkah ke arah tenda dan melihat adiknya anak itu tengah menangis di pangkuan ibunya. Ratna memeriksanya, mulai dari mengecek suhu badan, detak jantung hingga kondisi saluran nafasnya.
"Rasanya sesak ya dek? Sabar ya...," kata Ratna sambil mengelus rambut bayi berusia 1 tahunan itu.
"Bu, coba gendongnya agak ditinggikan kepalanya. Setelah ini saya beri turun panas tapi Ibu jangan dipakaikan pakaian tebal dulu ya biar suhu tubuhnya segera turun," kata Ratna.
"Terima kasih Bu dokter," kata ibunya.
"Terima kasih Bu dokter cantik," si kakak juga ikut berterima kasih pada Ratna.
Ratna kemudian memberikannya penurun panas lalu kembali untuk bermain dengan anak-anak yang lainnya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan, jadi sebagai gantinya dia bisa menghibur anak-anak ini agar setidaknya mereka tidak merasa tertekan. Ratna kadang akan mengajak mereka bermain, menggambar, bernyanyi, atau untuk anak-anak yang agak besar dia ajak untuk bergotong royong bersama. Kadang mencuci piring bersama, atau memasak.
__ADS_1
Memadamkan api kebakaran hutan bukanlah hal yang sepele dilakukan. Butuh waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu tergantung besar dan luasnya area kebakaran yang terjadi. Beruntungnya penanganan cukup cepat dilakukan sehingga kebakaran tidak menjadi berlarut-larut. Setelah sekitar 2 minggu para pengungsi sudah bisa dipulangkan dan kembali menjalani aktivitasnya masing-masing.
Ratna saat ini sudah mulai fokus kembali dengan pekerjaan dan studinya. Hampir 2 bulan berlalu sejak kepergian Tama. Ratna sudah terbiasa menjalani hari-harinya tanpa Tama di sampingnya. Mereka hanya akan bertemu melalui video call beberapa kali dalam seminggu itu pun tidak bisa lama. Paling lama hanya sekitar 10-15 menitan.
Malam ini lagi-lagi Ratna bermalam di rumah sakit. Ratna sih tidak mengeluh, terkadang kasur rumah sakit bisa terasa lebih nyaman dibandingkan kasurnya di rumah tanpa kehadiran suaminya. Selepas makan malam bersama Rati di kantin rumah sakit, Ratna dan Rati kembali ke ruang dokter di lantai 3.
"Ratna, mampir minimarket dulu yuk. Temani aku beli beberapa keperluan," ajak Rati.
"Boleh, sekalian aku beli sikat gigi deh," kata Ratna.
Keduanya berjalan ke minimarket yang letaknya persis di samping bangunan rumah sakit, di sebelah gerbang paviliun. Ratna langsung menuju ke rak cemilan mencari beberapa bungkus oreo vanila lalu beralih ke lemari pendingin mengambil 2 botol UC1000 rasa lemon. Ratna selesai dengan belanjaannya setelah meraih satu bungkus tisu basah lalu menyusul Rati yang sedang berdiri di rak pembalut dan terlihat kebingungan.
"Kenapa? Yang biasa kamu pake nggak ada?" tanya Ratna.
"Ada, tapi aku carinya yang kemasan kecil aja. Yang ini gegedean," kata Rati sambil menunjuk satu bungkus ukuran ekonomis.
Ratna hanya iya iya saja. Dia tiba-tiba jadi ingat sesuatu. Kapan terakhir kali dia datang bulan? Ratna langsung meraih ponselnya lalu membuka google calendarnya dan mendapati fakta jika dia tidak menandai tanggal bulan kemarin sama sekali. Ratna menggesernya ke bulan yang lebih lalu dan dia juga tidak menemukan tanda di sana.
"Rati, habis ini kamu ada kegiatan apa?" tanya Ratna dengan pandangan masih terpaku pada handphonenya.
"Nggak ada, kenapa emangnya?"
"Bantu aku mau nggak?" tanya Ratna.
"Bantu apa?" Rati makin penasaran karena Ratna terlihat syok.
"USG."
"Oh my God, jangan-jangan kamu...," kata Rati hampir berteriak jika saja Ratna tidak segera menghentikannya.
"Belum tentu Rati, cuma karena aku terlambat datang bulan bukan berarti aku hamil. Bisa saja karena sesuatu, makanya bantu aku ya," kata Ratna.
__ADS_1
"Ok, dengan senang hati aku bantu."
Rati langsung menyegerakan acara belanjanya dan menyeret Ratna ke kasir. Keduanya bergegas menuju ke UGD dan meminjam alat USG dari ruang pemeriksaan. Ratna merebahkan dirinya di brankar lalu Rati segera memeriksanya. Ratna sudah gugup setengah mati ketika alat itu menyentuh permukaan perutnya. Tubuhnya bahkan menegang dan detak jantungnya berdetak makin cepat. Ratna masih mencoba menepis kemungkinan yang ada hanya agar dia tidak kecewa jika hasilnya tidak sesuai harapan. Namun setelah mereka berdua melihat sesuatu dari layar monitor alih-alih senyuman Ratna justru menangis. Dia masih tidak menyangka jika hal ini akan terjadi padanya dan suaminya.