
Tama sedang merebahkan dirinya di sebelah Aksa yang sedang berusaha membuka kaos Bundanya. Ratna sedang rebahan dan meletakkan Aksa di atas perutnya. Anak itu sedang merengek karena digoda Bundanya. Ratna harusnya kan menyusuinya kemudian menidurkannya, tapi Ratna dengan isengnya mengerjai Aksa. Dia tidak membuka kaosnya dan hanya membiarkan Aksa terus berusaha mencari empengnya.
Tama di sebelahnya tertawa, kapan lagi dia bisa melihat pemandangan menyenangkan seperti ini. Ketika anak dan istrinya bisa tertawa bersama dengannya. Tidak habisnya Tama bersyukur sudah diberikan nikmat dan rezeki sebesar ini. Memiliki Ratna dan Aksara adalah sebuah keberuntungan besar dalam hidupnya. Keluarganya ini bukan hanya sekedar berharga untuknya. Buat Tama, keluarganya ini jauh lebih berarti dibandingkan nyawanya sendiri.
"Iya iya sayang, kasihan banget sih. Haus banget ya," kata Ratna yang akhirnya menggulingkan dirinya membuat Aksa ada di antara kedua orang tuanya.
Tama ikut menatap Ratna yang sedang fokus pada Aksara. Sesekali dia melihat jari jemari Aksara, kakinya, dan kondisi putranya dengan begitu teliti. Dari yang Tama tahu, Ratna rutin mengecek kondisi kesehatan Aksa. Dia bukan ibu yang bisa 24 jam untuk putranya, tapi Tama bisa melihat sebesar apa perhatian yang Ratna berikan pada Aksara Langit separuh nyawanya.
Tama lihat Aksara mulai menutup matanya dan tenggelam dalam mimpinya sedangkan Ratna tidak. Ratna sedang membetulkan pakaiannya dan menitipkan Aksa padanya sedangkan Ratna melangkah keluar dari kamar. Tama menatap Aksa yang tidur memunggunginya. Dia terlihat tenang dalam tidurnya, mulutnya terus bergerak mengisap empeng yang menempel di mulutnya. Tama melihat Aksa seperti mencari kawan dan bergerak gusar, bahkan mulai merengek. Tama dengan sigap menepuk-nepuknya agar anak itu bisa kembali tenang.
Aditama Aksara Langit, anak ini menuruni bentuk wajah Bundanya, bulat dengan pipi tembem. Mata yang kecil dan berubah menjadi garis jika sedang tertawa. Bentuk hidungnya persis seperti Ayah termasuk gummy smilenya. Kebiasaan-kebiasaan kedua orang tuanya juga ada beberapa yang menurun pada Aksa. Malas buka baju ketika akan mandi misalnya, atau keaktifan Aksara yang terkenal tidak mau diam bahkan sesaat. Terkadang kedua orang tuanya jadi harus begitu fokus, jika lengah sedikit saja entah apa yang akan terjadi. Aksara bahkan pernah membuat makan siangnya bercecer keseluruh meja hanya karena Bundanya sedang mengambil air minum.
Aksara sudah kembali terlelap, Ratna juga sudah kembali. Dia sedang berusaha merebahkan diri dan melepaskan lelahnya ketika dering telepon Tama di sebelah kirinya membuat dia kaget. Ratna meraihnya kemudian menyerahkannya pada Tama. Ketika Tama mengangkat teleponnya, dia berjalan agak menjauh takut membangunkan si kecil. Tidak lama kemudian Tama mematikannya dan mendekati Ratna.
"Bunda...," panggil Tama dengan perlahan sambil mempersiapkan mental.
"PLB?"
"Ayah ditugaskan memimpin pasukan ke Timika. Berangkat besok selepas subuh," kata Tama.
__ADS_1
"Bunda anter ya," kata Ratna.
"Nggak usah nggak papa. Bunda pasti capek kan? Kasihan Aksa juga," jawab Tama.
"Kalau aku nggak ngantar kamu dan lihat sendiri kamu berangkat dari markas, aku nggak akan bisa tenang Mas. Aku antar ya, sana siap-siap. Perlengkapanmu biar aku siapkan. Mumpung Aksara juga sudah tenang. Berapa lama kamu akan di sana?" tanya Ratna yang sudah bangkit berdiri dan memindahkan Aksa ke dalam box bayinya.
"Mas nggak bisa memastikan, tapi jelas akan lama. Ada beberapa kelompok bersenjata yang melakukan teror di sana. Mabes sudah meminta setiap polda untuk mengirim bantuan sebanyak satu kompi," jelas Tama.
"Ok, kalau begitu aku siapkan bawaanmu. Seragam mana yang Mas butuhkan?"
"Loreng dan hitam," kata Tama membuat Ratna berhenti melangkah.
Mendengar itu membuat Ratna bergetar. Seragam keramat itu harus keluar lagi dari dalam lemarinya, kali ini bukan untuk upacara tradisi seperti biasanya. Dia yakin sekali di sana suaminya tidak untuk bersantai. Jika seragam ini sampai dibutuhkan itu artinya suaminya akan sekali lagi menghadapi bahaya. Tama mendekatinya, membuat Ratna menghadap ke arahnya. Dia langsung memutus jarak keduanya karena dia tahu kata-kata tidak akan mampu membuat istrinya tenang di saat seperti ini.
"Alat mandi, baju ganti, seragam, alat sholat, apa lagi Mas?" kata Ratna mengecek semua perlengkapan Tama.
"Oh semir sepatu Dek, kamu taruh mana?"
"Di rak sepatu, kalau nggak ada di dalam laci. Bawa yang cair aja Mas, biar nggak repot," kata Ratna.
__ADS_1
Tama mengambil semir sepatu seperti yang Ratna maksud kemudian kembali ke dalam kamar. Kali ini Ratna beralih mengisi tas yang biasa dia pakai untuk membawa perlengkapan Aksara. Dia memasukkan semua yang mungkin dia butuhkan termasuk menyiapkan susu yang siap diseduh dalam botol, juga bubur tim instan yang sudah dia persiapkan juga. Ratna meraih termos kecil bergambar lumba-lumba itu kemudian melangkah ke dapur untuk mengganti airnya dengan yang baru. Ratna juga tidak lupa mengecek seragam pinknya sudah disetrika atau belum.
"Sudah semua Dek, sini kamu istirahat. Besok kita sholat subuh bareng terus berangkat," kata Tama.
"Bener udah semua? Sudah lama Mas nggak tugas keluar selama itu, kok aku jadi deg-degan ya," kata Ratna.
"Mas janji akan pulang Ratna, apapun kondisinya Mas akan pulang masih dengan nyawa di badan. Kamu jangan khawatir. Cukup doakan Mas dari sini. Sebut nama Mas dalam setiap sujudmu. Doa dan restu darimu sudah cukup jadi kekuatan untuk Mas di sana. Kamu jaga Aksa di rumah, sedangkan Mas jaga Indonesia agar bisa jadi tempat yang aman untuk kamu berdua," kata Tama sambil mengelus kepala Ratna.
...***...
Kondisi markas pagi ini cukup ramai. Ratna bukan satu-satunya ibu bhayangkari yang datang untuk mengantar kepergian suami mereka. Dari antara banyaknya ibu-ibu yang juga hadir, Ratna melihat ada Mbak Aya bersama Dinda yang melepas Bang Rendi. Mbak Aya sudah memakai pakaian dinasnya lengkap, sepertinya setelah ini dia akan langsung ke satlantas memimpin apel pagi.
Tama sudah siap dengan persenjataan lengkap, penutup wajah, dan helm. Setelah mengecek semua barang bawaan, amunisi dan kelengkapan personil, pasukan yang akan berangkat diberi waktu untuk berpamitan pada keluarganya. Tama sudah menenteng senjatanya, tapi karena Aksa rewel terus meminta Ayah menggendongnya, Tama terpaksa melepas dulu senjatanya dan sejenak menggendong putranya.
"Abang, di rumah sama Bunda dulu ya. Ayah tugas dulu. Abang jangan lupa doakan Ayah. Abang di rumah harus jadi anak yang pinter. Nanti ketika Ayah pulang Ayah akan bawa Abang sama Bunda jalan-jalan lagi. Sehat-sehat ya jagoan Ayah," kata Tama pada putranya yang sudah mulai tenang namun bingung melihat ayahnya yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan helm dan pengaman tubuh.
"Bunda juga, maaf Ayah nggak bisa selalu ada sama Bunda. Bunda janji ya, terus berkabar. Ayah juga mau tahu setiap tumbuh kembang Aksara," kata Tama pada Ratna.
"Pasti Ayah. Akan selalu Bunda kabari apapun kegiatan Bunda dan Aksa di sini. Ayah di sana jaga diri baik-baik ya, pulanglah dengan selamat Ayah. Anak istrimu akan setia menunggumu pulang perwiraku," kata Ratna sebelum melepas kepergian Tama.
__ADS_1
Tama dan Rendi adalah dua perwira yang diminta memimpin dan membersamai pasukan yang akan diberangkatkan. Setelah memastikan seluruh pasukannya siap, dia ikut naik ke atas truck. Ketika truck yang membawa mereka mulai berjalan, air mata semakin tumpah. Banyak ibu-ibu yang menangis melihat kepergian suami mereka. Banyak anak-anak yang seperti tidak rela melihat Ayahnya menjauh darinya. Tapi Tama mampu melihat Ratna dan Aksa tersenyum, bahkan si kecil Aksara terus menggoyangkan tangannya sebagai gesture dadah. Dia merestui kepergian Ayahnya yang akan berjuang.
"Akan Ayah amankan Indonesia. Akan Ayah buat tanah ini menjadi tempat yang paling aman untuk kalian tinggali semestaku. Dengan atau tanpa aku," batin Tama.