
Selepas sholat subuh, dapur sudah begitu ramai. Ibu, Ratna, dan Sasa bersama-sama memasak. Ada yang sedang memotong sayuran, membuat kaldu, dan membuat side dish lainnya. Tama belum kembali ke rumah sejak semalam. Dia sempat memberi pesan pada Ratna jika dia akan pulang setelah apel pagi. Jadi mereka memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan masakan mereka ini.
"Sa, itu nanti ayamnya kamu tirisin dulu terus kamu goreng lagi," kata Ratna.
"Biar apa? Biasanya gini aja terus di suwir."
"Biar renyah aja. Kan ayamnya juga sudah direbus pake bumbu."
"Ok."
"Kalau sudah ni bihunnya direbus dulu," perintah Ibu.
Ratna meraih 2 bungkus bihun kering dari atas meja lalu merebusnya dalam air panas yang sebelumnya sudah dididihkan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, Ratna mengangkatnya dan langsung dia siram dengan air dingin baru dia beri sedikit minyak.
"Buat apa disiram air gitu, Mbak?" tanya Sasa.
"Biar proses memasaknya selesai. Kalau nggak kamu siram air dingin, suhu panasnya bisa bikin bihunnya makin mateng nanti," kata Ratna lagi.
Ratna terus memberikan tips pada Sasa begitu juga dengan Ibu. Sudah lama juga pasangan anak dan ibu itu tidak berkolaborasi menciptakan master piece. Mereka memasak cukup banyak hari ini. Bukan seperti biasanya di mana mereka hanya memasak sesuatu yang sederhana.
"Sa, isian buat tahu isinya dimasak dulu," perintah Ibu pada Sasa.
"Bu, pesawatnya ibu jam berapa?" tanya Ratna.
"Jam 10 kayanya ya Sa?"
"Iya jam 10.10."
Sekitar jam set 7 semua masakan mereka sudah selesai di buat. Ratna menggoreng beberapa potong tahu isi lebih dulu, selain itu dia juga mengambil satu mangkuk besar juga beberapa piring dari rak. Dia meletakkan kuah soto ke dalam mangkuk besarnya, lalu menata bihun, ayam suwir, kol, kecambah, seledri, dan bawang goreng ke dalam 2 piring. Ratna juga meraih satu plastik bening berukuran 1.5kg dan mengisinya dengan kerupuk.
"Siapa yang mau ikut aku ngasih ini ke Bu Odah?" tanya Ratna.
"Sini sama Ibu," tawar Ibu.
"Ikut juga...," kata Sasa.
Mereka bertiga kemudian membawanya ke rumah sebelah. Sasa yang membawa semuanya dalam satu nampan. Ratna mengetuk pintunya, tak perlu waktu lama Pak Somat membukakan pintu untuk mereka bertiga.
"Masuk nduk, monggo Bu, Mbak," kata pak Somat kepada Ibu, Ratna, dan Sasa.
"Bu, ana Ratna ki," panggil Pak Somat pada istrinya.
"Pak, ini saya masak Soto. Buat Bapak sama Ibu," kata Ratna.
"Matur nuwun sanget Mbak Ratna, kok jadi repot-repot to," kata Ibu sambil menerima nampan dari Sasa.
"Ini adiknya Ratna ya?" tanya Pak Somat melihat ada satu yang asing.
__ADS_1
"Nggih Pak, ini Sasa adik saya yang tengah. Kalau yang paling kecil Nata namanya karena masih sekolah jadi di sini cuma sebentar," kata Ratna.
"Kalau Mbak Sasa sekarang kerja atau kuliah?"
"Saya tadinya kerja Pak jadi guru seni di sekolah, tapi sekarang sudah keluar."
"Lho kok keluar? Man eman lho Mbak, sekarang cari kerja susah," kata Bu Odah.
"Dia calon suaminya TNI-AD Pak, kerja di Jambi. Ini lagi mau ngurus pindahan sama pernikahan," kata Ratna.
"Owalah selamat ya Mbak Sasa, selamat juga Bu bentar lagi mantu," kata Bu Odah pada Ibu.
"Makasih Bu, alhamdulillah rejekinya anak-anak lancar. Saya yang jadi orang tua cuma bisa berdoa anak-anak jauh dari rumah semoga mereka baik-baik saja. Saya juga titip Ratna ya Bu, mohon maaf kalau putri saya ini sering ngerepotin Ibu sama Bapak," kata Ibu.
"Nggak papa santai saja Bu, saya ini di sini cuma berdua sama Bapak. Anak saya 2 semuanya ikut nenek di Jawa. Punya Aji sama Ratna di sini rasanya kaya punya anak lagi."
"Maaf Bu, saya tinggal dulu." Pak Somat sudah berangkat karena memang sudah jam 7.
Ibu, Ratna, dan Sasa masih betah mengobrol. Tidak apa-apa lah sekali-kali. Ratna juga sudah lama tidak mengobrol dengan tetangga sebelah rumahnya ini. Ketiganya masih asik mengobrol sampai tidak sadar jika Tama sudah sampai di rumah. Tama melihat Ratna di rumah Bu Odah ketika lewat tadi makanya dia menyusul ke sana.
"Cuma dipinjem bentar kok yo dicariin," kata Bu Odah.
"Lah udah kangen eh Bu," kata Tama.
"Halah koe ki."
"Ibu kan sering ketemu, lha saya nggak Bu," kata Tama.
"Yaudah Bu, kalau gitu ngapunten saya pulang dulu ya Bu."
"Yasudah, oiya Bu sama Mbak Sasa nanti mau pulang hati-hati ya," kata Bu Odah.
"Iya Bu, terima kasih."
Sekembalinya di rumah, Mereka lebih dulu menunggu Tama selesai mandi sekalian memberi waktu untuk Sasa menggoreng sisa tahu isi yang tadi belum dia goreng. Ratna seperti biasa membuatkan kopi pagi untuk Tama.
"Say..., Bunda....," panggil Tama dari dalam kamar mandi.
"Kenapa?"
"Lupa bawa handuk," kata Tama.
Ratna pergi ke tempat jemuran untuk mengambil handuk biru yang biasa Tama pakai, lalu memberikannya pada Tama. Tak lama kemudian Tama keluar dari dalam kamar mandi sudah menggunakan pakaian lengkap.
Selesai sarapan, mereka langsung bersiap untuk pergi. Tama dan Ratna segera mengantar Ibu dan Sasa ke bandara padahal jadwal keberangkatan mereka masih lama. Ibu bilang lebih baik berangkat lebih dulu dari pada terlambat. Sepertinya masih ada bayang-bayang ketika mereka hampir tertinggal pesawat ketika berangkat kemari beberapa waktu lalu.
"Bu beneran sudah kasih kabar ke Nata buat jemput kan?" tanya Ratna.
__ADS_1
"Sudah kamu nggak usah khawatir," jawab Ibu.
"Bu kok pulangnya cepet sih, mbok rada-rada seminggu lagi gitu di sini," kata Tama.
"Kenapa? Tumben kamu bilang gitu," tanya Ibu.
"Ya soalnya seneng kalau ada Ibu, Ratna jadi masak yang aneh-aneh," kata Tama membuat mereka semua bingung begitu pula dengan Ratna yang menjadi objek pembicaraan.
"Maksud Mas?" tanya Ratna.
"Ya kan kalau ada Ibu Ratna jadi masak macem-macem gitu lho, entah Soto, entah Rendang, atau apa. Lha kalau nggak ada Ibu dia cuma masak sayur sop, bening bayam, oseng-oseng. Mentok bikin asam manis atau teriyaki," keluh Tama.
"Salah siapa nggak request. Lagian aku sama Mas jarang di rumah, mau masak aneh-aneh tuh bumbunya banyak, bahannya banyak, kalau nggak kemakan kan sayang. Kalau Mas minta ya bakal kumasakin kok, asal dihabisin," kata Ratna.
"Lha terus nek kamu nggak masak kalian makannya beli di luar?" tanya Ibu.
"Iya Bu, habis gimana."
"Boros to Ratna, kamu tuh udah sering dibilangin. Walau cuma sedikit setidaknya masak biar meja makanmu itu nggak kosong," kata Ibu.
"Nggak bisa Bu, sayang. Ratna sering banget buang makanan."
"Bu, jangan disalahin Ratna-nya. Tama juga kok yang minta, lagian bener Ratna bilang mending kita makan di luar dari pada masak niatnya mau hemat malah jadi buang-buang makanan," kata Tama.
Setelah ditegur Ibu Ratna jadi agak terdiam. Sejak tadi pagi entah kenapa Ibu banyak bicara soal dia harus inilah harus itulah. Perubahannya terlalu kelihatan. Tadinya Ibu tidak begitu, apa pun yang Ratna lakukan, Ibu pasti akan mendukungnya tapi kali ini Ibu seperti orang yang takut karena sesuatu. Semalam Ibu sempat bilang sama Ratna, katanya dia harus memperbaiki diri. Ratna harus banyak belajar lagi.
Sesampainya mereka di bandara, Ratna dan Tama hanya menunggu sampai Ibu dan Sasa check-in saja lalu mereka berdua pamit untuk pulang. Setelah jam makan siang Tama harus kembali ke kantor sedangkan dia masih harus mengantar Ratna bertemu dengan dokternya. Bahkan rencana awal mereka akan makan siang bersama jadi batal karena waktu sudah terus mengejar jadi mereka berdua memutuskan untuk segera pulang.
"Mas, lusa aku balik kerja aja lah," kata Ratna.
"Wah..., mentang-mentang sudah dibilang sembuh. Minggu depan sekalian aja dek, jangan lusa. Istirahat dulu yang banyak," kata Tama.
"Nggak mau, kelamaan di rumah nggak ngapa-ngapain bikin overthinking," kata Ratna.
Tama tahu yang di maksud oleh Ratna. Alasan kenapa Ratna benci berdiam diri karena setiap kali dia diam pikirannya akan langsung memutar balik kejadian tidak menyenangkan yang belum lama dia alami ini. Siapa sih Ibu yang tidak sedih kehilangan anaknya? Setegar-tegarnya Ratna, akan tetap ada kesedihan besar dalam benaknya. Apa lagi Ratna terus menyalahkan dirinya sendiri. Ratna selalu meminta maaf pada Tama karena tidak mematuhi perintahnya padahal kalaupun Tama ada di sana ketika Ratna meminta izin untuk berangkat kerja, dia juga akan tetap mengizinkan Ratna berangkat.
"Balik kerja boleh, tapi jangan ambil shift malam dulu sementara. Paling nggak 2 minggu ini saja. Nanti kalau kondisimu lebih sehat bebas kamu mau shift malam terus-terusan juga nggak masalah," kata Tama.
"Kalau aku shift malam terus Mas tidurnya sama siapa?"
"Sama BonBon," kata Tama.
"Ngenes banget. Mending meluk aku lah enak. Meluk BonBon apa enaknya coba."
"Iya sih, enakan meluk kamu."
"Tuh kan, Mas kan bucin."
__ADS_1
"Ye nggak ngaca."
Tama dan Ratna terus berdebat siapa yang paling bucin. Bahkan ketika mereka masuk ke dalam rumah Ratna masih saja mempertahankan argumennya. Dia bilang Tama yang bucin bukan Ratna. Padahal nyatanya baik Tama maupun Ratna keduanya saling membutuhkan dan saling bergantung satu sama lain.