
Ratna sudah dinyatakan sehat, begitupun dengan Aksa kecil yang begitu aktif dan sering merepotkan Ayah Bundanya. Besok Ratna sudah diperbolehkan pulang oleh dokter walaupun tenaga Ratna belum sempurna kembali. PR Tama dan Ratna adalah bagaimana caranya Ratna bisa mengembalikan tenaganya seperti semua. Ratna masih harus melakukan rehabilitasi agar bisa beaktifitas seperti biasa.
"Ayah, kok aku laper ya?" kata Ratna yang baru selesai menidurkan Aksa.
"Mau makan apa? Kubeliin ya?"
"Order makan aja Yah, jangan ayah yang pergi. Aku sendirian," kata Ratna.
"Yaudah mau makan apa?"
"Enaknya makan apa?"
"Laper banget apa laper aja?"
"Laper banget."
Tama tidak bodoh untuk menyadari jika napsu makan Ratna jadi berlipat ganda. Baru setengah jam lalu Ratna menghabiskan makan siangnya dari rumah sakit tapi sekarang dia sudah lapar lagi. Mama bilang wajar karena Ratna harus selalu siap siaga menyusui Aksa. Apalagi Ratna sudah bulat niat akan menyusui anaknya tanpa bantuan susu formula.
"Bunda, Ayah beliin nasi padang mau nggak?" tanya Tama.
"Ih mau, tapi minta dipisah sayurnya bisa nggak? Biar nasinya nggak ngembang."
"Mau sayurnya apa aja nih, pilih sendiri," kata Tama menyerahkan handphonenya.
"Tanganku dua-duanya lagi nggak selo," kata Ratna yang memang sedang memangku Aksa yang sejak tadi belum mau turun dari gendongan Ibunya.
20 menit kemudian, pesanan Ratna sampai. Tama sedang turun mengambil pesanan Ratna sekalian membeli dua gelas es jeruk di kantin. Tidak hanya itu, sebagai antisipasi Tama melangkah ke minimarket membeli satu buah roti sobek coklat, beberapa kotak susu dan camilan lainnya jika saja Ratna akan lapar lagi setelah ini. Selesai dengan belanjaannya dia bergegas naik kembali ke ruang inap Ratna.
"Mas udah beresin rumah?" tanya Ratna ketika Tama sedang menyuapi dirinya.
"Belum."
"Gimana sih Mas? Bersihin dulu dong, kasihan Aksa nanti bersin-bersin," kata Ratna.
"Mama yang mau beres-beres katanya."
"Mas aja yang bersih-bersih gimana? Aku nggak mau Mama yang bersihin. Nanti Mama kecapekan."
"Terus kamu Mas tinggal?"
__ADS_1
"Iya."
"Ok, nanti Mas yang beresin rumah," jawab Tama menyetujui.
"Kamar aja yang Mas bersihin, dijemur kasurnya terus diganti sprei. Jangan lupa di sapu sama dipel. Kemarin sebelum masuk rumah sakit kan perlengkapannya Aksa udah aku tata di dalam kontainer aku taruh di samping lemari. Mas nanti bawain aja selimut yang warna biru sama topi rajutan buat nutupin kepalanya Aksa," kata Ratna.
"Bentar Bun, ulangi dong," kata Tama setelah membuka rekorder di handphonenya. Ratna paham, Tama hanya takut kelupaan jadi Ratna dengan senang hati mengulangi perintahnya. Karena bukan hanya Ratna yang bingung harus bagaimana tapi juga Tama. Dia bahkan lebih bingung, panikan, dan takut. Dia takut membuat putranya atau istrinya terluka atau kesulitan makanya dia dengan senang hati melakukan ini itu berkorban demi kedua kesayangannya.
...***...
Hari ini Aksa akan pulang. Tama sejak pagi sudah sibuk berberes, mengecek semua barang-barangnya di seluruh ruang inap Ratna. Ketika Tama tengah memasukkan semua baju ganti Aksa, Ratna mandi dan berganti baju. Baru ketika Ratna selesai Tama berjalan keluar untuk menyelesaikan administrasi juga menebus obat Ratna. Kondisi di rumah tidak kalah heboh, Ibu dan Bapak datang dan Mama juga masih ada di sana. Ketiga kakek dan nenek Aksa itu sibuk mengurus semua penyambutan untuk kepulangan cucu mereka. Terutama Mama yang sejak pagi sudah heboh memasak ini dan itu untuk Ratna.
"Mbak Widi, ini ayamnya di bacem semua aja ya?" tanya Mama ke Ibu.
"Iya Mbak, dibacem semua aja terus nanti kalau sudah mau makan tinggal goreng. Tadi saya juga bawakan daun katu untuk Ratna biar asinya lancar. Nanti di sayur bening," kata Ibu.
Bapak yang tidak mau mengganggu kegiatan ibu-ibu di dalam rumah memilih duduk di teras saja sambil kipas-kipas menikmati suasana rumah putrinya. Tak lama kemudian, mobil Tama berjalan pelan memasuki gang dan langsung disambut oleh Bapak yang membukakan pintu pagar. Bapak, Ibu, dan Mama yang sudah tidak sabar langsung berebut menggantikan Ratna untuk menggendong Aksa.
Ketika Aksa sudah bersama dengan kedua neneknya, Tama dan Ratna masih berjalan pelan di belakang. Ratna kan belum pulih betul, untuk jalan saja dia juga tidak bisa terlalu cepat dan tidak diperbolehkan bergerak tiba-tiba jadi Tama sabar saja menemani Ratna. Belum sampai Ratna sampai di dalam kamar, dia mendengar Aksa menangis. Mungkin dia merasa asing dengan lingkungan barunya dan tidak menemukan Bunda atau Ayahnya makanya dia menangis.
"Uhh..., sayang anak bunda nyariin ya?" kata Ratna pada yang sudah duduk di kasur menggendong Aksa.
"Apaan sih Tam, ya belum ngerti anaknya dibilangin gitu," kata Mama.
"Piye koe ki Mas? Buat melek aja masih susah kok sudah kamu kasih tahu macem-macem, belum ngeh anaknya," ibu ikut bicara.
"Oh gitu ya Bu?" tanya Tama dengan polosnya.
"Sini biar sama Ibu, kamu makan dulu sana Mbak," kata Ibu mencoba menggendong Aksa dari pelukan ibunya.
"Bentar Bu, aku mau nyusui Aksa dulu. Mas keluar dulu sana," kata Ratna mengusir Tama dan Bapak.
Seluruh perhatian tercurah pada Aksa dan Ratna, terutama pada si kecil Aksa. Ibu dan Mama sedang membongkar baju, mainan, dan perlengkapan bayi lainnya yang mereka belikan untuk Aksa. Semua hanya untuk Aksa, semuanya baru dan rata-rata berwarna biru, kuning, dan hijau.
"Dek, seneng nggak? Bilang makasih sama nenek, makasih nenek," kata Ratna bermonolog seakan-akan Aksa yang bicara.
"Kalem anakmu Mbak," kata Ibu.
"Kalau lagi kalem iya memang, tapi kalau sudah bilang rewel susah. Bisa diem cuma kalo sama Ayahnya," kata Ratna.
__ADS_1
"Anak Ayah ya Aksa, cucu nenek paling ganteng pinter ya sayang. Besok kalau sudah besar main sama nenek ya," kata Mama.
"Iya nenek...," jawab Ratna.
"Nduk, Ibu sama Mama mau masak nasi kluban. Tapi mau belanja masih bingung, kira-kira kalau mau bagiin ke tetangga sama teman kantormu dan Tama jumlahnya semua jadi berapa?" tanya Ibu.
"Waduh, bentar harus sama Mas ngobrolnya Bu. Ratna nggak berani ambil keputusan sendiri, ah," kata Ratna.
Tama kembali dipanggil masuk. Bapak juga ikut-ikut saja dari tadi membuat Ratna harus menyudahi kegiatannya tadi. Untung Aksa sudah tenang tertidur jadi Ratna bisa menurunkannya agar si kecil lebih nyaman larut dalam mimpinya. Tama, Ratna, Ibu, Bapak, dan Mama berdiskusi tentang siapa saja yang mau dibagi nasi kluban sebagai bentuk syukur setelah Aksara Langit bisa lahir dengan selamat.
"Kalau mau kasih anak-anak semuanya ya ada kali jumlahnya 100an. Lagian kalau teman kantor nanti aku traktir aja makan di mana gitu atau sekalian selapanan nanti bikin acara makan-makan aja sekalian sama temen-temen Ratna. Kalau buat selametan ini bubur merah putih aja, sama nasi kluban dibagi ke tetangga satu RT, tambah pak Kadus sama pak Lurah," kata Tama.
"Yasudah berapa jumlahnya jadinya?"
"Berapa ya Bun? Pak Dion tuh di sini apa di Bogor? Bu Rena juga kayanya diboyong sama anaknya deh," tanya Tama pada Ratna.
"Kalau total semuanya sekitar 35an nggak sih? Buat 36 atau 37 aja cukup deh Ma, nanti sama bawain buat Nata. Tapi yakin Ibu sama Mama mau masak segitu banyak sendiri? Catering aja gimana?" kata Ratna.
"Nggak papa, kan besok mau ada yang datang bantu-bantu," kata Mama.
"Siapa Ma?"
"Adeknya Tama, si Sindy," jawab Mama santai.
Ratna langsung terdiam. Kenapa setelah sekian lama Mama tidak menyebutkan nama itu sekarang Mama harus membahasnya, di hadapan Bapak, Ibu, bahkan dihadapan Aksara yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tama hampir menjawab jika bukan karena Ratna menahan tangannya dan meminta Tama diam lewat sorot matanya.
"Dia sampe nanti sore. Kamu tolong jemput dia di stasiun ya," kata Mama pada Tama.
"Nggak bisa Ma, aku mau ke capil sama ke kantor ngurus administrasinya Aksara," tolak Tama.
"Urusan itu kan besok pagi aja bisa. Ini sudah jam berapa, percuma juga berangkat sekarang di capil sudah antri panjang. Mau sampai jam berapa kamu di sana, lagian kasihan Sindy kalau nggak ada yang jemput," kata Mama.
"Iya Mas, kasihan adeknya kalau nggak dijemput. Cewek to dia?" kata Ibu yang sebenarnya tidak tahu siapa Sindy sebenarnya. Ratna dan Tama selama ini berbohong soal siapa Sindy sebenarnya. Bukannya apa-apa, Ratna hanya tidak ingin masalah tambah runyam jika Bapak dan Ibu tahu. Toh Ratna percaya kalau Bapak dan Ibu akan mengerti alasan dia berbohong.
"Ok kalau kamu nggak mau sendiri sama Mama. Kamu nganter Mama buat jemput Sindy. Dia bawa koper gede sendirian lho Tam, kamu masa mau biarin dia ngojek sampai sini?" kata Mama.
"Bodo amat aku nggak peduli," kata Tama langsung pergi.
Bapak dan Ibu tidak menggubris kalimat Tama barusan karena Aksara mulai menggeliat dan kembali mencari Bundanya. Ratna mengangkat Aksara kemudian mendekapnya di dalam pelukannya. Ratna berdiri, dan berjalan-jalan kecil menidurkan kembali Aksara yang sudah tahu protes sambil berusaha menata hatinya agar tetap tenang.
__ADS_1