
Beberapa anggota sudah mengundurkan diri, sedangkan Tama masih bertahan di sana karena Aksa masih asik bermain dan belum mau diajak pulang. Anak itu bukannya akrab dengan Ayahnya malah lebih memilih lihat belalang dengan om Bayu. Dia bahkan mau saja digendong Om Bayu dan bermain dengan belalang yang ditangkap Om Bayu untuknya sambil disuapi sebuah pisang oleh tante Uli.
"Sa ayo pulang. Kasihan itu Om Bayu juga mau istirahat," kata Ratna berusaha melepas Aksa dari pelukan om Bayu.
"Ahhh, Ndahh...," rengek Aksara.
"Aksa, Ayah punya jajan nih. Ayah punya permen, sini yuk sama Ayah yuk," bujuk Tama.
Aksa menurut. Setelah diberi sebuah lolipop oleh Tama dia begitu saja turun dari gendongan om Bayu. Tidak lama setelah Aksa lupa dengan Bayu, dia pamit untuk pulang. Aksa sudah mulai lengket dengan Ayahnya dan sudah mau bermain dengan Tama yang sudah beberapa bulan hanya mengobrol dengannya melalui videocall. Anak itu masih rewel saja, akhirnya terpaksa Bunda Ratna yang membawa mobilnya.
Mereka lebih dulu mengantar Uli pulang ke rumahnya, bertemu pula dengan kedua orang tuanya baru kembali untuk pulang. Begitu sampai, Tama turun lebih dulu dan membukakan pagar baru Ratna memasukkan brian secara perlahan ke tempatnya. Ratna membuka bagasi hendak mengambil ransel Aksa sekalian membawa masuk tas Tama, namun langsung dicegah oleh suaminya itu.
"Berat Bunda, sini biar Ayah," kata Tama. Tangan kirinya menggendong Aksara yang belum mau turun sama sekali, sedangkan tangan kanan dia pakai untuk menenteng tasnya dan membawanya masuk.
"Tasnya taruh di situ aja Yah, mau Bunda bongkar," kata Ratna.
Tama meletakkan tasnya di ruang tengah, sedangkan dia duduk di sofa mengamati rumahnya yang dia rasa sedikit berubah. Seluruh ruang tengah tertutup playmat Aksa, meja kaca yang tadinya ada di depan sofa sekarang bergeser di sebelah tv. Ratna bahkan menjauhkan semua barang-barang yang mungkin melukai putranya. Selama dia tidak di rumah Ratna memang cerita jika Aksa mulai suka merangkak kesana kemari. Bahkan Ratna pernah cerita kalau dia menemukan Aksa merangkak ke dalam kamar mandi yang pintunya terbuka.
Ratna bersila di lantai dan langsung membuka ransel Tama. Dia keluarkan satu per satu dan memisahkan mana saja yang harus langsung dia cuci dan dia bereskan. Dia meneliti semuanya dan memastikan semua barang suaminya tidak ada yang hilang karena menurut Ratna Tama itu teledor. Dia sering kali melupakan barang-barang pribadinya.
"Bunda, handphone Ayah lowbat. Tolong dong," minta Tama.
"Lho Ayah tuh berangkat apa nggak bawa charger handphone?" tanya Ratna yang tidak menemukan charger milik suaminya di dalam tasnya.
__ADS_1
"Pinjam punyamu dulu dong Bun, Punya Ayah rusak soalnya terus sudah kubuang," kata Tama.
"Lha terus selama di sana pakai punya siapa?"
"Gantian pakai punya Bayu atau punya Bang Nanda," kata Tama nyengir.
"Kan, ada-ada aja," kata Ratna sudah hafal.
Aksa kembali merengek ketika Tama menemukan anak itu sudah tertidur di pangkuannya. Tama berniat akan menurunkan Aksa, namun dia memaksa untuk tetap bersama Ayah dan begitu posesif pada Ayahnya. Ratna melihatnya, ketika Tama kerepotan dengan Aksa yang sama sekali tidak mau lepas darinya. Karenanya Tama jadi tidak bisa membantu Ratna.
"Ayah ikut sekalian tidur aja," kata Ratna.
"Aksa, Ayah biar lepas seragam dulu sebentar aja. Iya habis ini tidur lagi sama Aksa, sebentar sayang, pinter sama Bunda dulu ya Ayah biar ganti baju," kata Ratna.
Aksa berhasil lepas dari Ayahnya. Ratna tadinya meminta Tama untuk mandi dulu, tapi karena tidak tega pada putranya Tama memilih untuk melepaskan seragamnya, menyisakan kaos yang dipakainya lalu melepaskan celana menggantinya dengan boxer untuk tidur bersama Aksa.
"Nggak udah nanti Aksa rewel lagi kalau ditinggal kelamaan," kata Tama yang mulai merebahkan diri di sebelah Aksa.
Ratna memberikan sebotol susu pada Tama agar dia bisa membantu Aksa menghabiskannya dan menemaninya tidur. Setelah memastikan putranya anteng bersama sang ayah, Ratna kembali ke ruang tengah dan melanjutkan acaranya tadi. Dia meneliti seragam Tama, apakah ada yang bolong, robek, atau kerusakan lainnya.
Ratna membuka seragam hitam Tama yang berlubang di bagian perutnya. Dia ingat suaminya itu pernah terluka selama di sana. Ratna kembali melangkah ke dalam kamar dan menemukan Tama sedang menepuk-nepuk Aksa setelah dia menghabiskan susunya. Ratna duduk di sebelah Tama, dan setelah meminta izinnya dia melihat bekas luka Tama di perutnya.
"Sudah baik kan Bun? Kamu nggak perlu khawatir," kata Tama.
__ADS_1
"Mas beneran nggak kenapa-napa? Dari bekasnya aku tahu lukanya cukup dalam. Yang ngobati Mas di sana siapa?" tanya Ratna.
"Gilang," jawab Tama menghentikan keraguan Ratna.
"Yasudah, dilanjut istirahatnya. Mas mau dimasakin apa?" tanya Ratna.
"Apa aja deh Bun, Ayah manut," kata Tama.
Ratna mengangguk. Dia pamit pada Tama untuk pergi berbelanja. Ratna pergi membeli bahan masakan yang sekiranya dia butuhkan. Selain membeli sayur-sayuran segar untuk membuat makannya Aksa, Ratna juga membeli daging untuk dia masak jadi semur. Lumayan, kalau dimakan dengan nasi hangat pasti enak. Dia kepikiran, suaminya itu selama di barak pasti jarang bisa makan dengan layak jadi Ratna memasak banyak hari ini.
"Pak, saya minta telurnya ya dua kilo," kata Ratna.
"Sampun Bu, ada lagi?"
"Sama bawang putih, bawang merah, bawang bombay masing-masing 1/4 kilo, cabe rawit 1/2 kilo," kata Ratna.
"Mau milih sendiri atau saya yang pilihkan saja?"
"Silahkan Bapak saja, saya percaya kok," kata Ratna membuat penjualnya tersenyum. Sembari menunggu barang yang dibelinya ditimbang, Ratna meraih 1 bungkus besar minyak goreng, 1 kg gula pasir, gula jawa, merica, ketumbar, seledri, daun bawang, wortel, brokoli, dan masih banyak lagi.
Sejak punya Aksa dan anak itu mulai MPASI, Ratna memang selalu belanja selengkap ini. Kesannya memang seperti berlebih, tapi Ratna sadar dia tidak bisa belanja setiap harinya jadi untuk memudahkan dia terbiasa belanja untuk keperluan selama beberapa hari sekaligus.
Selesai dengan sayur-sayuran, dia menuju ke sudut pasar yang lain untuk membeli daging. Dia membeli 1 kg daging sapi dan 1/2 kg babat sebagai campurannya. Walaupun lusa mereka akan pergi, tapi Ratna tetap belanja untuk setidaknya makan mereka hari ini dan besok. Selain semur daging, Ratna juga berencana membuat sayur sop untuk Aksara. Putranya itu walau sudah tumbuh gigi cukup banyak, tapi dia masih kesulitan makan jika tidak menggunakan sayur berkuah makanya Ratna sering memasak sop, sayur bayam, atau masakan apapun yang berkuah. Kemarin dia coba menyuapi Aksa dengan sayur asem dia juga suka.
__ADS_1
Begitu belanjaannya lengkap, dia membawanya pulang dan segera mengolahnya begitu sampai di rumah. Dia tidak ingin membuat suami dan putranya yang sedang lelap terganggu, jadi Ratna memasaknya dengan cukup berhati-hati. Dia harus memakai panci presto, namun sebelum itu dia sudah menutup pintu kamarnya jadi setidaknya pintu itu bisa meredam suara keras yang akan keluar dari uapnya.
Selagi menunggu masakannya, Ratna beralih ke mesin cuci dan mulai mencuci pakaian Tama. Dia lebih dulu merendam seragam suaminya dan mencucinya dengan tangan. Dia takut saja jika selama di sana Tama tidak mencucinya dengan baik jadi dia memilih untuk membersihkannya dengan kedua tangannya sendiri. Setelah selesai menggantung semua pakaian, daging yang dia presto tadi mulai matang. Dia mematikan apinya namun belum membuka penutupnya. Dia biarkan semua uapnya keluar sembari menyapu lantai dan membereskan mainan Aksa yang berserakan di lantai.