
Pagi ini Ratna berangkat bersama Bu Rosa dan Deva ke pangkalan untuk menjemput pasukan yang baru kembali dari tugas di Aceh. Ratna sengaja memakai pakaian oversize dan melapisinya dengan outer. Dia ingin mengatakan kabar ini secara langsung. Biar Tama tahu secara langsung juga. Ratna sudah menunggu di pangkalan dekat lapangan terbang bersama dengan ibu-ibu yang lainnya.
Ratna melihat ketika Tama berjalan turun dari pesawat dan langsung berbaris di hadapan komandan mereka. Tama adalah orang yang melapor. Rasanya bangga sekali Ratna melihat Tama berdiri gagah di depan pasukan. Dia berdiri menghormat pada komandan dan melaporkan kondisi prajuritnya saat ini juga menjadi perwakilan menerima selamat telah menyelesaikan misi dengan baik.
Selesai dengan upacara penyambutan, mereka membubarkan diri. Tama berjalan mendekati Ratna tapi tidak langsung memeluk Ratna seperti yang dilakukan suami lainnya pada istri dan anak mereka. Tama lebih dulu menjarak sekitar 3 langkah, lalu hormat dan melapor pada Ratna.
"Lapor, Pratama Aji sudah pulang dengan selamat," kata Tama.
"Laporan saya terima, makasih sudah pulang dengan selamat Mas," kata Ratna sambil merentangkan tangannya.
Tama langsung memeluk Ratna melepaskan rindunya setelah hampir 3 bulan tidak bertemu dengan istrinya ini.
"Mas, aku punya hadiah buat kamu," kata Ratna. Tama tampak bingung karena Ratna langsung melepaskan pelukannya dan langsung merogoh saku jaketnya. Ratna menunjukkan sesuatu pada Tama yang dia belum yakin itu apa tapi dari yang dia tahu foto yang Ratna berikan adalah foto hasil USG.
"Apa nih?" tanya Ratna.
"Nih, Baby Ji. Lihat kan? Anakmu itu Mas," kata Ratna membuat Tama sempat terdiam. Butuh beberapa detik untuknya mencerna kalimat Ratna baru dia menyadari apa yang Ratna maksud.
"Huh?"
"Astaga Mas, kamu nggak sadar nih perutku udah gede gini? Udah jalan 15 minggu nih," kata Ratna sambil mengelus perutnya.
Tama langsung tertawa lalu dia berbalik badan dan langsung berteriak, "Aku akan jadi seorang ayah...!!!" Teriaknya.
"Astagfirullah Mas jangan teriak-teriak ah malu...," Ratna berusaha membungkam Tama tapi sudah terlanjur juga mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian sekarang. Bahkan atasan Tama saja sampai memberi selamat pada mereka berdua.
"Ahh tau ah Mas Tama malu-maluin...," kata Ratna kemudian berjalan menjauh dari Tama.
__ADS_1
"Ehh..., ehh..., kok akunya ditinggal gimana sih dek? Kamu ke sini kan jemput aku kok malah, sini dulu sayang," kata Tama sambil mengejar Ratna yang mulai berjalan keluar dari lapangan.
Sesampainya mereka di rumah, Tama langsung memberi kabar pada orang rumah. Pertama pada Bapak dan Ibu lalu pada Mama. Dari Bapak dan Ibu mereka mendapatkan selamat, bahkan Ibu mulai merencanakan ini itu. Dari yang bilang akan membelikan korset lah, baju lah suplemen dan lain sebagainya bahkan juga memberi tips-tips untuk Ratna. Berbeda lagi ketika Tama memberi kabar pada Mamanya. Entah mendapatkan hasutan siapa, tapi Mama malah mempertanyakan anak siapa yang tengah Ratna kandung. Padahal kan selama ini Mama juga yang heboh ingin cepat dapat cucu, tapi begitu Ratna hamil dia malah dipertanyakan. Ratna bahkan bisa mendengar kata-kata Mama secara langsung karena Tama memang me-loudspeaker panggilannya.
Tama tidak ingin mendengarnya lebih banyak memutuskan untuk langsung mematikan teleponnya. Ratna berjalan mendekatinya, lalu berdiri di hadapan Tama yang terduduk lemas di sofa. Dia masih syok karena pernyataan ibunya sendiri.
"Jujur sama aku Mas, kamu ragu juga?" tanya Ratna dengan tatapan yang cukup serius.
Tama menggeleng kemudian bangkit berdiri, "Aku nggak mungkin ragu. Jelas dia adalah anakku. Kamu sendiri bilang kan usianya sudah 15 minggu. Ratna aku pergi bahkan kurang dari 3 bulan. Artinya sebelum aku pergi kamu sudah hamil tapi memang kita belum sadar. Jelas kan dia anakku, sini deh...," kata Tama sambil menuntun Ratna mendekati kalender yang tergantung di dinding.
"Nih, aku bahkan masih inget kapan aku berhubungan sama kamu. Kalau lihat dari tanggalnya kemungkinan ini nih, tanggal 13. Tragedi pamer BH mu itu," kata Tama.
"Eh...? Apa...? Anu, bentar..., bentar..., Mas inget? Kok bisa? Hah bentar ini akunya yang kebangetan sampe lupa atau gimana sih," kata Ratna gagu.
"Mas memang inget semua moment sama kamu Ratna. Ini tuh Mas inget banget, habis nerima hasil tes itu kan kamu pamer habis beli BH baru. Tadinya mau Mas seret ke kamar malah udah diseret ke rumah sakit duluan karena nangani korban kecelakaan kan, terus malam berikutnya kamu dengan sengaja ganti baju di depan Mas cuma demi pamer. Semaleman loh kita nggak tidur masa iya Mas lupa, nggak mungkin Ratna. Bahkan Mas masih inget kamu paginya marah-marah karena sayur satu panci basi lupa diangetin," kata Tama yang mengingatnya sampai ke detail terkecil.
"Aku masih nggak yakin ini yang aku nikahin tuh otaknya terbuat dari apa sih kok ya bisa inget hal sepele kaya gini," kata Ratna sambil geleng-geleng.
"Bu dokter nggak sadar diri ya otaknya lebih encer dari pada saya. Lagian Ratna, momen sama kamu sekecil apapun itu nggak akan pernah Mas lupain. Karena apa? Mas sayang sama kamu, Mas cinta sama kamu. Kamulah sumber kebahagiaan terbesarnya Mas sekarang dan sampai kapanpun itu."
"Terus baby Ji gimana?" tanya Ratna sambil mengelus perutnya.
Tama mengikutinya, dia letakkan tangan besarnya di perut Ratna lalu menunduk hanya untuk mendaratkan ciuman di sana, "Baby Ji, sama Bunda Nana, dua orang ini adalah sumber kebahagiaanku, sumber kebahagian dan semangat hidupnya Ayah," kata Tama membuat Ratna tersenyum mendengarnya.
Baru Tama dan Ratna akan mendekatkan diri, telepon Ratna berdering membuat Ratna langsung mendorong Tama menjauh agar dia bisa melangkah meraih handphonenya.
"Kalah lagi," kata Tama sambil meninju udara.
__ADS_1
"Mas..., Mama yang telepon. Aku harus gimana?" tanya Ratna.
"Angkat aja dek, biar Mas yang bicara," kata Tama sambil berjalan kearahnya.
"Takut Mas...," rengek Ratna.
"Nggak usah takut, Mas di sini kok."
Ratna kemudian menggeser ikon hijau agar teleponnya masuk. Belum sampai kalimat sapaan Ratna selesai dia ucapkan, Mama sudah melayangkan banyak pertanyaan pada Ratna membuatnya terduduk lemas begitu saja. Lagi pula siapa sih yang tidak sakit hati dituduh bersalah padahal dia tidak melakukan apa-apa.
"Mama kalau telepon cuma buat marahin istrinya Tama mending nggak usah telepon. Mama bikin istriku nangis tahu nggak?!" kata Tama begitu saja meraih handphone Ratna yang mulai menangis.
"Kamu kok masih santai aja nganggep dia istri kamu sih? Kamu nggak tanya sama dia gimana dia bisa hamil? Kamu habis pergi jauh berbulan-bulan pulang ke rumah lihat istri kamu udah hamil kaya gitu kok nggak curiga. Jangan jadi bodoh Tama," kata Mama.
"Ma, Ratna bahkan sudah hamil sebelum aku pergi. Menurut Mama dia berkhianat atau tidak? Jelas tidak Ma, aku bahkan berani bilang Ratna setia sama suaminya. Tidak akan ada laki-laki lain di hatinya selain aku."
"Kamu sudah dibutakan sama cinta Tam sampai nggak bisa berpikir jernih," kata Mama kemudian langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Tama meletakkan handphone Ratna di meja lalu dia kembali fokus pada Ratna yang terlihat menahan tangisannya, "Jangan ditahan sayang, nanti sakit," kata Tama membuat tangisan Ratna tumpah begitu saja. Tama langsung memeluknya, menenggelamkan Ratna dalam dekapannya. Tama tidak berusaha menenangkannya. Dia membiarkan Ratna melepaskan sakit hatinya agar setidaknya hatinya bisa tenang.
"Shtt..., jangan ditahan tapi jangan di los juga gini dong. Kasihan baby Ji, Ratna...," kata Tama.
"Mas perutku sakit...," bisik Ratna.
"Tuh kan udahan nangisnya, nanti tambah sakit. Udah ya, tenang yuk istighfar Ratna," kata Tama.
Tama melepaskan pelukannya lalu berjalan ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Ratna agar dia bisa merasa sedikit lebih tenang. Tama tidak mengatakan apapun, dia merasa Ratna sedang butuh ketenangan sekarang. Tama hanya duduk tenang di sebelah Ratna yang menyandarkan kepalanya pada bahu Tama. Tangan kiri Tama melingkari bahu sempit Ratna sedangkan tangan kanannya mengelus pelan perut Ratna. Tama melihat Ratna menahan sakit, dia juga merasakan perut Ratna kaku. Tama terus berusaha menenangkan Ratna tanpa mengatakan apapun. Hanya tindakan-tindakan menenangkan yang bisa dia lakukan saat ini.
__ADS_1
"Jangan kerja dulu, hari ini istirahat sama Mas ya di rumah," kata Tama diangguki Ratna yang menyamankan posisinya lalu perlahan memejamkan matanya. Lambat laun Ratna yang merasa rileks jatuh tertidur. Tama tidak berusaha melepaskan tautannya. Dia malah berniat ikut memejamkan matanya dan bertemu dengan Ratna di dalam mimpi.