
Hari ini Ratna terlihat begitu bahagia karena diberi cuti lebih cepat dari yang seharusnya. Akibat ulah nakal dokter kandungannya yang menyerahkan riwayat kesehatan Ratna pada dokter kepala akhirnya Ratna diberi cuti lebih panjang. Ratna diberi cuti dengan syarat setelah selesai cuti dia mau melanjutkan studinya.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Tama menyetujui hal itu. Toh studinya sudah tidak seberat seperti ketika dia masih menjadi residen. Lagi pula Tama tahu kalau menjadi dokter subspesialis adalah cita-cita Ratna sejak lama. Ratna sudah memutuskan untuk mengambil program subspesialis onkologi. Selain Theo sudah lebih dulu fokus ke arah sana, subspesialis onkologi belum banyak yang mempelajarinya.
Semalam Tama sok ngide mengajak Ratna "cari wangsit" membuat nama untuk jagoan kecilnya di perut. Mumpung Tama juga sedang libur selama 2 hari ini dia mengajak Ratna untuk jalan-jalan ke daerah Batang. Ratna sejak beberapa minggu lalu ribut ingin lumba-lumba dan hingga hari ini keinginan itu tidak mereda. Berhubung tidak mungkin juga Tama belikan lumba-lumba betulan yang katanya mau dia masukkan dalam bak mandi, Tama akhirnya mengajak Ratna ke tempat dimana dia bisa melihat lumba-lumba.
"Bunda, perjalanannya jauh lho kamu yakin?" tanya Tama sebelum menjalankan mobil.
"Yakin."
"Beneran?"
"Udah cepetan jalan. Udah dijanjiin nggak ditepati. Sakit tahu rasanya," rengek Ratna.
"Yaudah iya. Jalan ya ini, tapi janji ya Bunda harus nurut. Adek juga, jangan rewel ya," kata Tama sambil mengelus perut besar Ratna.
"Iya Ayah janji," jawab Ratna.
Tama menghela nafasnya lebih dulu sebelum akhirnya menginjak pedal gas. Perjalanan dari Jogja ke arah Batang saja sudah cukup lama, belum di sana mereka akan banyak jalan kaki. Tama takut Ratna kelelahan tapi namanya ibu negara sudah bertitah mana ada yang berani melawan. Mumpung Ratna fit dan kaki Tama sudah pulih jadilah mereka pergi. Padahal awalnya Tama hanya ingin mengajak Ratna ke daerah Wonosobo atau ke Magelang. Intinya dia ingin mengajak istrinya menghirup udara bersih tanpa asap kendaraan bukannya malah berburu lumba-lumba begini.
"Dek, cari penginapan deh. Kalau bisa booking sekalian, nanti selesai jalan-jalan kita istirahat pulangnya besok. Aku nggak mau kalau langsung pulang hari ini juga," kata Tama.
"Udah. Tapi aku dapet di daerah Pekalongan nggak papa kan?"
"Nggak papa yang penting ada," kata Tama.
"Mas marah ya?"
"Nggak marah sayang, Mas tuh khawatir sama kamu. Jadi ibu hamil aktif banget nggak bisa kalem dikit aja. Belum pernah Mas lihat kamu duduk anteng di rumah. Pasti ada aja yang dikerjain. Nggak capek apa? Adek gimana? Usianya sudah lewat 30 minggu lho Bunda. Pasti sudah berat kan?" tanya Tama.
"Aku aktif juga karena adek nggak mau diajak anteng. Kalau aku anteng, dia nendang-nendang terus dan rasanya nggak enak. Kaya berontak pengen gerak dia. Terkadang aku juga capek tapi dari pada yang diperut gelisah akunya cari-cari kesibukan," kata Ratna sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Jagoannya Ayah toh yang ngerjain Bunda," Tama ikut mengelus perut Ratna dengan sebelah tangannya yang bebas dari kemudi.
"Mirip sama kamu Mas, orangnya aktif nggak pernah mau diem," jawab Ratna.
"Eh enak aja. Bunda juga nggak mau diem orangnya," kata Tama mendebat Ratna.
"Aww," rintih Ratna karena merasakan tendangan keras dari dalam perutnya.
Tama tertawa, setiap kali tangannya merasakan tendangan itu ada ledakan kebahagiaan dalam hatinya membuat senyumnya tidak bisa luntur sedikitpun begitu juga dengan Ratna yang sebenarnya ingin sekali mencium perutnya tapi tidak bisa.
...***...
Ketika mereka sedang melihat pertunjukan lumba-lumba, Ratna terlihat sangat asik duduk di baris paling depan. Matanya sangat berbinar persis seperti anak kecil yang tengah menatap mainan barunya. Seharian Ratna berputar-putar melihat banyak hewan-hewan laut tanpa rasa lelah sama sekali. Tama hanya mengamati dari belakang, dengan perbekalan lengkap dia terus mengikuti kemanapun Ratna berjalan.
Sebagai permintaan maafnya karena tidak sanggup membelikan baby dolphin untuk putranya, Tama mengajak Ratna ke toko souvenir yang terletak dekat dengan pintu keluar. Di sana dia membelikan Ratna 2 buah boneka lumba-lumba, satu kecil dan yang satu lebih besar. Dua-duanya berwarna biru. Ratna bilang yang besar adalah induknya sedangkan yang kecil anaknya. Terserahlah, asal dia tidak rewel lagi. Karena memang selama kehamilan Ratna sensitif sekali. Apalagi kalau dia tahu si kecil protes karena Ayahnya yang marah-marah di kantor. Bisa disikat dia sampai rumah.
Saat ini Tama sedang mengajak Ratna untuk makan. Sudah maghrib dan Tama juga harus mencari mushola untuk sholat. Hati Tama rasanya tenang sekali melihat napsu makan Ratna sudah kembali. Walaupun dia masih terus mengerem porsi makannya karena takut kegemukan, tapi dia sudah tidak pemilih seperti awal-awal kehamilan kemarin.
"Di jogja aja. Lagian perlengkapan semua sudah di Jogja. Aku juga nggak mau ninggalin Mas sendirian di sini," kata Ratna.
"Tapi kalau lahiran di sini kamu yang sendirian, gimana? Bapak kan sudah nggak bisa ditinggal-tinggal," kata Tama.
"Mama katanya mau ke Jogja Mas. Nemenin aku lahiran," jawab Ratna.
"Mama? Kamu bener mau ditemenin Mama? Kok Mas agak was-was ya."
"Nggak papa Mas, aku kuat kok. Beda banget sama yang sebelum-sebelumnya, buat yang satu ini aku yakin banget aku sama adek akan baik-baik aja," kata Ratna.
"Mas ada jatah cuti sekitar 1 bulan. Mau Mas ambil buat jagain kamu. Mas nggak tega ninggalin kamu sendirian. Apalagi posisinya ada Ibu sama Mama yang bakal sering cerewetin kamu ini itu," kata Tama.
"Ya udah nggak papa Mas, aku seneng malah kalau Mas mau nemenin. Jujur aku agak takut juga sih, first time nih," kata Ratna.
__ADS_1
"Sama. Buat Mas juga first time. Kita belajar bareng-bareng ya. Belajar jadi orang tua yang baik buat Aditama junior," kata Tama.
"Mas..., aku kepikiran sesuatu," kata Ratna tiba-tiba.
"Apa?"
"Nama Aditama, masukin ke namanya adek boleh nggak?"
"Boleh. Tadi waktu Mas di jalan kan cuacanya lagi cerah banget, Mas dapet nama Aksara Langit. Aksara artinya huruf atau simbol, tapi bisa diartikan sebagai yang tidak bisa dihancurkan sedangkan Langit punya artian luas, angkasa, atau berarti surga. Mas pengen anak kita bisa secakap dan setegas aksara di bumi dan bisa selembut awan di langit," kata Tama.
"Aditama Aksara Langit. Namanya bagus," kata Ratna.
"Adek suka nggak? Hai Aksa," tanya Ratna pada perutnya.
"Gimana?" tanya Tama menunggu respon dari sang putra.
"Tau nggak? Adek nendang, kerasa kaya dia lagi jingkrak-jingkrak di dalem. Seneng banget kayanya udah punya nama ya. Ayah yang buat lho. Bilang makasih dulu sama Ayah, makasih Ayah," kata Ratna pada perutnya.
Ratna memang suka sekali mengajak si kecil ngobrol begini. Walaupun pada akhirnya dia tanya sendiri jawab sendiri. Ratna bilang Aksa suka ngobrol sama Bundanya, kalau dari ayah beda lagi. Setiap kali denger ayah lagi ngaji, dia anteng banget dengerin. Atau kalau Ayah sedang meletakkan kepalanya di pangkuan Bunda dan mengelus perut Bunda, Aksa akan menendang-nendang senang.
"Aksa anak Bunda, sehat terus ya sayang," kata Ratna lagi.
"Ayah...," kata Ratna kini pada Tama yang sudah setengah melamun memandangi istrinya.
"Hmm?"
"Aku pengen cium Dek Aksa," kata Ratna.
Tama kemudian bangkit dari kursinya kemudian berjalan mendekati Ratna. Dia berjongkok di hadapan Ratna lalu mencium perut Ratna setelah itu dia mencium kening Ratna. Ratna sering bilang dia iri pada Tama yang bisa mencium si kecil setiap kali dia mau sedangkan Ratna dia tidak bisa. Jangankan mencium, untuk membungkuk saja dia sudah tidak bisa. Makanya Tama mencarikan metode untuk Ratna setidaknya bisa sedikit lebih lega. Kalau biasanya mereka di rumah, Tama akan mengecup bibir Ratna tapi berhubung saat ini mereka sedang berada di tempat umum, Tama hanya mencium kening Ratna.
"Bunda juga, sehat ya," kata Tama sambil mengelus kepala Ratna.
__ADS_1