Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
91. Sadar Akan Kesalahan


__ADS_3

"Ratna, sini makan malam dulu," kata Mama pada Ratna yang baru selesai menyusui Aksara.


"Sini, Aksa sama nenek dulu. Kamu makan sana sekalian sama Tama juga," kata Mama.


"Makasih ya, Mama bantu banget," kata Ratna.


"Udah sana makan dulu, melownya nanti," kata Mama.


"Bunda, Mama masak terong balado kesukaanmu nih," ajak Tama yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


"Itu mah kesukaanmu Mas, ada-ada aja," kata Ratna menyusul untuk makan di meja makan.


Semuanya makan bersama malam itu. Bapak dan Ibu sedang makan bersama dengan Tama dan Ratna sedangkan Mama dan Sindy sedang bermain bersama dengan Aksara. Bohong jika Ratna bilang dia tidak merasakan apa-apa. Bahkan dalam hatinya mulai muncul ketakutan yang tidak perlu. Dia takut jika Sindy bukan hanya mengambil Tama darinya tapi juga Aksa dari pelukannya. Ratna tidak berselera makan dan hal itu disadari oleh Tama, Bapak, dan Ibu.


Bapak dan Ibu sudah berjanji pada Ratna untuk tidak berkomentar apapun, tapi yang namanya orang tua apa iya akan diam saja jika ada yang menyakiti anaknya? Kurasa tidak. Nyatanya Bapak langsung melayangkan pandangan tidak suka pada menantu laki-lakinya yang satu ini. Beliau ingat betul jika Tama sudah berjanji untuk tidak menyakiti Ratna dan Bapak sedang menagih janjinya itu sekarang.


Tama dengan segera menghabiskan makan malamnya dan langsung mengambil alih Aksa dari gendongan Mama. Dia membawa Aksa masuk ke dalam kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk kecuali Ratna. Tidak lama kemudian Ratna menyusul. Dengan lesu dia melangkah masuk ke dalam kamar. Menuju ke depan lemari untuk mengganti pakaiannya setelah itu menyusul Tama yang hanya duduk diam di atas tempat tidur sambil bermain hp.


"Bunda, ganti baju yang bener dan ikut aku sekarang," perintah Tama.


"Mau ke mana?"


"Aku mau carikan hotel untuk Sindy. Aku yang nggak suka lihat dia ada di sini. Aku salah kalau sampai mengizinkan ada wanita lain menginap di rumahku," kata Tama.


"Mas kamu kebangetan. Dia ke sini niat silaturahmi lho. Soal perasaanku itu urusanku, Mas," kata Ratna.


"Bukan cuma soal kamu tapi juga soal Aksa. Seharian dia apa nggak rewel? Kalau aku sama kamu berantem terus kaya gini apa nggak kasihan Aksara? Aku bukan hanya asal ambil keputusan Bunda, aku sudah pikirkan matang-matang. Aku hanya ingin melindungi kamu dan Aksara. Kalian berdua adalah duniaku, kalian segalanya buat aku," kata Tama.

__ADS_1


"Aku juga mikir perasaan Bapak dan Ibu. Aku sebagai anak juga berhak menegur jika orang tuanya salah, aku nggak mau Mama tersesat lebih jauh lagi. Aku juga sayang sama Mamaku," kata Tama lagi.


"Kalau itu yang jadi keputusanmu, aku ikut Mas. Aku yakin kamu pasti akan melakukan semua yang terbaik buat keluargamu. Karena kamu imam yang terbaik untukku," kata Ratna.


Tama memeluk istrinya erat. Dia bangga pada Adiratna Widiyatnanya. Dia banggga pada istrinya, "Subahanallah, bener-bener deh kalau jodoh datangnya dari Allah tuh emang bikin adem di hati. Sayang banget sama kamu Bun," kata Tama masih memeluk Ratna.


"Sayang juga aku sama kamu Ayah," kata Ratna membalas pelukan suaminya, menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Tama.


Belum lama mereka berpelukan, Aksa merengek membuat Ratna dan Tama tertawa. Ada yang cemburu tidak ikut disayang sepertinya. Aksa terbangun dan merengek karena popoknya basah. Bukan hanya itu, ompolnya juga membasahi pakaiannya. Ditambah lagi keteledoran Tama yang lupa memasang perlak membuat box bayinya basah semua. Terpaksa deh, malam ini Tama harus menerima kenyataan tidur tanpa memeluk istrinya karena Ratna dikuasai oleh si kecil.


...***...


Ratna baru selesai meletakkan ASI yang baru ke dalam freezer dan menyerahkan Aksara pada Akung dan Utinya. Sedangkan Tama saat ini sedang bicara pada Mama dan Sindy agar keduanya bersiap untuk ikut bersamanya. Tama bahkan sudah sedikit memaksa agar Sindy dan Mama mau masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau pulangin Mama sama Sindy?" tanya Mama tidak terima.


"Nggak Ma, aku sudah bilang kan, aku terima Sindy berkunjung ke rumahku tapi aku tidak pernah memberinya izin menginap di satu atap yang sama dengan istriku. Ma, lebih dari seorang anak aku ini seorang suami juga. Andai Papa yang bawa mantan pacarnya ke rumah apa Mama nggak sakit hati juga?" kata Tama. Dia tidak peduli jikapun Sindy dengar dan sakit hati dengan ucapannya karena memang begitulah faktanya. Dia harus bisa menjaga dan melindungi istrinya secara lahir maupun batin.


"Maaf ya Mbak Sindy, mbak Sindy mau pulang kapan ke Jakarta? Biar aku yang belikan tiketnya," kata Ratna.


"Nggak usah, saya nggak enak sama kamu. Saya sudah ganggu kamu," katanya.


"Nggak papa Mbak, saya sudah berhutang budi sama Mbak Sindy karena sudah merawat dan menemani Mama di sana, makasih ya Mbak," kata Ratna.


"Pokoknya semua kebutuhan Mbak Sindy selama di Jogja insyaallah aku tanggung," kata Ratna.


Tama dan Ratna mencarikan hotel dekat dengan jalan Malioboro dan pusat kota. Ratna juga meminta kamar yang bagus agar Sindy merasa nyaman. Setelah memastikan Sindy dapat kamar dan sudah baik-baik saja, Ratna, Tama, dan Mama segera pulang.

__ADS_1


"Ratna...," panggil Mama.


"Iya Ma?"


"Boleh Mama belikan sesuatu buat kamu?" tanya Mama.


"Maksud Mama?"


"Belum terlalu malam, kamu belum capek kan? Mama mau belikan sesuatu buat kamu. Mama bukan hanya mau minta maaf tapi Mama juga merasa salah karena Mama nggak pernah memperlakukan menantu Mama dengan baik," kata Mama.


"Boleh banget Ma, dengan senang hati. Mau kemana? Tama yang anter," kata Tama dengan bersemangat.


"Ih kok jadi kamu yang semangat sih Mas?" protes Ratna.


"Nggak Ma, kasihan Aksa kalau ditinggal kelamaan. Lagian Mama masih di sini agak lama, Mama bisa nemenin Ratna aja Ratna sudah seneng banget," kata Ratna.


"Hallo, Bu? Aksa apa kabar?" tanya Tama yang ternyata sudah menelepon Ibu.


"Tadi kebangun karena ngompol tapi sekarang sudah tidur lagi tuh lagi dikudang Akung," kata Ibu yang bisa didengar oleh Ratna dan Mama.


"Aku mau ajak Ratna jalan-jalan sebentar, nggak papa kan Bu?"


"Sak karepmu. Yang penting jangan pulang kemaleman," kata Ibu lagi.


Setelah mematikan telepon Tama sempat menoleh ke arah Ratna yang tidak menyangka Tama akan menelpon ibunya begitu saja. Tama juga tidak lupa untuk meledek Ratna yang mulai melirik ke arahnya sedangkan Mama di kursi belakang hanya bisa tertawa.


"Ayo Rat, mumpung porter rangkap driver rangkap bodyguardmu ready," kata Mama.

__ADS_1


"Tuh dengerin. Kapan lagi kamu belanja porternya ganteng gini," kata Tama membanggakan dirinya sendiri.


"Yaudah deh, terserah Mama aja. Aku ngikut mau di ajak kemana aja," kata Ratna pada akhirnya.


__ADS_2