
Ratna sengaja meminta suaminya untuk tidak menjemputnya hari ini. Dia merasa tidak enak karena tidak menyambut kepulangan Tama kemarin dengan baik, makanya dia ingin meminta maaf dan Ratna paling tahu bagaimana menyenangkan suaminya. Dengan sengaja dia datang ke salon, memanjakan dan menyenangkan dirinya dulu. Sepulangnya dari salon, Ratna pergi supermarket dan membeli beberapa hal di sana baru dia kembali ke rumah dengan banyak belanjaan.
"Kok pulang sendiri dek Ratna?" tanya Bu Rosa yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
"Iya Bu, sengaja nggak minta jemput. Mau bikin surprise nih," kata Ratna.
"Awet ya jadi pengantin barunya," goda Bu Rosa.
"Ibu bisa saja," kata Ratna dengan malu-malu.
Ratna pamit pada Bu Rosa setelah percakapan singkat. Setelah meletakkan belanjaannya di atas meja dapur, Ratna lebih dulu mengganti baju dan mencuci tangannya. Ratna beralih ke dapur kemudian menggunakan apronnya bersiap untuk memasak. Dia memasak beberapa macam hari ini. Mulai dari membuat cumi bakar sesuai keinginannya, membuatkan terong balado yang diminta Tama, serta ayam goreng kecap. Tama juga request sambal terasi.
Sayangnya belum sampai semua makan malamnya siap, Tama malah sudah kembali ke rumah. Tama memasukkan mobilnya ke garasi kemudian menutup kembali pagar rumahnya. Begitu Tama membuka pintu depan, indera penciumannya langsung disambut dengan wanginya masakan yang sedang Ratna buat. Tama dengan begitu semangatnya langsung masuk dan menuju ke dapur untuk menemui istrinya. Dia melihat Ratna sedang asik di depan kompor. Tama langsung memeluknya dari belakang dan langsung menemukan sesuatu yang berbeda.
"Dek, kamu habis nyalon ya?" tanya Tama.
"Tahu aja," kata Ratna.
"Ya soalnya baunya beda. Kan kamu biasanya pakai parfum wangi Zaitun, kalau ini wanginya lebih kaya coklat gitu manis. Wah bau-baunya nanti malam Mas bakal dapat hadiah besar nih."
"Itu hadiahmu diatas meja," kata Ratna.
"Apaan? Cuma terong balado, cumi bakar, sama ayam kecap. Nggak boleh minta lebih nih?"
"Minta apaan emangnya?"
"Mau minta anak," kata Tama.
"Nanti. Mandi dulu sana, habis itu makan. Aku ada kerjaan Mas," kata Ratna.
"Kubantuin mau nggak sini biar cepet selesai. Kata kamu 12 jam, ini sudah lebih lho," kata Tam mencoba untuk protes.
"Sabar ya...," kata Ratna.
"Nggak sabar aku Dek, siniin biar Mas yang selesaikan masaknya kamu selesaikan kerjaanmu. Pokoknya Mas selesai masak, mandi, kita makan bareng. Habis itu nggak boleh pegang kerjaan lagi lho ya," kata Tama.
"Siap laksanakan komandan," kata Ratna dengan malas.
"Nggak ikhlas nih?" tanya Tama sambil membantu Ratna melepaskan apron.
"Ikhlas kok ikhlas. Hmm..., ikhlas badanku kamu remukin, ikhlas mau kamu bikin merah-merah semua juga," kata Ratna sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, sayang deh. Kamu juga sayang kan sama Mas?" tanya Tama sambil mencium kening Ratna.
"Sayang kok sayang banget. Apalagi kalau besok aku dibeliin tas," kata Ratna.
"Udah kok," jawab Tama yang sudah memunggungi Ratna. Dia mulai fokus dengan masakannya menggantikan Ratna.
"Tuh disebelah tasnya Mas. Semoga kamu su..., wis ra dirungokke," kata Tama akhirnya bergumam sendiri karena Ratna sudah meninggalkannya seorang diri di dapur.
__ADS_1
"Uwahhh, Wahhh, Waaa gila gila gila..., bagus banget ihh ini mah lebih bagus dari pada yang difoto ahhh sukaaa...," Ratna dengan hebohnya melihat tas kecil berwarna hitam yang Tama belikan. Sebenarnya Tama sudah membelikannya sejak sebelum dia berangkat ke Mabes minggu kemarin. Dia diam-diam men-checkout keranjang belanja Ratna tapi pengirimannya sengaja dia tujukan ke kantor agar dia bisa memberikannya sendiri pada istrinya. Kalau saja Ratna tidak marah kemarin, hari ini dia pasti sudah memakainya.
"Sayang...," kali ini Ratna kembali ke dapur lalu memeluk Tama.
"Apa?" tanya Tama sambil menoleh hanya untuk melihat apa yang dilakukan istrinya dibalik punggungnya.
"Sayang banget," kata Ratna.
"Jangan ngambek lagi ya," kata Tama sambil tersenyum.
"Tergantung."
"Yah..., mati dong."
"Kalo Mas macem-macem belum sampe digantung udah kuhabisi duluan. Ingin ya aku tuh bukan sembarang warga sipil. Suamiku brimob, galak lagi," kata Ratna.
"Oh ya?"
"Iya, saking galaknya banyak Tamtama takut sama dia," kata Ratna lagi.
"Hoo, jadi kepo orangnya yang kaya apa sih adek manis?"
"Kaya kamu. Suamiku yang tersayang," kata Ratna.
"Udah ah sana selesain kerjaanmu. Habis itu kita lanjut manja-manjaannya lagi. Pokoknya brimob galak itu cuma punyamu malam ini," kata Tama.
"Aihhh lucunya istriku," kata Tama sambil senyum-senyum sendiri.
...***...
Setelah makan malam dan sholat isya, Tama dan Ratna naik ke atas tempat tidur. Ratna masih berkutat dengan pekerjaannya. Tama naik ke atas tempat tidur tepat disebelah Ratna. Tama lihat, ketika dia akan naik, Ratna meraih sesuatu agar tidak tertindih Tama. Dia tahu apa itu kemudian langsung bertanya, "Dek, kamu masih sesak nafas?" tanya Tama.
"Nggak kok, cuma belum nyaman aja. Aku butuh konsentrasi tinggi Mas," kata Tama.
Kemarin Ratna dirawat di rumah sakit, selain karena flu dia juga didiagnosa mengidap penyakit asma. Dokter bilang Ratna sudah lama membawa gejalanya namun karena tingkat stresnya tinggi belakangan ini akhirnya memicu penyakitnya menjadi semakin parah. Bukan hanya Tama yang kaget, bahkan Ratna sendiri tidak menyangka jika ternyata dia sudah lama membawa penyakit itu. Ratna bahkan sempat berpikir, dia adalah seorang dokter, tapi mengurus diri sendiri saja tidak becus.
"Dek, kalau capek nggak usah dipaksa. Mas nggak papa kok, masih banyak hari lain. Nggak harus sekarang," kata Tama.
"Tunggu bentar aja ya, habis ini selesai kok," kata Ratna diangguki oleh Tama.
...***...
Pagi berikutnya, Ratna adalah yang pertama bangun. Dengan perlahan dia menyingkirkan tangan suaminya yang semalaman melingkari pinggangnya. Badannya memang terasa pegal, ketika Ratna bercermin juga dia bisa melihat ada beberapa bekas kemerahan di lehernya. Ratna meraih bathrobenya kemudian melangkah ke kamar mandi meninggalkan Tama yang masih tenang di dalam tidurnya. Selesai mandi, dia menemukan Tama tengah menerima panggilan.
"Iya Bu, kecapekan terus flu. Ke rumah sakit karena minta infus kok bukan karena apa-apa. Sekarang anaknya sudah sehat lagi. Tuh lagi mandi siap-siap berangkat kerja," kata Tama yang sepertinya tengah mengobrol dengan ibu mertuanya.
"Bu mau ngomong sama Ratna? Ni dia sudah selesai mandi," kata Tama kemudian menyerahkan handphoenya pada Ratna.
"Hallo Bu?"
__ADS_1
"Mbak kok suamimu bilang kemarin kamu sakit?"
"Nggih Bu, kecapekan aja kok bukan kenapa-napa. Yakin, aku baik-baik aja kok," kata Ratna.
"Tenan?"
"Tenan Bu," jawab Ratna.
"Jaga kesehatan koe ki dokter kok malah loro. Ora lucu, mbak. Yowis kalo gitu, sudah dulu yo," kata Ibu kemudian mematikan panggilan begitu saja.
"Mas, kok ibu bisa telpon Mas pagi buta begini ada apa?" tanya Ratna.
"Katanya Ibu mimpiin kamu njuk karena khawatir langsung telpon tapi kan handphonemu kamu matiin," kata Tama yang akhirnya bangkit juga dari tempat tidurnya.
Tama bersiap-siap kemudian lebih dulu mengantar Ratna ke tempatnya bekerja. Mumpung mereka berangkat pagi, jadi Tama dan Ratna memutuskan untuk mencari sarapan di sekitaran kesatrian. Katanya ada warung bubur ayam baru buka dan Ratna ingin mencobanya. Pagi ini Tama memilih Vega, motor kesayangan Ratna untuk membawa mereka berdua sedangkan Brian biar beristirahat di garasi. Begitu sampai, Tama memarkir motornya sedangkan Ratna lebih dulu berjalan mendekati Nesya dan Yudha yang ternyata juga datang ke tempat itu untuk sarapan.
"Wahh, calon pengantin baru dan pengantin baru yang lupa umur pada ngumpul nih," kata Pak Leo juga datang bersama Bu Rosa dan Deva.
"Deva...," Ratna langsung mendekati anak itu. Maklum, Ratna kan belum punya anak jadi Devalah yang menjadi pelampiasan kasih sayangnya selama ini. Ditambah juga yang di dalam perut Bu Rosa besok.
"Wah, kompak bener personilmu Pa," kata Bu Rosa.
"Kurang satu ini," kata Pak Leo pada istrinya.
"Tapi firasatku bilang orangnya bakal datang, bersama istrinya juga bahkan," gumam Ratna.
Beberapa waktu kemudian, orang yang tadi dibicarakan benar-benar datang, "Tuh kan kubilang juga apa," kata Ratna sambil menatap datar pada suaminya.
Mereka semua memutuskan untuk duduk dalam satu meja yang sama, di satu meja besar yang letaknya ada di tengah-tengah ruangan. Satu per satu pesanan mereka dibawa mulai dari minumannya lebih dahulu. Masing-masing memesan satu gelas teh hangat, ada juga yang memesan kopi. Tapi untuk Ratna, alih-alih meminum jeruk hangat pesanannya dia malah menyeruput teh milik Tama.
"Bunda...," kata Tama yang mendapati Ratna mulai meneguk minumannya.
"Tukeran ya," minta Ratna sambil menyodorkan jeruknya pada sang suami.
Tama meraihnya tanpa protes membuat yang melihatnya gemas nyerempet sebal. Tama dan Ratna memang mendapatkan predikat pengantin baru lupa umur bukan tanpa alasan. Jika biasanya pasangan suami istri itu mesra-mesraannya tidak bertahan lama, kalau Tama dan Ratna semakin hari mereka malah akan terlihat semakin mesra persis seperti ABG yang baru mengenal cinta. Pokoknya dunia milik berdua, yang lain kontrak kalau kata Pak Leo ketika menggoda Tama dan Ratna. Walaupun begitu, Tama dan Ratna ini diam-diam banyak dijadikan panutan juga oleh bintara dan tamtama kesatuan mereka. Apalagi mereka berdua tidak segan berbagi tips menjaga hubungan dan keharmonisan rumah tangga.
"Lho Bang Aji pesannya hanya satu?" tanya Yudha pada Aji yang ternyata hanya memesan satu mangkuk untuk berdua.
"Akal-akalan nyonya ini. Sok-sokan minta bubur padahal kalau makan bubur nggak pernah bisa habis," jawab Tama.
"Ish, pagi-pagi jangan bikin badmood deh," kata Ratna meletakkan kembali sendoknya begitu saja.
"Nggak sayang, udah dimakan. Nih A...," Tama meraih sendok itu lalu menyuapkan sesendok penuh pada Ratna.
"Ji, istrimu ngidam ya?" bisik Pak Leo.
"Hampir Pak, saya bisa pastikan dalam beberapa bulan lagi dia akan ngidam beneran," kata Tama dengan santainya membuat Ratna yang malu mencubit pinggang Tama begitu saja.
Diantara keceriaan pagi itu, hanya ada satu yang tidak dapat tersenyum. Zahra, yang duduk di berhadapan dengan suaminya di paling ujung hanya bisa mengaduk-aduk buburnya. Di dalam hatinya sudah berkobar api kemarahan karena merasa kalah. Setelah percakapannya dengan Ratna kemarin, Zahra mulai mendendam. Dia sudah tidak peduli pada apapun. Apalagi pada Bagas yang katanya selalu ada dan selalu menyayanginya. Karena yang ada dalam pikiran Zahra saat ini hanyalah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan Tama.
__ADS_1