Tama Dan Ratna

Tama Dan Ratna
Epilog 2


__ADS_3

Author kasih epilog nih 2 buat yang mungkin merasa belum puas sama ending yang author buat semoga dengan epilog ini teman-teman pembaca bisa terpuaskan ya xixixi


Makasih banyak buat yang udah mendukung Tama dan Ratna sampai akhir cerita ini author janji akan segera kembali dengan karya yang lainnya, nantikan terus yaa 🙋


...🌱Ji🌱...


Dua tahun kemudian, Tama dan Ratna sepenuhnya bisa bangkit. Keduanya mulai menata kembali kehidupan mereka dengan perlahan namun pasti. 3 tahun setelah kematian Aksara, Ratna dinyatakan hamil kembali. Tama dan Ratna menyambutnya dengan hati yang bahagia. Tama dan Ratna begitu baik menjaganya hingga lahirlah adik bungsu Aditama Putri dan Aksara Langit.


Pagi ini Tama akan melakukan serah terima jabatan. Setelah kurang lebih 25 tahun dia mengabdikan dirinya pada Ibu Pertiwi, hari ini Tama dan Bang Chandra akan diangkat menjadi komandan dan wakil komandan detasemen gegana. Dia akhirnya menyusul senior-seniornya yang sudah lebih dulu sukses dengan jabatannya masing-masing.


Sudah 10 menit lamanya Tama hanya duduk setengah sadar di sofa. Harusnya dia masih bisa tidur sekarang, tapi teriakan Nusa dan Tara di telinganya membuat dia terjaga. Dasar si kembar itu kompak sekali kalau harus membangunkan Ayah.


“Ayah bangun! Jangan tidul lagi nanti telambat…,” kata jagoan Ayah, Nusa sambil menarik-narik tangan ayahnya.


“Iya Bang, Ayah sudah bangun kok,” kata Tama masih dengan mata setengah tertutup.


“Ayo mandi Ayah…,” kali ini si cantik Tara yang menarik lengan Tama yang satunya.


"Sebentar adek, Ayah melek dulu," kata Tama kali ini pada si bungsu.


“Ayah ayo cepetan mandi, sudah jam berapa ini? Nanti Ayah telat loh,” kata Ratna pada Tama. Kali ini Tama langsung beranjak begitu melihat jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 6. Padahal sertijab Tama akan dimulai pukul 7. Kalau memperhitungkan keberangkatannya bersama si kembar jelas dia akan terlambat jika tidak bergegas.


“Hayo kalian berdua juga siap-siap sana. Pakai baju yang sudah Bunda siapin, ya?” kata Ratna langsung diangguki oleh kedua anak kembarnya itu.


Nusa Aditama Bhakti dan Tara Aditama Bhakti. Keduanya adalah si kembar kebanggaan Pratama Aji dan Adiratna.  Keduanya bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Bahkan keduanya bisa begitu pintar dan cerdas. Jujur, Tama dan Ratna sudah tidak menginginkan apapun selain melihat kedua anaknya ini bisa tumbuh menjadi anak-anak yang kuat, sehat, dan berumur panjang.


Selesai bersiap Tama dan Ratna segera berangkat ke markas. Tama lebih dulu pergi melapor sedangkan Ratna bersama si kembar langsung bersiap di lapangan upacara.


“Bang Nusa, dek Tara sini,” kata Ratna pada Nusa dan Tara yang berlarian di sekitar lapangan, dekat dengan lobby.


Ratna mendudukkan kedua putra putrinya itu di sepasang bangku di sudut lapangan dan menitipkannya pada ajudan Tama, “Abang sama Adek tunggu di sini dulu sama Om Bayu, ok?”

__ADS_1


“Iyah Bunda…,” jawab keduanya berbarengan.


“Jangan pergi kemana-mana, ya?”


“Siap. Laksanakan.” kata Nusa sambil hormat diikuti oleh Tara.


Tama dari tempatnya berdiri tidak mampu menahan senyumnya ketika melihat kedua malaikat kecilnya dari kejauhan. Dia tidak menyangka jika kebiasaannya untuk hormat pada Ratna itu menurun pada si kembar. Keduanya begitu manis. Apalagi ketika Tama melihat Nusa membantu mengambilkan sekotak susu coklat untuk Tara. Kedua tangan kecilnya terlihat kesulitan membuka plastik sedotan tapi tetap dia lakukan demi membantu adiknya.


Upacara segera dimulai. Upacara pelantikan dipimpin langsung oleh Pak Kapolda. Di kesempatan kali ini, Bang Chandra diangkat sebagai komandan detasemen gegana sedangkan Tama sebagai wakilnya. Begitu selesai sertijab, ketiganya mendapatkan ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir.


Para perwira kesayangan komandan anumerta Hendra datang semua. Mulai dari bang Rendy yang kini bertugas di Mabes terbang langsung dari Jakarta. Bang Novan sang komandan satbrimobda bersama wakilnya, Bang Nanda juga sudah berada di sini sejak pagi. Cece, yang akhirnya memenuhi cita-citanya dan berhasil menjadi salah satu pimpinan di densus juga menyempatkan diri untuk datang. Mereka berenam saat ini tengah berfoto-foto di dekat podium sedangkan Ratna berjalan mendekati si kembar yang mulai merengek mau mendekati Ayah.


“Nusantara, sini sama Ayah,” panggil Tama pada kedua putra putrinya.


Nusa dan Tara langsung berlari girang ke arah sang ayah. Tama berjongkok sambil merentangkan tangan hanya untuk menyambut kehadiran kembar kesayangannya. Nusa masuk ke lengan kanan ayahnya sedang Tara di lengan kirinya. Tama kemudian menggendong keduanya dan meminta Ratna mendekatinya untuk berfoto bersama. Mereka berjalan menuju ke taman depan dan berfoto di dekat tiang bendera. Sengaja agar tulisan dan logo satuan brimob itu terlihat jelas dalam frame.


Tama sempat dipanggil oleh seorang dari atasannya meninggalkan Ratna yang kini berteduh di dekat pohon besar di bagian kiri. Baru Ratna akan membukakan sebungkus biskuit untuk Nusa dan Tara, Tama datang bersama dengan Komandan Novan. Ratna gagal memberikan biskuit itu pada anak-anaknya. Dia kini sibuk menyapa membuat Nusa dan Tara protes sambil menarik-narik pakaian merah muda Ratna.


“Halo adik-adik siapa nama kalian?” tanya komandan.


“Namaku Nusa om, dan ini adikku Tala,” kata Nusa.


“Sudah umur berapa sekarang?” tanya komandan lagi.


“Sudah empat tahun,” jawab Tara sambil mengangkat empat jarinya. Dua jari dari tangan kanan dan dua jari lagi dari tangan kiri itupun tidak sempurna bentuknya karena ibu jari Tara terlalu pendek untuk menahan jari yang lainnya.


“Pinternya, sudah punya cita-cita belum?”


“Abang sudah punya. Abang mau jadi doktel bial bisa kaya Bunda bantu olang sakit. Nanti kalau ada yang sakit abang cuntik bial sembuh,” jawab Nusa.


“Ihh...., Doktel tuh nggak kelen. Lebih kelen jadi polisi. Bisa bawa pistol. Nanti kalau kakak nakal Tala tembak. Dol dol dol,” kata Tara pada kakak beda 18 menitnya.

__ADS_1


"Tembak aja, kan abang doktel abang bisa sembuhin dili abang sendili, wlee," kata Nusa sambil menjulurkan lidah meledek sang adik.


"Ahh~ abang nakal," kata Tara mencoba memukul kakaknya tapi gagal karena Nusa sudah lebih dulu lari menghindar.


3 orang dewasa yang di sana sontak tertawa melihat tingkah dua anak kecil ini. Sekilas Ndan Novan melihat pantulan Tama dan Ratna. Seperti melihat bagaimana Tama sering menjahili istrinya sampai merajuk. Tak lama mereka mengobrol, seseorang memanggil mereka untuk masuk ke sayap kanan aula untuk bersama-sama menikmati makan siang. Ratna mengambil sepiring dengan lauk dan sayuran yang sesuai dengan pilihan kedua anaknya. Dia lebih dulu mengutamakan Nusantara baru dia mengambil makanannya sendiri.


Mereka kemudian duduk di meja bundar yang sudah disediakan baru Ratna kembali lagi untuk mengambil makanan untuknya. Nusa dan Tara duduk diapit kedua orang tuanya. Nusa makan dibantu Bunda sedangkan Tara dibantu Ayah. Cara Nusa dan Tara makan terbilang rapi dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka. Walaupun rapi, tapi keduanya makan begitu lambat itulah kenapa Ayah Bundanya selalu membantunya untuk makan.


Di meja samping, keluarga dari Bang Chandra duduk dan ikut makan bersama. Bang Miftah dan Bang Faisal nampak ingin duduk bersama dengan si kembar membuat Lilis membantu menggeser kursi kedua putranya agar bisa duduk dekat dengan adik beda orang tuanya itu.


"Hmm?" Lilis merasakan ada dering di handphonenya yang membuat dia terpaksa menghentikan acara makannya sementara waktu.


"Oh my God Ratnaaaa~," heboh Lilis begitu selesai dengan teleponnya.


"Shtt..., Lilis. Kebiasaan deh. Lagi banyak orang penting nih hebohnya disimpen dulu kenapa sih?" kata Ratna yang agak kaget sekaligus malu karena mereka akhirnya menjadi pusat perhatian sekarang.


"Elah kebiasaan deh Mama ada apa sih?" tanya Bang Chandra pada istrinya.


"Bang Novelku, Ratna novelku," katanya masih heboh.


"Ibu komandan, Bu Chandra yang terhormat mending lu tenang dulu tarik nafas baru ngomong. Nggak sambil teriak heboh begitu," kata Tama.


"Novel Tama dan Ratna. Barusan aku dikasih kabar sama salah satu produser film dan beliau bilang mau ngangkat kisah kalian berdua dalam film series terbarunya," kata Lilis dengan nada yang tetap heboh. Karena dia bicara setengah berteriak, akhirnya seisi aula dengar semua. Mereka ikut mengucapkan selamat pada ibu komandan mereka yang baru.


Ratna yang kaget akhirnya ikut heboh dan ikut berjingkrak juga dengan Lilis. Kedua ibu-ibu itu saking bahagianya saling memeluk dan melupakan di mana mereka sedang berdiri. Ratna mendekati kembarnya kemudian menciumi pipi Nusantara begitupun dengan Lilis yang heboh bersama kedua putranya.


..."Terima kasih Ratna, kamu sudah mengajariku tentang banyak hal. Terima kasih juga Bang Tama, sudah menjadi perantara untuk membantu banyak orang menghapuskan ketakutannya akan pernikahan. Terima kasih karena sudah mengajari kami bahwa rasa saling percaya bisa membuat hidup menjadi lebih bermakna."...


^^^Penulis^^^


^^^Lilis Malati^^^

__ADS_1


__ADS_2