
Sejak Sindi datang ke rumah, Tama lebih menempel lagi pada Ratna. Kemanapun Ratna pergi dan apapun yang Ratna lakukan Tama pasti selalu mengikuti. Seperti saat ini misalnya, ketika Ratna sedang membuat sesuatu di meja makan. Ratna tengah menghancurkan tahu putih dan mencampurnya dengan potongan sayuran dan satu butir telur.
Tama sengaja mengganggu Ratna dengan cara apa saja, pura-pura mau bantu lah berinisiatif apalah pokoknya dia terus menjaga jaraknya agar selalu dekat dengan Ratna. Dia bahkan dengan sengaja memanggil Ratna dengan sebutan sayang atau kadang “Bundaku Sayang” ya pokoknya panggilan-panggilan cheesy yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh Ratna.
Tama sedikit menjauh dari Ratna ketika dia sedang menerima telepon dari Bu Odah dan duduk tenang di sofa ruang tamu. Tidak lama kemudian Tama memanggil Ratna agar ikut duduk bersamanya. Alasan Bu Odah sampai menelepon Tama karena handphone Ratna mati. Katanya Bu Odah mau membicarakan beberapa hal pada Ratna. Bu Odah akan memberikan beberapa perabotan yang tidak mungkin ia bawa kembali ke Jawa sedangkan peraturan mengatakan ketika meninggalkan rumah dinas harus dalam kondisi bersih dan rapi.
Selain dapat kompor, Ratna juga dapat satu set alat masak dan beberapa perabotan lain seperti rak kamar mandi dan rak dapur, Bu Odah bahkan menawarkan pada Ratna sebuah blender, mixer dan seperangkat alat membuat roti yang masih baru termasuk juga oven berukuran kecil.
“Bu, kebanyakan itu Ratna nggak enak nerimanya,” kata Ratna.
“Iya Bu, beban di saya nih. Saya nggak pernah kasih apa-apa ke Bapak sama Ibu kok malah ini Bapak sama Ibu kasih saya segini banyak,” kata Tama.
“Ibu Ikhlas Nduk, Le, soalnya barang-barang seperti ini tidak mungkin Ibu bawa pulang ke Jawa. Lagi pula ini nggak semua Ibu kasih ke kamu. Yang kamu butuhkan ambil yang nggak ya Ibu bagikan ke yang lain. Atau bisa kamu simpan dulu terus nanti kalau ada yang menempati rumah ini lagi kamu kasihkan,” kata bu Odah.
“Hmm…, Bu itu kan mixer sama ovennya belum buka segel. Mau Ratna beli aja boleh nggak?” tanya Ratna.
“Pake beli segala, ini Ibu dapat bukan beli nduk. Kalau kamu mau ambil aja,” kata Bu Odah lagi.
“Dibeli murah deh Bu,” tawar Tama.
“Ora.”
“Bu ayolah…,” Ratna ikut menawar.
“Yaudah kamu nggak jadi Ibu kasih ajalah.”
“Ehh tunguu…,” kompak Ratna dan Tama yang tidak sengaja sampai berteriak membuat Mama dan Sindi sampai ikut menoleh pada keduanya.
“Ok Ratna terima. Tapi kasurnya nggak jadi ya, Bu. Kalau di saya nanti nggak kepake sayang. Wong hidup juga cuma berdua satu aja cukup buat barengan,” kata Ratna.
“Yowis, kamu ambil rak sama seperangkat alat baker ini ya. Ibu tandai nih. Kalian pulang kapan?”
“Nanti sore take off dari sini, Bu. Sampai sana paling nanti malam,” kata Tama.
“Ok nanti sekalian kalau Ratna mau lihat-lihat mbok butuh yang lainnya. Jangan lupa mampir ya nduk kalau sudah sampai sini,” kata Bu Odah sebelum menutup panggilan.
“Nggih Bu…,” kembali Ratna dan Tama kompak menjawab Bu Odah kemudian mematikan panggilan.
“Cie dapet perabotan baru…, asek habis ini ada yang bakal sering bikin-bikin nih,” kata Tama pada Ratna.
“Nanti ya ku kasih asupan yang banyak biar cepet gendut,” kata Ratna sambil menepuk-nepuk perut Tama.
__ADS_1
“He jangan. Kalau Mas gendut nanti asetmu ilang lho,” bisik Tama.
“Idih…, udah ah balik dapur yuk aku belum selesai masak nih tadi.”
Ratna kemudian kembali ke dapur bersama dengan Tama. Tama melihat adonan yang tadi dibuat oleh Ratna saat ini beralih ke tangan Sindi membuat Tama langsung protes. Ratna sering membuatkan masakan ini untuk Tama, tapi dengan resepnya sendiri. Dia tidak langsung menggorengnya melainkan mengukusnya lebih dulu baru dia baluri tepung makanya Tama protes karena tau jika Sindi mulai memanaskan minyak dan akan menggorengnya langsung.
“Resep baru nih, coba dibuat Na. Mama pengen nyoba,” kata Mama pada Ratna.
“Wuhh gila Ma rasanya enak banget asli Mama harus nyobain. Makannya dicampur nasi anget sama sambel kecap beuh mantap pokoknya,” kata Tama membanggakan.
“Kalau gitu sambel kecapnya biar aku yang buat,” kata Sindi.
“Nggak usah, itu kan menunya Ratna. Biar dia yang buat dari awal sampe akhir. Kalau dipegang sama tangan lain bisa rusak resepnya,” kata Tama dengan nada yang jelas berbeda pada Sindi.
“Mas…, dari pada kamu cuma ngedumel di situ mending kamu mandi sana. Nyicil biar nggak keburu berangkatnya nanti,” kata Ratna.
“Mandi bareng kamu aja boleh nggak Bun?” tanya Tama.
“Pratama…,” kali ini Mama yang memberi peringatan pada Tama.
Mama tahu sih maksud dan tujuan Tama dan Ratna tiba-tiba mesra begini karena apa tapi itu terlalu menyakitkan untuk Sindi. Mama tidak sanggup melihat gadis itu mulai salah tingkah dan merasa sedih. Iya Mama tahu Mama ingat sudah berjanji akan baik pada Ratna tapi Ratna juga mengizinkan Mama menganggap Sindi sebagai putrinya jika Tama dan Ratna sedang jauh dan jelas seorang ibu tidak akan tega melihat putrinya bersedih.
“Mas…,” kata Ratna setelah melihat Tama meletakkan handphonenya.
“Kita berlebihan tahu. Kasihan Sindi sakit hati udah mau nangis gitu,” kata Ratna dengan sedikit lirih.
“Dek, dia itu orangnya keras kepala. Kalau dia nggak dikasih pelajaran yang sampai buat hatinya sakit dan remuk beneran dia nggak akan sembuh. Kesalahannya akan diulang terus-terusan,” kata Tama.
“Aku nggak tega Mas…, aku juga sama-sama perempuan. Kalau lihat ada yang sakit hati begitu rasanya nggak enak aja, ini lepas dari status dia sebagai apa dan semua yang sudah dia lakukan. Ini murni soal perasaan Mas, perasaan sesama perempuan,” kata Ratna.
“Yaudah iya nggak lagi. Tapi karena kita terlanjur kaya gitu kalau kita tiba-tiba jaga jarak juga akan jadi aneh,” Tama masih bertahan dengan argumennya.
“Ya setidaknya Mas jangan berlebihan. Mas boleh kok nempel terus ke Ratna kaya tadi. Mama juga tadi bisik ke aku katanya seneng lihat Mas bisa nunjukkin manjanya lagi. Katanya kaya nostalgia lihat Mas waktu masih sekolah dulu. Mas doyan manja ke Mama ya ternyata,” kata Ratna.
“Yahh percuma aku jaga aib kalau Mama mulutnya ember. Iya Mas memang manja. Banget Dek. Mas ini anak tunggal, dari kecil apapun yang Mas minta selalu dikasih. Mas juga cucu laki-laki satu-satunya makanya di keluarga besar dimanja juga. Kalau bukan karena Mas masuk kepolisian mungkin Mas nggak akan jadi sedewasa ini.”
Ratna tersenyum mendengar penjelasan Tama. Ratna kemudian mencium bibir Tama sekilas, “Salut deh sama Mas,” kata Ratna. Tama ikut tersenyum kemudian membalas kecupan tadi dengan kecupan yang lainnya. Setelah itu keduanya kembali ke dapur untuk makan siang bersama.
Selama makan siang Tama tidak banyak bicara. Dia sengaja duduk di pojok, sebelahan dengan Ratna dan meminta Mama duduk di hadapannya. Pokoknya Tama diam, dia seperti kehilangan energinya setelah mandi. Tidak seheboh sebelumnya. Dia bahkan selalu meminta Ratna mengambilkan apapun yang dia mau.
“Teh Rizka mana kok belom sampe?” tanya Tama pada Mama.
__ADS_1
“Tadi katanya macet di jalan, tapi sudah hampir sampai gang depan kok. Tunggu lah, sebentar lagi juga sampai,” kata Mama.
“Bunda…, bawaanmu sudah kamu cek semua?” tanya Tama pada Ratna.
“Sudah. Tinggal handphone tuh masih di charge,” kata Ratna.
Tama hanya mengangguk kemudian kembali fokus pada makanannya. Tama menghabiskan masakan yang dibuat Ratna tapi tidak dengan yang dibuat oleh Sindi. Dia hanya mengambil sedikit untuk menghormati makanan yang sudah dibuat. Selesai makan Tama meletakkan piringnya di wastafel lalu mencucinya, namun ketika Sindi menyusul ke wastafel juga Tama menghentikan kegiatannya dan pergi. Dia memilih untuk ke depan menyambut kedatangan keponakan gembulnya Reza.
“Eja…,” panggil Tama yang kembali ceria dan heboh.
“Ompol…,” Reza turun dari gendongan Ibunya kemudian berlari kecil untuk masuk dalam gendongan Tama.
“Kok Ompol. Siapa yang ngajarin Baba ya?” tanya Tama setelah Reza masuk dalam pelukannya dan dia gendong sekarang.
“Baba,” jawabnya singkat.
“Jelas. Bang Zaki emang gitu orangnya. Udah untung kukasih restu nikahin kakakku,” kata Tama dengan wajah sebalnya.
“Sabodo teuing mau kamu kasih restu atau nggak. Orang restu dari Mama Papanya Rizka sudah di tangan kok. Kamu teh siapa, adek juga cuma sepupu kok,” kata kakak ipar Tama.
“Nyebelin nih orang emang nggak ada terima kasihnya ya udah dibantuin ketemu sama pujaan hatinya, dicomblangin juga lho,” kata Tama masih tidak terima.
“Reza sini sayang sama Bubu, jangan ikut Ompol sama Baba. Nanti kamu denger yang nggak-nggak lagi,” kata teh Rizka pada putranya yang langsung menurut dan minta turun dari gendongan Tama.
“Teteh,” kata Tama.
“Bubu,” kata Bang Zaki
“Bubu…,” copy Reza sambil tertawa. Usianya baru 3 tahun dan sedang lucu-lucunya. Alasan kenapa anak itu bisa langsung dekat dengan Tama padahal baru sekali dua kali bertemu dengannya adalah karena Tama selalu menelponnya setiap hari, setiap malam. Bahkan Reza kecil pernah mengira kalau Tama itu juga ayahnya saking seringnya videocall dengannya.
Kedatangan teh Rizka langsung membuat Tama dan Ratna sibuk memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi mobil. Ratna saat ini tengah mengobrol dengan teh Rizka juga dengan Mama dan jelas Sindi pasti nimbrung. Sekitar pukul 2 siang, Tama dan Ratna mulai berpamitan pada Mama. Mereka harus berangkat lebih awal mengingat jalanan Jakarta itu tidak kenal sepi.
“Ma…, Ratna pergi dulu ya. Maaf nggak bisa lama di sini, insyaallah kalau nanti Ratna ada waktu Ratna akan main ke sini lagi,” kata Ratna sambil berpelukan dengan Mama yang sedang berusaha menahan tangisannya.
“Ma, Tama berangkat ya. Doakan semua urusan Tama di sana lancar,” kata Tama ikut memeluk Mama.
“Jelas. Doa Mama buat kalian berdua tidak akan pernah habis. Mama di sini selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Mama. Baik-baik di sana berdua ya, jangan sungkan untuk cerita sama Mama kalau ada apa-apa. Nanti kalau Mama ada waktu Mama juga akan main ke sana,” kata Mama.
“Harus Ma, Ratna tunggu,” kata Ratna diangguki oleh Mama.
Tama dan Ratna akhirnya berangkat juga diantar oleh kakaknya Tama menuju ke bandara. Selama perjalanan akhirnya Tama bisa kembali tenang karena terlihat sekali gelagatnya ketika di rumah aneh. Dia jelas seperti terusik sesuatu walau berusaha menyembunyikannya. Ratna juga begitu. Dari nada bicara dan gesturenya terlihat lebih santai. Rizka yang pertama menyadarinya. Ketika ditanya oleh suaminya setelah pulang dari bandara dia hanya menjawab, “Perasaan sesama perempuan. Baba nggak akan ngerti.”
__ADS_1