
"Khayla," panggil Keyvan sengaja menyenggol kaki sang istri.
Malam ini, mereka tidak diizinkan Ibra pulang sama sekali. Mikhayla bahagia saja kala Ibra memintanya untuk tidur di sana, akan tetapi Keyvan sejak tadi tidak bisa tidur dan terus menatap langit-langit kamar.
"Hm?"
"Belum tidur kan?"
"Belum, kenapa memangnya?" tanya Mikhayla menoleh dan menatap wajah Keyvan yang hingga saat ini belum juga mengantuk sama sekali.
"Aku merasa bersalah pada Papa, apa kita tidak berlebihan, Sayang?" tanya Keyvan kembali mengingat bagaimana wajah seram Mikhail padanya.
"Ehm jadi tidak tidur karena itu?"
"Iya," jawab Keyvan merasa benar-benar bersalah, sejak tadi hanya Mikhail yang tampak banyak masalah. Jujur, saat ini Keyvan sedikit khawatir Mikhail benar-benar marah padanya.
"Ini semua saran Mama, percayalah naluri Mama sebagai seorang istri tidak akan salah. Dia mengenal Papa sejak lama, dan jelas memahami watak Papa lebih dari siapapun. Mungkin saat ini Opa dan lainnya mendukung, tapi tidak dengan Papa," ungkap Mikhayla kini bangun karena merasa hal semacam ini benar-benar harus dibicarakan secara serius.
"Apa ini karma, Khayla?"
"Karma apanya?" tanya Mikhayla mengerutkan dahi, akhir-akhir ini Keyvan kerap bersikap aneh dan selalu merasa semua adalah akibat kesalahannya.
"Ya karma, aku menikahimu secara paksa dan menjadikanmu istri rahasia. Bahkan, waktu itu aku menyembunyikanmu dari Justin maupun Keny," ujar Keyvan dengan rasa bersalah yang tak kunjung usai karena kini memang dia merasakan hal itu dibayar satu persatu.
"Tidak ada hubungannya, itu perasaan kamu saja. Saat ini pernikahan kita sudah tidak rahasia lagi, besok-besok kehamilanku juga begitu, sabar ya." Jika biasanya wanita yang akan gusar akibat dirahasiakan kehamilannya, untuk mereka justru sebaliknya.
"Sudah tidurlah, besok harus kerja ... berarti kita harus bangun pagi," ungkap Mikhayla menutup mata sang suami dengan telapak tangannya, sejak tadi Keyvan sama sekali tidak memiliki niat untuk tertidur.
"Aku saja yang bangun pagi, kamu harus banyak istirahat."
"Hm? Katanya tidak boleh bangun kesiangan. Nanti rezekinya dipatuk ayam."
"Kamu sendiri yang bilang itu mitos." Mikhayla terkekeh kala Keyvan mengeratkan pelukannya, beberapa jam lalu mereka berselisih kini kembali sehangat itu seakan tidak ada masalah sama sekali.
__ADS_1
"Tapi sepertinya kamu lupa sesuatu ... tidak marah lagi, Sayang?"
"Memangnya aku pernah marah?" Bukannya menjawab Mikhayla justru balik bertanya dan hal itu sukses membuat Keyvan berdecak sebal.
"Tadi, lupa?"
"Itu bukan marah, hanya kesal sedikit saja," tuturnya kembali cemberut, menyesal sekali Keyvan bertanya dan membuat malam ini jadi kian panjang.
"Makanya jadi istri jangan suka menggoda, sudah tahu aku siapa masih saja main peluk seperti tadi." Bukannya sadar diri Keyvan justru melimpahkan kesalahan pada sang istri seraya tertawa sumbang.
"Aku tidak pernah menggoda," sanggah Mikhayla tidak terima, meski memang dirinya yang salah.
"Menurutmu, tapi aku tergoda," balas Keyvan tidak mau kalah, sampai kapanpun kejadian tadi sore adalah kesalahan Mikhayla.
Dasar lemah iman.
Mikhayla membatin seraya membelakangi sang suami. Keyvan yang tidak terima segera pindah posisi dan tidur di hadapan Mikhayla. Tidak hanya itu, demi membuat sang istri bertahan dengan posisinya, pria itu sengaja merengkuh tubuh sang istri begitu eratnya.
"Jangan bergerak, aku ingin tetap begini sampai besok pagi, Khayla.
"Tidak panas lagi, 'kan?" Selalu ada solusi disetiap masalah yang Keyvan keluhkan, akan tetapi untuk saat ini memang sedikit menyebalkan.
"I-iya, tapi longgarkan sedikit aku susah napasnya, Evan!!"
.
.
.
.
08:00 Pagi, di kantor.
__ADS_1
Hari ini suasana begitu berbeda, perubahan suasana hati Keyvan secepat kilatan petir. Kemarin persis manusia kurang darah, dan hari ini dia kembali membuat Justin dan Keny saling pandang lantaran sikapnya yang tidak dapat ditebak itu.
"Kenapa lagi dia?"
"Entahlah, aku tidak ingin bertanya karena khawatir marah seperti kemarin."
Justin enggan bercanda bersama pria itu, dia biarkan meskipun pagi ini Keyvan ramah luar biasa. Kemarin irit bicara, dan hari ini mungkin tembok saja dia sapa. Sungguh Justin tidak habis pikir kenapa bisa pria sedewasa Keyvan bisa menjadi kekanak-kanakan begitu.
"Hai, apa kabar kalian? Sudah sarapan?"
Lihatlah siapa yang bicara, ini bukan Keyvan sama sekali. Bahkan di saat dia mendapatkan penghargaan beberapa bulan terakhir tidak sebegitunya, senyum hangat pria itu sedikit membuat Justin geli.
"Bahagia?"
"Tentu saja, kau lihat wajahku? Bersinar sekali bukan?"
"Hm, sangat-sangat bersinar!!" ungkap Justin seraya menekan setiap kalimatnya.
"Ya sudah, semangat untuk hari ini jangan lupa sarapan," tutur Keyvan seraya menyentuh dagu Justin, hal semacam itu sontak membuat Justin mundur secepatnya.
Geli, merinding dan bahkan kini mual menjadi satu. Wajah Keyvan justru terlihat mengerikan di mata Justin, Keny yang berada di samping mereka hanya terbahak hingga security menoleh ke arah mereka bertiga. "Cuih, dasar sinting!! Kau kenapa sebenarnya?"
Tanpa menjawab, Keyvan berlalu begitu saja. Caranya berjalan juga tidak seperti biasa, lebih mengejutkan lagi perubahan Keyvan terjadi hanya dalam waktu singkat. Justin yang tadi malam mabuk berpikir keras dan menyimpulkan jika dia hanya tengah berhalusinasi.
"Justin, ada baiknya kau cuci muka dulu."
Keny bicara seraya menatap Justin dari ujung kepala hingga kakinya. Bagaimana Keyvan menggodanya membuat Keny sedikit merinding, sungguh dia geli luar biasa.
Tidak hanya di hadapan Justin dan Keny, akan tetapi di hadapan Wibowo juga sama. Pria itu menepuk pundak Wibowo beberapa kali sebagai sambutan selamat pagi.
"Oh iya, Wibowo ... Kenapa matamu sembab begitu? Digugat cerai istrimu atau kenapa?"
"Astaga." Wibowo terkejut dengan pertanyaan asal Keyvan, rasanya lebih baik pria itu jadi pendiam daripada ramah jika pertanyaannya di luar nalar begitu.
__ADS_1
- To Be Continue -