
Menjelang malam suasana kediaman Mikhail masih ramai. Keyvan dibuat melongo lantaran putra putri keluarga ini seperti kelahiran yang direncanakan, usia mereka hampir sama dan hampir kembar semua, padahal baik Syakil maupun Mikhail tidak ada yang kembar, pikir Keyvan.
"Kenapa melamun?"
Sejak tadi suaminya berdiri beberapa langkah sebelum tangga, Mikhayla yang menyadari keanehan pada sang suami jelas saja bingung kenapa pria itu tampak termenung dan itu bukan hanya sebentar.
"Apa keluargamu sepakat melahirkan di tahun yang sama, Sayang?"
"Hm? Tidak, kebetulan saja sama ... om syakil dan tante Amara menikah sewaktu Mama hamil, jadi usia mereka terlihat hampir sama deh."
Keyvan mengangguk mengerti, pria itu kemudian berbalik dan menarik pergelangan tangan sang istri untuk masuk ke kamar. Sebenarnya sudah cukup larut, entah kenapa anak-anak itu belum ngantuk sama sekali bahkan masih asik bermain bola di ruang keluarga, kepala Keyvan sedikit pusing jika terlalu lama berada di dekat mereka.
"Kamu tidak nyaman ya di sini? Apa mau pulang saja?" tanya Mikhayla khawatir jika sang suami tidak betah akibat ulah adik-adiknya.
"Tidak, aku betah, Khay ... hanya sedikit trauma saja, gentong air itu memang menyebalkan ternyata."
Sempat berpikir jika kejadian tadi siang hanya sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Faktanya, usai makan malam Keyvan masih tetap menjadi sasaran Zeeshan, meski Syakil sudah meminta maaf tetap saja Keyvan dendam rasanya.
"Maafin ya, namanya masih kecil. Mungkin dia berpikir bisa diajak bercanda, karena memang Zean dan Sean tidak terlalu suka bermain bersamanya. Cari perhatian jadi maklumi saja," tutur Mikhayla lembut sekali, meski sebenarnya salah Zeeshan yang mendekati Keyvan dengan cara seperti itu tetap saja dia ingin sang suami mengerti.
"Tapi pungungku sakit, Khay ... dia pikir ini lapangan golf atau apa?" Sebal sekali sebenarnya, Keyvan mengacak rambutnya kasar bahkan pria itu ingin sekali memberinya sedikit pelajaran beberapa saat lalu.
"Jangan marah-marah, nanti di dengar om Syakil."
Meski paham suaminya marah, akan tetapi Mikhayla benar-benar khawatir Keyvan akan terlihat buruk di mata keluarga besarnya. Apapun dia lakukan demi membangun citra Keyvan sebagai pria yang sabar dan penyayang.
Keduanya beriringan masuk ke dalam kamar, status mereka sebagai pengantin baru yang akan diresmikan beberapa waktu lagi jelas saja sangat menguntungkan. Ya, pria itu bisa bebas untuk masuk ke kamar lebih awal.
Sebenarnya bukan karena mengantuk mereka memilih untuk masuk kamar, melainkan karena kondisi di luar benar-benar sibuk dan ramai sekali. Keyvan pikir mereka hanya silahturahmi di siang hari, nyatanya tidur di sini.
.
.
.
__ADS_1
Pria duduk di tepian ranjang dengan tatapan yang kini fokus tertuju pada sang istri. Wanita itu tampak menatap pantulan tubuhnya di cermin, Keyvan yang bingung kini menghampiri kemudian memeluk tubuh Mikhayla dari belakang.
"Cantik, kamu lihat apa?"
"Kenapa perutku begini-begini saja ya?" tanya Mikhayla meraba perutnya yang memang masih begitu datar, bahkan tergolong kurus.
Hati Keyvan menghangat kala Mikhayla begitu mendambakan seorang anak di usianya yang masih begitu muda. Akan tetapi, pertanyaan Mikhayla adalah pertanyaan dia juga, dan tentu saja belum memiliki jawaban untuk Mikhayla.
"Sabar, kamu sendiri yang bilang prosesnya tidak semudah membuat puding," ungkap Keyvan sembari mengecup pundaknya beberapa kali.
"Iya sih, tapi ...."
Mikhayla paham betul memang tidak semudah itu, akan tetapi jarak antara dia mengatakan jika prosesnya tidak mudah itu sudah lumayan lama. "Mungkin belum saja ya? Tapi posisi kita sudah benar, harusnya cepat," celetuk Mikhayla yang berhasil membuat Keyvan membeliak, sebuah kalimat yang tidak pernah terduga akan keluar dari bibir seorang wanita seperti dia.
"Posisi apa?"
"Posisi kita lah, apalagi."
Hal-hal seperti ini selalu berhasil membuat Keyvan tertawa kecil. Semakin kesini, pria itu kian percaya jika Mikhayla memang istri yang luar biasa pandai di bidang itu. Dia saja tidak pernah mengetahui perkara posisi dan lain sebagainya.
Kembali memastikan, karena istrinya masih begitu muda dan biasanya anak 18 tahunan masih labil dan tidak begitu konsisten dengan ucapannya. Keyvan hanya khawatir, Mikhayla akan berubah suatu saat nanti.
"Siap, apa wajahku meragukan sampai ditanya berkali-kali?"
"Tidak begitu, aku hanya memastikan saja apa memang benar kamu menginginkan yang bentuknya mirip denganku," tutur Keyvan percaya diri sekali anak mereka akan mirip dengannya.
"Kalau nanti mirip denganku gimana?" Mikhayla balik bertanya, karena mungkin saja hal itu terjadi.
"Tidak masalah, yang jelas jangan sampai mirip Bastian," celetuk Keyvan santai namun itu sama sekali tidak santai untuk Mikhayla, dia yang menyayangi Babas dari kecil sedikit tidak suka kala Keyvan seolah mengejek pria itu.
"Memangnya om Babas kenapa? Jangan dihina ya, dia yang jaga aku dari kecil loh."
Keyvan tidak bermaksud menghina sama sekali, sayangnya Mikhayla luar biasa sensi dan membuat Keyvan bingung hendak menjawab apa lagi. "Bu-bukan menghina, Sayang ... kalau sampai mirip Bastian aneh, mirip Papa atau Mama masih masuk akal."
Mudah sekali tersinggung, Keyvan dibuat iri lantaran Mikhayla bahkan membelanya hingga begitu. Padahal, sejak awal masuk keluarga Mikhail memang keduanya sudah sama-sama melayangkan tatapan permusuhan.
__ADS_1
"Hahah iya juga, nanti orang malah mikir yang macam-macam." Dia terbahak hingga Keyvan sedikit kesal dan menggigit daun telinganya dengan sengaja.
"Aaaarrgghh!! Papa sakit!!"
PLAK
Dia terkejut kala gigi runcing Keyvan mendarat di sana sontak melayangkan telapak tangan dan kini mendarat sempurna di kening Keyvan hingga pria itu sejenak terpejam. Sungguh, istrinya memang kerap bertindak tanpa pikir panjang.
"Maaf, makanya jangan sembarangan gigit. Sakit sumpah," ucapnya kemudian sadar akan perbuatan yang sebenarnya sedikit kurang ajar itu, tapi percayalah dia memang tidak sengaja.
"Caramu membalas serangan lumayan juga, belajar dari siapa?" tanya Keyvan kemudian, kepalanya sedikit sakit akan tetapi tidak akan dia marah pada sang istri.
"Om Babas dong, keren kan?"
Bastian lagi, menyesal juga dia bertanya. Setelah Alka, kini Keyvan justru dibuat sebal dengan pria bernama Bastian itu. Saingannya bukan hanya Mikhail, karena memang nyata Mikhayla menganggap Bastian sebagai papa keduanya.
"Bisa berhenti menyebut nama pria lain di hadapanku, Mikhayla?"
Hah? Padahal Mikhayla hanya menjawab pertanyaannya. Wanita itu terkekeh kemudian berbalik demi bisa menatap wajah suaminya lekat-lekat.
"Kenapa memangnya? Om Babas sudah tua, masa cemburu juga?"
"Tetap saja, kasih sayangmu tidak boleh dibagi ...hanya untukku saja," tegasnya kemudian, awalnya memang tidak masalah. Akan tetapi, saat ini dia merasa berbeda.
"Termasuk Papa?"
"Papa bukan orang lain, Sayang."
"Hm, tapi kenapa Om Babas dan yang lainnya benar-benar tidak boleh?" tanya Mikhayla sengaja ingin mendengar jawaban Keyvan dibalik dia yang kerap meminta keutuhan hati Mikhayla.
"Di dunia ini, hanya kamu yang aku memiliki, Mikhayla ... aku ingin kamu cintai seutuhnya, itu saja."
Dia yang memang tidak merasakan kasih sayang sejak remaja terlalu bergantung pada wanita yang menjadi pemiliknya, itulah mengapa Keyvan selalu menyerahkan seluruh jiwanya pada wanita yang dia percaya. "Kenapa jadi sedih begini? Padahal aku hanya bercanda," tutur Mikhayla bingung sembari mengelus pelan pundak sang suami.
- To Be Continue -
__ADS_1