Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 55 - Jodoh Dari Tuhan


__ADS_3

"Tetap di rumah, kuliahnya besok saja ... aku khawatir kamu mendadak panas lagi."


Sebaik-baiknya kuliah memang ketika dia masih sendiri. Dua hari setelah pulang dari pemakaman Liora itu sebenarnya dia sudah baik-baik saja. Akan tetapi, Keyvan tetap melarangnya pergi kemanapun.


Dia yang bahkan mengorbankan waktu hingga dua hari hanya demi menemani sang istri di rumah, jelas saja Keyvan tidak mau Mikhayla mengalami hal yang sama hari ini. Walau memang wajah Mikhayla sudah tampak segar, tidak bisa dipungkiri kekhawatiran itu masih akan ada.


"Masa tidak masuk lagi, aku bukan anak Rektornya lah."


"Nanti aku yang menghubungi Rektornya jika kamu mau," ucap Keyvan terdengar vercanda akan tetapi itu memang benar adanya, dia mampu melakukan hal semacam itu dengan mudah sebenarnya.


Mikhayla tidak lagi menjawab ucapan Keyvan, pria itu juga tidak lagi banyak bicara setelahnya. Keyvan menunggu istrinya memasangkan kemeja dan dasinya. Jika sebelumnya hanya meminta memasangkan dasi, kini keinginan Keyvan kian meningkat.


"Udah," tutur Mikhayla seraya meberikan sentuhan terakhir di kerah kemeja Keyvan, terbiasa dengan keromantisan kedua orang tuanya membuat Mikhayla mudah untuk mengimbangi kebutuhan Keyvan sebagai pasangan.


"Terima kasih, hari ini kemungkinan pulang telat ... kamu kalau kesepian boleh ajak adik-adikmu ke sini," ucap Keyvan tulus, dia memberikan ruang untuk Mikhayla bersama dengan adik-adiknya, karena memmang sejak awal pernikahan keempat adiknya sama sekali tidak mengetahui dimana dan bagaimana kehidupan kakak kandungnya.


"Janganlah, nanti kita tidak bebas," bisik Mikhayla sengaja cari perkara, Keyvan yang sudah rapi begini mendadak seakan diterpa ujian usai mendengar ucapan Mikhayla. Pria itu hendak mengacak rambutnya, sontak Mikhayla menahan tangannya dan menggeleng berkali-kali.


"Jangan dirusak, aku susah mengatur rambutnya."

__ADS_1


Lagi dan lagi Keyvan hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ini bukan pertama kali Mikhayla sengaja memancing jiwanya yang memang tidak memiliki iman sekuat itu.


"Ayo turun, sarapan dulu ... biar fokus kerjanya," ajaknya seraya menarik pergelangan tangan Keyvan begitu pelan, dengan semua kelembutan yang ada Mikhayla memang memberikan hak sang suami dari segala sisi.


Wibowo sudah menunggu di depan sana, sementara Keyvan masih menikmati sarapan. Tentu saja lama, entah apa yang mereka bicarakan hingga sarapannya butuh lebih dari dua puluh menit.


Di meja makan lama, ketika pamit di pintu utama juga semakin lama. Keyvan merengkuh sang istri cukup lama, seakan tidak akan bertemu untuk waktu cukup lama. Wibowo yang melihat dari kejauhan hanya bisa bersabar sembari menghela napas panjang.


"Kapan perginya, nanti terlambat."


"Aku bosnya, telat tiga jam sekalipun tidak masalah."


"Benar juga ya, wajar Papa suka pergi ke kantor sesukanya."


Bukan hal aneh sebenarnya, Mikhayla terbiasa dengan manusia yang suka memanfaatkan kuasanya seperti Keyvan. Ya, jelas saja papanya cukup untuk menjadi bukti. Jawaban yang dia dengar dari Keyvan juga pernah dia dengar jika Zia marah karena Mikhail lebih memilih menemani Lengkara dan Ameera berenang di kediamannya.


"Aku pergi, jangan terlalu lelah ... ingat benihku sedang berjuang di rahimmu."


Seperti tidak ada kalimat lain saja, Mikhayla terbahak hingga rahangnya terasa sakit. Sejak kemarin pembicaraan mereka terdengar mengerikan, selalu saja tentang ini.

__ADS_1


"Iya, kamu juga jangan terlalu lelah ... supaya benihnya berkualitas, kalau yang kemarin gugur semua kita bisa buat lagi."


Keyvan pikir istrinya akan terdiam dan tidak mampu memberikan jawaban setelahnya. Kini, dia yang justru dibuat terbahak bahkan kehilangan jati diri sebagai pria pendiam dan tidak biasa mengeluarkan suara kerasnya.


"Pintar, kalau gagal buat lagi ya ... lagipula tidak sulit kan," jawab Keyvan masih meneruskan pembicaraan unfaedah dan merusak otak remaja saat ini.


Tidak ingin terlalu lama dan justru membuatnya gagal ke kantor, pria itu segera berlalu meninggalkan sang istri. Wajah Mikhayla yang sumringah mengantar kepergian Keyvan hingga mobil sang suami tidak terlihat lagi.


"Dasar messum ... kenapa bisa Tuhan kasih aku jodoh begitu, apa karena dulu Mama bilang amit-amit pas aku minta jodoh seperti Papa ya?"


Semudah itu dia berubah, wajahnya yang tampak tersenyum untuk Keyvan kini berubah sedatar itu. Dia tampak berpikir, beberapa bulan lalu Mikhayla memang sempat mengutarakan rasa sayangnya pada sang papa dihadapan Zia dan Mikhail.


Hal mengejutkan dan menjadi tanya saat itu ialah respon Zia yang tiba-tiba mengucapkan "amit-amit" kala Mikhayla mengatakan ingin mendapatkan jodoh seperti papanya. Padahal, memang seorang Mikhail membuat Mikhayla percaya sosok malaikat yang setia dan pahlawan sesungguhnya itu nyata.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2